
Raiyen begitu girang karena sudah mendapat lampu hijau, pemuda tersebut langsung mengangkat tubuh Saralee. Tapi ketika kakinya baru saja menginjak ke anak tangga sudah terdengar suara deru mobil Deon.
Saralee memaksakan diri untuk turun dan segera merapikan pakaiannya lalu duduk di sofa dengan tenang.
Sedangkan Raiyen meringis menahan tubuh paling sensitifnya sudah mengeras dan sangat menyiksa.
"Ayo duduk sana," ucap Saralee membuat Raiyen terkejut.
Pemuda tersebut hanya bisa pasrah dengan kegagalan dan menuruti permintaan Saralee.
Beberapa detik kemudian Deon masuk, dengan wajah dibuat sebiasa mungkin Saralee menyapa kakak sepupunya.
"Baru pulang, Kak?" tanya Saralee.
"Iya, siapa yang sedang ulang tahun?" tanya Deon.
"Oh… ini aku hanya sedang ingin makan kue ulang tahun saja," jawab Saralee menyembunyikan kenyataan agar sang kekasih tidak semakin malu.
"Oh, sekarang sudah malam. Tidak baik kalau kamu membawa seorang lelaki di rumah," jawab Deon berlalu pergi dan naik ke tangga.
Selepas kepergian Deon, Saralee menghembuskan napas leganya. Untung saja dia dan Raiyen belum masuk ke kamar tadi. Jika iya bakal jadi ruwet.
"Kakakmu itu curang sekali, dia saja sampai menghamili kekasihnya," cetus Raiyen kesal.
"Sudahlah, sebaiknya sekarang kamu pulang terlebih dahulu. Kakakku itu kondisi hatinya sedang tidak baik, sebaiknya kita cari aman saja," bujuk Saralee.
"Tegakah kamu menyuruhku pulang dalam keadaan seperti ini?" tanya Raiyen sembari melirikkan matanya ke arah celana, dan sesuatu benda keras terlihat agak menonjol di dalamnya.
Saralee tertawa ngakak, tidak disangka pemuda yang dulu begitu angkuh dan dingin kini bisa bersikap konyol seperti itu.
"Masih ada hari lain, sekarang kamu pulanglah," pinta Saralee.
"Aku tunggu ya!" jawab Raiyen sembari mengecup kening Saralee.
Akhirnya Raiyen pergi meninggalkan Saralee dengan senyuman manis.
*****************************************
Adella sedang bersama tunagannya di kastil pulau kecil, di sana mereka berdua menikmati kebersamaan karena sudah beberapa hari ini tidak berjumpa.
Malam ini mereka berdua duduk di tepi pantai dan membuat tenda di sana. Keenan dengan telaten membakar ikan sedangkan Adella duduk di samping pemuda tersebut sambil minum kopi.
__ADS_1
"Adella… Sepertinya di banding dengan rumah mewahku kamu lebih suka di sini," ujar Keenan.
"Memang iya, di sini sunyi jauh dari kebisingan kota. Ada pantai, pepohonan hijau. Pokoknya tempat ini lebih menenangkan hati," jawab Adella jujur.
"Baiklah, kalau begitu setelah menikah kita tinggal di sini juga tidak masalah," balas Keenan senang.
Adella tertegun, berbicara mengenai pernikahan membuat dirinya teringat kejadian beberapa waktu yang lalu di saat dia tanpa sengaja meminum minuman memabukkan.
"Keenan, apakah kita beneran sudah melakukan itu? Kenapa aku tidak ingat sama sekali dan saat bangun aku juga tidak merasakan apapun di tubuhku," tanya Adella ingin memastikan.
"Tentu saja, apa kamu ingin melakukan lagi malam ini?" goda Keenan.
"Tidak, aku tidak mau hamil dan belum siap hamil," sergah Adella tegas.
"Terlambat… Karena bisa saja kamu sekarang ini sudah hamil," balas Keenan bermuka serius.
Adella terlihat panik, dalam hati Keenan ingin tertawa dengan kecerdasan sang kekasih yang menurun.
"Sudah, jangan pikirkan yang macam - macam. Karena kamu hamil aku tidak akan lari dari tanggung jawab. Ayo makan, jangan biarkan anak kita kelaparan," goda Keenan berpura - pura serius.
Mau tak mau Adella memakan apa yang sudah dihidangkan oleh Keenan, meskipun dalam hatinya ada sesuatu yang mengganjal tapi Adella memilih diam.
