
"Sayang, pliss, jangan marah terus!! Aku benar benar tidak berniat untuk membentak dan memarahi mu seperti tadi. Aku hanya takut terjadi sesuatu yang buruk pada mu..!!"
Sudah satu jam lebih setelah tiba nya raga dan sang istri di rumah, namun wanita hamil itu tetap tidak mau bicara dan terus mendiamkan suami nya.
"Aku minta maaf.." Raga terus membujuk istri nya, namun karin yang sudah terlanjur kecewa dan sedih sama sekali tidak memberikan respon apapun.
Karin membelakangi sang suami yang duduk di samping dia berbaring. Sebenarnya sekarang diri nya pun sudah tidak sesedih tadi, karena rasa sedih nya sudah dia curahkan melalui air mata. Namun masih ada sedikit rasa sesak di hati nya jika teringat bagaimana raga tadi membentak nya.
"Hei. Sayang, kamu mau kemana ??" Karin tiba tiba bangun dan berjalan keluar kamar, raga yang sejak tadi berada di kamar dan sama sekali tidak melakukan apapun langsung bergegas mengikuti sang istri di belakang..
"Bi.....," Suara karina terdengar, membuat senyum terukir jelas di wajah sang suami. Meskipun bukan memanggil nama nya, namun raga bersyukur istri nya kembali bicara lagi.
"Kamu mau apa sayang ? Katakan saja padaku. Kamu mau minum, hem ? Atau mau makan sesuatu ??" Raga berdiri tepat di samping karin, menatap sang istri dengan sendu. Berharap istri nya mau bicara lagi dan menjawab semua pertanyaan nya tadi.
Jujur saja, pria itu pun merasa bersalah karena sudah membentak wanita nya. Tapi itu spontan, bukan di niatkan dari dalam hati nya. Raga benar benar takut terjadi sesuatu yang buruk pada istri dan calon bayi mereka. Apalagi kehamilan karin ini masih sangat muda, wajar saja diri nya jadi semakin over protective pada sang istri. Dan pria itu pun juga tau pasti, Bianca punya seribu satu cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Dan entah kenapa ada rasa sesal di hati raga sekarang, kenapa saat itu dia datang ke singapur untuk melihat keadaan bianca.
Ah, sudahlah. Nasi sudah menjadi bubur. Di sesali pun tidak akan merubah keadaan yang sudah terjadi, bukan ?
"Bi...," panggil karin lagi karena asisten rumah tangga nya itu belum juga menampakkan batang hidung nya. Mungkin bi yanti sedang di kamar nya yang terletak di belakang, jadi suara karina yang memanggil nya tidak terdengar sampai kesana.
Karin berbalik, ingin kembali lagi ke kamar. Wanita itu berjalan dengan menghentakkan kedua kaki nya, tentu saja sengaja. Agar suami nya itu semakin menyesal karena sudah membentak nya.
Lagi lagi raga menjambak rambutnya sendiri, bingung sekaligus frustasi. Karin terus mendiamkan nya padahal dia tepat berada di samping wanita itu tadi.
Bugh!
Karin membanting pintu kamar cukup kencang.
Akhirnya raga memilih untuk tidak menyusul sang istri karena menurut nya emosi karin pun masih meledak ledak. Dari pada semakin memanas lebih baik dia mengalah, menunggu beberapa saat di luar kamar.
Pria itu menjatuhkan bokong nya di sofa panjang yang letaknya tidak jauh dari kamar utama. Raga mengeluarkan ponsel nya dari dalam saku celana, mengisi kesepian dengan mencoba menghubungi kenan melalui nomor ponsel ayah nya.
"Pi, ken mau pindah sekolah ke luar negeri."
Deg!
Saat panggilan itu terhubung dengan putra nya, bocah kecil itu langsung meracau ingin pindah sekolah. Tak tanggung tanggung, minta pindah nya langsung ke luar negeri.
"Hah ? Kenapa tiba tiba ??" tanya raga saat sudah mengubah panggilan telepon menjadi panggilan video. Dia penasaran apa yang sedang di lakukan putranya saat ini. Dan benar dugaan nya, pantas saja putra nya itu betah berlama lama jauh dari sang mami, ternyata keluarga besar nya sedang berlibur di puncak, menyewa villa mewah dan kini mereka tengah menikmati suasana asri di daerah yang memiliki udara dingin tersebut.
