Scorpio

Scorpio
Bintang Arisan


__ADS_3

Setelah selesai memasak, Adella merasa tegang karena Mamanya Keenan sedang mencicipinya.


Awalnya wajah Mamanya Keenan terlihat ragu, tapi dari penampilan dan bau makanan yang sedap Mamanya Keenan merasa penasaran.


"Hmm.... Lumayan," ucap Mama Keenan datar.


Adella ingin tertawa, karena tingkah Mamanya Keenan yang jaim. Bilang lumayan tapi makan terus.


"Ma, nanti kalau dimakan terus sebelum Arisan dimulai hidangannya sudah habis," sindir Keenan.


Mamanya Keenan merasa malu, tingkahnya seperti seseorang yang baru ketahuan mencuri.


"Aku hanya memastikan saja, takutnya tidak memenuhi standar selera mereka. Karena teman-teman Mama dari keluarga sosialita," ucap Mama Keenan sambil berlalu pergi.


"Anak sama Mama sama saja, merasa gengsi mengakui kelebihan orang lain," batin Adella.


"Hey, sekarang kamu mandi lagi! Aku akan mencarikan baju gantimu dulu," kata Keenan tegas.


"Kalau begini kenapa tadi aku disuruh berhias dulu jika ujung-ujungnya memasak di dapur," protes Adella, dia sangat kesal.


"Karena mataku sakit melihat wanita yang penampilannya berantakan," balas Keenan seperti jarum yang menusuk jantungnya.


Adella merasa kesal dan merasa terhina.


"Awas, nanti akan aku buat kamu sampai tidak bisa berkedip karena memandangku," batin Adella.


"Aku mandi di mana?" tanya Adella ketus.


"Ayo ikut aku," ucap Keenan berlalu pergi.


Adella seperti ekor yang membuntuti di belakang Keenan.


"Ini kamarku, cepatlah sebelum tamu Mama datang!" perintah Keenan dengan wajah jutek.


Adella cuek tidak menanggapi ucapan Keenan barusan.


"Wah, namanya juga orang kaya. Kamar tidur saja seperti punya raja," batin Adella.


Adella semakin takjub lagi karena kamar mandinya juga indah dan mewah. Tapi Adella teringat ucapan Keenan jadi dia mandi secara buru-buru.


Setelah mandi Adella hanya memakai selembar kain handuk yang menutupi dada sampai atas lutut, Adella membuka lemari pakaian. Tapi di sana hanya ada baju lelaki.


"Bukankah Keenan bilang mau menyiapkan baju ganti?" gumam Adella pada diri sendiri.


Beberapa detik kemudian Keenan masuk ke kamar tanpa permisi. Pemuda itu begitu masuk langsung disuguhi pemandangan yang memukau.


"Ahh... cabul, keluar kamu!" teriak Adella.


Keenan hanya terbengong melihat paha mulus serta belahan dada Adella yang membuat birahinya naik, seketika tubuh Keenan memanas.


Karena Keenan tidak mau pergi, Adella berlari masuk ke dalam kamar mandi lagi.


Bruakk...


"Auuu...."


Tiba-tiba terdengar suara orang jatuh dan jeritan Adella secara bersamaan. Keenan langsung berlari menyusul Adella di kamar mandi.


Adella masih tersungkur di lantai dan handuknya sudah merosot. Hanya bagian bawahnya yang tertutupi.

__ADS_1


Keenan sampai mimisan, karena baru kali ini pemuda itu melihat wanita yang telanjang di depan matanya sendiri.


Tapi melihat Adella yang meringis kesakitan, Keenan langsung menyeka darah segar di hidungnya. Kemudian pemuda itu menarik handuk itu hingga menutupi dadanya Adella yang sangat menantang.


"Hey, apa yang kamu lakukan?" teriak Adella.


"Diamlah! Atau aku akan melempar kamu ke lantai lagi," jawab Keenan merasa cemas dan marah secara bersamaan.


Pemuda tampan itu meletakkan tubuh Adella di ranjang.


Adella segera meraih selimut yang besar di sampingnya dan sembunyi di bawahnya.


Tapi dengan cekatan Keenan menarik menyingkapkan selimut bagian bawah dan memegang lembut kaki kiri Adella yang membiru.


"Apakah ini sakit?" tanya Keenan berubah lembut.


Adella terkejut dengan perlakuan manis pemuda sombong itu.


"Iya... sakit sekali," rengek Adella seperti anak kecil.


"Baiklah tunggu sebentar, sepertinya aku punya salep untuk otot keseleo di laci," Kata Keenan langsung mengambil obat tersebut.


Dengan lembut Keenan mengolesi pergelangan kaki Adella.


"Kamu ini kenapa bisa ceroboh begitu?" ucap Keenan lembut.


"Aku sedang sakit, kenapa kamu malah memarahiku. Semua ini juga gara-gara kamu!" protes Adella.


"Iya, maafkan aku," balas Keenan menyesal.


"Apa... Maaf? barusan aku tidak salah mendengar kan? Seorang Keenan yang angkuh mengucapkan permintaan maaf,"


"Lengan aku juga rasanya sakit, karena tadi menghantam tembok dengan keras," rengek Adella jujur.


Tubuh gadis itu terasa remuk. Dia tidak mengira bisa terjadi peristiwa yang memalukan seperti ini.