"Serius kita mau tidur di sini? Kalau tiba - tiba ada ombak menerjang bagaimana?" tanya Adella cemas.
"Sudah tenanglah, semua ini sudah aku perhitungkan. Nanti di dalam kita tidak akan kedinginan," jawab Keenan santai sambil menarik lengan Adella masuk.
Sesampainya di dalam sudah ada tempat tidur yang empuk dengan ukuran yang memenuhi tenda. Jika di buat tidur 3 orang juga cukup. Meskipun sudah agak hangat tetapi tetap saja suaca terasa dingin.
"Kamu bilang di sini hangat, tapi masih agak dingin," keluh Adella.
"Kalau begitu aku akan menghangatkanmu," sergah Keenan menerjang tubuh Adella dan menindihnya.
"Hei… Kamu berat sekali," pekik Adella.
Keenan tanpa menjawab perkataan Adella langsung saja menggeser tubuhnya ke samping. Namun, bibirnya itu dengan pasti mendarat tepat di bibir Adella dan mempermainkannya dengan asyik.
Adella yang sudah terbiasa diperlakukan seperti itu mulai terbiasa dan bahkan menikmatinya. Adella bahkan juga membalas ciuman tersebut sampai membuat Keenan keranjingan.
Hasrat Keenan sesungguhnya sudah tidak terbendung, tapi pemuda itu tidak ingin melakukan sesuatu yang menyakiti Adella.
Dalam hati Adella merasa agak kecewa karena Keenan hanya mencium dan memeluknya saja malam ini.
__ADS_1
"Kenapa aku berharap lebih? Memalukan sekali," gumam Adella dalam hati.
Dari raut wajah Adella Keenan tahu jika kekasihnya tersebut sudah berhasrat tinggi. Akhirnya pemuda tersebut memeluk tubuh Adella dari belakang, jemarinya menyusup ke bukit kembar dan memainkannya denga lembut. Adella mendesah karena merasakan sesuatu yang membuat tubuhnya merasa nyaman seakan melayang.
"Adella, besok kita menikah ya?" bisik Keenan tak kuasa menahan gejolak birahinya.
"Iya," jawab Adella dengan kesadaran penuh, tapi pikirannya sudah dikuasai oleh nafsu yang membara.
Mendengar ucapan tersebut Keenan lalu memutar balikkan tubuh Adella, pemuda tersebut sudah memutuskan jika malam ini ingin mengakhiri status perjakanya. Namun, saat Keenan hendak melepaskan celananya Adella merasakan sesuatu yang mengalir di tubuh paling sensitifnya.
"Stop… Sepertinya aku datang bulan malam ini," pekik Adella dengan suara tertahan.
"Apa?" tanya Keenan tak percaya.
"Serius, aduh… perutku jadi sakit," kata Adella meringis.
Keenan segera mengangkat tubuh Adella dan membawa masuk ke dalam kastil agar tidak kedinginan.
"Cepat bersihkan tubuhmu, akan aku ambilkan pakaian dan pembalut," kata Keenan menahan kesabaran.
"Iya," jawab Adella patuh sebari tertawa kecil.
Jantung Adella tiba - tiba berdetak kencang. Kini dia beru menyadari jika pemuda yang menjadi kekasihnya adalah sosok lelaki terbaik untuknya.
Setelah mandi Adella memakai handuk dan menuju tempat tidur. Di atas sana sudah ada baju tidur yang agak tebal kompit beserta daleman dan celana dalam.
"Kita tidur di sini saja, AC nya sudah aku matikan. Aku akan ke bawah membiarkanmu susu hangat," ucap Keenan perhatian.
Adella mengangguk lalu segera memakai baju tidur setelah Keenan keluar dari kamar.
Tepat dia selesai memakai baju, Keenan sudah naik dengan membawa segelas susu hangat.
"Ayo di minum, setelah itu kita tidur," perintah Keenan lembut.
Adella minum sampai habis agar, perutnya yang nyeri sudah agak mendingan. Lalu Keenan dengan segenap kasih sayang menidurkan Adella sembari tangannya mengelus - elus perut sang kekasih lembut.
"Apa masih sakit?" bisik Keenan mesra.
"Ini sangat nyaman," jawab Adella yang sudah memejamkan mata.
Keenan tersenyum dan sepanjang malam terus mengelus perut Adella sampai dirinya juga tertidur dengan sendirinya. Walaupun malam ini gagal total tapi hati Keenan begitu puas karena Adella sudah membuka hatinya.
__ADS_1