Sebatas Menikahi

Sebatas Menikahi
Part 63


__ADS_3

🍀🍀Flashback On...🍀🍀


Setelah dari salon lira untuk mengembalikan mobil nya, ivan memilih untuk pulang ke rumah ibu nya. Pria itu merasa sangat lelah karena akhir akhir ini dia di sibukkan dengan banyak masalah yang di hadapi oleh tuan nya, yang otomatis dia lah yang harus menyelesaikan masalah tersebut.


Belum lagi entah sejak kapan pikiran dan hati nya di penuhi oleh satu nama yang sejak beberapa hari lalu mencuri waktu istirahat nya. Bahkan saat memejamkan mata saja bayang bayang gadis itu terus menari nari di atas kepala nya..


Pria itu berharap pulang nya dia ke rumah ibu bisa meredakan sejenak pikiran nya yang sedikit kacau.


Tidak sampai satu jam ivan sudah sampai di rumah sederhana milik kedua orang tua nya...


"Assalamu'alaikum..." ivan memberi salam ketika masuk ke dalam rumah..


"Wa'alaikumsalam.. Mas Ivan.." jawab seorang gadis menyambut kedatangan ivan


"Ibu mana dek ??" tanya ivan pada gadis itu yang merupakan adik perempuan nya yang baru saja lulus sekolah menengah atas bernama Nana..


"Di belakang, mas." jawab nya lagi seraya menunjuk kebun di belakang rumah..


"Ya sudah, mas kesana dulu.." Ivan mengacak acak rambut gadis itu dengan sengaja..


"Ih.. Mas ivan kebiasaan..!!" protesnya seraya merapikan kembali surai nya yang berantakan sambil cemberut..


Ivan tersenyum kecil lalu mulai melangkah menuju kebun di belakang rumah..


grep..


Ivan memeluk ibunya dari belakang..


"Astaga nak. Bikin ibu kaget saja.." ujar ibu sambil satu tangannya terulur ke belakang untuk mengusap pipi ivan


"Ada apa, hem ? Kenapa pulang di jam kerja seperti ini ??" tanya ibu


Ibu tahu betapa putra nya itu sangat berdedikasi dalam pekerjaan nya. Jadi jika dia pulang di jam kerja apalagi ini bukan hari libur nya maka ada sesuatu yang membuat dia seperti itu.


"Tidak ada apa apa bu. Aku hanya lelah saja." Ivan mulai melonggarkan pelukan nya.. "Ibu sedang apa ??" tanya ivan mengalihkan pembicaraan lalu berdiri bersisian dengan sang ibu


"oh ini.. Ibu habis memetik sayuran. Lumayan kan bisa dapat sebanyak ini, kita bisa berbagi dengan tetangga di sebelah rumah.." ucap ibu seraya menunjukkan sekeranjang berisi bermacam macam sayur yang habis di petik nya..


"Astaga bu. Kan aku sudah bilang jangan terlalu capek. Ibu harus banyak istirahat, jangan melakukan kegiatan kegiatan berat seperti ini.." Ivan menjadi sensitif jika berhubungan dengan kesehatan ibu nya..


Ibu tersenyum lalu mengusap rambut anak nya dengan lembut.. "Ibu sudah baik baik saja nak. Badan ibu malah sakit jika tidak di gerakkan. Sudahlah, ayo masuk. Kamu sudah sarapan ??" tanya ibu seraya melingkarkan tangan nya di lengan sang putra lalu berjalan bersama masuk kembali ke dalam rumah .


Ivan menggeleng.. "Ya sudah. Kamu mandi dulu lalu kita sarapan bersama ya.."


Pria itu lalu masuk ke dalam kamar nya untuk membersihkan diri terlebih dulu..


🍀Di meja makan..


"Dek, kamu mau lanjut kuliah dimana ??" tanya ivan yang duduk di kursi utama meja makan di rumah nya..


"Sepertinya aku mau langsung cari kerja saja. Aku tidak mau merepotkan mas ivan terus.." jawab nya sambil menunduk..


