
Beep Beep...
Ponsel lira tiba tiba berdering ketika gadis itu tengah dalam perjalanan nya menuju kota B.
Lira pun melihat ke layar ponsel nya sekilas, lalu...
"Halo ?" ucap lira setelah memasang airpods di telinga nya.
"Bawa saja jas itu ke rumah ku. Aku akan kirim alamat nya.."
"Tapi hari ini aku tidak bisa. Nanti saja setelah aku pulang dari kota B."
"Ya sudah. Kalau begitu buang saja!!"
Ciiittt...
Lira mengerem mendadak, tapi untungnya tidak ada kendaraan lain di belakang mobil nya. Dengan perlahan gadis itu pun menepikan kendaraan nya di pinggir jalan..
"Astaga!! Kau tahu tidak aku ini sedang berkendara, hah ? Ya sudah kalau begitu aku akan membuang nya !!"
Lira lalu menutup sambungan itu dengan kesal. "Buang, Buang!! Seenaknya saja dia menyuruh ku membuang benda milik nya. Ck. Kalau dia mau membuang nya, ya buang saja sendiri!!"
Drtttzz..
Ponsel lira kembali bergetar..
"Apa ini ??" lira mengerutkan kening nya ketika membaca pesan di aplikasi whatsapp nya. "Benar benar keterlaluan!! Sekarang dia mengirimi ku alamat tempat tinggal nya..!!"
"eh, tunggu. Ini kan..." lira menyadari ketika membaca ulang pesan tersebut. Ternyata alamat pria itu di perbatasan antara kota J dan kota B.
Kembalikan!!
Buang!!
Kembalikan!!
Buang!!
Kembalikan!!
"Baiklah, aku akan mampir sebentar untuk mengembalikkan jas nya.." setelah berdebat dengan pikiran nya sendiri, akhirnya lira memutuskan untuk mengembalikan jas itu pada pemilik nya. Gadis itu pun kembali menghidupkan mesin mobil nya, lalu mengikuti arahan dari GPS Navigasi nya untuk sampai di alamat tujuan..
*Skip perjalanan..
Tidak terlalu sulit untuk sampai ke alamat rumah pria itu. Lira hanya perlu satu kali berbelok arah dan selebih nya hanya jalan lurus yang pemandangan nya begitu asri dan teduh karena kiri kanan nya di penuhi oleh pepohonan besar yang tinggi menjulang..
"Aku tidak tahu ada udara sesegar ini.." gumam nya seraya menurunkan kaca jendela mobil nya. Hanya butuh 2 menit lagi untuk lira sampai di tempat itu..
"Apa ini rumah nya ??" tanya lira pada diri nya sendiri ketika sudah sampai di sebuah rumah yang terlihat sangat sederhana. Rumah tua tapi terlihat sangat terawat. Rumah dengan taman yang luas yang sangat menyegarkan pandangan mata, karena di tumbuhi oleh berbagai macam tanaman bunga yang lira pun tak tahu jenis atau pun nama dari tumbuhan tersebut. Yang gadis itu tahu, pasti sangat nyaman tinggal di rumah yang seperti ini, penuh dengan ketenangan dan nilai plus nya tidak banyak kendaraan yang berlalu lalang.
Ting Tong
Lira menekan bel di dekat pagar rumah..
Ting Tong
Dari kejauhan lira melihat seorang gadis muda berpakaian santai tapi sopan keluar dari dalam rumah..
Sreettt..
Suara pagar di geser..
"Cari siapa ya, mbak ??" tanya gadis itu menelisik lira dari atas kepala sampai ujung kaki.
Lira yang merasa di perhatikan dengan tatapan yang seperti itu tanpa sadar menarik pakaian nya yang kurang bahan, berharap atasan crop top dan rok mini nya bisa sedikit memanjang dan menutupi bagian bagian tubuh nya yang terekspose.
"Apa benar ini rumah Ivan ??" tanya lira sedikit ragu
"Mbak siapa nya mas Ivan ??"
"Saya bukan siapa siapa nya. Hanya mau mengembalikkan ini..!!" ucap lira lalu memperlihatkan jas yang sedang di pegang nya..
