
Aileen dan Deon baru saja memasuki pekarangan Paviliun milik Saralee, akan tetapi di sana masih sepi.
"Tumben mereka belum pulang?" tanya Aileen.
"Palingan juga sedang kencan," jawab Deon sekenanya sambil nyelonong masuk ke dalam kamar milik Aileen.
"Kak Deon mau ngapain?" tanya Aileen terkejut.
"Mau ngapain lagi? Ya tidur," jawab Deon singkat.
"Baiklah kalau begitu, aku akan tiduran di kamar Adella atau Saralee," ucap Aileen tidak keberatan.
Namun, saat dirinya berbalik tubuhnya sudah ditarik dan rubuh di ranjang bersama dengan tubuh Deon.
"Ahhhhhhh..." teriak Aileen.
"Tidur sini saja, aku nanti tidak akan macam-macam," pinta Deon manis.
Akan tetapi saat Aileen hendak Bangun perutnya berbunyi lumayan keras.
"Ahahah.... Lapar ya? Kita memang belum sempat makan siang" ujar Deon mengacak-ngacak rambut Aileen karena gemas.
Aileen hanya bisa menunduk malu, bayangkan di depan orang yang dikagumi tapi mengalami hal seperti itu.
"Tunggulah sini, aku mau lihat di dapur ada bahan masakan tidak. Kalau tidak ada aku akan beli makanan siap saji di depan," ujar Deon.
"Aku ikut," pinta Aileen malu-malu.
"Ayo," jawab Deon senang.
Kedua pasangan cantik dan tampan tersebut keluar dari kamar dan segera menuju dapur. Rupanya di sana masih banyak sayuran dan daging.
"Tuan putri duduk saja di sana, biar pelayanmu ini yang memasak," ucap Deon.
Aileen tertawa, sebab seorang Bos Mafia bisa bersikap konyol seperti itu.
Deon memasak dengan gaya cool, biarpun seorang lelaki tapi masih terlihat macho.
"Aku juga ingin belajar memasak," pinta Aileen.
"Mari sini!" ajak Deon tersenyum menggoda.
Aileen senang sekali, gadis itu mulai memotong sayuran dan mencucinya sampai bersih.
"Jika kita sudah menikah setiap hari akan seperti ini," goda Deon.
Aileen seketika memerah wajahnya, tidak di sangka jika kedatangan dirinya ke kota ini selain bertemu dengan ibu kandungnya juga menemukan cinta pertamanya.
Tak beberapa lama kemudian terdengar suara nada dering panggilan telephone, Deon segera meraih ponselnya yang berada di dalam saku celana.
"Aileen, kamu jaga masakannya bentar ya? dua menit lagi matikan kompornya!"
Deon mengangkat telepone tersebut dan menjauh kelaur dari dapur.
__ADS_1
Deon menoleh ke belakang, pemuda itu memastikan jika gadisnya tidak akan mendengar perbincangannya.
Aileen sendiri menyiapkan masakannya di meja makan, akan tetapi sudah beberapa saat berlalu orang yang dinantinya tidak kunjung datang. Aileen tetap sabar menunggu walaupun perutnya sudah semakin meronta minta diisi.
"Lama menunggunya ya?" tanya Deon.
"Tidak apa-apa, mari makan," ajak Aileen tersenyum ramah.
Dengan telaten Aileen mengambilkan makanan pada piring kekasihnya, saat itu Deon terus menatap Aileen dengan pandangan sayu.
"Kak Deon kenapa? Setelah kembali dari mengangkat telepon raut wajahmu jadi berubah," ujar Aileen yang menyadari perubahan pada Deon.
Deon terus menatap wajah lembut Aileen tanpa berkata sepatah kata.
Aileen yang merasa heran tetap fokus makan karena perutnya sudah melilit.
Deon juga makan, tapi hanya habis sedikit.
Setelah menghabiskan makanannya Aileen segera mencuci piring dan membereskan meja. Sedangkan Deon hanya melamun silahkan tengah berpikir keras.
"Kak Deon..." sapa Aileen lembut sambil menyentuh pundak kekasihnya.
Deon yang tersadar tiba-tiba meraih tubuh Aileen dan mencium bibir gadis itu penuh perasaan.
"Aku mencintaimu Aileen, aku mencintaimu... Bagaimana mungkin aku sanggup menyakiti perasaanmu." batin Deon.
ππππππππππππππππ
Sepulang kuliah Saralee merasa jenuh, sebab kedua sahabatnya tidak ada.
Saralee melamun sambil berjalan sendirian menuju gerbang. Dia sama sekali tidak memiliki semangat. Karena biasanya apa-apa selalu bersama kedua sahabatnya.
