Scorpio

Scorpio
Chapter Tiga


__ADS_3

Pagi hari dibandara utama kereta api Dreaski. Tepat pukul 07.00am seorang pria bertudung menggunakan berhaoodie berwarna coklat pastel berjalan santai kearah bangku penunggu yang sudah diisi oleh seorang kakek tua tengah membaca koran. Dengan tenang ia mendudukkan diri disebelah kakek tersebut dan meletakkan kopi yang sengaja ia bawa diatas kursi hingga terdengar bunyi 'Tuk' cukup keras. Kakek itu hanya meliriknya sekilas lalu meletakkan koran yang baru ia baca diatas kursi dan meninggalkannya begitu saja.


Sedangkan pria bertudung itu juga menatapnya sekilas lalu membawanya seperti biasa dan berusaha untuk tidak memunculkan mencurigakan dari pihak keamanan bandara yang tengah berkeliling.


'Kode æ?'


Kereta menuju Sarinda akan segera berangkat dalam 5 menit


Suara pemberitahuan menggema diseluruh sudut pemberangkatan dengan segera pria bertudung itu memasuki kereta api agar tidak tertinggal dan mencari kursi yang berada dipojok paling belakang dekat jendela. Ia membuka lembaran koran yang ia bawa kemudian membaca setiap kode perkode dengan seksama.


_Selamat pagi agen Secorpio. Sebelumnya kerja bagus atas misimu sebelumnya. Berkatmu, bukti itu kini ditangan kita dan polisi sangat terbantu dengan kerja kerasmu saat secara tiba-tiba bukti satu-satunya yang mereka miliki hilang entah kemana.


Selanjutnya, mari kita bahas misimu berikutnya. Targetmu kali ini adalah seorang wakil menteri pertahanan Dreaski, Kotonama Asasuyori. Orang yang dikabarkan tengah mengancam keamanan negara dengan cara membocorkan beberapa berkas-berkas penting kepada negara bagian Selatan, Sourkia. Dan uang hasil penjualan berkas penting itu ia pergunakan untuk berjudi serta membeli beberapa properti mewah seperti apartemen, mobil, dan beberapa barang lainnya.


Misimu kali ini adalah mendekati dan membaca gerak-gerik wakil menteri pertahanan Dreaski, Kotonama Asasuyori. Lalu misi yang harus kau lakukan pertama adalah menikah dan buatlah anak—


"Apa-apan ini?!" kagetnya tertahan saat membaca surat yang terselip diantara koran untuk mengetahui misi selanjutnya. Lalu kembali membaca surat itu dengan serius.


Yori merupakan orang yang terkenal akan keramahannya dimuka publik hingga sedikit sulit bagimu untuk mengulik informasi pribadi secara terang-terangan, dan perlu kau tau pria itu cukup jarang untuk menghadiri acara yang diadakan tempat putranya bersekolah yang diadakan setiap tahun sebaliknya ia akan hanya hadir saat acara ramah tamah yang diadakan secara berkala.


Acara yang menjadi ajang pertemuan tak resmi para politikus dunia.


Daftarkan anakmu ke sana agar kau bisa menyusup di acara tersebut dan menjalankan misimu yang telah ku sampaikan tadi. Karena tanggal pendaftaran semakin dekat, kau hanya punya waktu dua minggu.


Brak!


Secorpio membanting kertas koran itu diatas meja hingga menarik atensi penumpang lain yang langsung kembali keaktivitas masing-masing. "Bodoh! Mana bisa buat anak dalam waktu sesingkat itu.."


 "Dua Minggu.."


...'Operasi æ'...


...'Lakukan sesuai aturan dan jagalah perdamaian.'...


...-Pemimpin-...


'Baiklah'


'Aku Secorpio'


'Akan menjadi Ayah untuk kelangsungan misi yang telah diberikan dengan baik' batinnya menatap kearah jendela.

__ADS_1


...***...


MISSION 1 : Operasi æ


Misi 1 :


"Ini ruang keluarga, pak"


"Lengkap dengan perabotan, pendingin dan pemanas ruangan, lalu..."


"Saya ambil yang ini" potong Scorpio saat sudah mengecek setiap sudut ruangan tidak ada alat penyadap dan melihat rute kabur yang aman.


"Kalau begitu silahkan anda menandatangani kontrak ini terlebih dahulu, tuan Samudera" ujar pria itu memberikan kertas kontrak yang langsung ditanda tangani oleh pria bernama Samudra.


