
Di papan pengumuman terpasang beberapa kertas yang berisi daftar nama-nama siswa-siswi yang masuk seleksi.
Semua nama yang lolos tercetak di kertas pengumuman sesuai jurusan masing-masing.
Namun Saralee, Adella dan Aileen tidak bisa melihat secara langsung, karena begitu banyak orang yang bergerombol di depan papan tersebut.
Meskipun Adella tidak perlu seleksi lagi, tapi gadis itu ikutan merasa tegang.
"Semoga kalian lolos," ucap Adella penuh harap.
"Semoga saja," timpal Aileen cemas.
"Aku sih yakin, pasti kita lolos," jawab Saralee percaya diri.
Saralee memang berbeda dari yang lainnya, gadis itu selalu santai dalam segala hal.
Tak lama kemudian datang Sam yang baru saja keluar dari kerumunan, pemuda itu dengan senyuman manis mendekati Adella.
"Hay, Adella," sapa Sam.
"Tak kusangka masih punya muka juga nih cowok untuk menemuiku," batin Adella kesal.
"Hay, juga," jawab Adella cuek.
"Maaf ya, semalam aku ninggalin kamu," ucap Sam terlihat menyesal.
"Tak masalah," jawab Adella singkat.
Sam mulai merasa jika Adella tidak respek seperti dulu, pemuda itu sadar jika Adella tengah marah padanya.
"Tak dapat Adella, masih ada Saralee," batin Sam beralih menatap temannya Adella.
"Selamat, Saralee. Kamu lolos seleksi," ucap Sam tebar pesona.
"Sudah tahu," jawab Saralee judes.
Adella seketika tertawa keras, mengejek Sam sang Senior yang tidak tahu malu.
"Baiklah, kalian semoga bahagia belajar di sini," Akhirnya Sam pergi dari tempat itu karena meraja di hina.
"Selamat ya, Saralee. Bagaimana dengan aku ya?" ujar Aileen ikut senang sekaligus gelisah.
"Kamu tunggu di sini yah!" kata Saralee langsung maju ke depan.
Saralee memang ahli soal menyingkirkan orang lain, mereka yang berebut terpaksa minggir karena Saralee menerobos begitu saja. Satu menit kemudian Saralee berhasil menemukan nama Aileen di papan pengumuman.
"Aileen, kamu lolos!" teriak Saralee keras.
Karena terlalu bersemangat, saat gadis itu berlari tiba-tiba kakinya keseleo. Hampir saja jatuh, tapi dari arah belakang ada seorang pemuda tampan yang menahan tubuh Saralee.
Adegan mereka saat ini sangat romantis seperti Romeo dan Juliet yang tengah berdansa.
Mereka berdua menjadi pusat perhatian karena keduanya saling menatap cukup lama.
"Tampan juga, sayangnya menyebalkan," batin Saralee masih terpukau.
"Ini sekolah untuk belajar, bukan tempat kontes model yang memakai sepatu tinggi," sindir pemuda itu sadis.
Seketika Saralee melepaskan diri dari pelukan Raiyen dan berdiri tegak.
"Aku tidak butuh komentar kamu," balas Saralee.
Raiyen berdecak lidah, tertawa mengejek dengan tingkah Saralee yang angkuh.
__ADS_1
"Bukannya berterima kasih malah memprovokasi," ujar Raiyen dingin.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Aileen panik.
"Kakimu membiru, harus segera diolesi obaty," timpal Adella tak kalah cemas.
"Di UKS ada," saran Raiyen dingin.
"Aku ambil dulu ya! Kalian tunggu di sini saja," kata Adella.
Namun baru beberapa langkah Adella berjalan, tiba-tiba terdengar suara seorang pemuda yang tidak asing lagi.
"Adella, Ayo!" Ucap Keenan.
Adella menoleh dan terkejut, karena Keenan yang memakai pakaian santai. Tidak seperti biasanya yang mengenakan jas dan dasi.
"Tampan dan kaya, sayangnya sombong," batin Adella mendekati pemuda itu.
"Ayo sekarang!" kata Keenan lagi.
"Adella, silahkan kamu pergi duluan! Biar aku yang ambil. Hati-hati ya!" ujar Aileen menggantikan Adella mengambil obat.
"Saralee, aku pergi dulu tidak apa-apa?" tanya Adella.
"Iya... Iya, aku sudah besar," jawab Saralee meringis.
"Raiyen, aku minta tolong jagain Saralee sebentar sampai Aileen kembali ya?" pinta Adella memohon.
"Baiklah, memangnya kamu mau kemana?" tanya Raiyen bersikap lunak.
"Aku mau pulang, adik dan ibu aku masuk rumah sakit," jawab Adella tersenyum manis.
"Semoga cepat sembuh ya? Kalau kamu butuh apa-apa tinggal hubungi aku," ujar Raiyen serius.
