Sebatas Menikahi

Sebatas Menikahi
Part 89


__ADS_3

"Mama..." pekik kenan saat karina menginjakkan kaki nya kembali di rumah mertuanya


Grep!


Kenan langsung berhambur ke pelukan mama nya.


"Ken kangen banget sama mama."


Tidak ada yang tau karina dan raga akan pulang mendadak seperti ini, bahkan ini seperti sebuah kejutan untuk anak mereka yang selalu menanti dengan sabar kepulangan kedua orang tua nya tersebut.


"Mama juga kangen sama kamu, sayang." karin memeluk kenan tak kalah erat. Dia sampai berlinang air mata saking rindu nya pada putra kecil nya itu.


Setelah puas memeluk mama nya, ken pun beralih memeluk raga. "Ko papa dan mama pulang nya gak bilang bilang sih ??" protes kenan "Ken kan mau jemput di bandara.."


Oma dan opa nya pernah menjanjikan pada kenan, jika anak itu sabar menunggu kedua orang tuanya nanti mereka akan bersama sama menyambut kepulangan mama dan papa nya di bandara.


Mendengar itu ken pun tidak lagi menanyakan kapan mama dan papa nya pulang. Dan hari ini malah dia yang mendapat kejutan dari kedua orang tuanya. Karina dan Raga pulang tanpa memberi kabar terlebih dulu.


"Papa ada pekerjaan mendadak, sayang." raga mengusap pucuk kepala putranya.


"Sudah. Ngobrol nya lanjutkan di dalam saja sambil istirahat. Pasti kalian capek kan habis perjalanan jauh.." Opa rudi menyuruh ken, raga dan karin untuk terlebih dulu masuk ke dalam


Ibu pun membantu membawakan paper bag yang tentu nya berisi buah tangan yang sengaja karin beli di Italia.


"Bagaimana kabar ibu dan ayah ??" tanya karin seraya membantu ibu menyiapkan camilan untuk mereka nikmati sambil mengobrol di ruang tengah


"Iya, ibu dan ayah sehat. Kenapa kalian sudah kembali ? Bukannya mas raga mu bilang kalian akan pergi bulan madu selama satu bulan penuh ??"

__ADS_1


"Iya bu. Ada beberapa pekerjaan yang ternyata tidak bisa mas raga tinggalkan. Apalagi ivan dan lira sudah mulai cuti, kan. Jadi tidak ada yang menghandle di perusahaan dan salon." Karin mengalihkan dengan menyebut nama ivan dan sahabatnya. Karin tidak mau mengatakan yang sebenarnya, biarlah suami nya sendiri yang cerita pada kedua orang tuanya karena memang sebenarnya itu masalah intern raga dan keluarga besarnya. Sebagai seorang istri karin hanya bisa mendukung apapun keputusan yang akan raga ambil nanti nya.


"Kamu benar. Pasti ivan dan lira sudah berangkat ke bali untuk bulan madu.."


Karina pun mengangguk, tapi karin tidak tau itu benar apa tidak, sebab setelah pernikahan sahabatnya itu karin maupun lira tidak berkirim pesan lagi sampai sekarang. Mereka sedang berada di fase sibuk dengan kehidupan mereka masing masing.


Setelah itu ibu dan karin pun membawa minuman dan makanan ringan ke ruang tengah. Disana ada opa rudi, mas raga dan juga kenan yang sedang sibuk dengan mainan bongkar pasang yang karin bawakan untuk nya.


"Bagaimana perjalanan kalian ? Apa ada kendala ??" tanya ayah rudi sambil mencicipi kue khas Italia yang karin sajikan


Raga dan karin kompak menggelengkan kepala, karena memang tidak ada hambatan apapun selama dalam penerbangan mereka. Semua berjalan lancar.


💮


🍀Sementara itu di waktu dan tempat yang berbeda..


Ibu melihat lira seraya menyunggingkan senyumnya.. "Tidak apa apa, nama nya juga pengantin baru.." seloroh ibu menggoda menantu nya


Ivan pun memundurkan kursi di sebelah kiri nya untuk lira duduk. Sementara ibu dan adik nya ada di sisi berlawanan dari sang istri.


