Sebatas Menikahi

Sebatas Menikahi
Part 85


__ADS_3

Setelah akad nikah nya selesai di laksanakan dan menerima ucapan selamat dari para kerabat dan anggota keluarga, saat ini lira sudah kembali berada di kamar nya dengan sang mami. Lira memilih untuk segera berganti baju.


Hiks..Hiks..


Deg!


Lira terkejut melihat dari balik cermin mami nya tengah menangis sesenggukan.. "Mi..." lira bangun lalu berdiri menghadap mami nya


"Mami kenapa, hem ?? Kenapa menangis ??" Lira sangat khawatir, takut kalau mami nya sakit


Lira mengangkat tangan nya untuk menghapus jejak air mata di kedua belah pipi mami nya yang tidak berhenti mengalir. Lalu dia pun perlahan membawa mami nya untuk duduk di sisi tempat tidur nya..


"Mi, mami sakit ?? Dimana yang sakit ? Kita ke dokter sekarang ya.." Ucap nya sekali lagi masih berpikir mami nya menangis karena ada rasa sakit yang mami rasakan di tubuh nya


Mami menggeleng.. "Mami nggak sakit, nak."


Mami lalu menggenggam kedua tangan putri nya dengan kristal bening ya terus mengalir di pelupuk mata nya..


"Terimakasih kamu sudah bertahan sejauh ini.. hiks..hiks.."


Lira mengerutkan dahi nya belum mengerti maksud ucapan mami nya..


"Mami tau betapa terluka nya hati kamu, betapa kamu mencoba untuk tetap tersenyum di hadapan mami dan papi. Mami sangat bersyukur kamu melewati ini semua dan mampu tetap berdiri dengan kedua kaki mu sendiri sampai sekarang.."


Lira baru mengerti, kedua netranya pun mulai menggenang menatap kedua manik mata mami nya penuh haru..


Mami mengusap pucuk kepala putri nya dengan lembut.. "Setelah kesakitan yang kamu alami, akhirnya kamu menemukan pria yang mampu mengobati luka hati mu. Semoga rumah tangga kalian selalu di limpahi keberkahan dan kebahagiaan."


Lira mengangguk dan meneteskan air mata nya..


Grep


"Terimakasih, mi. Mami dan papi selalu support aku, selalu ada untuk ku dalam keadaan ku yang paling hancur. Mami dan papi adalah alasan aku untuk tetap hidup setelah kemalangan yang dulu pernah aku alami. Tanpa kalian, mungkin aku tidak akan mampu bertahan.." Lira memeluk mami nya dengan erat, menumpahkan seluruh perasaan nya dan mengucapkan ribuan terimakasih karena kedua orang tua nya itu tidak pernah sekalipun meninggalkan nya.


Kedua wanita itu pun menangis cukup lama di dalam kamar dengan posisi saling berpelukan.


Setelah itu, lira pun kembali meneruskan kegiatan yang tadi, yaitu membuka satu persatu hiasan di rambutnya dan di bantu oleh mami nya. Setelah itu dia lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri dan mencuci wajahnya.


"Wow..." Mami sampai melongo melihat penampilan putri nya yang lagi lagi terlihat berbeda..


Lira tersenyum dan sedikit malu, lalu melangkah menuju cermin meja riasnya..


"Oh My.. Your so beautiful, darling.." puji mami seraya berdiri di belakang lira, dan sama sama melihat pantulan diri mereka di depan cermin tersebut..


Di mata mami, saat ini lira benar benar terlihat sangat cantik dan elegan. Tidak ada lagi belahan dada yang terbuka, tidak ada lagi paha mulus yang selalu dia umbar dan tidak ada lagi make up berlebihan di wajahnya. Lira sudah kembali lagi seperti dulu, gadis kecilnya yang begitu sederhana dan cantik apa adanya.


Mereka berdua pun lalu kembali turun untuk menemui keluarga yang lain..


Ivan kembali di buat terpukau dengan penampilan sang istri tercinta. Sungguh, dia tidak menyangka lira malah semakin terlihat sangat cantik.


"Jangan di liatin terus, kamu gak lihat pipi istri mu sudah seperti kepiting rebus..." goda tuan Rudi seraya menyenggol sedikit bahu ivan


Ivan tersenyum kikuk sambil menggaruk tengkuk kepalanya..


