Scorpio

Scorpio
Menginap lagi


__ADS_3

Deon melihat Aileen yang tidak sadarkan diri langsung ditopang tubuhnya agar tidak rubuh.


"Kak, taruh kamar aku saja," pekik Levian.


Tanpa basa-basi Aileen dibawa menuju kamar adik tirinya.


Rumah ibunya Aileen tidak terlalu besar, hanya ada dua kamar tidur, ruang dapur, kamar mandi umum, dan yang agak besar adalah ruang tamu tanpa sofa.


Bisa di katakan kehidupan keluarga ibunya sederhana. tapi mereka terlihat bahagia tanpa merasa kekurangan.


"Apa ada rumah sakit di sekitar sini?" tanya Deon.


"Jauh, adanya di kota. Tapi di sini ada dokter praktik, semua penduduk sini kalau berobat di sana," jawab Ali.


"Apa bisa dipanggil kemari?" tanya Deon.


"Bisa, biar aku panggilkan," kata Levian sambil berlari.


"Apa jauh? Dan Levian naik apa?" tanya Deon cemas.


"Naik sepeda, nanti Dokternya ke sini bawa mobil sendiri," jawab Arminten.


Deon masih merasa gelisah, tangannya terus memegang lengan Aileen dengan wajah panik.


"Niat aku kesini untuk mencari kelemahan Fernand. Namun begitu melihat keluarga Aileen yang seperti ini aku tiba-tiba juga merasa sayang dan tidak tega memanfaatkan mereka. Mungkin aku harus cari cara lain untuk menghancurkan dia."


Deon mulai frustasi, dia tidak tahu jika semuanya akan menjadi serumit ini.


Luka hatinya yang terkoyak sejak kecil masih belum juga bisa sembuh, ingatan dia saat Papanya mati karena dihianati sahabatnya sendiri membuat Deon marah, lalu bayangan Mamanya yang gantung diri karena tidak kuasa menanggung beban hidup selalu menjadi mimpi buruk bagi Deon setiap malam.


"Kenapa aku jatuh cinta pada putri musuhku sendiri?" batin Deon kesal.


Niat Deon kembali ke kota ini karena mendengar informasi jika putri Fernand kabur di kota A, tapi awalnya dia tidak tahu jika yang di maksud adalah Aileen.


Pertama kali dia melihat gadis itu jantungnya langsung berdetak kencang, gadis yang penakut dan pemalu. Seakan-akan menarik jiwanya untuk selalu melindunginya.


Namun beberapa hari setelah dia tahu jika Aileen adalah gadis yang tengah dicarinya, hati Deon menjadi kemah. Niatan untuk menghancurkan gadis itu lenyap seketika. Bahkan dia pernah punya kesempatan untuk menodai Aileen, tapi dia tidak mampu. Dari saat itulah, dia sadar jika dia memang jatuh cinta pada Aileen.


"Maaf, Nak Deon. Kamu ini siapannya Aileen ya? Sahabat, saudara atau..." tanya Arminten penasaran.


"saya calon suaminya, nanti setelah Aileen lulus kuliah kita akan menikah," jawab Deon mantap.

__ADS_1


"Syukurlah, maaf Ibu lancang bertanya," ucap Arminten merasa sungkan.


"Tidak apa-apa, Bu. Bagaimanapun juga Anda adalah Ibu kandung Aileen, jadi Anda juga berhak tahu mengenai hubungan kami," balas Deon sopan.


Arminten tersenyum, diam-diam wanita setengah baya itu terkesan dengan sikap Deon. Apalagi Deon juga pemuda yang tampan dan berkharisma.


Tak lama kemudian Dokter yang di panggil Levian datang juga.


"Selamat malam, maaf boleh kalian keluar dulu? Saya mau melihat kondisi pasien," ucap Dokter perempuan yang masih muda dan cantik.


Deon, Ali dan Arminten segera keluar dai kamar Levian.


"Kenapa lama?" tanya Ali pada putranya.


"Tadi di rumah Dokter ada dua pasien, jadi terpaksa menunggu dulu," jawab Levian.


"Ya sudah, kamu sebaiknya duduk dulu," ajak Ibunya sambil menyuruh semuanya duduk karpet tebal yang hangat.


Tak lama kemudian Dokter cantik itu keluar dengan senyuman ramah.


