Scorpio

Scorpio
Setelah sekian lama


__ADS_3

Akhirnya, setelah menempuh perjalanan yang panjang Aileen dan Deon sampai disebuah pedesaan. Aileen merasa sangat senang sebab dalam hitungan detik akan bertemu dengan ibu kandungnya.


"Sudah tidak sabar ya?" tanya Deon.


"Iya, aku penasaran dengan wajah ibuku yang sekarang. Apakah sama denganku atau tidak," jawab Aileen tak bisa menyembunyikan rasa kebahagiaannya.


"Sabarlah, sebentar lagi kita akan sampai," ucap Deon ikut senang.


Desa tempat tinggal Ibunya Aileen berada di dekat pantai, di sana banyak sekali perahu yang bertepian. Dan kebanyakan mata pencaharian di sana adalah nelayan.


"Itu rumahnya, yang di cat warna hijau," kata Deon sambil menunjuk rumah yang di maksud.


Aileen langsung turun dari mobil dan berlari.


"Hey, tunggu aku! Jalan santai saja. Rumahnya tidak akan kabur," ujar Deon sembari memegang erat tangan gadisnya.


Sampai di depan rumah, Aileen segera mengetuk pintunya. Namun yang membukakan pintu adalah seorang pemuda yang usianya sekitar dua belas tahun. Pemuda remaja itu masih mengenakan seragam sekolah.


"Apakah ini rumah Ibu Arminten?" tanya Aileen.


"Iya, tapi ibu sedang berjualan ikan di pasar dengan Ayah," jawab pemuda remaja itu.


"Bolehkah antarkan kami ke sana?" pinta Aileen.


"Boleh, tapi sebelumnya kakak-kakak ini siapa?" tanya pemuda remaja itu penasaran.


"Nanti kamu tahu sendiri, ayo sekarang tunjukkan jalannya. Apakah jauh?" sela Deon sambil merangkul pundak adik tiri Aileen.


"Lumayan jauh," jawab pemuda itu heran, apalagi saat melihat wajah Aileen yang mirip Ibunya.


"Kalau begitu kita naik mobil saja, apa kamu bisa menyetir mobil?" tanya Deon.


"Belum bisa," pemuda itu jujur.


"Baiklah, kapan-kapan aku ajari," ujar Deon.


"Tapi Ayahku tidak punya mobil, membawa ikan ke pasar saja memakai gerobak yang di tarik motor," jawab adik tiri Aileen.


"Tenang saja, nanti Kak Deon belikan mobil," ucap Deon serius.

__ADS_1


"Benarkah? Memangnya kakak ini siapa?" tanya adik tiri Aileen seolah tak percaya.


"Aku Deon, dan ini Kak Aileen. Kami berdua adalah kakakmu, nama kamu siapa?" jawab Deon.


"Nama aku Levian, tapi sejak kapan aku punya kakak? Aku ini anak pertama loh," ucap Adik tiri Aileen masih tidak percaya.


Deon tertawa, karena pemuda remaja yang bernama Levian itu sangat lucu.


"Memangnya kamu punya adik lagi?" tanya Aileen antusias.


"Masih belum lahir, sekarang usia kandungan Ibuku empat bulan," jawab Levian jujur.


Aileen merasa sedih juga, di saat ibunya sedang hamil tapi masih bekerja.


Mereka terus berjalan menuju mobil Deon. Saat mereka sampai, Levian matanya langsung melebar saat melihat mobil mewah milik Deon.


"Waah... Mobilnya seperti di televisi. Apakah ini benar punya Kak Deon?" tanya Levian terpukau.


"Tentu saja, ayo sekarang kita ke pasar dulu. Nanti setelah itu aku ajari menyetir mobil," ajak Deon.


"Siap, Kak," jawab Levian.


Lima belas menit kemudian mereka sampai juga di pasar. Bau ikan yang menyengat hampir membuat Aileen muntah.


"Kamu tunggu di sini saja, biar aku dan Levian yang masuk," kata Deon cemas.


Aileen menggeleng-gelengkan kepalanya karena sudah tidak sabar melihat ibu kandungnya.


Pasar tradisional khusus jual beli ikan sangat becek. Karena terkena cipratan air yang tumpah. Bahkan Aileen hampir saja terpeleset, tapi dengan sigap Deon langsung menopang tubuhnya dan memegangi Aileen dengan erat.


"Aileen adalah tuan Puteri yang biasa hidup dalam kemewahan. Tapi demi bertemu ibu kandungnya dia sampai rela berada di tempat seperti ini," batin Deon merasa salut.