"Sini, aku obati," kata Keenan.


"Tidak, aku bisa sendiri," tolak Adella ketakutan.


"Apa kamu takut jika aku macam-macam padamu?" tanya Keenan menggoda.


"Tentu saja, bagaimanapun kamu juga seorang lelaki," jawab Adella ketus.


"Tapi seleraku tinggi, gadis kecil sepertimu tidak mungkin bisa mempengaruhiku," balas Kenan tak mau kalah.


Adella merasa terhina, dia yakin jika tubuh dan wajahnya tak kalah cantik dengan model.


"Baiklah, akan aku buat kamu merasa malu dan menjilat ludahmu sendiri," batin Adella merasa kesal.


"Sepertinya punggungku juga sakit, bisa tolong oleskan sedikit salepnya? Tapi jangan banyak-banyak nanti aku kepanasan," pinta Adella manja.


Keenan kaget dengan permintaan gadis yang jauh lebih muda darinya itu. Apalagi setelah Adella membelakanginya dan menunjukkan punggungnya yang putih mulus.


"Rasain kamu, akan ku lihat bagaimana ekspresimu nanti," batin Adela tertawa lirih.


"Jelas-jelas tadi gadis itu jatuhnya tengkurap, mana mungkin punggungnya juga terluka. Apa dia sengaja mengerjaiku? Baiklah kalau mau main-main sedikit," bisik Keenan dalam hatinya dengan tersenyum licik.


Keenan mulai beraksi, pemuda itu mengoleskan salep sedikit kemudian meratakan ke seluruh punggung Adella. Gerakannya tidak seperti pijatan, tapi malah seperti belaian yang sangat lembut.

__ADS_1


Adella merasakan sensasi yang aneh bercampur geli.


Tiba-tiba Mama Keenan masuk ke kamar. Wanita sebaruh baya yang masih terlihat sangat cantik itu sampai menjatuhkan peralatan make up dari tangannya.


Braakkkkk


"Ma, ini tidak seperti yang Mama kira," kata Keenan menjelaskan.


"Iya, Tante. Kita tidak melakukan apa-apa," timpal Adella mencoba menjelaskan.


"Melakukan apa-apa Mama juga tidak keberatan, karena Mama sudah ingin menjadi seorang nenek yang cantik. Jadi semua orang akan semakin mengagumiku karena awet muda," jawab Mama Keenan riang.


Adella dan Keenan sangat terkejut, mereka berdua saling berpandangan dan menunduk karena malu.


"Apa kalian sudah selesai?" tanya Mamanya Kenan tertawa lirih.


"Apanya yang sudah selesai, Ma? Kita ini tidak melakukan apa-apa," ucap Keenan marah yang bercampur malu, pemuda itu segera keluar dari kamar.


Adella merasa sangat canggung.


"Tenanglah, ayo pakai bajumu. Nanti biar Tante yang mendandani kamu," kata Mama Keenan berubah baik.


"Ada apa ini, kenapa Mama Keenan menjadi lembut padaku? Biasanya sinis sekali," batin Adella khawatir.


Adella segera berganti pakaian yang sudah di siapkan Mamanya Keenan.


Dia memakai gaun yang sangat mahal seperti putri dari keluarga konglomerat. Wajah serta rambutnya juga di rias menjadi sangat cantik seperti peri dalam dongeng.


"Cantik sekali, pantas saja anakku tertarik padanya," batin Mama Keenan tersenyum puas.


Selesai berhias Adella berjalan pelan menuju ruang tamu di lantai pertama.


Kenan sudah menunggu di samping tangga, pemuda itu tahu jika Adella kakinya terluka.


Dengan penuh perhatian Keenan memegang tangan serta pinggang Adella supaya nanti tidak terjatuh saat menuruni tangga.


"Jangan baper, aku hanya menolongmu supaya tidak jatuh dan mempermalukan aku," bisik Keenan.


"Akupun juga tidak sudi kamu sentuh kalau kakiku sehat," balas Adella berbisik.


Dari bawah semua tamu saling menatap penuh kagum dengan sepasang kekasih yang terlihat sangat serasi.


Apalagi setelah tahu jika hidangan yang mereka makan adalah masakan Adella sendiri.


"Luar biasa, aku sangat iri padamu. Karena kamu mempunyai calon menantu yang sangat cantik, cerdas, sopan dan pandai memasak."


Semua orang memuji Adella, air matanya mulai menetes.


"Meskipun statusku rendah tapi mereka semua bisa menghargai kelebihanku," batin Adella terharu.


Dia teringat kembali saat dulu di hina oleh keluarga mantan kekasihnya.


Keenan seolah tahu apa yang dirasakan Adella, pemuda itu dengan lembut menghapus air mata di pipi Adella dengan lembut.


"Jangan menangis, nanti make up kamu luntur," kata Keenan sadis.


"Apa-apaan ini, tadi aku sempat terharu dengan kelembutannya. Ujung-ujungnya karena dia takut aku mempermalukan dia," batin Adella kesal.


Terimakasih sudah berkenan membaca karya saya. Jangan lupa Like, Vote dan beri Bintang 5 ya🙏 Karena dukungan dari kalian semua sangat berarti bagi Author.

__ADS_1


Mohon kritik dan sarannya semoga Novel SCORPIO ini bisa berkembang lebih baik lagi🤗


__ADS_2