"Mas.." panggil lira


Deg


Ivan membeku..


Hangat sekali hati nya mendengar panggilan itu dari mulut sang istri. Padahal sampai tadi saat lira meminta izin nya untuk berganti baju, lira masih memanggilnya dengan nama.


Sekarang tanpa ragu dan merasa sungkan ivan pun memegang tangan istri nya lebih dulu di hadapan seluruh anggota keluarga mereka.


"Kita makan dulu yuk. Kata papa kamu belum makan dari pagi.." ajaknya. Lira mengangguk lalu mengikuti langkah kaki suami nya menuju meja prasmanan.


Ivan memundurkan satu kursi untuk sang istri, "Kamu tunggu disini, biar aku yang ambilkan. Kamu mau makan apa ?" tanya ivan tanpa sadar terus menatap intens wajah istri nya. Seperti nya ivan lupa kalau di sana masih banyak keluarga mereka yang lain yang saat ini sedang senyum senyum sendiri melihat tingkah ivan yang seolah di matanya hanya ada lira seorang.

__ADS_1


"Buah saja deh. Aku tidak selera.."


Ivan menggeleng pelan lalu mengusap pucuk kepala sang istri.. "aku tidak mau kamu sakit. Tunggu disini, aku ambilkan dulu.." tanpa menunggu persetujuan sang istri, pria itu pun segera mengambilkan makanan berat untuk wanitanya itu.


Tanpa menunggu lama, ivan sudah kembali dengan 2 piring yang sudah penuh dengan makanan...


"Astaga, banyak sekali.." Lira pun terkejut karena tidak pernah sekalipun dalam hidupnya dia makan sebanyak itu..


Ivan lalu mengambil posisi duduk tepat di samping lira.. "Kalau kamu tidak habis, nanti aku yang habiskan.."


"Masa kamu makan bekas aku. Dari pada seperti itu lebih baik kita makan berdua saja.." lira mengambil sepotong steak daging dengan garpu nya lalu menambahkan mashed potato di atas nya..


"Aaaa..." Lira meminta ivan membuka mulutnya..


Ivan menyunggingkan senyum nya lalu memakan makanan yang di suapi oleh sang istri..


"Bagaimana ? Enak ?" tanya lira..


"Enak tapi bukan karena makanan nya, tapi karena di suapin kamu.."


"Ish. Dasar gombal.." lira mengalihkan pandangan nya, tidak kuat di tatap seperti itu oleh ivan. Jantung nya pun terus berdetak dengan cepat, lira benar benar sangat gugup dan malu.


💮


🍀


🍀Di lain tempat...


"Mas, aku masih ngantuk.." karin kembali naik ke atas tempat tidur setelah melakukan sambungan video dengan lira, kenan dan kedua mertuanya.


Raga mengangguk lalu membantu sang istri menaikkan selimut sampai batas dada..


Cupp..


"Tidurlah sayang." ucap nya dengan lembut


Sementara raga dia yang tidak bisa tidur lagi, memilih untuk menyelesaikan pekerjaan nya yang tertunda dengan laptopnya.


Beep


Beep


Ponsel raga tiba tiba berdering..


"Pak Beni..." gumam raga ketika melihat nama di layar ponsel nya


"Halo..." raga mengangkat sambungan itu..


"Selamat sore, tuan.." suara di sambungan itu. Seseorang itu tidak tahu kalau raga saat ini sedang berada di luar negeri.


"Ya. Ada apa pak beni ??" tanya raga pada pria itu


"Begini tuan. Saya dapat informasi bahwa besok Tuan baskoro akan di bebaskan.."


Deg


Hening..


Raga membeku..


"Halo, tuan ?? Apa anda masih disana ??" tanya pak beni


"Bukankah hukuman nya masih tersisa 2 tahun lagi ??" raga kembali membuka suara..


Pak beni selaku pengacara keluarga mahendra pun di buat bingung dengan pembebasan bersyarat tuan baskoro. Apalagi tuan baskoro di dakwa dengan pasal berlapis.