"Ayah, Ibu," teriak Levian.


Kedua orang tua yang masih terlihat tampan dan cantik sedang menunggu dagangan yang tinggal sedikit.


Mata Arminten begitu melihat siapa yang bersama putranya langsung menangis terharu. Meskipun bertahun-tahun tidak bertemu tapi Arminten tahu siapa Aileen.


"Tuan Puteri Aileen, kenapa pergi ketempat seperti ini?" tanya Arminten cemas.

__ADS_1


"Ibu, kenapa memanggil putrimu sendiri dengan sebutan itu," jawab Aileen sambil menangis terisak.


Deon yang melihat gadisnya itu menangis ikut merasa sakit.


"Ayo, sebaiknya kita pulang dulu! Kita bisa bicarakan di rumah," kata Suami Arminten tersenyum hangat.


Akhirnya mereka memutuskan pulang.


"Ayah, tapi ikannya masih ada sisa," ucap Levian.


"Tidak apa-apa, kita bisa masak buat hidangan tamu istimewa," jawab Ayah Levian lembut.


Mereka memutuskan pulang ke rumah, tapi Aileen yang tidak tahan dengan aroma ikan semakin lama kepalanya pusing dan berputar-putar.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Deon.


Aileen hanya tersenyum menyembunyikan rasa tidak enak badannya.


Setelah sampai di rumah, Deon dan Aileen dipersilahkan untuk mandi. Agar segar dan tidak bau ikan lagi.


Menjelang sore, Ayah dan Ibu levian menyiapkan barang-barang untuk membakar ikan di depan halaman rumah yang tidak begitu luas, tapi jika untuk parkir mobil empat masih cukup. Namun Deon tetap memarkirkan mobilnya di ujung jalan seperti tadi.


Setelah Deon dan Aileen selesai, mereka langsung mencium aroma ikan bakar yang menggiurkan.


"Ayo di makan dulu!" kata Arminten.


Mereka pun makan dengan lahab, Aileen tidak bisa berhenti tersenyum merasakan masakan ibu kandungnya.


"Aileen, dari mana kamu bisa tahu kalau ibu kandungmu adalah aku?" tanya Arminten.


"Aku tidak senganja mendengar percakapan pelayan, dan aku juga menemukan ini," jawab Aileen memberikan foto usangnya dan surat perjanjian yang ditemukan di gudang.


"Nak, Maafkan ibu ya. Bukan maksud ibu untuk menyia-nyiakan kamu. Tapi saat itu keadaan ibu juga sulit," ucap Arminten tak kuasa menahan tangis.


"Sebaiknya ibu ceritakan apa yang sebenarnya terjadi," pinta Aileen penuh harap.


"Ibu dulu adalah anak yatim piatu, dan ibu hanya memiliki satu adik lelaki yang sakit parah harus segera dioperasi. Saat itu ibu masih bekerja sebagai pelayan di rumah Tuan Fernan dan Nyonya Yossi. Karena Nyonya Yossi tidak bisa punya anak mereka meminta aku untuk jadi istri kedua dan melahirkan anak. Karena demi membiayai pengobatan adik ibu, akhirnya ibu menyetujui menikah diam-diam dengan Tuan Fernan. Sebenarnya Mereka sangat baik, Nyonya Yossi wanita yang lembut dan tetap meminta aku untuk tinggal di sana. Hanya saja aku tidak tega melukai perempuan sebaik Nyonya Yossi, beliau memperlakukan aku dengan baik. Dan aku juga tidak mau menjadi orang ketiga diantara mereka. Apalagi aku yakin mereka bisa menjaga dan menyayangi kamu sepenuh hati. Setelah itu Ibu pulang kampung dan beberapa tahun kemudian ibu mengenal Ali, suami Ibu yang sekarang. Dan ibu juga sudah punya anak putra, namanya Levian. Maafkan Ibu ya, Nak. Apakah kamu akan membenciku?" kata Arminten panjang lebar.


"Tidak, Ibu. Semua ini sudah takdir. Melihat ibu yang hidup bahagia saja aku sudah bersyukur," jawab Aileen sambil memeluk Ibunya penuh kerinduan. Kemudian tiba-tiba pandangannya kabur, Aileen langsung tak sadarkan diri.

__ADS_1


Jangan lupa Like dan Vote ya🙏 Karena dukungan dari kalian sangat berarti bagi Author. Kritik dan sarannya juga semoga Novel SCORPIO bisa berkembang lebih baik lagi.🤗🤗🤗


__ADS_2