
Saralee dan Raiyen masih berada di paviliun, mereka berdua berniat menghabiskan malam di sana sekaligus mengemasi barang - barang pennting yang akan di bawa keluar negeri.
''Sudah di cek semua?'' tanya Raiyen.
''Sudah, besok pagi kita ke rumahmu membereskan barang - barangmu. Setelah itu kita akan makan siang bersama orang tua kita untuk perpisahan, sebabsorenya kita langsung meluncur ke bandara,'' jawab Saralee.
''Apa kamu tidak akan berpamitan pada Aileen dan Adella?'' tanya Raiyen.
''Aku sudah bilang pada mereka, katanya mereka akan ikut mengantar sampai di bandara,'' balas Saralee senang.
''Maaf ya, gara - gara aku kamu jadi harus ikut pindah kuliah,'' ucap Raiyen merasa bersalah.
''Kenapa harus minta maaf? Akulah yang menyebabkan kamu kecelakaan,'' timpal Saralee.
''Kan aku sendiri yang memang berniat ingin menjemputmu, tapi waktu itu aku sendiri yang ceroboh, kalau saja aku tidak terlalu ngebut pasti saat di tikungan tajam aku tidak akan hilang kendali,'' kata Raiyen menjelaskan.
''Baiklah, kalau begitu kita berdua yang salah,'' balas Saralee sambil tersenyum.
Saralee dan Raiyen tertawa, sebab mereka berdua kini sedang berebutan mengakui kesalahan. Sedangkan dulu saat mereka pertama kali bertemu selalu menyalahkan dan ingin menang sendiri,
''Saralee, sekarang kamu berubah sekali, dulu saat dalam keadaan salah kamu tidak pernah mau mengakui atau meminta maaf. Dan kamu juga pemalas sekali, sepertinya predikat gadis batu akan segera di cabut,'' ujar Raiyen masih belum bisa berhenti tertawa.
''Semua karena aku hidup bersama Adella dan Aileen, aku jadi bisa belajar mandiri seperti Adella. Dan juga bisa meminta maaf walau tidak bersalah seperti Aileen,'' jawab Saralee senang mengenang kedua sahabatnya.
''Persahabatan kalian sungguh luar biasa, bisakah ceritakan bagaimana awal kalian bertemu dan tinggal bersama?'' pinta Raiyen.
''Tentu saja,'' jawab Saralee bersemangat.
'Akan tetapi baru saja Saralee ingin memulai bercerita niatnya itu terhenti sebab suara bel yang terdengar jelas.
''Siapa malam - malam ini bertamu?'' tanya Raiyen.
''Biar aku saja yang buka,'' sela Saralee langsung bangun dan turun ke lantai bawah.
Saralee mengira jika yang datang adalah kedua sahabatnya untuk datang mengganggu, akan tetapi begitu pintunya terbuka matanya langsung membulat.
''Maaf malam - malam datang kesini, akan tetapi aku di suruh mama dan papa untuk menyerahkan obat ini pada Raiyen,'' kata Nilna agak canggung.
''Oh, adik ipar. Aku kira siapa malam - malam begini datang. Ayo langsung naik ke atas saja, kakakmu belum tidur kok,'' jawab Saralee santai.
Mendengar kata adik ipar dan sebutan kakak membuat Nilna menjadi salah tingkah.
''Ni anak niat banget mau ngerecokin, baiklah... malam ini akan aku buat kamu menyerah dengan sendirinya,'' batin Saralee.
Sesampainya di atas Raiyen juga terkejut dengan kedatangan adik tirinya sendiri.
''Nilna, ada kepentingan apa kamu datang kemari?'' tanya Raiyen kaget.
''Ini aku di suruh papa dan mama untuk menyerahkan obat ini, katanya jika mau tidur di oleskan ke tangan bisa membuat kesembuhan semakin cepat. Mari aku bantu,'' jawab Nilna.
__ADS_1
Saralee dengan senyuman merekah langsung bertindak.
''Haiya... Adik iparku ini kan baru dari perjalanan jauh. Sebaiknya kamu istirahat di kamar ini saja yang barang - barangnya sudah tidak ada. Kalau di sana masih menumpuk barang kakak sepupuku. Soal obat ini kamu tidak perlu khawatir, kakakmu sudah punya istri yang siap siaga untuk merawat,'' sela Saralee setengah menyindir.
''Benar kata kakak iparmu, sebaiknya kamu segera istirahat saja,'' timpal Raiyen.
Nampak wajah kecewa pada Nilna, akan tetapi karena sudah di tolak mentah - mentah gadis itu tidak memiliki keberanian lagi.
''Baiklah, kalau begitu aku masuk ke kamar dulu ya?'' pamit Nilna.
''Semoga tidur nyenyak ya?'' balas Saralee tersenyum ceria.
Setelah Nilna masuk ke kamar Adella, Saralee langsung mengajak Raiyen unntuk istirahat ke dalam kamar.
''Tumben kamu tidak marah, biasanya langsung ngambek kalau Nilna mencoba perhatian padaku,'' tanya Raiyen senang dengan perubahan Saralee.
''Kenapa harus marah, bagaimanapun juga sekarang Nilna juga menjadi adikku, lagian itu karena dulu aku yang belum dewasa,'' jawab Saralee.
Entah kenapa Raiyen semakin terpesona saja dengan Saralee, pemuda itu tiba - tiba saja memajukan wajahnya kemudian mau mencium bibir Saralee. Akan tetapi Saralee mengelak.
''Hei... Kamu masih sakit, jangan nakal begitu,'' pekik Saralee sengaja agak mengeraskan suaranya.
''Yang sakit hanya tangan sebelahku, bagian yang lain sudah sehat seutuhnya,'' jawab Raiyen mantap.
''Tapi ini bukan saat yang tepat, besok saja kalau kita sudah di luar negeri. Sekarang kita olesi dulu tangan kamu dengan obat yang dibawakan adikmu,'' tawar Saralee.
''Baiklah, tapi setelah itu aku dihadiahi cium - cium,'' jawab Raiyen menggoda.
Raiyen dengan senang hati memberikan tangan sebelahnya yang sakit akibat terbentur barang keras sehingga menyebabkan cedera.
Saralee dengan lembut mulai mengolesi sambil mengurut pelan.
''Bagaimana rasanya?'' tanya Saralee mngeraskan suaranya lagi.
''Enak sekali, ayo lanjutkan terus,'' jawab Raiyen.
''Sudah, sekarang gantian aku. Kaki kiriku tadi keseleo,'' pinta Saralee lembut dan manja.
''Iya,'' jawab Raiyen dengan senang hati.
''Auu... Sakit... Pelanlah sedikit, jangan terlalu bersemangat begtu,'' pekik Saralee berakting.
''Oh maaf.. akan aku kurangi tenagaku biar kamu enakan,'' jawab Raiyen merasa bersalah.
Saralee menahan tawa membayangkan bagaimana reaksi Nilna alias adik iparnya.
__ADS_1
***********************************************************************************
Nilna yang berada di kamar sebelah menangis mendengar suara orang yang dicintainya sedang bersama orang lain. Dia mengira dari suara kedua orang itu tengah melakukn sesuatu yang intim seperti pasangan pengantin pada umumnnnya di malam pertama.
''Raiyen, kenapa hatiku sakit sekali,'' tangis Nilna.
__ADS_1