
Sampai malam tiba Aileen dan Deon baru saja sampai di sebuah perkampungan yang sangat terpencil. Bahkan jalanan juga masih belum beraspal. Sehingga mobil Deon terguncang karena karena menginjak kerikil.
Aileen yang penakut hanya bisa memejamkan matanya, karena jalanan yang sempit itu hampir tanpa penerangan. Ada lampu yang jaraknya berjauhan saja juga hanya remang-remang.
Sesekali terdengar suara hewan yang Aileen tidak tahu namanya, tapi terdengar sangat menyeramkan.
Aileen sudah tidak tahan lagi dengan ketakutan yang dia rasakan. Dia memejamkan kedua matanya sambil menutup telinganya dengan tangan.
Deon hanya hanya tersenyum melihat tingkah gadis yang duduk di sampingya. Pemuda itu bukan merasa kasihan, tapi justru semakin ingin melatih Aileen agar gadis itu bisa sedikit memiliki keberanian.
Deon dengan sengaja mematikan mobilnya, Aileen langsung membuka matanya dengan wajah cemas.
"Apa sudah sampai?" tanya Aileen.
"Belum, bensinnya habis," jawab Deon santai.
"Lalu bagaimana?" tanya Aileen gelisah.
"Aku sudah pernah ke sini sebelumnya, jalannya masih jauh. Sebaiknya kita menginap di sini, besok pagi kita bisa meminta bantuan pada orang yang lewat," ucap Deon.
"Tapi di sini sangat gelap, aku takut," rengek Aileen yang sudah berdiri seluruh bulu kuduknya.
"Lalu bagaimana lagi? Apa kamu mau berjalan di tengah malam? Tak jauh dari dekat sini ada penginapan," saran Deon tersenyum manis.
"Kira-kira kalau berjalan butuh berapa menit?" tanya Aileen penasaran.
"Kurang dari lima belas menit lah, bagaimana?" tanya Deon lagi.
"Tidak apa-apa berjalan selama lima belas menit, dari pada aku ketakutan di sini sampai pagi," jawab Aileen nekat.
"Ayo, kalau begitu kita keluar," ajak Deon riang.
Aileen pun juga ikut turun dari mobil, lampu penerangan yang samar-samar membuat dia tidak bisa melihat jalan dengan jelas.
Apalagi bayangan pohon-pohon yang besar dan hitam di tambah suara hewan-hewan yang saling bersahutan membuat Aileen gemetar. Tanpa sadar dia menempel pada di sisi Deon, tangannya juga merangkul lengan Deon.
"Kalau takut berjalanlah sambil memejamkan mata!" kata Deon.
__ADS_1
Aileen tidak menjawab, tapi dia langsung memejamkan kedua matanya sedangkan tangannya semakin erat bergelayut di lengan Deon.
"Apakah Kak Deon ini benar-benar pemimpin Mafia? Tapi kenapa sikapnya begitu manis dan lembut. Bukankah selama ini aku mendengar cerita jika soerang Mafia itu bengis dan kejam?"
Aileen merasa sangat nyaman dan tenang di sisi Deon, dia sendiri tidak tahu kenapa semua ini bisa terjadi.
"Kak Deon kenapa kamu memilih jadi Mafia? Kata Saralee kamu cerdas," tanya Aileen.
Deon terkejut, saat melihat gadis di sampingnya sudah berani membuka matanya. Diam-diam pemuda itu tersenyum karena Aileen masih memegang erat lengannya.
"Karena apa ya? Mungkin sudah menjadi impian," jawab Deon sekenanya.
"Bukankah Mafia itu orang jahat yang suka membunuh dan merampok?" tanya Aileen memastikan.
Deon tertawa, pemuda itu merasa lucu dengan pikiran gadis disampingnya yang polos dan lugu.
"Meskipun aku seorang Mafia, tapi aku tidak pernah membunuh orang ataupun menindas orang yang tidak bersalah," jawab Deon berubah serius.
"Lalu pekerjaan Kak Deon apa?" tanya Aileen penasaran.
"Kenapa mereka rela ditiduri banyak lelaki hanya demi uang? Apa mereka tidak punya rasa malu atau takut di cibir orang?" tanya Aileen lagi.
