Scorpio

Scorpio
Kisah awal Saralee


__ADS_3

Sampai larut malam Adella baru sampai di paviliun.


Kedua temannya yang merasa cemas masih menunggu di ruang santai. Meskipun mereka menyalakan televisi akan tetapi pikiran keduanya tidak bisa fokus.


"Adella, kamu baik-baik saja kan?" tanya Aileen ketika wajah seseorang yang ditunggunya muncul dari tangga.


"Aku baik-baik saja," jawab Adella lemas.


"Kamu masih virgin kan?" tanya Saralee.


"Masihlah, mana mungkin aku membiarkan Keenan menindasku," jawab Adella


"Syukurlah, dari tadi aku dan Saralee tidak bisa tidur karena mengkhawatirkan mu," ucap Aileen merasa lega.


"Adella, tidak ku sangka kalau pakai make up kamu sangat cantik sekali!" puji Saralee baru menyadari perubahan penampilan temannya.


"Iya, kamu terlihat anggun dan menawan," timpal Aileen.


"Mari duduk dulu, aku akan ceritakan semuanya," kata Adella menggiring kedua temannya ke sofa.


Kemudian Adella menceritakan semuanya dari awal sampai akhir.


Saralee dan Aileen sampai ikut tegang mendengar cerita Adella.


"Aloysius? Ya ampun, dia tokoh terkenal. Bahkan Ayahku saja sangat sungkan padanya," pekik Saralee.


"Terus kamu bagaimana? Masih menerima tawarannya?" tanya Aileen.


"Mau bagaimana lagi? Aku sudah terlanjur menyinggungnya. Aku juga tidak ingin kehilangan beasiswa. Karena itu satu-satunya harapanku supaya aku bisa sukses," jawab Adella pasrah.


"Jangan takut! Apapun yang terjadi kita pasti bisa bersama-sama melewatinya," ucap Saralle.


Adella dan Aileen langsung memeluk Saralle erat.


Setelah puas mengobrol akhirnya mereka bertiga merasa mengantuk. Tanpa disadari Mereka tertidur di sofa dengan posisi berdempetan saling tindih.


Paginya mereka terbangun sambil mengeluh.


"Aduh, punggungku mau patah," keluh Saralee.


"Pundak kiri ku kaku sekali, siapa yang semalam bersandar padaku?" sindir Adella melirik ke arah Aileen.


"Maaf, kakiku juga semalaman ditindih Saralee sampai pegal-pegal," jawab Aileen tertawa lirih.


Mereka saling menyalahkan satu sama lain, tapi ujung-ujungnya mereka heboh karena sudah kesiangan untuk ke Universitas A.


Setelah Mandi dan bersiap-siap mereka segera naik bus.


"Kalau tahu begini dulu aku kaburnya membawa mobilku," keluh Saralee setelah turun dari bus.


"Belajarlah mandiri, Aileen saja tidak mengeluh," sindir Adella, baginya berjalan kaki jarak jauh adalah hal biasa.


"Setelah ini kita naik apa?" tanya Aileen.


"Tidak perlu, cukup jalan kaki lima menit sudah sampai di pintu gerbang," jawab Saralee.


"Apa kamu pernah ke sana?" tanya Adella penasaran.


"Tentu, kakak sepupu aku dulu lulusan Universitas A. Jadi aku sudah beberapa kali bermain ke sana," jawab Saralee bangga.


Di sepanjang jalan banyak orang-orang seumuran mereka yang sepertinya juga mau mendaftar di Universitas A yang terkenal bergengsi.


"Oh tidak! Formulir pendaftaran sangat terbatas, kita harus cepat-cepat mengambil sebelum kehabisan," teriak saralee sambil berlari.

__ADS_1


"Aku sih tidak perlu mendaftar ulang. Karena aku langsung diterima," kata Adella tenang.


"Kenapa tidak bilang dari tadi?" pekik Aileen, gadis itu langsung berlari menyusul Saralee yang sudah jauh di depannya.


Adella hanya tertawa melihat mereka berdua yang berlarian seperti tikus dikejar kucing.


Dia sendiri memutuskan untuk pergi ke perpustakaan mencari beberapa buku yang menarik.


**********************************


Di depan ruang pendaftaran Saralee keluar dengan wajah kecewa.


"Kenapa Saralee?" tanya Aileen sambil mengatur napasnya yang tersengal-sengal karena berlarian dari jarak lumayan jauh.


"Formulir pendaftaran cuma tinggal ini yang terakhir," jawab Saralee menyesal.


"Tidak apa-apa. Lagian aku juga tidak yakin bisa masuk ke Universitas ini. Niatku sebenarnya hanya untuk mencari ibuku," jawab Aileen tersenyum tegar.


"Tunggu! Kamu jangan mudah menyerah. Ini kamu ambil formulir ku," kata Saralee sambil menatap ke arah punggung seorang lelaki bertubuh tinggi jangkung.


Aileen tidak mengerti dengan maksud Saralee, dia hanya berdiri mematung sambil menerima selembar kertas.


Saralee berjalan mendekati pemuda jangkung itu, secepat kilat dia merebut formulir pendaftaran dan kabur secepat mungkin.


Aileen sampai terkejut melihat kelakuan nekat temannya, dia ikutan berlari mengejar saralee. Namun pemuda yang direbut formulir pendaftarannya hanya diam tak merespon.