__ADS_1
"Oh, mbak tukang laundry ?? Sebentar ya, saya panggilkan dulu mas ivan nya.."
Tanpa rasa bersalah setelah mengatakan hal itu, gadis tersebut pun masuk kembali ke dalam rumah..
"Apa ?? Aku tukang laundry ??" Lira menggerutu kesal.. "Siapa sih gadis itu, sembarangan saja menyebutku tukang laundry..!!"
Ekhem..
Suara deheman berat sontak membuat lira langsung menoleh ke belakang..
Lira terdiam beberapa saat ketika melihat pria yang ada di hadapan nya..
"Apa aku setampan itu ??"
ekhem..
Lira langsung salah tingkah, jujur, ini kali pertama lira melihat Ivan berpakaian santai. T-shirt longgar dengan celana jeans sobek sobek yang panjangnya hanya sampai lutut.
"nih.." tanpa basa basi lira langsung memberikan jas itu pada pemilik nya..
Ivan lalu menerima dengan wajah datar,
"Mau kemana ??" tanya ivan ketika melihat lira bergegas melangkah menuju mobil nya lagi
"Van..." suara lemah memanggil ivan dari teras rumah nya.. "Siapa yang datang nak ?? Kenapa tidak di suruh masuk..!!"
"Dengar tidak ?? Ibu ku menyuruh mu masuk..!!" kata ivan pada lira..
Lira menggeleng.. "Tidak mau!! Untuk apa tukang laundry seperti ku bertamu ke rumah mu.!!" Ucap nya lalu dengan cepat membuka pintu mobil..
"Adik ku hanya bercanda. Ayo..!!" Ivan menutup kembali pintu mobil lira, lalu menarik pergelangan tangan nya dengan lembut tapi menuntut gadis itu untuk mengikuti nya di belakang..
"Oh. Yang tadi itu adik nya.. Pantas bicara nya sama sama pedas..!!"
Lira bersembunyi dan berjalan di belakang tubuh ivan yang tegap dan tinggi itu hingga juka di lihat dari depan tubuh mungil nya sama sekali tak terlihat..
"Siapa gadis cantik yang datang kerumah kita ini nak ?? Apa dia kekasih mu ??"
Tangan ivan masih berada di belakang tubuh nya, sebab lira sepertinya enggan menampakkan diri di hadapan sang ibu. Tanpa sadar, lira menarik baju belakang ivan dengan kuat, dan entah sejak kapan satu tangan mereka yang lain sudah saling bertaut.
"Sini nak, duduk. Pasti capek berdiri terus seperti itu.."
Lalu dengan ragu ragu lira melangkahkan kaki nya ke samping ivan..
ibu sedikit terkejut, tapi ibu mencoba untuk tidak memperlihatkan keterkejutan nya itu di depan lira. Ibu menepuk sisi sofa yang ada di teras..
"Sini, nak.." ucap ibu meminta lira segera duduk di samping nya..
"Siapa nama kamu ??"
"Saya Lira, tante.."
"Nama nya cantik seperti orang nya.." ucap ibu klise, tapi ibu benar benar memuji betapa cantik nya lira meskipun pakaian nya serba terbuka seperti ini. Sementara ivan hanya menyimak interaksi dua orang yang ada di hadapan nya sambil sesekali mencuri pandang pada salah satu di antara mereka.
"Kamu sudah makan ??" tanya ibu..
Lira menggeleng. Memang benar, dia belum sempat makan siang hari ini.
"Kebetulan. Kalau begitu kita makan siang bersama ya."
"Tapi..."
"Ayo..." belum sempat lira bicara, ibu sudah lebih dulu menarik tangan nya dan mengajak lira masuk ke dalam rumah...
Lira melihat ke arah ivan seperti meminta tolong, tapi ivan malah mengangkat kedua bahu nya dengan wajah datar..
💮
🍀Raga dan karin sudah tiba di rumah mereka.
Karin langsung berlari turun lebih dulu dari mobil nya..
__ADS_1
Raga hanya bisa menahan nafasnya cemas melihat karin berlari seperti itu, sebab saat ini istri nya memakai sepatu hak yang runcing dan lumayan tinggi..