"Kamu jangan khawatir! Karena aku sebagai tunangan Adella akan selalu memenuhi kebutuhannya," tegas Keenan.
"Adella, semoga ibu dan adik kamu lekas sembuh ya? Dan kamu harus segera balik ke sini," kata Saralee.
"Iya, kamu juga semoga cepat sembuh. Bye.." ucap Adella berlalu pergi melangkah bersama Keenan.
Saralee melirik Pemuda di sampingnya yang tengah menatap Kepergian Adella dengan pandangan cemburu.
"Mereka terlihat sangat serasi ya!" sindir Saralee memanasi Raiyen.
"Aku tidak akan terpengaruh oleh ucapanmu, balas Raiyen ketus.
"Kau ini, berbicara pada Adella lembut. Sedangkan denganku sadis seperti itu," protes Saralee kesal.
"Kamu harusnya sadar diri! Betapa pantasnya dirimu untuk diperlakukan seperti ini," jawab Raiyen ikutan kesal.
"kalau begitu kenapa kamu masih di sini menemaniku?" cetus Saralee.
"Kalau bukan permintaan Adella aku juga ogah," balas Raiyen.
"Oh... Jadi semua karena Adella. Tapi dia sudah punya tunangan loh," goda Saralee.
"Baru tunangan! Orang menikah saja masih bisa cerai," jawab Raiyen tersenyum puas.
"Aku bilang ke Adella ah, kamus kamu cinta mati padanya dan berniat akan menunggu jandanya," ejek Saralee.
"Silahkan! Adella tidak sebodoh itu yang mudah percaya denganmu," tantang Raiyen.
"Jadi kamu merasa sudah mengenal Adella ya?" ejek Saralee lagi.
__ADS_1
"Memang, bahkan sebelum kamu mengenal Adella," balas Raiyen tak mau kalah.
Saralee kesal dengan Raiyen yang seolah berani melawannya.
Pertengkaran mereka segera terhenti karena kedatangan sepupu Saralee yang tiba-tiba.
"Di mana Aileen?" tanya Deon.
"Tunggu sebentar! Sini ada banyak hal yang mau aku tanyakan pada Kak Deon!" pinta Saralee manja.
Namun siapa sangka Deon tidak memperhatikan ucapan Saralee, pemuda itu justru fokus pada kedatangan Aileen.
"Ayo, kita tidak punya banyak waktu lagi!" kata Deon sambil menyeret lengan Aileen.
"Sebentar!" pekik Aileen terkejut, gadis itu hanya bisa berlalu pergi sambil memandang Saralee.
"Aku mau berikan ini dulu!" teriak Aileen kesal.
Deon langsung berhenti, kemudian merebut obat oles tersebut dan melemparkannya ke arah Raiyen.
"Tangkap!" teriak Deon tertawa.
Dengan cekatan Raiyen menangkap obat itu.
Aileen hanya bisa bernapas lega sebab benda tersebut tidak mengenai kepala Raiyen dan Saralee.
Deon segera membawa Aileen pergi dari Universitas itu.
Kini hanya tinggal Saralee dan Raiyen berduaan saja.
"Oleskan!" pinta Saralee manja.
"Tidak! Tanganmu masih normal," jawab Raiyen.
"Sini!" pinta Saralee ketus sambil mengulurkan tangannya.
Raiyen tidak tega juga melihat kaki Saralee yang semakin membiru.
"Ayo pindah ke sana yang tidak panas," kata Raiyen berubah pikiran, pemuda itu menuntun Saralee ke tempat yang lebih teduh.
Kemudian Saralee duduk di kursi yang terbuat dari cor-coran semen.
Dengan lembut Raiyen melepaskan sepatu Saralee yang super tinggi dan segera mengoleskan obat itu secara perlahan.
"Tidak ku sangka dia bisa bersikap lembut, pasti karena dia berharap aku membicarakan hal baik tentangnya pada Adella. Jangan harap!" batin Saralee meringis.
"Bagaimana?" tanya Raiyen kalem.
"Apanya?" tanya Saralee gagal fokus.
"Ya luka kamu! Memangnya apa lagi?" cetus Raiyen kesal.
"Oh, agak mendingan," jawab Saralee.
"Kamu pulangnya bagaimana?" tanya Raiyen sadis.
"Biar di jemput orang tuaku," jawab Saralee santai.
"Kalau begitu aku pergi duluan, karena aku masih ada keperluan penting," kata Raiyen langsung berlalu pergi.
"Siapa juga yang minta kamu menemaniku terus?" balas Saralee.
Raiyen mengabaikan ucapan Saralee dan terus berjalan tanpa menoleh. Pemuda itu sudah tahu sikap Saralee yang tidak punya rasa terima kasih ataupun perasaan bersalah pada orang lain.
__ADS_1
"Gadis batu."
Terima kasih sudah baca karya aku, Jangan lupa Like dan Vote ya🤗 Karena dukungan dari kalian semua sangat berarti bagi Author🤗