Scorpio

Scorpio
Kehamilan Yang Terungkap


__ADS_3

Malam harinya Saralee hanya seorang diri di pavilliun tua itu. Karena sudah terbiasa hidup bersama Adella dan Aileen seolah membuat dia ketergantungan.


"Tidak kusangka Aileen benar - benar sudah pergi, sedangkan Adella malah tidak pulang juga," gerutu Saralee sambil memencet remot televisi dan memindah - mindah Chanel karena merasa bosan.


Tiba - tiba saja datang seseorang yang membuat dirinya terkejut.


"Kak Deon, kenapa baru pulang?" pekik Saralee langsung berdiri dan berlari dalam pelukan kakak sepupunya.


"Mana Aileen?" tanya Deon balik.


Saralee langsung menunduk lemas.


"Tadi pagi dia di jemput orang tuanya. Dan mulai sekarang dia tidak tinggal di sini lagi," jawab Saralee murung.


"Apa?" pekik Deon terkejut.


Rasa sesal dan kecewa terkintas dalam raut wajah dan sorotan mata Deon. Pemuda itu menyalahkan diri sendiri yang datang terlambat.


"Lagian kenapa Kak Deon setiap ditelepon nomor tidak aktif terus?" tanya Saralee ikutan kesal mewakili sahabatnya.


"Ponsel aku hilang, dan saat itu keadaan begitu darurat," jawab Deon.


"Memangnya ada masalah apa? Kenapa Kak Deon sampai pergi lama?" tanya Saralee penasaran.


"Biasa, perebutan kekuasaan. Aku pinjam ponselmu, aku mau menghubungi Aileen," kata Deon langsung meraih ponsel di meja dan bergegas masuk ke kamar Aileen.


Saralee yang sebenarnya ingin menelpon kekasihnya jadi mengurungkan niatnya karena tahu perasaan kakak sepupunya.


Dengan menggunakan ponsel Saralee, Deon mencoba menelpon Aileen berkali - kali. Tetapi panggilan tidak terjawab.


"Aileen… Kenapa kamu pergi sebelum aku kembali? Tahukah kamu betapa rindunya aku?" gumam Deon menahan rindu yang teramat dalam.


Sampai larut malam pemuda itu terus - terusan mencoba memanggil Aileen, tapi tetap saja tidak mendapat jawaban.


"Aileen, kamu sedang apa? Kenapa teleponku tidak diangkat dari tadi?" batin Deon serasa ingin menangis karena tersiksa oleh penyesalan dan kerinduan.


Deon pun memutuskan untuk mandi, sampai dia menemukan benda aneh yang tergeletak di samping bak sambah.


Matanya masih jeli dan langsung bisa mengenali benda tersebut.

__ADS_1


"Hamil? Siapa yang hamil?" Batin Deon kaget.


Deon segera keluar dengan tergesa - gesa.


"Saralee, apa kamu hamil?" tanya Deon gusar.


"Hamil apaan? Meskipun aku punya mantan banyak tapi aku juga masih bisa menjaga diri sendiri," jawab Saralee tersinggung.


"Lalu, test pack di dalam itu milik siapa?" tanya Deon.


"Di mana?" tanya Saralee jadi penasaran.


"Di kamar mandiku," jawab Deon.


"Astaga… Masa Aileen, Adella kan sudah ada kamar mandi sendiri. Kak apa yang sudah kamu lakukan padanya? Kemarin dia mual - mual dan muntah loh," pekik Saralee seperti tersambar petir.


Deon tanpa perlu berkata apapun sudah menyadarinya, jika yang hamil tentu saja kekasihnya sendiri.


"Aileen… Aku harus segera menemukanmu," batin Deon bahagia bercampur gusar.


"Kak… Apa kamu dan Aileen sudah itu…?" tanya Saralee seolah tidak percaya, sebab teman uang satunya itu sangat pemalu dan penakut.


"Sudah jangan tanya yang macam - macam lagi, aku sekarang akan menemui Aileen," jawab Deon serius.


"Tentu saja tahu, mana mungkin informasi mengenai rumah musuh sendiri tidak tahu," jawab Deon hanya dalam hati.


Deon juga merasa kebingungan, apalagi kakaknya tidak menyetujui hubungan ini. Dan andaikan orang tua Aileen tahu mengenai siapa dirinya tentu saja tidak akan melepaskan putrinya di tangan musuh sendiri.


Masalah kemarin yang sampai membuat Deon bepergian selama sebulan lebih itu juga Karena mengatasi masalah dengan papanya Aileen. Saat itu Deon membawa kemenangan dan ada kesempatan untuk membunuh Fernand. Tapi mengingat jika musuhnya itu adalah papanya Aileen membuat Deon melemah dan tidak ada keberanian untuk membunuh.


