
"Wah, anak yang manis. Apakah kalian tetangga baru? Salam kenal"
"Kami baru pindah siang tadi, perkenalkan nama saya Samudra" ujar Samudra memperkenalkan diri saat salah satu tetangga menyapanya.
"Ella juga sudah lama menjadi anak semata wayang papa, Bellara!" ujar Ella ikut memperkenalkan diri.
"Oh?"
"Ayo segera pergi sebelum tokonya tutup" ajak Samudra menggandeng tangan mungil Ella.
"Selamat tinggal bibi beruban" pamit Ella melambaikan tangan mungilnya kearah Bibi yang terdiam mendengar panggilan baru untuknya. Ada-ada saja batin bibi itu terkekeh.
"Ella mau coklat besar!"
"Iya, kalau kau menang di permainan saya" ujar Samudra tersenyum kecil menatap anaknya yang terdiam memikirkan permainan apa yang akan diberikan Ayah padanya.
"Permainan seperti apa?"
"Nanti Papa beri tahu. Jika Ella menang Papa kasih kamu coklat besar, dan kalo Ella kalah maka ada hukuman yang menanti Ella dirumah" jelas Samudra menatap mata Ella yang sedikit bergetar.
"Hukuman?" Gumam Ella mengingat saat waktu dipanti dulu dimana ia akan dihukum saat tidak melakukan perintah kakek tua berkumis dengan benar, maka ia akan langsung dihukum. Seperti, tidak makan tiga hari, dikurung dalam gudang yang gelap, dan hal-hal mengerikan lainnya.
"Kau takut?" Tanya Samudra saat melihat raut wajah Ella yang terlihat memucat.
"I-iya"
"Hukuman Papa gak bakal buat kau mati" kekeh Samudera tanpa beban membuat Ella berhenti sejenak menatap Papanya yang terlihat biasa-biasa saja. _Papa kejam!_
"P-papa!"
__ADS_1
"Hm?" Toleh Samudra kepada anaknya.
"Tidak, tidak jadi" geleng Ella tersenyum lebar.
"Kau terlihat sangat bodoh" celutuk Samudra membuat Ella memasang wajah kesal dengan bibir yang sengaja dimajukan. 'Bertambah bodoh'
"Ella tidak bodoh!"
"Hah?" Kaget Samudra saat banyak orang yang menatapnya dengan pandangan menghakimi. "Hey, kau jangan berteriak seperti itu" Bisik Samudra melirik anaknya yang menampilkan wajah polos yang terlihat mengesalkan dimatanya.
'Apa aku salah ambil anak?' batinnya bersuara.
"Papa Ella mau makan!" Pekik gadis kecil itu menarik tangan Samudra kearah toko kue yang tak jauh dari tempat mereka berada.
"Hati-hati"
Kringg
"Ella mau kue bakery!"
"Maaf. Tapi—"
"Kue coklat satu" potong Samudra memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana.
"Terimakasih, silahkan duduk terlebih dahulu" ujar pelayan itu sebelum pergi untuk membawa kue coklat yang telah dipesan.
"Hm"
Malam hari pukul 08.30pm terlihat seorang Ayah menggendong anak perempuannya yang tengah tertidur pulas dengan salah satu tangan yang menenteng kue coklat yang ia pesan disalah satu toko kue.
__ADS_1
'Aku tidak paham'
'Apa aku butuh buku untuk memahaminya?' Batinnya melirik Ella yang sedikit bergerak mencari posisi ternyaman dari Ayahnya.
'Tidak. Toh, setelah misi ini selesai akan ku kembalikan dia ke panti asuhan' batinnya menggeleng saat memikirkan apa yang baru saja ia suarakan.
***
Dipagi hari yaang cerah seorang anak kecil tengah berdiri menatap Ayahnya dengan pandangan kesal sebab tak mau belajar dengan alasan 'Ella sudah pintar, Ella tak membutuhkan buku dan belajar!'. Sedangkan Ayah anak itu hanya menatapnya dengan pandangan datar yang sedikit menakutkan teruntuk Ella sendiri.
"Ella enggak mau belajar!" Bentak Ella sekali lagi menahan gejolak takut pada dirinya.
"Kau mengatakan apa? Ulangi sekali lagi!" Tegas Samudra menunduk menatap anaknya yang ketakutan.
"Ella sudah pintar dan tidak membutuhkan belajar" cicitnya sedikit tak jelas.
"Kau harus belajar!"
"Aku harus tahu sejauh mana pengetahuanmu untuk persiapan ujian Minggu depan" lanjutnya menatap anaknya dengan mata menghunus tajam.
"Ella enggak mau, Ella sudah pintar" cicitnya lagi menunduk enggan menatap mata Ayahnya yang terlihat menakutkan.
"Dengar, kalo kau tidak lulus maka Aku akan mengembalikan mu ke panti asuhan!" Ancamnya meninggalkan Ella seorang diri menahan tangis. "Kerajaan tidak butuh anak sepertimu."
"Ella pasti bisa kok. Kan, Ella pintar" lirihnya menatap kepergian Ayahnya dengan sendu.
•
•
__ADS_1
•