Scorpio

Scorpio
Keamanan


__ADS_3

Adella kesal sekali dengan perilaku Keenan yang suka seperti itu. Walaupun sejujurnya setiap sentuhan yang diberikan oleh kekasihnya memberikan sensasi yang luar biasa akan tetapi kesadaran Adella masih sepenuhnya ada.


"Jika tidak keluar maka kita batal nikah!" ancam Adella.


Dalam sekejap Keenan langsung melangkah mundur dan tersentym puas.


"Baiklah, aku nyerah," ucap Keenan tersenyum manis.


Adella buru - buru mendorong tubuh Keenan untuk segera keluar, sedangkan dia juga ingin segera berganti pakaian karena sudah penasaran bagaimana penampilan Aileen.


Tepat setelah Adella selesai, Aileen juga keluar dari ruangan ganti.


"Wow… Aileen, kamu memang pantas menjadi Puteri dari keluarga bangsawan!" pekik Adella.


"Iya… Cantik sekali!" puji Deon begitu terpukau dengan kecantikan Aileen.


Aileen mencoba model baju pengantin yang bagian atas terbuka dan juga bagian bawah pendek, tidak panjang seperti Adella. Sebab Deon sangat mengenal sikap Aileen yang selalu kurang percaya diri dan mudah gugup bila di tempat umum. Deon takut apabila nanti Aileen tidak sanggup menguasai kegugupannya saat berjalan Aileen jadi terjatuh karena tidak fokus jalan.


"Aileen, bagaimana? Apakah kamu suka?" tanya Deon penuh harap.


Aileen dengan malu - malu menganggukkan kepalanya perlahan.


"Yah… Gaun ini sangat cocok untukmu," puji Deon yang sangat mengagumi pesona Aileen.


"Deon, kalau begitu ayo kita pulang," ajak Keenan.


"Baiklah kalau begitu," jawab Deon setuju.


"Loh, kenapa kalian berdua belum mencari bajunya?" tanya Adella heran.

__ADS_1


"Surprise dong," jawab Keenan.


"Betul itu," balas Keenan menahan tawa.


"Curang!" umpat Adella.


"Iya… curang kalian," timpal Aileen.


"Sudah… Jangan marah! Ayo aku bantuin ganti baju," bujuk Deon sambil memegang kedua bahu Aileen dari belakang.


"Tidak, aku bisa sendiri," tolak Aileen seketika.


Deon hanya diam saja karena tahu jika calon istrinya tersebut memang pemalu.


Aileen segera masuk ke ruang ganti, berjalannya juga bisa cepat sebab tak perlu memegangi ujung gaun. Berbeda dengan Adella yang membutuhkan bantuan pelayan untuk memegangi ujung gaun agar tidak kotor atau terinjak.


Setelah menunggu Aileen cukup lama akhirnya mereka berempat memutuskan untuk pulang.


"Iya, ayo," jawab Aileen bersemangat.


"Baiklah, tapi jangan menginap di rumah sakit lagi ya? Besok aku harus kerja dan kamu juga masuk kuliah. Apalagi kalau tidur di rumah sakit sangat tidak nyaman," sela Keenan.


"Iya," balas Adella.


******************************************


Tepat setalah sebulan Raiyen sudah sembuh total, dan acara pernikahan bersama tersebut langsung akan di selenggarakan gedung termegah yang hanya akan di hadiri oleh tamu undangan tertentu.


Dua hari sebelum pernikahan Keenan dan Deon mengobrol soal keamanan.

__ADS_1


"Deon, apakah calon mertuamu dari pihak Fernand akan datang?" tanya Keenan.


"Entahlah, akan tetapi saat aku memberikan surat undangan kepadanya dua Minggu yang lalu wajahnya hanya dingin dan tidak merespon sama sekali," jawab Deon santai.


"Kalau begitu kita harus memperketat, sebab aku memiliki firasat buruk," ujar Keenan menyampaikan pikirannya.


"Apa maksudmu Fernand akan datang dan membunuhku untuk menghentikan pernikahan?" tanya Deon.


"Bisa saja, mana ada seorang ayah yang akan rela menikahkan putrinya pada musuh sendiri," balas Keenan masuk akal.


"Kak Saidon juga berbicara seperti ini, makanya dia sengaja mendatangkan anak buat elit khusus untuk mengamankan," kata Deon.


"Aku juga mengerahkan semua anak buahku," ucap Keenan tak mau kalah.


"Papinya Saralee juga begitu, sebab dia tahu jika nanti bisa saja terjadi sesuatu yang tidak terduga," sela Deon.


"Oh iya, ibunya Aileen apa juga akan datang?" tanya Keenan penasaran.


"Tentu saja, anak buahku sudah menjemput dan menjaga keamanan mereka. Bagaimana dengan orang tua Adella?" kata Deon bertanya balik.


"Aku juga sudah meminta para anak buah untuk menjemput mereka, sekarang mereka mungkin sudah sampai di rumahku," jawab Keenan.


"Rumah mana?" tanya Deon.


"Rumahku sendiri, aku takut kalau keluarga Adella merasa minder jika tinggal di rumah orang tuaku. Kalau di rumahku sendiri kan mereka bisa merasa bebas," jawab Keenan.


"Kamu pengertian sekali," puji Deon tidak menyangka.


"Kenapa? Jangan mengolokku! Banyak hal sudah berubah semenjak kita bertemu dengan para gadis kecil itu," sergah Keenan.

__ADS_1


"Yah… Kamu betul," balas Deon.


__ADS_2