"Iya pi. Ken mau sekolah di jerman bareng Arthur dan Gideon."
Raga memejamkan kedua mata nya sejenak. Kedua nama yang di sebutkan kenan adalah anak dari om dan tante raga, namun dari nenek yang berbeda. Karena kakek mahendra pernah menikah lagi setelah di tinggal oleh istri pertama nya sekaligus nenek kandung raga.
Dulu kakek mahendra menikah dengan wanita berkebangsaan jerman. Di pernikahan itu kakek mahendra memiliki 3 orang anak, 2 laki laki dan satu perempuan. Namun beruntung nya semua keluarga tidak ada yang berselisih paham atas keputusan kakek mahendra yang menikah lagi pada saat itu. Dan disinilah mereka, menjadi keluarga besar meskipun dari ibu sekaligus nenek yang berbeda.
"Sayang, jerman itu jauh. Kamu juga belum lulus sd. Nanti saja ya, setelah lulus sekolah menengah kamu bisa melanjutkan ke perguruan tinggi yang ada di sana.."
"Tidak pi. Ken mau nya dalam waktu dekat ini."
Mendapat jawaban dari putra nya, raga kembali menghela nafas panjang. Belum berhasil membujuk sang istri, sekarang dia di pusingkan harus membujuk kenan juga.
"Nanti kamu disana tinggal sama siapa, hem ? Memang kamu bisa jauh dari mami ??"
Raga menahan senyumnya. Berhasil, setelah menyebut nama mami nya, ken terdiam seperti tengah berpikir.
"Ya sudah, kamu pikirkan saja dulu. Hubungi papi lagi jika kamu sudah yakin. Papi matikan video call nya ya.."
Setelah sambungan itu berakhir, raga memutuskan untuk kembali ke kamar nya. Karena dia merasa sudah cukup setengah jam membiarkan sang istri sedikit lebih tenang.
Ceklek!
Tanpa mengetuk terlebih dulu, raga langsung membuka pintu tersebut..
Hoek! Hoek!
Deg!
Pria itu kembali panik, saat masuk ke dalam kamar terdengar suara karina yang kembali muntah muntah di kamar mandi nya.
Setengah berlari, raga pun menyusul sang istri. Beruntung pintu kamar mandi hanya tertutup namun tidak di kunci oleh karina.
"Sayang..." ucap nya dengan suara panik, lalu dengan sigap mulai memijat tengkuk karin perlahan sama seperti tadi pagi
Karin tidak menjawab, kepala nya tiba tiba pusing dan perut nya terus merasa mual.
Karin pun bangun perlahan, karena tadi dia muntah dengan posisi berjongkok tepat di depan closed nya.
"hiks..hiks.."
Tiba tiba terdengar suara tangisan, dan tentu nya karin lah yang menangis.
"Katakan pada ku, kamu mau apa ? Kamu mau aku pergi seperti tadi ??" Raga yang tidak tau lagi harus berbuat apa, akhirnya memilih untuk kembali mengalah. "Baiklah. Aku pergi.." ucap raga dan segera berbalik untuk keluar dari kamar mandi.
Sebenarnya itu hanya ucapan semata, karena tidak mungkin dia meninggalkan sang istri dalam keadaan lemah seperti ini. Raga tidak akan kemana pun, dia hanya akan berada di luar kamar dan akan meminta pada asisten rumah tangga nya untuk memeriksa keadaan sang istri secara berkala.
Tiba tiba...
Grep!
Belum sampai pria itu ke pintu kamar mandi, sang istri sudah memeluk nya dari belakang, melingkarkan kedua tangannya di perut nya.
__ADS_1
"Kamu jahat! Aku benci sama kamu!! Hiks..hiks." Karin semakin menangis, namun yang aneh, dia mengatakan benci tapi malah memeluk suami nya semakin kuat.
Perlahan raga melonggarkan kedua tangan sang istri yang melingkar di perutnya, lalu dia memutar tubuhnya untuk menghadap wanita hamil yang sangat sensitif itu.