Deon semakin tertawa keras, sebab jika dia jelaskan takkan bisa sampai di otak Aileen.
"Intinya, tidak semua perempuan di dunia ini hidup seberuntung kamu, Tuan Puteri. Jangankan memikirkan rasa malu, bagi mereka perut kenyang itu lebih penting," ujar Deon.
Meskipun Aileen tidak sepenuhnya bisa memahami isi pikiran mereka, tapi dia tahu jika apa yang dikatakan Deon adalah kebenaran.
"Aku memang beruntung, sejak kecil aku dimanjakan oleh orang tuaku. Kebutuhanku juga tidak pernah berkurang, bahkan tanpa aku meminta mereka selalu memberi yang lebih kepadaku," jawab Aileen tersenyum menatap langit yang penuh bintang.
Deon seketika diam dan merenung, saat ini tidak ada yang tahu apa isi pikirannya. Bahkan raut wajahnya saja juga tidak bisa ditangkap oleh mata Aileen.
Akhirnya mereka sampai juga di sebuah penginapan kecil di ujung kota.
"Pesan dua kamar, Pak. Untuk semalam saja," pinta Deon.
"Maaf, Tuan. Hanya ada satu kamar saja," jawab pemilik penginapan.
__ADS_1
"Tidak apa-apa," ujar Deon ramah.
Aileen terkejut, dia merasa ragu untuk melangkah. Tapi dari belakang tubuhnya di dorong secara perlahan.
"Kita ini sepasang kekasih, jadi tidak masalah tidur sekamar," bisik Deon di telinga Aileen dari belakang.
Seketika Aileen merinding ketakutan, dia tidak tahu lagi harus bagaimana.
"Mari silahkan, Tuan, Nyonya. Saya tunjukkan kamarnya," ujar pemilik penginapan.
Deon menarik tangan Aileen agar hadis itu mau mengikutinya. Sedangkan Aileen sendiri seperti kerbau dicocok hidungnya.
"Aku takut, semoga Kak Deon tidak ngapa-ngapain aku," batin Aileen.
"Tenang, aku tidak akan menyentuhmu. Aku juga lelah setelah seharian menyetir mobil," kata Deon sambil membuka pintu kamar.
Karena bukan di kota pusat, maka penginapan juga seperti desa yang ukurannya kecil. Namun terlihat unik dan bersih. Deon segera mengambil piyama yang sudah di sediakan, kemudian dia masuk ke kamar mandi.
Aileen bisa mendengar suara gemericik air, dadanya semakin berdebar saat Deon keluar dari kamar mandi sudah dengan baju yang berbeda. Bahkan wajah Deon terlihat segar dan sangat tampan karena setengah basah rambutnya.
"Mau mandi dulu tidak?" tanya Deon membuyarkan lamunan Aileen.
"I... Iya..." jawab Aileen gugub, kemudian dia mengambil baju yang sama persis dengan milik Deon kemudian berlari menuju kamar mandi.
Deon hanya tersenyum sekilas, kemudian berbaring di tepi ranjang.
Saat Aileen sudah selesai mandi dan berganti pakaian, dia segera keluar dari kamar ,Andi dengan perasaan was-was. Namun ketika dilihatnya Deon sudah tertidur, perasaan Aileen menjadi lega.
Dia memasang bantal di tengah ranjang sebagai pembatas, sedangkan dia sendiri berbaring di tepi ranjang yang berlainan dengan Deon.
Setengah jam kemudian Deon terbangun, pemuda itu menatap Aileen yang sudah tertidur pulas.
"Kamu adalah satu-satunya perempuan yang bisa mengerakkan hatiku. Namun kenapa kamu adalah anak dari musuhku sendiri. Seharusnya saat ini aku menghancurkanmu, tapi hatiku justru semakin ingin melindungimu."
Deon mencium kening Aileen dengan lembut, kemudian memeluk gadis itu dengan erat.
Terima kasih sudah membaca karya saya, jangan lupa Like dan Vote ya🤗 Karena dukungan dari kalian sangat berarti bagi Author🤗🤗
__ADS_1