
Kota tempat tinggal keluarga Adella cukup jauh, membutuhkan perjalanan sekitar tiga jam.
“Ternyata kamu anak desa ya?” tanya Keenan.
Entah kenapa segala perkataan yang terucap dari bibir Keenan selalu terdengar tidak enak. Adella kesal merasa seolah di ejek oleh pemuda itu.
“Kenapa? Malu punya tunangan gadis desa?” sindir Adella.
Keenan tertawa, pemuda tampan itu padahal sudah berusaha bersikap lunak. Namun siapa sangka Adella masih saja kesal.
Keenan lebih memilih diam, sebab ingin memperbaiki hubungan yang dari semula tercipta karena keterpaksaan. Sikap cuek dan acuhnya Adella membuat Keenan penasaran, pemuda itu terobsesi untuk menaklukkan gadis matrek itu.
Setelah mulai memasuki perbatasan kota, Adella mulai melamun mengingat semua kenangan manis tentang mantan pacarnya. Arbay, Kakak seniornya sewaktu sekolah di SMA. Pemuda itu dulu menjadi Ketua OSIS, mereka berdua saling mengenal karena Adella murid berprestasi yang sering mengikuti perlombaan, dan Arbay sebagai Ketua OSIS bertugas mendampingi Adella.
Keenan melirik wajah Adella yang berubah kosong, jiwa lelakinya tidak rela jika tunangannya itu memikirkan pemuda lain.
Keenan tahu, jika Adella dan Arbay pacaran selama tiga tahun. Mereka terpaksa berpisah sebab Arbay di jodohkan dengan perempuan yang sepadan. Karena saat ini Ayah Arbay tengah mencalonkan diri menjadi Bupati yang membutuhkan dukungan dari calon besannya.
“Teringat mantan ya?” tanya Keenan berusaha bersikap wajar.
“Bukan urusanmu!” jawab Adella ketus.
Keenan kesal juga dipermainkan oleh gadis kecil seperti Adella, pemuda itu biasanya yang selalu bersikap dingin pada para wanita yang tergila-gila padanya.
Setelah tiga jam mereka akhirnya sampai di sebuah rumah sakit, di mana Ibu dan Adik Adella di rawat.
Di sana Ibu dan Adik Adella di rawat menjadi satu ruangan, berkat uang yang dikirimnya mereka bisa mendapat perawatan terbaik.
“Ayah,” ucap Adella berlari memeluk Ayahnya.
“Anak kebanggaanku, akhirnya kamu datang, Nak,” jawab Ayah Adella penuh haru.
“Kak, aku rindu sekali!” ucap Adik Adella ikut berpelukan.
Keenan ikut tersenyum melihat kebahagiaan Adella. Pemuda itu bisa tidak mengira jika Adella yang biasanya memasang wajah cuek tapi bisa bersikap manja pada orang tuanya.
“Adella, apa itu kamu, Nak?” tanya Ibu Adella yang baru bangun.
“Iya, Ibu. Ini Adella,” jawab Adella memeluk ibunya pelan.
“Siapa pemuda yang bersamamu itu?” tanya Ibu Adella.
Kemudian Ayah Adella ikut menatap pemuda tampan yang bersama putrinya dengan pandangan penasaran.
“Perkenalkan, nama saya Keenan,” sapa Keenan sopan.
__ADS_1
Adella terharu juga melihat pemuda sombong itu bisa bersikap sopan terhadap kedua orang tuanya.
“Saya Melia, Ibunya Adella.”
“Saya Wan, Ayahnya Adella. Dan ini Kia, sedangkan yang sedang sakit adalah Dicky.”
“Senang berkenalan dengan kalian semua,” ucap Keenan senang mendapatkan sambutan yang baik.
“Adella, apakah orang yang kemarin meminjamkan uang itu Nak Keenan?” tanya Wan penasaran.
“Iya, Ayah,” jawab Adella jujur.
“Terima kasih banyak, Nak Keenan. Tapi sepertinya kemarin ada kekeliruan, uang yang Nak Keenan kirimkan terlalu banyak,” kata Wan tersenyum sungkan.
“Tidak ada kekeliruan, kemarin memang saya mengirimkan segitu. Dan kalian tidak perlu repot-repot untuk mengembalikannya,” jawab Keenan tetap menjaga sopan santunnya.
“Tidak bisa begitu, Nak Keenan. Uangnya terlalu banyak, nanti sisanya saya kirimkan kembali ya” sela Ayah Adella tidak enak.
“Sungguh, saya sangat ikhlas. Karena kalian sudah saya anggap seperti keluarga saya sendiri,” jawab Keenan serius.
Ayah Adella menatap putrinya seolah meminta penjelasan mengenai hubungan mereka, sebab seorang pemuda yang rela memberikan uang dengan jumlah banyak pasti ada sesuatu dibaliknya.