Dengan lembut raga menghapus jejak air mata di kedua pipi sang istri. "Maaf sayang, aku janji tidak akan membentak mu lagi. Itu yang terakhir.. Kamu mau kan memaafkan aku ??"
Karin mengangguk pelan namun masih dengan air mata yang terus mengalir,
Cupp!!
Raga mencium kening sang istri,
"Terimakasih, sayang."
Setelah istri nya mulai tenang, raga pun membawa karin kembali ke dalam kamar mereka.
Melihat wanita nya yang tidak berdaya seperti itu, membuat raga mengingat kembali apa yang pernah dia rasakan 10 tahun yang lalu. Dia pernah berada di posisi karina saat istri nya itu tengah mengandung buah hati pertama mereka.
Saat itu raga mengalami couvade syndrom, atau kehamilan simpatik selama empat bulan berturut turut. Maka nya saat karina merasakan mual dan muntah, raga sama sekali tidak merasa terbebani ataupun risih, sebab dia pernah merasakan nya jauh sebelum karin.
"Mas, kenan ko sampai sekarang belum pulang ??" tanya karin saat sudah berada di tempat tidur, berbaring lemah ditemani sang suami yang kini tengah memijat kedua kaki wanita itu
"Ken ada di puncak. Dia berlibur bersama om bas dan keluarga yang dari jerman."
"Aku tidak tau kamu memiliki keluarga dari jerman, mas. Yang kemarin itu, aunty Mariane dan uncle Thomas, itu mereka semua dari jerman ??" tanya karina jadi penasaran. Dia sudah melupakan kemarahan nya. Entah lah, mood nya cepat sekali berubah rubah.
Raga mengangguk "Ada satu lagi, uncle Clark, tapi beliau tidak bisa datang karena pekerjaan nya yang tidak bisa di tinggalkan.."
Karin mengangguk tanda mengerti, "Lalu kapan ken pulang, mas ? Aku rindu sekali pada nya.."
"Tadi ibu sih bilang, mungkin 3 hari mereka di sana. Tapi jika kamu ingin bertemu kenan, aku akan menghubungi nya dan menyuruh dia untuk segera pulang.."
Karin menggeleng cepat, "Jangan, mas. Biarkan saja, lagi pula kenan juga belum tentu akan bertemu mereka dalam waktu dekat ini lagi kan. Biarkan saja dia bermain sebelum mereka semua kembali ke Jerman.."
Deg!
Sandai nya karin tau apa yang tadi putra nya katakan pada raga. Dia pasti akan sangat shock. Dan raga yakin seribu persen, sama seperti diri nya karin pun tidak akan pernah mengizinkan kenan pindah sekolah ke jerman.
๐ฎ
๐Di waktu dan tempat yang berbeda..
"Kamu senang ??" tanya ivan memeluk sang istri dari belakang. Saat mereka tengah berada di kapal pesiar, melihat sunset dari jarak dekat di tengah lautan luas. Tentu nya semua fasilitas yang mereka nikmati itu pun hadiah dari raga. Kalau di hitung hitung mungkin raga mengeluarkan uang lebih dari seratus juta hanya untuk memberikan hadiah pada asisten nya tersebut. Bayangkan saja, kapal pesiar itu satu hari satu malam biaya sewa nya bisa mencapai 50-63juta, hitung saja biaya yang di keluarkan raga untuk ivan dan lira yang menikmati kemewahan itu sampai tiga hari tiga malam. Oh ayolah, bagi raga uang segitu tidak ada artinya, bukan ? Black card yang di miliki nya mampu menggambarkan betapa sultan nya seorang raga mahendra.
Lira mengangguk pelan sambil meletakkan kedua tangan nya di atas lengan sang suami.. "Mas, besok hari terakhir kita di sini. Cuti kamu masih lama kan ??" tanya lira
"Ya. Mungkin kalau aku tidak salah hitung, masih tersisa 15hari lagi. Memang nya kenapa ??"
Ivan membalikkan sang istri agar mereka saling berhadapan.. "Ya, apapun yang kamu inginkan. Aku akan mengabulkan nya. Terimakasih karena kamu selalu memperhatikan ibu dan nana.."