Setelah berlarian cukup jauh Saralee duduk di kantin sambil memesan minuman.


"Kamu gila!" kata Aileen sambil duduk mengatur napasnya. kelakuan temannya sampai membuat jantungnya mau meledak.


"Dalam situasi yang darurat kita harus menggunakan akal kita, walaupun dengan cara licik," jawab Saralee membela diri sendiri.


"Aku sampai mau jantungan tadi. Apa kamu tidak merasa kasihan dengan pemuda tadi?" tanya Aileen lagi.


"Terserahlah! Yang penting aku mau minum," Aileen merebut minuman yang dipegang Saralee.


"Hey, pesan sendiri dong," protes Saralee. Namun sudah telat, karena minumannya sudah habiskan Aileen.


"Di mana Adella ya?" tanya Aileen mengalihkan pembicaraan.


"Kirim pesan saja!" perintah Saralee dengan wajah cemberut.


Aileen segera mengirim pesan.


To: Adella


Kamu di mana?


Beberapa detik kemudian.


From: Adella


Di perpustakaan. Kalau sudah segera kesini!


Mereka berdua segera beranjak dari kantin. Saralee lumayan paham dengan lokasi Universitas A yang sangat besar itu.


Sampai di perpustakaan mereka berdua menemukan Adella yang duduk di kursi paling ujung.


"Kenapa duduk di kursi paling belakang?" tanya Saralee.


"Mencari aman, karena kalau kita bertiga jadi satu pasti nanti heboh," jawab Adella menahan tawanya.


"Kamu sedang membaca apa?" tanya Aileen pada Adella.

__ADS_1


"Buku kedokteran, entah kenapa aku merasa sangat tertarik. Kalian mau masuk jurusan apa?" Adella balik bertanya.


Saralee dan Aileen hanya saling berpandangan karena belum tahu apa yang mau dipilih.


"Sebaiknya pilihlah sesuai minat kalian atau cita-cita kalian," nasihat Adella pada kedua temannya yang tengah kebingungan.


"Aku terlalu malas memikirkan soal pelajaran, tapi sebagai anak tunggal aku dituntut meneruskan perusahaan orang tuaku," jawab Saralee.


"Aku juga lemah dalam pelajaran, tapi sejak kecil hobi aku melukis," timpal Aileen tersenyum malu.


Setelah cukup lama berpikir, akhirnya Saralee mengambil jurusan manajemen sedangkan Aileen jurusan seni.


Adella menyarankan mereka berdua untuk mengambil buku sesuai jurusan masing-masing. Karena besok mereka akan mengikuti tes tertulis.


Hari berikutnya tes lisan untuk Saralee dan tes praktek melukis untuk Aileen.


"Melihat buku ini sepertinya aku lumayan percaya diri, karena sejak SMP aku sudah les khusus," ucap saralee sambil menutup bukunya.


"Wah, berarti sejak kecil kamu memang sudah di gembleng supaya kelak jadi penerus yang hebat," jawab Adella.


"Kalau kamu rencananya mau melukis tentang apa?" tanya Saralee penasaran.


"Mungkin Ibu kandungku, walaupun hanya melihat dari foto lawas tapi aku bisa membayangkan jika ibuku sangat cantik," kata Aileen tersenyum tegar.


"Sudah tentu, karena kamu sebagai puterinya juga sangat cantik," puji Adella.


Mereka kemudian fokus dengan bacaan masing-masing.


Adella meskipun sudah cerdas tapi masih tekun belajar.


Aileen juga semangat belajar karena dia khawatir besok tidak bisa lolos tes tertulis.


Sedangkan Saralee malah asyik membaca komik. Karena dia adalah gadis yang mudah merasa bosan dalam hal apapun.


"Apa kalian tidak merasa lapar?" tanya Saralee melirik keduanya.


"Sebenarnya iya, tapi aku takut mengganggu belajar kalian," jawab Adella meringis.


"Kalau lapar begini bagaimana mungkin kita bisa konsentrasi," timpal Aileen yang juga kelaparan.


Mereka bertiga tertawa karena kebodohan mereka sendiri, sejak pagi mereka memang belum sarapan pantas saja kelaparan.


semua pengunjung perpustakaan menatap tajam tiga gadis yang bikin gaduh.


Mereka bertiga menunduk malu dan segera kabur.


Saralee yang paling di depan tanpa sengaja menabrak dada bidang seseorang,


Duukk...


"Auchh" pekik Saralee mengelus jidatnya.


"Kamu... pencuri," ucap pemuda yang ditabrak Saralee.


"Raiyen, kamu tidak apa-apa?" tanya temannya pemuda itu sambil menepuk pundaknya dari belakang.


Pemuda berkaca mata itu sangat tampan, wajahnya terlihat familiar bagi Saralee dan Aileen.


Setelah menyadarinya Saralee dan Aileen segera kabur, sedangkan Adella merasa heran dengan sikap kedua temannya yang dari tadi pagi hobi berlarian.


Terimakasih sudah berkenan membaca karya saya. Jangan lupa Like, Vote dan beri rating Bintang 5 ya🙏 Karena dukungan dari kalian sangat berguna bagi Author.


Mohon kritik dan sarannya juga, semoga novel SCORPIO bisa berkembang lebih baik lagi🤗

__ADS_1


__ADS_2