"Bagaimana keadaan kenan, bu ??" tanya karin pada ibu mertua nya saat sudah berada di dalam..
"Sudah lebih baik. Suhu nya pun sudah turun, tadi dokter Andra datang dan sudah memeriksa kenan.."
"Sayang, kamu itu bisa tidak jangan berlari seperti tadi, hem ??" raga langsung melingkarkan tangannya di pinggang sang istri. Membuat ibu dan ayah terkejut sekaligus senang mendengar putra mereka begitu mesra memanggil karin dengan sebutan sayang..
Ibu dan Ayah tersenyum.. "Seperti nya ada sesuatu yang kita lewatkan, bu..??" kata ayah yang langsung mendapat anggukan dari sang istri
Karin yang merasa malu lalu melepaskan tangan raga.. "Mas, aku ke kamar ken dulu.." ucap nya dengan lembut.. "Ayah, ibu, karin ke kamar kenan dulu, ya ??" kini giliran pada kedua mertua nya karin meminta izin
Ketiga nya pun mengangguk bersama..
Tapi sebelum karin pergi, raga lebih dulu mengusap pucuk kepala sang istri "Nanti aku menyusul.." ucap nya sambil tersenyum. Ibu dan Ayah semakin terkejut melihat putra nya yang datar itu tersenyum begitu manis pada karin.
Karin hanya mengangguk, lalu mulai melangkah menuju lantai 2...
🍀Di ruang keluarga...
"Mas, tolong jelaskan pada ibu. Apa yang terjadi pada kalian ??" tanya ibu menuntut penjelasan
"Sudahlah bu. Putra kita pasti lelah, biarkan dia istirahat dulu.."
"Tidak bisa Ayah. Dia sudah membuat ibu khawatir dengan kabur begitu saja dari rumah sakit. Sampai sampai ibu hampir pingsan mendengar kabar itu..!!"
"Maaf bu. Tapi aku tidak bisa menjelaskan nya sekarang. Yang pasti aku dan karina tidak akan pernah bercerai sampai kapan pun.." ucap nya sebelum meninggalkan ibu dan ayah.
Setelah itu raga langsung menyusul karin ke kamar putra mereka..
Ceklek..
Raga membuka pintu..
"Sssttt..." karin menempelkan jari telunjuk nya di atas bibir..
Kenan sedang tidur ketika karin masuk ke dalam kamar itu.
"Suhu nya sudah normal.." kata karin sambil memperlihatkan alat pengecek suhu tubuh pada suami nya..
"Syukurlah.."
Raga pun mengajak karin kembali turun untuk membersihkan diri dan berganti baju.
"Mas, kenapa kamu masuk ke kamar ku ??" tanya karin ketika raga terus mengekor di belakang nya..
"Mau aku yang pindah ke kamar kamu, atau kamu yang pindah ke kamar ku ??" tanya raga seraya menyilangkan tangan nya di atas dada. Karin lupa mereka sudah berbaikan, tapi dia tidak menyangka secepat ini suami nya itu meminta nya untuk berbagi kamar yang sama.
"Nanti aku pikirkan dulu. Sudah, kamu keluar dulu aku mau mandi.." kata karin sambil mendorong tubuh suami nya
"Tidak mau!! Katakan dulu, siapa yang pindah ke kamar siapa.."
Benar benar tidak sabaran. Padahal mereka baru saja tiba, tapi karin sudah di buat pusing dengan permintaan suami nya yang begitu menuntut..
"Kamu saja yang pindah ke kamar ku !!" kata karin dengan wajah kesal..
Cupp..
Raga mengecup kening karin sekilas..
"Baiklah. Aku akan menghubungi tukang untuk membawa semua barang barang ku kesini.." ucap raga lalu keluar dari kamar karin dengan senyum yang mengembang di bibir nya..
Karin hanya bisa menggelengkan kepalanya menatap punggung raga yang mulai menghilang di balik pintu.
"Astaga. Kenapa dia tidak sabaran sekali.."
🍀🍀🍀
__ADS_1