Cupp!
Ivan mengecup kening sang istri, dalam dan lama. Bahagia sekaligus sangat bersyukur, disaat banyak menantu di luar sana yang tidak akur dengan mertua nya, namun lira hanya dalam hitungan minggu mampu menjadi seorang kakak perempuan bagi nana dan menjadi menantu sekaligus seperti anak kandung sendiri bagi ibu nya.
๐ฎAku persingkat jalan cerita nya ya ๐
๐Satu tahun kemudian...
"Mas, ah sakit mas..." lira saat ini sedang berada di ruang bersalin di temani oleh sang suami tentu nya. Betapa bahagianya mereka ketika 2 bulan pasca bulan madu, lira langsung positif hamil. Ibu dan nana bahkan sudah 3 bulan terakhir tinggal bersama ivan dan lira di rumah mereka yang ibu berikan sebagai hadiah pernikahan.
Ibu yang saat ini berada di luar ruangan terus memanjatkan doa. Meminta kepada sang pencipta agar memudahkan proses melahirkan menantu kesayangan nya. Di luar ruangan itu pun keluarga dari lira ikut menunggu, harap harap cemas karena sudah 30 menit dokter belum juga keluar dari ruangan tersebut.
"Maaf aku terlambat..." Semua mata tertuju pada seseorang yang berjalan setengah berlari di koridor rumah sakit..
"Kamu pelan pelan, sayang. Kamu kan baru melahirkan.." ucap mami lira menyambut kedatangan sahabat putri nya.
"Sudah 3 bulan yang lalu, mami..." balas nya manja..
"Tetap saja, sayang. Kamu kan melahirkan nya cesar, jangan sampai jahitan kamu terbuka, bahaya nak.." sambung mami lagi yang sungguh sungguh khawatir pada wanita itu..
"Iya mi, iya.. Karin gak akan berlari lagi seperti tadi..." Ya, wanita itu adalah karina yang toga bulan lalu sudah melahirkan bayi nya. Anak kedua yang berjenis kelamin perempuan.
"Eh iya, liora nya dimana ?? Kamu ko sendiri ??" tanya mami lagi menanyakan putri karin yang bernama Liora Putri Mahendra
"Oh. Liora sama mas raga menunggu di mobil mi. Mas raga gak bolehin aku bawa masuk lio ke dalam rumah sakit.."
Mami mengangguk.. "Ya, benar. Tidak baik bagi liora berada di rumah sakit sayang. Lalu kenan ??" tanya mami lagi.
Kenan, putra sulung nya yang enam bulan lalu benar benar berangkat ke jerman untuk bersekolah disana. Awalnya karin tidak mengizinkan, namun putra nya itu bersikeras ingin tinggal dan bersekolah bersama dengan kedua saudara nya. Akhirnya setelah setengah tahun kenan berjuang untuk meminta izin pada mami dan papi nya, dia pun di izinkan dengan syarat, dia harus tinggal disana bersama oma dan opa nya, yaitu tuan rudi dan nyonya wina mahendra.
Dan entah bagaimana oma dan opa kenan sebelum ken berangkat sudah lebih dulu pergi ke jerman. Mereka ingin menghabiskan masa tua bersama di sana. Kedua nya sudah sangat lelah dengan hiruk pikuk kemacetan di ibu kota, di tambah dengan kualitas udara yang buruk membuat kedua nya langsung memutuskan untuk tinggal di negara tersebut selama waktu yang belum di tentukan.
"Ken, oma dan opa sudah balik lagi ke jerman, mi. Mereka hanya sebulan bersama liora. Mungkin jika ken libur panjang, mereka akan pulang lagi.."
Saat karina dan mami tengah berbincang, tiba tiba dokter keluar dari dalam ruangan tersebut..
"Selamat, nyonya lira sudah melahirkan secara normal. Bayi nya berjenis kelamin perempuan.." ucap dokter yang keluar dari ruangan itu
"Alhamdulillah..." serentak semua yang disana mengucapkan syukur, termasuk karina.