"Aku harus bagaimana? Kalau kakak tahu Maslaah ini pasti dia akan memanfaatkan kehamilan Aileen untuk menghancurkan nama baik Fernand. Aku bukannya tidak ingin balas dendam, tapi aku tidak mau menggunakan Aileen sebagai alat," batin Deon merasa cemas.


*********************************


Di sisi lain Aileen sudah berada di dalam istananya dan menjado tuan Puteri lagi, akan tetapi perasaannya tidak sama seperti dulu. Ada sesuatu yang hilang, sahabat dan cintanya tidak ada.


Nafsu makan Aileen juga memburuk, setiap dia mencium bau masakan yang ada bawang putih perutnya merasa mual dan ingin muntah.


"Tolong beri aku kue yang manis saja," pinta Aileen lembut.

__ADS_1


Perutnya hanya mau menerima kue dan buah saja. Sedangkan makan nasi akan muntah lagi.


Yossi, biarpun belum pernah merasakan hamil tapi mulai mencurigai putrinya. Karena dulu saat Ibu kandungnya Aileen hamil Yossi sendirilah yang merawat dan menjaganya.


Diam - diam Yossi menemui suaminya dan membicarakan masalah itu.


"Pa, kenapa aku curiga putri kita hamil ya? Dia sering mual - mual dan muntah. Nafsu makannya juga hilang dan murung terus," tanya Yossi berbisik.


"Ah, mana mungkin. Kamu tahu sendiri bagaimana putri kita, bisa saja itu hanya masuk angin," sergah Fernand.


"Semoga saja," balas Yossi penuh harap.


Tapi meskipun tidak percaya, hati Fernand merasa was - was juga. Saat larut malam setelah putrinya tertidur Fernand meminta dokter pribadi untuk mengambil sampel darah dan mengetes apakah Aileen beneran hamil atau tidak.


Dan pagi harinya Fernand mendapatkan kabar buruk


Putri tunggalnya benar - benar hamil. Fernand marah dan menyidang Aileen di kamarnya.


"Aileen, siapa Ayah dari anak yang kamu kandung?' tanya Fernand sudah tidak sabaran.


Seumur hidup baru kali ini Aileen melihat papanya marah, kalau saja mama tirinya tidak menahan mungkin Aileen sudah ditampar.


Aileen terkejut, tidak disangka jika kedua orang tuanya bisa secepat ini bisa mengetahui tentang kehamilannya.


"Aileen… Ayo jawab sayang, jangan sampai papamu semakin marah," bujuk Yossi lembut.


Aileen menarik napas dan menahan tangisnya. Tapi air mata itu tetap tumpah tak mampu di bendung. Dalam hati ada penyesalan juga sudah menjadi aib keluarga.


"Kak Deon, sepupu Saralee. Tapi dia orang yang baik, Pa," jawab Aileen takut - takut.


Fernand memang sudah menyelidiki siapa Deon, dan betapa terkejutnya jika orang yang sudah menghamili putrinya adalah anak dari musuhnya sendiri. Fernand mengira jika Deon melakukan tindakan ini untuk balas dendam padanya.


"Maafkan aku, Nak. Semua ini salahku, sebaiknya kamu gugurkan saja anakmu," bujuk Fernand sambil duduk tersimpuh di lantai.


"Tidak! Apapun yang terjadi aku tidak akan pernah menggugurkan anakku, darah dagingku sendiri. Dan di dalam tubuh janinku juga ada darahnya papa," teriak Aileen histeris.


Yossi segera memeluk putrinya, biarpun Aileen bukan anak kandung tapi dari gadis itu lahir dialah yang sudah merawatnya dengan sepenuh hati.


"Pa, itu bukanlah jalan yang terbaik. Sebaiknya kita bawa Aileen ke tempat yang tersembunyi sampai dia melahirkan agar tidak ada orang yang tahu mengenai kehamilannya," saran Yossi yang juga tidak tega bisa membunuh bayi yang bahkan belum lahir.

__ADS_1


Fernand berpikir sejenak, dia tidak membenci anak yang di kandung Aileen. Dia hanya takut jika Deon datang dan merebut Aileen dari tangannya kemudian menyakiti Aileen untuk membuat Dirinya sengsara. Karena kelemahan terbesar Fernand adalah anaknya sendiri.


"Baiklah, nanti siang kota segera pergi," jawab Fernand langsung menyetujui. Dengan begini dia juga tidak akan mengecewakan Aileen.


__ADS_2