"Pasien hanya terlalu letih dan banyak pikiran saja, sebaiknya untuk sementara ini biarlah dia istirahat dan jangan bekerja berat atau melakukan perjalanan jauh. Karena tubuhnya yang saat ini lemah bisa saja sewaktu-waktu pingsan jika pikirannya tertekan dan kelelahan," jelas Dokter tersebut panjang lebar.


"Iya, Dok. Terima kasih," ucap Deon dan keluarga Aileen, semuanya merasa lega.


"Bisa tolong berikan catatannya? Biar setelah ini saya langsung ke kota membelinya," jawab Deon.


"Baiklah, saya akan tulis aturan pemakaiannya juga," balas Bu Dokter sambil menulis sesuatu di secarik kertas.


"Sekali lagi terima kasih banyak, Dok." ucap Deon membuka dompet dan memberikan lembaran uang yang nilainya tinggi.


"Ini sangat berlebihan," tolak Bu Dokter merasa sungkan.


"Terimalah, kesehatan calon istri saya tidak ada nilainya," bujuk Deon sopan.


Dokter tersebut akhirnya menerima juga, setelah itu Deon langsung mengambil kunci mobilnya yang di taruh di pojokan beserta ponselnya.


"Levian, kamu kamu temani aku ya?" pinta Deon.


"Iya, Kak Deon. Dengan senang hati," jawab Levian berlari masuk ke kamarnya menjambar jaket dan topi.


"Ayah, Ibu. Saya izin ke kota dulu. Tolong jaga Aileen ya?" pinta Deon sopan.

__ADS_1


"Iya, Nak. Hati-hati di jalan ya!" jawab Ali dan Arminten tersenyum ramah.


Deon segera mengajak adik Aileen keluar rumah, kali ini mobilnya terparkir di depan rumah itu. Jadi mereka tidak perlu jalan kaki melewati gang.


Deon memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia sudah sangat hapal dengan jalanan itu.


"Apa kamu takut?" tanya Deon.


"Tidak, ini malah keren. wuuuuu...." teriak Levian terlihat senang sekali.


Deon hanya tersenyum dengan tingkah adik tiri Aileen yang lucu itu.


Setengah jam kemudian mereka sudah sampai di pusat kota, indahnya malam di kota tersebut sangat menarik hati. Andaikan Deon saat ini sedang bersama Aileen pasti dia akan berlama-lama di sini menikmati suasana keramaian.


Deon langsung memarkirkan mobil ke tempat tujuan, dia langsung mengajak Levian turun dan masuk ke Apotik yang sangat besar.


Setelah mendapatkan Vitamin tersebut, Deon melihat di samping Apotik banyak toko-toko besar.


"Kasihan Ayahnya Aileen, membawa ikan ke pasar menggunakan gerobak yang ditarik dengan motor buntut."


Akhirnya Deon membeli mobil khusus memuat barang dagangan.


"Tolong antarkan ke alamat ini ya!" ucap Deon Sambil membayar pakai kartu debit.


"Membeli mobil untuk siapa? tanya Levian.


"Nanti juga tahu," jawab Deon sambil mengajak adiknya ke toko perhiasan yang di sebelahnya.


Deon membeli dua kalung yang kembar, dia memang sengaja menghadiahkan itu untuk Aileen dan ibunya. Kemudian untuk Levian dia membelikan ponsel terbaru dan juga beberapa pakaian, bahkan daster hamil untuk ibunya Aileen juga.


"Kenapa aku bisa sebaik ini? Tapi hatiku sangat merasa senang membuat mereka bahagia."


Levian sepanjang jalan hanya senyum-senyum sendiri. Melihat adik Aileen yang menatap banyak jajanan di sana, Deon pun langsung memborong makanan yang enak-enak untuk oleh-oleh juga.


"Ayo, kita pulang!" ajak Deon yang sudah meninting belanjaan yang banyak.


"Iya, Kak. Terima kasih banyak ya. Aku baru kali ini diajak jalan-jalan ke kota," ucap Levian.


"Mulai besok kamu bisa ajak kelurga kamu jalan-jalan ke kota," jawab Deon meyakinkan.


Mereka berdua masuk ke mobil dan segera pulang.

__ADS_1


Jangan lupa Like dan Vote ya🙏 Karena dukungan dari kalian sangat berarti bagi Author🤗🤗🤗 Tunggu kisah selanjutnya yaa👍


__ADS_2