"Pasien dan bayi nya akan di pindahkan ke ruang perawatan. Bagi keluarga yang ingin menjenguk nyonya lira dan bayi nya, di mohon untuk bergantian. Yang boleh masuk hanya 2 sampai 3 orang saja. Terimakasih.."
__ADS_1
Setelah memberi peringatan pada keluarga pasien, dokter pun kembali masuk ke dalam ruangan bersalin tersebut untuk membantu pemindahan ruangan lira dan bayi mungil nya.
"Terimakasih sayang.." Ivan terus mencium kening lira, bahagia karena lira sudah memberikan nya seorang putri yang sangat cantik sama seperti sang istri, lengkap tidak kurang satu apapun.
Lira yang fisik nya masih sangat lemah hanya bisa tersenyum kecil dengan lelehan air mata yang mengalir dari kedua sudut mata nya..
"Astaga, putri mu cantik sekali, van. Lihatlah wajah nya, sama seperti istri mu. Bibirnya tipis, bulu mata nya banyak.. Wah, pasti dia akan jadi primadona nih di sekolah.."
"Kamu gila, rin. Aku baru saja melahirkan tapi kamu sudah ngomongin sekolah.."
Saat ini karina sudah berada di dalam ruangan tersebut, dia keloter terakhir yang masuk ke ruang perawatan lira.
"hehehe.." karin menyengir kuda.
Tiba tiba..
drrttzz...
Ponsel karin bergetar,
"Ra, sorry ya. Lio nangis, kayanya dia sudah haus. Aku pamit ya, ra, van. Nanti aku jenguk kalian lagi kalau sudah pulang ke rumah. Okay ??" Setelah mendapatkan sambungan telepon dari sang suami, karin langsung berpamitan. Ivan dan lira pun tidak lupa mengucapkan terimakasih karena karin dan raga sudah menyempatkan menemani nya di rumah sakit.
"Karina benar, sayang. Bayi kita mirip sekali dengan mu.." ucap ivan yang duduk di samping hospital bed istri nya.
"Benarkah ?? Tapi kenapa mami, papi, ibu dan nana bilang Aileen mirip dengan mu.."
Ivan tersenyum, "Ya sudah. Aileen mirip dengan ku, karena dia memang putri ku.."
Lira menyambut senyuman sang suami.. "Putri kita.."
Sungguh, tidak ada kebahagiaan bagi pasangan suami istri melebihi bahagia nya memiliki seorang keturunan. Sampai detik ini pun ivan masih tidak enyangka, perkenalan nya dengan sang istri yang begitu singkat di tambah dengan langsung memutuskan untuk menikah, dan sekarang memiliki seorang putri yang cantik, itu semua tidak ada dalam rencana masa depan nya. Saat itu prioritas ivan adalah untuk membahagiakan adik dan ibu nya. Namun yang maha kuasa begitu baik pada nya, lira tiba tiba hadir mengisi hati nya yang sebelumnya tidak pernah di isi oleh wanita mana pun. Bagi ivan kini dan nanti, hanya lira lah satu satu nya sang pemilik hati.
Begitupun bagi lira, setelah perjalanan panjang nya mengobati trauma terberat nya, akhirnya dia mampu kembali bangkit dan meninggalkan dunia hitam nya yang selalu berganti ganti pasangan tanpa ikatan. Ivan lah satu satu nya pria yang mampu menggetarkan hati nya lagi setelah 10 tahun lama nya. Ivan juga lah satu satu nya pria yang mampu membuat nya percaya lagi akan cinta tulus. Bagi lira, ivan mungkin bukan yang pertama namun dia akan menjadi yang terakhir.
๐ฎ
๐Di lain tempat...
"Maaf, mas. Aku lama ya..??" Karin sudah masuk ke dalam mobil nya. Disana memang putri nya liora tengah memekik, menangis dengan suara yang lumayan memekakkan telinga..
"Tidak apa apa, sayang.." raga memberikan putrinya pada sang istri. Sebenarnya tadi liora tengah tertidur, tapi karena suara sirine ambulance yang begitu kencang, membuat putri kecilnya tiba tiba bangun dan langsung menangis. Karena tidak bisa mendapatkan liora, dengan sangat terpaksa raga pun harus menghubungi sang istri.
