
Dalam acara pesta, Saralee hanya duduk di temani Raiyen. Sedangkan kedua keluarga mereka tidak berani mendekat karena berharap hubungan pemuda pemudi tersebut bisa lebih baik.
"Hey, aku merasa adikmu itu tidak menyukaiku. Tatapannya itu seperti mau memakan aku," ujar Saralee ceplas ceplos.
"Dia mantan kekasihku," jawab Raiyen santai.
"Apa? Serius?" pekik Saralee kaget.
"Iya, tapi dia masih belum menerima jika aku sekarang adalah kakaknya," terang Raiyen yang membuat Saralee bingung.
"Kalau kamu sendiri?" tanya Saralee penasaran.
"Aku? Sebenarnya aku menyukai Adella sejak lama, tapi saat itu dia sudah punya kekasih. dan setelah sekarang bertemu lagi dia malah sudah punya tunangan," jawab Raiyen jujur, pemuda itu berharap dengan mengungkapkan isi hatinya bisa membuat dirinya lebih tenang.
"Pantas saja kamu dan Adella terlihat akrab, ternyata kenalan lama," cetus Saralee.
"Kamu salah! Justru dulu aku dan Adella adalah saingan saat ada lomba antar sekolah. Hanya saja Adella tidak mengenal aku, jadi aku mengaguminya secara diam-diam. Baru setelah masuk Universitas A Adella tahu siapa aku," jawab Raiyen terlihat frustrasi.
"Kalau kamu menyukai Adella, lalu bagaimana kamu bisa jadian sama Adikmu itu?" tanya Saralee tak mengerti.
"Nilna? Aku kenal dia dari temanku, karena karakter dan dia jarang tersenyum membuat aku merasa kalau dia mirip Adella. Setelah jadian satu bulan, ternyata Papaku dan Mamanya menikah. Kami putus dan menjadi kakak adik," ujar Raiyen.
"Jadi hubungan kamu dan Papamu yang tidak baik karena masalah ini?" tanya Saralee lagi.
"Tidak! Yang sebenarnya itu karena Papa terlalu mengatur hidup aku. Aku ingin menjadi Dokter, sedangkan Papa memaksa aku untuk melanjutkan bisnisnya," jawab Raiyen.
Saralee tersenyum, sebab sejak pertama kali bertemu dengan Raiyen baru kali ini mereka berdua berbicara dengan normal, sebab biasanya keduanya itu sering adu mulut.
"Kalau kamu menyukai Adella, kenapa kamu tadi bertingkah seperti itu padaku? Jangan berani-beraninya kamu menjadikan aku alat tameng ya?" sindir Saralee tiba-tiba kesal.
"Anggap saja sebagai pelunasan hutang, kamu sudah banyak salah padaku," balas Raiyen.
"Iya, iya," jawab Saralee ketus.
Sebenarnya Saralee bukan orang yang bisa mudah terbujuk seperti itu, tapi jauh dari lubuk hatinya ada keinginan untuk lebih dekat dengan Raiyen. Pemuda yang jarang berbicara atau tersenyum, bahkan terkesan dingin itu terlihat misterius.
Akhirnya pesta yang bagi Saralee membosankan itu usai juga. Dia dan Raiyen baru mendekati keluarga mereka.
"Om, Tante. Malam ini aku akan pulang ke kota A, karena besok masuk kuliah. Apakah boleh aku ajak Saralee sekalian?" tanya Raiyen.
"Apa-apaan ini cowok! Belum ada persetujuan dariku enak aja main ngomong kaya gitu pada Papi dan Mami," batin Saralee kesal.
Namun Kedua orang tua Saralee terlihat cerah, mereka menyukai Raiyen.
"Iya, tidak apa-apa. Om malah tenang jika Saralee tidak menyetir mobil sendiri," jawab Maminya Saralee antusias.
__ADS_1
Papanya Raiyen tiba-tiba tersenyum, tapi Raiyen sama sekali tidak menyadarinya. Sebab pemuda itu sama sekali tidak mau memandang Papanya tersebut.
Setelah berpamitan, Raiyen dengan lembut menopang tubuh Saralee agar bisa berjalan.
"Kenapa? Kenapa aku berdebar-debar seperti ini. Apa ini yang dinamakan cinta?" batin Saralee kebingungan.
Saat kulit mereka saling bersentuhan Saralee merasakan desiran yang aneh dalam dadanya.
Kali ini Raiyen memperlakukan Saralee dengan hangat. Namun Saralee justru merasa bimbang, sebab dia tahu jika seseorang yang disukai pemuda disampingnya itu adalah temannya, bukan dirinya.
Di sepanjang jalan mereka saling mengobrol satu sama lain, padahal jaraknya jauh tapi Raiyen menyetir dengan kecepatan rendah.