"Kamu tidak boleh bicara seperti itu. Mas itu kepala keluarga disini, jadi kewajiban mas untuk memenuhi kebutuhan kamu dan ibu. Kamu pilih dulu saja dimana kamu akan melanjutkan pendidikan mu. Nanti mas akan menemani mu untuk mendaftar.."


"Tapi mas...."


"Sssttt.. lanjutkan sarapan mu." kata ivan memotong ucapan nana..


"Bu, ivan ke kamar dulu..."


"Kenapa makan nya tidak di habis kan, nak ??" tanya ibu yang sejak tadi hanya diam menyimak. Ibu tidak berani membantah jika ivan sudah mode serius seperti itu.


"Sudah kenyang, bu.." jawab nya lalu kembali masuk ke dalam kamar


Ivan merebahkan tubuhnya di atas kasur. Dia tahu biaya masuk kuliah itu pasti sangat besar, tapi ivan akan berusaha lebih keras lagi untuk tetap memenuhi kebutuhan ibu dan adik nya meskipun dia harus bekerja lembur setiap hari.


Memang pekerjaan nya menjadi asisten pribadi seorang raga memiliki gaji yang lumayan besar. Namun ivan harus membagi nya untuk masa depan nya juga, bukan ? Suatu saat dia pun ingin menikah dan punya keluarga seperti pikiran pria dewasa pada umum nya. Maka nya mumpung dia masih lajang dia sering lembur bekerja, itu ivan lakukan untuk masa depan nya nanti..


Mungkin saking lelah nya, tidak butuh waktu lama ivan pun tertidur di atas kasur empuk nya..


*Beberapa jam kemudian..


Drrtttzz..


Ponsel nya bergetar, menandakan ada pesan yang masuk..


Beep Beep


Beep Beep


Ponsel nya terus berdering tapi si empunya masih terlelap dalam tidurnya...


Beep Beep

__ADS_1


eeughhh


Ivan melenguh, pria itu pun mulai mengumpulkan kesadaran nya lalu meraba sisi tempat tidurnya mencari ponsel nya yang terus berdering itu..


Saat ivan akan mengangkat panggilan itu, dering itu malah berhenti.


Tanpa sadar, ada senyum di bibirnya ketika dia membaca isi pesan singkat yang di kirim oleh seseorang..


Dengan cepat dia pun segera menghubungi nomor itu lagi..


*Skip teleponan nya ya..


Beberapa menit kemudian..


Tok tok tok


"Mas..." suara nana mengetuk pintu kamar


Ceklek


"Ada apa ??" tanya nya dengan wajah bantal, sebab sejak tadi ivan masih betah berada berbaring di tempat tidurnya..


"Itu ada tukang laundry.."


Ivan mengerutkan kening nya..


"Tukang laundry ??" beo ibu yang mendengar ucapan putri nya..


"Iya bu. TUKANG LAUNDRY CINTA.." kata nana dengan penuh penekanan sambil menaik turunkan alis nya menggoda kakak laki laki nya itu..


"ish!! Kamu ini.." Ivan pun keluar dengan langkah panjang nya. Dia langsung tahu maksud ucapan adik nya itu apa.


"Siapa sih dek? Ibu jadi penasaran.." kata ibu bertanya pada nana


"Di depan ada wanita cantik sekali, seperti boneka hidup, bu. Tapi..." ucapan nana menggantung, dia bingung harus mengatakan bagaimana, sebab penampilan wanita itu jauh dari bayangan nya sendiri. Pakaian nya yang teramat minim, bahkan lebih terlihat seperti hanya memakai pakaian dalam saja di mata nana.


"Tapi apa ??" tanya ibu semakin penasaran..


"Ibu lihat sendiri aja deh.." ucap nana lalu kembali masuk ke kamar nya..


🍀🍀Flashback Off..🍀🍀


💮


🍀Di meja makan..