Karin langsung memberikan asi nya pada sang putri kecil. Dia tahu pasti liora sudah sangat haus karena tidak terasa ternyata karin meninggalkan nya lebih dari satu jam.
Melihat sang istri yang duduk nya sedikit tidak nyaman, raga pun membaringkan sedikit posisi jok yang karin duduki agar dia lebih leluasa untuk memberikan asi pada putri nya itu.
Karin tersenyum "Terimakasih, sayang.." ujar karin sambil menatap wajah suaminya
Raga pun tidak melepaskan pandangan nya dari sang istri, menatap dengan haru wanita nya. Bagaimana tidak, seperti anak pertama mereka sebelumnya, karin tidak mau mempekerjakan seorang baby sitter untuk membantu nya menjaga liora. Padahal raga sudah berkali kali menawarkan, dia tidak tega melihat istri nya kelelahan setiap hari. Namun apa daya, karin tetap menolak. Akhirnya raga pun tidak lagi memaksa, tapi yang jelas untuk anak kedua mereka, raga tidak akan menyianyiakan waktu nya seperti dulu. Dia akan ikut serta dalam membesarkan liora. Dia tidak mau kesalahan di masa lalu nya terulang lagi, pernah menyianyiakan karin dan kenan saat itu. Biarlah itu akan menjadi pelajaran berharga bagi nya dan tidak akan pernah mengulangi nya lagi sampai mati. Raga sudah bertekad untuk menjadi suami yang bisa di andalkan bagi sang istri dan jadi ayah yang menjadi garda terdepan bagi kedua anak, Kenan dan Liora di masa depan.
Sambil menikmati moment mengASIhi putri nya, karin membatin, berucap syukur berkali kali karena setelah kesedihan nya selama 10 tahun, sekarang kebahagiaan datang bertubi tubi. Terlebih saat ini, kebahagiaan nya semakin lengkap dan sempurna setelah kehadiran Liora, putri kedua mereka. Meskipun harus lelah dan tidak bisa lagi merawat diri nya selama 3 bulan ini, namun karin bahagia karena kembali merasakan rasanya menjadi ibu yang sibuk siang dan malam. Wanita itu memang sengaja tidak mau memakai jasa pengasuh bayi, sebab karin ingin merasakan lagi rasanya menjadi seorang ibu yang waktu tidurnya berantakan, malam jadi siang dan siang jadi malam hanya untuk merawat anak kedua mereka. Tapi kali ini karin bersyukur, karena sang suami selalu ada untuk nya, saling bergantian menjaga bayi mereka. Apalagi sekarang sudah tidak ada ibu dan ayah yang akan membantu karin karena kedua nya kini berada di negeri yang jauh, jadi sudah seharusnya raga menjadi suami yang siap siaga kapan pun karin membutuhkan nya.
"Semoga pernikahan kita selalu di selimuti kebahagiaan. Aku ingin selalu bersama mu, istri ku.."
Karin tersenyum dengan lelehan air mata yang membasahi kedua belah pipinya, entah kenapa setelah melahirkan karin lebih melow dan cepat terbawa suasana..
"Terimakasih, mas. Apapun masalah di masa lalu yang pernah terjadi di pernikahan kita, sekalipun kamu tidak pernah meninggalkan ku.."
Cupp!
Raga mengecup kening sang istri..
"I Love You, My wife.."
"I Love You too, My Hubby.."
...TAMAT......
๐ฎ
๐
Yeee...๐๐๐
Akhirnya setelah sekian purnama, novel otor yang ini tamat juga..
Dan episode terakhir ini otor hadiahkan buat kalian lebih dari triple up, ceritanya paling panjang ๐คญ๐ฅฐ..
Semoga kalian senang ๐
Terimakasih otor ucapkan buat bestie bestie otor yang sudah nyempetin like dan komentar, bahkan kasih otor give ๐๐๐
Semoga kalian sehat selalu dan rezeki nya semakin bertambah banyak dan berkah ๐
See you di novel otor yang selanjutnya, jangan lupa mampir dan tinggalkan jejak nya ya ๐ค
Love you all ๐๐คโฅ๏ธ
__ADS_1