Saralee sendiri juga tidak protes, sebab malam itu terasa indah. Ketika dia melihat ke atas banyak sekali bintang-bintang yang bertebaran.
"Apa kamu tidak kedinginan?" tanya Raiyen, sebab atap mobilnya tidak dipasang.
"Tidak, biarkan seperti ini saja!" jawab Saralee dengan nada santai.
ππππππππππππππππ
Sesampainya di paviliun Saralee, ternyata sudah ada lampu yang menyala di kamar atas.
"Terima kasih sudah mengantar aku ya?" ucap Saralee tersenyum ramah.
Raiyen terbengong, sebab baru pertama kali gadis batu itu bisa mengucapkan terima kasih.
"Sebentar lagi pagi, nanti juga akan bertemu Adella di Universitas," jawab Raiyen santai.
"Ya sudah aku masuk dulu!" jawab Saralee berlalu pergi meninggalkan Raiyen.
Saralee merasakan hatinya nyeri.
"Apakah ini yang namanya cemburu? Sakit sekali, kalau aku tahu jatuh cinta seperti ini lebih baik aku kembali seperti dulu saja."
Saralee melangkah menuju lantai dua, dia ingin menemui teman-temannya dulu. Rasanya rindu juga pada mereka.
Pertama yang di datangi adalah kamar Adella, sebab kamarnya yang terdekat dengannya.
Adella sedang posisi tertidur, dengan cepat Saralee melompat ke ranjang.
Adella terbangun, tapi masih bersikap biasa.
"Kamu tidak kaget?" tanya Saralee.
"Aku tadi mendengar suara kamu yang ngobrol dengan Raiyen, dan aku menduga kamu pasti akan melakukan ini," jawab Adella santai.
__ADS_1
Saralee kecewa, sebab Adella tidak sama dengan Aileen. Mengerjai Adella hanya sia-sia, sebab gadis itu tidak mudah kaget atau merasa takut.
"Apa kamu cemburu?" goda Saralee.
"Mana mungkin, bagiku dia hanya sebatas teman," jawab Adella tertawa.
Saralee juga ikut tertawa, tapi di sisi lain ada rasa kelegaan.
"Kenapa aku sebahagia ini?"
"Kamu pulang kapan? Apa Aileen juga sudah pulang?" tanya Saralee.
"Sepertinya belum," jawab Adella.
"Apa mereka sudah bertemu ibunya Aileen ya?" ucap Saralee penuh tanda tanya.
"Semoga saja, agar usaha dia yang rela kabur dari rumah dan hidup susah demi bertemu ibunya tidak sia-sia. Tapi apakah Aileen aman dengan Kak Deon?" ujar Adella cemas.
"Pasti aman, aku tahu bagaimana sifat Kak Deon. Apalagi aku merasa jika Kak Deon mencintai Aileen. Aku yakin Kak Deon akan mati-matian menjaganya," jawab Saralee santai.
"Bagaimana kamu bisa pulang bersama Raiyen?" tanya Adella mengingat jika temannya itu tidak akur dengan Raiyen.
"Aku ngantuk, sebaiknya tidur dulu saja. Kita berbagi ceritanya besok sekalian nunggu Aileen," saran Saralee yang merasa sangat kelelahan.
Adella sebenarnya juga merasakan hal yang sama, tapi adegan ciuman dia dengan Keenan terus terbayang-bayang sampai gadis itu sulit tidur.
"Kamu benar, besok kita juga harus kuliah," jawab Adella kembali ke posisi tidur yang nyaman.
"Aku malam ini tidur di sini ya? Malam pindah aku," pinta Saralee sudah memejamkan matanya sambil menguap.
"Terserahlah!" jawab Adella acuh tak acuh.
Saralee jarang tidur di kamarnya sendiri, tapi dia malah tidur di kamar teman-temannya secara bergantian.
Bukan karena takut, tapi dia lebih merasa nyaman jika disisinya ada seseorang yang menemani. Dulu semasa di rumah Saralee kalau tidur minta di temani Mami dan Papinya, seperti anak kecil yang haus kasih sayang dan perhatian. Hanya saja Kedua orang tuanya sering bertengkar membuat Saralee menjadi gadis yang nakal dan susah di atur.
Saralee mulai terlelap dalam mimpi indahnya, di alam bawah sadarnya dia bertemu dengan Raiyen. Pemuda itu datang membawa bunga dan coklat seperti Romeo yang tengah merayu sang Juliat.
Saralee tersenyum sendirian, Adella yang masih terjaga menahan tawa melihat tingkah temannya itu.
"Mimpi apa ini anak."
Adella tak menyia-nyiakan momen indah itu, dengan cepat Adella mengambil ponsel dan wajah Saralee di video dalam durasi dua puluh detik.
"Aku kirimkan pada Aileen ah."
__ADS_1
Jangan lupa Like dan Vote yaπ Karena dukungan dari kalian sangat berarti bagi Authorπ€