"Tidak usah tante, biar saya ambil sendiri.." jawab lira malu. Ini benar benar di luar dugaan nya, kenapa dia malah di ajak makan siang, padahal niatnya tadi hanya untuk mampir sebentar saja.


Ivan menahan senyum nya melihat lira malu malu seperti itu. Biasanya gadis itu selalu bicara dengan percaya diri nya, sekarang seolah kehabisan kata lira terus diam dan tidak banyak bicara..


Berbeda dengan ivan yang merasa lucu dengan sikap lira kali ini, nana malah melihat lira dengan kagum. Nana terus melihat ke arah lira dengan sangat intens.


"Apa kamu tidak suka dengan makanan nya ??" tanya ibu saat melihat piring lira hanya terisi sedikit. Nasi yang hanya satu sendok makan dan sayuran hijau yang tadi ibu petik dari kebun..


Sebenarnya lira memang sedang diet, dia tidak makan makanan seperti ini. Gadis itu sangat menjaga berat badan nya agar tetap stabil, sebab bisa gawat kalau berat badan nya naik dia jadi tidak percaya diri memakai pakaian yang ukuran nya mini mini itu..


"Mungkin dia tidak selera bu dengan makanan kita.." ucap ivan datar..


"Bukan tante, saya memang sedang diet.." kata lira membantah ucapan ivan


"Astaga, badan mu sudah sangat bagus. Jangan diet terlalu keras, nanti kamu bisa sakit.."


Lira menyunggingkan senyum nya..


"Kak. Ajarin nana diet dong. Nana kan mau punya badan kaya kak lira.." tiba tiba nana membuka suara nya..


"Hah..??" lira terkejut


Tapi belum sempat lira menjawab ivan sudah lebih dulu memberikan tatapan tajam pada adik perempuan nya itu, nana pun kembali menutup mulutnya dengan wajah di tekuk...


Setelah makan siang, lira buru buru pamit..


"Tante, terimakasih makan siang nya.." kata lira pada ibu.. "Saya permisi ya, tante.." ucap nya lagi lalu mencium tangan ibu. Lira memang wanita mandiri dan modern, tapi dia tidak pernah melupakan adab jika berhadapan dengan orang tua..


"Sebentar ibu panggilkan ivan dulu.."


"Tidak tante, tidak perlu. Lira buru buru.."


Lira pun segera berjalan menuju ke mobil nya yang terparkir di depan rumah ivan...


"Aku akan mengantar mu.." ucap seseorang yang tiba tiba berjalan di samping gadis itu..


"Tidak perlu. Aku bisa sendiri..!!"

__ADS_1


Bip Bip


"YA!!" pekik lira kesal sebab ivan lagi lagi mendahului nya duduk di kursi pengemudi


"Aku tidak mau di antar. Cepat turun!!"


"Sudahlah. Ayo naik. Kamu tidak lihat ini sudah mau hujan ??"


Gadis itu lalu melihat ke langit, ya memang awan nya sudah gelap seperti nya sebentar lagi akan turun hujan.


"Sudah tahu mau hujan. Cepat turun!! Aku sedang terburu buru.."


"Dasar keras kepala. Mau naik sendiri atau mau naik dengan cara ku ??"


Lira mengerutkan kening nya bingung..


Hushhh..


Ivan turun dan langsung mengangkat tubuh lira, tidak perduli dengan teriakan dan pukulan yang di berikan gadis itu di punggung nya.


"Lebih baik naik sendiri bukan ??" ucap ivan setelah memposisikan lira dengan hati hati di kursi penumpang, tidak lupa ivan pun memakaikan seatbelt nya..


Lira memalingkan wajahnya, dia bingung harus mengatakan apa. Di satu sisi dia kesal dengan sikap ivan, tapi di sisi lain ada perasaan aneh yang lagi lagi di rasakan hati nya.


"Kenapa kamu seperti ini padaku ??" tanya lira dingin..


Ivan tidak menjawab, dia memilih fokus mengemudikan mobil lira. Hujan lebat mulai turun, dan mulai membatasi jarak pandang ivan...


