
Adella
Dalam perjalanan menuju rumah sakit Adella hanya cemberut, dia begitu kesal karena di cium secara membabi buta di depan umum. Sedangkan Keenan merasa senang dan puas bisa membuat gadisnya tidak berkutik.
"Anggap saja kita impas, bukannya tadi kamu yang mencium aku duluan?" goda Keenan.
Adella hanya bersikap cuek, sebab dia merasa sangat malu dan marah dalam waktu yang bersamaan.
Sesampainya di rumah sakit, keluarganya sedang duduk dan menanti Adella.
Seketika Adella memasang wajah yang sangat ceria dan bahagia. Keenan terkejut dengan perubahan Adella yang secepat ini.
"Menarik, ternyata dia gadis yang tegar dan kuat. Aku semakin ingin mengenal Adella," batin Keenan penasaran.
"Ayo silahkan di makan," ucap Adella.
"Wah, makanannya enak-enak," ucap Kia bersemangat.
Adella terenyuh juga, sebab semenjak bisnis Ayahnya bangkrut, kehidupan keluarganya menjadi serba kekurangan.
"Gara-gara aku yang memiliki hubungan dengan Arbay membuat keluarga aku menjadi hidup menderita. Aku akan melakukan apapun asalkan kalian bisa bahagia dan hidup layak seperti dulu lagi," batin Adella pilu.
"Dicky, kakak suapin, ya," ucap Adella perhatian pada adik bungsunya.
"Aku bisa sendiri, sebaiknya Kak Adella juga ikut makan saja," jawab Dicky seperti anak dewasa.
"Umur kamu berapa, adik tampan?"tanya Keenan penasaran.
"Delapan tahun. Kakak, kamu bukan orang jahat seperti Kak Arbay kan?" tanya balik Dicky dengan wajah polos.
"Arbay? Apa yang tadi bertemu denganmu di depan restoran itu?" Keenan mengalihkan pandangan pada tunangannya.
Pemuda itu sengaja melakukan sandiwara ini agar Adella tidak berhubungan lagi dengan mantannya.
"Sial, kenapa mengungkit masalah Arbay di depan keluargaku," batin Adella kesal.
"Adella, Ibu sudah pernah melarang kamu untuk berhubungan lagi dengan Arbay. Keluarganya itu jahat! Apa masih belum cukup keluarga kita menjadi seperti ini?" kata Ibu Adella dengan suara yang lebih tinggi.
"Bu, sebaiknya kita mendengarkan penjelasan putri kita dulu! Jangan asal memarahi begitu saja!" sela Ayah Adella dengan lembut agar istrinya bisa tenang.
"Kalian tenang saja, semenjak hari itu aku sudah tidak ada hubungannya dengan Arbay. Tadi kita hanya kebetulan bertemu, itupun aku langsung bergegas ke sini," jelas Adella agar kedua orang tuanya tidak cemas.
"Ibu tidak bermaksud untuk memarahi kamu, tapi kamu tahu sendiri bagaimana sikap keluarga Arbay," tutur Ibunya Adella yang nadanya sudah menurun.
"Iya, Ibu. Mana mungkin aku akan membuat keluarga kita menderita lagi," jawab Adella sambil memeluk ibunya erat.
__ADS_1
"Sudah... Sudah, mari kita makan," ucap Ayah Adella tersenyum lega.
Adella kembali menyuapi Adiknya sambil melirik tajam ke arah Keenan yang cengar-cengir kegirangan.
"Mulutnya itu memang penuh kutukan!" umpat Adella dalam hati.
Mereka kembali makan, adik Adella yang besar fokus memakan makanan yang sudah lama tidak di rasakannya.
"Kia, kalau kurang bisa tambah lagi punya kakak," ucap Adella.
"Tidak, Kak. Nanti kakak makan apa?" tanya Kia antara mau-mau malu.
"Makanlah sampai puas, Kia! Nanti kalau kurang Kak Keenan belikan lagi," sela Keenan mencari perhatian pada keluarga Adella.
"Benarkah?" tanya Kia bersemangat.
"Iya, bagaimana kalau kita keluar sebentar. Di depan rumah sakit ada banyak penjual makanan," tawar Keenan ramah.
"Mau... Mau. Apa boleh aku beli ice cream?" tanya Kia malu-malu.
"Tentu saja boleh. Mau beli apa saja juga boleh," jawab Keenan.
Adella tidak mengira jika Keenan si pemuda sombong itu juga bisa tersenyum tulus. Namun dia pura-pura cuek dan fokus menyuapi Dicky.