Namun Adella sama sekali tidak ingin memberitahukan kebenaran, karena dia tahu jika kedua orang tuanya masih trauma jika kejadian yang sama akan terulang kembali.
“Aku ikut,” kata Keenan.
“Tidak usah, sebaiknya kamu menunggu di sini saja,” jawab Adella berlalu pergi.
Adella sebenarnya tidak ingin keluarganya mengenal Keenan, sebab dia dan pemuda itu hanyalah hubungan di selembar kertas. Adella takut jika mengecewakan kedua orang tuanya lagi.
Sesaat kemudian masuk satu pesan dari ponselnya, Adella segera membuka pesan tersebut.
Keenan
Jangan lama-lama!
Adella tersenyum kecil, dia mengira jika Tuan Keenan yang kaya raya itu tidak betah berlama-lama di Rumah sakit.
Tidak jauh dari rumah sakit ada sebuah restoran. Adella memilih ke situ karena dia tahu jika Keenan memiliki selera yang tinggi. Apalagi Adella juga merasa sayang kalau menyia-nyiakan kartu kredit dari tunangannya.
“Sudah lama keluargaku hanya makan seadanya, kini saatnya aku membuat kehidupan mereka lebih baik lagi,” batin Adella riang.
Adella cukup berjalan kaki untuk menyeberang, karena restoran itu berada tepat di depan rumah sakit.
Adella memesan banyak makanan yang enak-enak, dia sudah membayangkan jika adik-adiknya pasti akan makan dengan lahab.
__ADS_1
Setelah membayar, Adella segera pergi. Karena beberapa pesan sudah masuk, dia tahu jika pesan itu pasti dari Keenan yang tidak sabar menunggu.
Baru saja Adella melangkah keluar dari pintu, tiba-tiba dia bertemu dengan sosok pemuda yang selama tiga tahun ini selalu menemani setiap langkahnya.
“Adella?” ucap Lelaki itu merasa takjub, sebab penampilan Adella sudah jauh berbeda dengan dulu yang tomboi.
“Arbay, apa kabar?” tanya Adella berusaha bersikap wajar.
Padahal tidak ada yang tahu jika sebenarnya hatinya retak sebab cinta dan rindu yang terlarang.
“Kamu ke mana saja selama ini? Aku sudah mencarimu,” ujar Arbay dengan suara parau, tatapan matanya dipenuhi sinar kerinduan.
“Untuk apa kamu mencariku? Bukankah kita sudah tidak ada hubungan apa-apa? Lagi pula kamu juga sudah punya tunangan,” jawab Adella cuek.
“Tapi aku hanya mencintai kamu, sampai detik ini cinta ini tidak pernah berubah,” balas Arbay meyakinkan Adella.
“Tapi aku sudah berubah, dan kata cinta darimu juga tidak bisa mengubah apapun di antara kita,” kata Adella menahan luka.
Tiba-tiba Adella kaget karena melihat Keenan yang baru saja menyeberang jalan untuk menyusul dirinya. Tunangannya itu terlihat angker dan penuh amarah.
Antara bingung dan takut, ketika Keenan sudah ada di dekatnya Adella langsung menarik lengan pemuda itu dan mencium bibirnya dengan mesra. Seketika hati Keenan yang semula panas berubah sejuk.
“Arbay, aku sudah punya tunangan,” kata Adella terpaksa.
“Secepat inikah kamu melupakan aku?” tanya Arbay menyentuh dadanya yang sesak.
“Tapi inilah kenyataannya,” jawab Adella cuek.
“Selamat, semoga kamu bisa bahagia,” ucap Arbay lemah.
“Aku pasti bahagia,” balas Adella berlalu pergi.
Tanpa terasa air matanya berlinang deras, hatinya remuk. Dia sendiri justru lebih sakit saat tadi mengucapkan kata-kata yang kasar untuk cinta pertamanya.
“Seharusnya aku yang menangis, karena ciumanku dicuri darimu,” sindir Keenan kesal.
Adella menatap Keenan dengan rasa marah, karena tidak bisa memahami kondisinya.
“Aku bukan seseorang yang begitu saja membiarkan orang lain mengambil apapun dariku, jadi apa yang sudah kamu curi akan aku ambil kembali,” timpal Keenan menyeringai.
Dengan sigap Keenan menarik tubuh Adella, tidak peduli jika gadis itu tengah membawa makanan cukup banyak. Namun Keenan langsung mendaratkan ciuman ganas yang membuat Adella kewalahan tak berdaya.
Adella marah, karena mereka berciuman di tempat umum. Namun saat dia melirik ke arah pintu restoran, ternyata mantan pacarnya masih berdiri di sana. Mau tak mau Adella pasrah saja mendapat ciuman yang bertubi-tubi, sebab jika saat ini dia mendorong Keenan pasti Arbay akan curiga.
Jangan Lupa Like dan Vote ya🤗 Karena dukungan dari kalian sangat berarti bagi Author🤗
__ADS_1