"Benar tuan. Saya beserta tim lawyer yang lain pun masih mendalami masalah ini. Maaf sebelum nya, apa kita bisa bertemu hari ini, tuan raga ??"

__ADS_1


"Tidak bisa pak beni. Saat ini saya sedang tidak berada di Jakarta.."


Deg


Raga kaget ketika ada tangan lembut yang mengusap bahu nya..


Raga mendongak untuk melihat seseorang itu..


Pria itu tersenyum, lalu menarik tangan karin untuk berjalan mendekat ke arah nya..


"Baiklah pak beni. Nanti kita bicarakan lagi masalah ini. Terimakasih atas informasinya. Selamat sore.."


Tanpa menunggu jawaban lawan bicaranya di sambungan itu, raga langsung memutus teleponnya..


"Ada apa, mas ??" tanya karin yang saat ini sudah duduk di pangkuan suami nya.. "Apa ada masalah ??"


Raga menggeleng.. "Tidak ada. Semua baik baik saja.." jawabnya seraya memainkan surai sang istri dengan jemari nya..


"Benarkah ??"


Raga mengangguk..


"Kalau kamu tidak mau cerita, ya sudah.." karin mencoba beranjak dari pangkuan sang suami.


Belum sempat karin bangun sempurna, raga sudah lebih dulu menahan tubuh sang istri lalu kembali membuat karin duduk di pangkuan nya lagi..


"Bukan seperti itu, sayang. Aku hanya tidak mau merusak moment kita.."


Karin tidak menjawab, wajahnya sudah di tekuk. Dia kecewa karena suami nya masih saja tidak terbuka..


"Okay. Okay. Aku cerita. Tapi senyum dulu.." Raga menarik kedua sudut bibir sang istri membuat nya dengan terpaksa tersenyum begitu lebar..


"Nah, begini baru cantik.." rayu nya berusaha mencairkan suasana lagi


"Tadi yang menghubungiku salah satu pengacara keluarga Mahendra. Dia yang mengurus masalah ku dengan Tuan baskoro, paman ku.."


Karin mulai kembali menatap wajah suami nya, menyimak dan mendengarkan baik baik apa yang di ceritakan oleh raga.


"Menurut informasi yang di dapatnya, paman ku besok keluar dari penjara, padahal seharusnya masih 2 tahun lagi dia mendekam di dalam sana."


"Apa kamu kecewa mendengar kabar itu ??" tanya karin setelah raga selesai bicara


Huh..


Raga menghela nafasnya..


"Sebenarnya tidak. Hanya saja aku ingin dia menerima hukuman sesuai dengan apa yang telah di lakukan nya."


"emm, apa menurut mu 10 tahun waktu yang sebentar ??"


Raga mengerutkan kening nya..


Karin mengusap dada bidang suami nya dengan lembut.. "Mas, menurutku sepertinya 10 tahun sudah cukup untuk membuat tuan baskoro berpikir dan menyadari semua kesalahan nya. Apa kamu tidak mau memberikan nya kesempatan kedua ??"


Deg


Raga menahan nafasnya. Tidak ada satu orang pun yang berani meminta nya memberikan kesempatan pada siapapun yang telah membuat kesalahan pada diri nya, termasuk kedua orang tua nya.


Tapi saat ini dengan pendengaran nya yang sangat jelas, karina meminta memberikan kesempatan kedua pada paman nya, seseorang yang pernah sangat membuat kakeknya kecewa. Seseorang yang tidak tahu bagaimana caranya bersyukur dan berterimakasih.


"Mas, siapapun orang nya berhak untuk mendapatkan kesempatan kedua jika dia memang sungguh sungguh ingin merubah dirinya ke arah yang lebih baik. Termasuk kamu. Aku memberikan mu kesempatan karena aku yakin kamu bisa berubah dan memperbaiki kesalahan mu padaku."


Deg


Raga hanya bisa diam mendengarkan apa yang karin katakan padanya..


"Jika kamu yakin dan percaya tuan baskoro akan berubah, maka berilah dia kesempatan sekali lagi. Tapi jika tidak, maka semua keputusan ada di tangan mu. Apapun keputusan yang akan kamu ambil, semoga kamu tidak akan menyesali nya di kemudian hari.."

__ADS_1


__ADS_2