'Inilah awal dari semunya' batinnya bersuara.


...***...


Siang dini hari, seorang pria tengah berada disalah satu panti asuhan kecil berada di salah satu desa terpencil.


"Mau mengadopsi anak?" Tanya seorang pria paruh baya dengan wajah memerah seperti sedang mabuk alcohol.


"Ya, Apa bisa?"


"Pilih saja yang kau suka" potong pria berkumis itu masuk kedalam panti terlebih dahulu. "Masuk saja"


'Lingkungan disini sangat buruk. Apakah pria itu benar-benar mengurus mereka dengan baik?' batinnya saat melihat sampah kertas berserakan dimana-mana dan beberapa anak panti yang menatapnya penasaran.


'Tapi aku tidak mau ambil resiko saat memilih dari panti asuhan cukup besar, itu cukup merepotkan" batinnya berlanjut.


'Sebenarnya aku lebih suka melakukan misi sendirian, tapi..' gantungnya menatap atap panti yang sudah sedikit usang. 'Mata-mata nomor satu sedunia pun tidak akan bisa menyamar sebagai anak kecil' batinnya dengan wajah pasrah.


"Ah, pak! Jika bisa saya ingin anak yang sudah bisa membaca dan menulis" pintanya membuat pria berkumis didepannya berhenti untuk menatapnya. "Kalau begitu.."


"Hei kau! Panggilkan anak itu segera" titah pria berkumis menunjuk salah satu anak laki-laki yang menatapnya sedikit takut lalu dengan cepat mengangguk dan mencari anak yang dimaksud pria berkumis itu.


Brak!


"Aduh.. hei, hati-hati! Sakit tau" kesal anak perempuan yang terjatuh saat didorong kasar anak laki-laki dibelakangnya hingga lutut kakinya berdarah.


"Hei, Ella!" Panggil pria berkumis menggerakkan tangannya sebagai isyarat untuk mendekat yang langsung dituruti oleh anak itu tanpa banyak bicara.

__ADS_1


"Dia anak paling pintar di sini. Meski memiliki sifat sedikit menyusahkan, dia anak yang penurut" 'Dia bocah aneh yang gak jelas asal-usulnya. Lebih baik dia cepat pergi dari sini dan enyahlah" lanjutnya dalam hati.


"Cepat beri salam" Suruhnya lagi mendorong bahu anak itu sedikit.


"Maaf. Tapi aku mencari anak berumur enam atau tujuh tahun"


'Bagamana bisa aku menyekolahkan anak berumur lima tahun' batin Scorpio saat meneliti tinggi badan anak itu yang seperti anak seusia 4-5 tahun pada umumnya.


"Umurnya sudah enam tahun" jelas pria berkumis.


'Enam tahun, ya? Tapi tinggi badannya...' batinnya menatap anak itu intens.


"Dia memang susah untuk tubuh tinggi, aku tidak tau karena apa" jelas pria berkumis lagi saat melihat tatapan Scorpio yang terlihat ragu.


"Eh?" Kaget Scorpio saat anak perempuan itu mendekat kearahnya dan menunjukkan nilai-nilai yang nyaris mencapai sempurna saat soal-soal yang ia kerjakan adalah soal pelajaran kelas 5.


Scorpio menampilkan seringai tipis yang menyeramkan. "Anak pintar" ujarnya menepuk kepala anak itu sebanyak tiga kali.


'Dia bisa lulus ujian masuk dengan mudah jika mempunyai otak cerdas seperti ini' batin Scorpio tersenyum tipis. "Aku ambil anak ini"


"Segera urus dokomen adop—"


"Tidak perlu" potong pria itu lagi.


"Langsung bawa saja" lanjutnya sedikit takut saat ditatap dengan tajam.


"Sangat tidak sopan"


Kini Scorpio bersama anak perempuan adopsinya kini tengah berada didepan rumah yang baru saja ia beli.


"Dengar nona kecil" panggil pria itu datar.


"Ella"


"Dengar, Ella. Mulai sekarang kamu adalah putriku"


"Tapi saat ditanya orang, bilang kalau kamu anak kandungku. Mengerti?" Tanya Scorpio menatap Ella yang ketakutan.


"I-iya"


"Panggil aku Ayah"

__ADS_1


"Ayah!"


"Bagus" pujinya menepuk kepala anak itu sebanyak tiga kali.


__ADS_2