"Stop!!" lira meminta ivan untuk menghentikan mobil nya, tapi ivan hanya diam dan mengacuhkan permintaan gadis itu..


"STOP AKU BILANG!!" ivan terkejut, lira membentak dengan wajah yang memerah. Pria itu pun terpaksa menepikan mobil itu di jalanan yang lumayan sepi sebab jalanan ini masih berada di daerah rumah orang tua nya...


Ivan membuka seatbelt nya lalu memposisikan duduk nya menghadap lira..


"Please. Jangan seperti ini lagi..!!" lirih lira dengan air mata yang mulai menggenang..


"Aku tidak tahu kenapa kita harus terus bertemu seperti ini. Tapi aku mohon, setelah ini jangan lagi muncul di hadapan ku..!!"


Deg!!


Kenapa rasanya sakit sekali, padahal mereka saja tidak memiliki ikatan apapun. Berteman saja tidak, tapi mendengar yang gadis itu ucapkan barusan rasanya sesak dan sakit.


Ivan hanya menatap datar..


"Baiklah..!!" ucap nya lalu keluar dari mobil lira..


Lira yang terkejut pun langsung menahan tangan ivan.. "Kamu mau kemana ?? Tidak lihat di luar hujan!!!" tanya lira dengan wajah khawatir, sebab hujan turun sangat lebat seperti waktu itu...


Ivan tidak menjawab, dia menuntun tangan nya yang lain untuk melepaskan genggaman tangan gadis itu..


Brug!!


Ivan menutup pintu mobil,


Lira menatap sedih kepergian ivan di depan nya, pria itu berjalan menerjang derasnya hujan..


Lira buru buru turun sambil memakai payung, mencoba mengejar pria itu.. "Tunggu!!" kata lira menahan tangan ivan lagi,


"Pakai ini!!" Lira memberikan payung ke tangan ivan, dan sedetik kemudian pria itu malah membuang payung nya ke jalanan...


Ivan pun kembali melangkah meninggalkan lira yang juga sudah basah kuyup..


Lira kembali menarik tangan ivan dengan kasar.. "Kenapa kau terus menghindari ku, hah ?? Aku tidak akan mengejar mu, ini terlalu berat... Katakan apa yang salah dengan ucapan ku tadi ??"


"Tidak ada. Kamu memang benar!! Tidak ada alasan apapun untuk kita bertemu lagi!!"


Deg!!


Kini lira tidak bisa berkata lagi, ternyata memang sakit jika di dengar dari mulut orang lain..


Lira melepaskan tangan nya, lalu berlari menuju ke mobil nya dengan air mata yang sudah mengalir, beruntung hujan nya begitu lebat jadi tidak ada seorang pun yang tahu bahwa dia sedang menangis..


"Kenapa tidak bisa di buka.. Hiks.hiks.." Lira mencoba membuka pintu mobil nya berkali kali, tapi entah kenapa pintu nya tidak mau terbuka..


grep!!


Ivan menarik tangan gadis itu dengan sedikit tenaga hingga membuat tubuh lira terhuyung dan menabrak dada bidang pria itu..


"Lepaskan!!" lira memukul mukul dada ivan yang kini tengah memeluk nya dengan erat..


"Lepaskan aku bilang.. Hiks.. Hiks.!!" Seolah tuli ivan sama sekali tidak mendengarkan ucapan gadis itu. Ivan terus memeluk tanpa berniat melepaskan dekapan nya..


"Kenapa kamu meruntuhkan tembok yang sudah ku bangun bertahun tahun. Dan kenapa aku bisa menyukai mu secepat ini. Hiks hiks.."

__ADS_1


Deg!!


Ivan membulatkan mata nya, dia tidak menyangka gadis itu langsung mengatakan apa yang sesungguhnya tengah di rasakan hati nya saat ini. Padahal pria itu saja menahan sekuat tenaga nya untuk tidak mengutarakan isi hati nya pada lira. Ivan terlalu pengecut, dia takut cinta nya tak terbalas.


__ADS_2