"Terima kasih, Kak," ucap Dicky tersenyum senang.
Keenan segera membawa Adik perempuan Adella keluar dari rumah sakit.
Setelah Keenan dan Kia menghilang dari pandangan, kedua orang tua Adella segera menyerang Adella dengan beberapa pertanyaan.
"Sebenarnya Keenan itu siapa?"
"Kenapa Keenan begitu baik pada kita?"
"Apakah kamu menyukainya?"
"Apakah orang tuanya jahat seperti orang tua Arbay?
Belum sempat Adella menjawab pertanyaan tiba-tiba datang dua orang perempuan. Yang satu setengah baya dan yang satunya lagi masih muda sepantaran Adella.
Orang tua Adella terkejut, begitu juga dengan Adella.
"Adella, kenapa kamu mengganggu Arbay lagi?" bentak Mama Arbay.
Dulu Adella selalu menghormati Mamanya Arbay, meskipun kasar tapi tetap Mama dari seseorang yang dicintainya. Namun Kini Adella tidak akan lemah seperti dulu lagi. Apapun yang terjadi dia akan selalu melindungi keluarganya.
__ADS_1
"Eh, Tante Sera. Apa kabar? Kenapa tiba-tiba datang dan marah-marah tidak jelas?" jawab Adella sambil melangkah maju dan berdiri tepat di depan Mamanya Arbay tanpa rasa gentar.
"Dasar perempuan miskin! Apa karena keluargamu bangkrut kamu jadi memohon pada Arbay untuk memberimu uang ya?" bentak Sera dengan mata melotot.
Adella bukannya takut malah tertawa keras.
"Uang yang sudah Ayahku sumbangkan pada keluarga Tante mana mungkin aku ambil kembali," sindir Adella.
"Berani-beraninya kamu berbicara seperti ini pada Mama Sera ya!" sergah gadis yang Adella yakini sebagai tunangan Arbay.
"Kamu siapa? Jangan ikut campur," balas Adella dengan sikap santai.
"Aku adalah Khanza. Tunangan dari lelaki yang sudah mencampakkan kamu," jawab Khanza sengit.
Ayah Adella berdiri hendak menolong Adella, tapi Adella menyuruh orang tuanya utnuk duduk manis.
"Ayah, ibu. Sebaiknya kalian duduk saja dengan tenang! Anggap saja kalian sedang melihat drama dua tamu tanpa di undang yang tidak punya sopan santun," kata Adella sekaligus menyindir Sera dan Khanza.
"Orang miskin aja masih bisa sombong!" balas Khanza.
Adella tertawa lagi, mungkin dulu jika dia menghadapi situasi ini pasti hanya menunduk sambil menangis-nangis. Namun setelah mengenal Saralee yang pemberani dia jadi memiliki sedikit energi dari sahabatnya itu.
"Kalau aku mengalah, pasti Saralee hanya akan meremehkan aku," batin Adella.
"Nona Khanza, pantas saja Arbay meskipun sudah aku putus tapi tetap saja mengejar-ngejar aku. Rupanya karena dia tidak tahan punya tunangan yang IQ nya rendah sepertimu. Kamu ini putrinya bangsawan kan? Aku yakin putri bangsawan sejak kecil pasti akan di beri pendidikan yang baik, tapi sepertinya sia-sia kedua orang tuamu mengeluarkan uang banyak. Karena Putrinya tidak bisa mencerna setiap pelajaran dengan baik," kata Adella tegas dan menusuk tajam.
Sedangkan Keenan yang sudah membelikan banyak makanan untuk adik-adiknya Adella sekilas melihat bayangan Arbay masuk ke rumah sakit.
Keenan segera mengajak Kita untuk kembali secepatnya. Dan benar saja, setelah Keenan ingin kembali keruangan Keluarga Adella rupanya Arbay juga sejalur.
"Kebetulan atau memang berniat menemui Adella?"
Keenan semakin mempercepat langkahnya sambil menarik tangan Kia.
"Kenapa buru-buru kak?" tanya Kia.
"Sepetinya Kak Keenan tadi melihat Arbay," jawab Keenan.
"Ayo, Kak. Jangan biarkan Kak Arbay mengganggu Kak Adella lagi," ajak Kia sudah lari duluan.
Keenan tersenyum secara perlahan sudah bisa mengambil hati keluarga Adella.
"Kini giliran menaklukkan Adella saja,"
Jangan lupa Like dan Vote sebanyak-banyaknya ya🤗🤗🤗 Karena dukungan dari kalian sangat berarti bagi Author🤗🤗
__ADS_1