Dari kejauhan berdiri Raiyen yang bersandar pada mobil mewahnya, pemuda itu memperhatikan wajah Saralee. Jika sedang diam Saralee terlihat cantik. Hanya saja sikapnya kalau sudah kumat membuat Raiyen merasa kesal.
"Gadis batu, jangan melamun di tengah jalan. Kalau kamu diculik tidak akan sadar nanti," ejek Raiyen.
"Yang berani menculik aku pasti hanya kamu," balas Saralee.
"Di mana Adella?" tanya Raiyen.
Seketika Saralee menjadi kesal, entah kenapa ada perasaan tidak suka saat pemuda di depannya itu menanyakan tentang sahabatnya.
Saralee berlalu tanpa mau menjawab pertanyaan Raiyen.
"Hay, kenapa pergi begitu saja?" tanya Raiyen heran.
"Kalau mau menjemput Adella pergi saja ke tempat Keenan. Hari ini dia tidak kuliah," jawab Saralee ketus.
Raiyen tersekejut, beberapa detik kemudian tersenyum dan membukakan pintu untuk Saralee.
"Ayo masuk," ajak Raiyen.
"Malas ah," jawab Saralee.
__ADS_1
"Marah karena cemburu ya?" goda Raiyen.
"Apa-apaan, sepuluh pacarku saja tidak ada yang mampu membuat aku cemburu," balas Saralee.
"Kalau memang tidak cemburu ayo masuk ke mobil, hari ini aku di minta untuk mengantar kamu pulang ke rumah orang tuamu," ajak Raiyen.
"Apa?" pekik Saralee merasa malas. Karena perjalanan paling tidak membutuhkan waktu beberapa jam.
"Kamu lupa? Nanti malam acara pertunangan kita," ujar Raiyen Bercanda.
Saralee langsung menimpuk kepala Raiyen dengan tas.
"Heh, jadi perempuan lembut sedikit kenapa?" sindir Raiyen kesal karena kepalanya sakit.
"Kenapa tidak datang pada Adella saja kalau begitu?" ketus Saralee.
"Katanya Adella sudah ada Keenan, jadi aku akan datang padamu," kata Raiyen tertawa.
"Aku juga sudah punya banyak kekasih," jawab Saralee.
"Iyakah? Kalau begitu kenalkan aku pada mereka," ucap Raiyen santai.
"Mau apa?" tanya Saralee dengan nada tinggi.
"Mau melihat satu persatu kekasihmu kabur karena minder melihatku," jawab Raiyen.
Saralee merasa heran, biasanya pemuda di depannya tersebut selalu bersikap murung dan cuek. Entah kenapa kali ini bisa riang dan banyak bicara.
"Apa kamu bahagia ya mau bertemu dengan mantan kekasihmu?" tanya Saralee.
Seketika Raiyen berhenti tersenyum, pemuda itu langsung mendorong tubuh Saralee agar masuk ke mobil.
"Hay... Aku belum bilang setuju!" teriak Raiyen.
"Diamlah! Kalau tidak marah-marah kamu terlihat cantik," kata Raiyen dingin.
Jleb...
Seketika Saralee terdiam, padahal dia selalu mendapatkan pujian dari kekasihnya tapi Sam sekali tidak mempengaruhinya. Sedangkan ucapan Raiyen barusan yang nadanya tidak enak di dengar tapi membuat hati Saralee berdebar-debar.
"Kenapa aku lemah begini?" batin Saralee membisu.
Raiyen yang sudah duduk di belakang setir kemudi tersenyum dengan kepatuhan gadis yang di sampingnya.
Akhirnya mobil Raiyen melesat menuju luar kota. Padahal mereka kemarin baru ke sana. Di sepanjang jalan keduanya hanya diam saja. Saralee sibuk bermain dengan ponselnya, dia mengirim pesan pada kedua sahabatnya. Karena jika tidak berpamitan mereka akan marah.
Saralee, Adella dan Aileen sudah seperti saudara yang saling peduli dan mencemaskan satu sama lain. Saralee hanya senyum-senyum sendiri menggoda Aileen yang masak bareng dengan sepupunya. Sedangkan Adella yang berada di pulau pribadi tunangannya.
Sampai diperbatasan kota Saralee sudah tertidur, tanpa sadar ponselnya terjatuh.
Raiyen segera menepikan mobilnya sebentar dan mengambil ponsel tersebut, kemudian disembunyikan di sakunya.
"Saralee, aku baru sadar kamu ini cantik juga," batin Raiyen sambil menyentuh rambut gadis di sampingnya yang berantakan.
__ADS_1
Jangan Lupa Like dan Vote Ya, karena dukungan dari kalian sangat berarti bagi Authorπ