"Mas Ivan dan mba lira jadi pergi ke bali hari ini ??" tanya nana di sela sela sarapan pagi mereka


Lira menoleh pada ivan, "Mba belum tahu. Masih ada pekerjaan yang belum mba selesaikan." ucap lira menjawab dengan sejujurnya. Lira memang belum mengajukan cuti pada karin dan dia pun belum tahu kalau karin sudah kembali dari bulan madunya. Dan pekerjaan yang di maksud lira adalah dia belum memilih pegawai yang di percaya nya untuk mengurus salon selama dia dan karin tidak ada.


"Loh ko belum cuti ? Memang tidak ada orang lagi selain kamu di salon ?? Lagi pula bukan nya salon itu milik mu ??" Ibu ikut membuka suara, wanita itu sedikit kecewa mendengar menantu nya masih bekerja padahal kemarin mereka baru saja menikah, seharusnya mereka segera berbulan madu. Rasanya sudah cukup ivan dan lira bekerja selama ini, sekarang waktu nya mereka istirahat dan menikmati hari sebagai pasangan suami istri yang baru. Dan perlu di catat alasan kenapa ibu kecewa mendengar lira dan ivan menunda keberangkatan mereka untuk bulan madu, sebab tentu saja ibu ingin segera memiliki cucu.


Lira tersenyum "Bukan bu, salon itu juga milik karin. Mungkin dua atau tiga hari lagi baru kita berangkat ke bali."

__ADS_1


"Benar bu. Tidak perlu buru buru. Lagi pula ivan mengambil cuti selama satu bulan penuh. Jadi kapan pun berangkat itu tidak jadi masalah.."


Ibu mengangguk pasrah lalu kembali melanjutkan makan pagi nya tanpa bicara lagi..


Setelah sarapan pagi selesai, ibu meminta lira untuk ikut ke kamar nya..


"Ini apa bu ??" tanya lira saat ibu memberikan nya sesuatu


Ibu duduk di sisi ranjang di samping menantu nya.. "Bukalah.."


Lira pun segera membuka benda berbentuk kotak berwarna coklat keemasan tersebut. Lira mengerutkan kening nya,


"Itu hadiah pernikahan untuk kamu dan ivan. Ibu menyiapkan nya semua nya saat ivan pertama kali membawa kamu ke rumah ini."


Lira membuka mulutnya tanpa sadar saat membaca sesuatu di salah satu kertas yang kini ada di genggaman nya. "Ibu..." Lira tidak bisaa melanjutkan kalimatnya. Bagaimana tidak, lira sangat terkejut mendapat hadiah sebuah rumah di kawasan yang cukup elit dengan nama lengkap nya yang tertera di sertifikat rumah tersebut. Bukan lira menganggap remeh mertuanya, namun lira jadi bertanya tanya dari mana mertuanya tersebut memiliki uang sebanyak itu untuk membelikan nya sebuah hunian mewah.


Apalagi rumah yang di tempati oleh ibu dan adik nya sekarang bukanlah rumah yang mewah seperti rumah yang di miliki orang tuanya.


Melihat ke khawatiran di wajah lira, ibu pun memberitahu darimana dia bisa membeli rumah mewah tersebut. Ternyata satu bulan yang lalu ketika ibu sedang membersihkan gudang di rumah nya, ibu menemukan dokumen dokumen kepemilikan beberapa kebun sawit atas nama suami nya yang telah lama meninggal. Ibu pun membaca dengan sedetail mungkin isi di dalam dokumen itu. Dan satu hari setelah nya ibu langsung pergi ke tempat pengacara almarhum suami nya untuk mengurus hal tersebut.


Sebenarnya ibu sangat menyesal kenapa baru menemukan dokumen itu sekarang, mungkin jika lebih cepat menemukan benda tersebut dia tidak akan menyusahkan ivan saat sakit dulu. Ivan tidak harus berurusan dengan lintah darat karena meminjam uang untuk biaya berobat nya.


Mau bagaimana lagi, kita tidak bisa mengubah takdir yang sudah terjadi. Mungkin ini memang sudah jalan dari yang Maha Kuasa.


Ibu menggenggam tangan lira "Ibu minta maaf jika ucapan ibu saat di meja makan tadi membuat kamu tersinggung. Bukan maksud ibu bicara seperti itu. Ibu hanya ingin kalian segera berbulan madu dan memberikan ibu cucu.." Akhirnya ibu mengutarakan sesuatu yang sejak tadi mengganjal di hati nya. Dia tidak mau menantu nya itu sampai salah paham karena ucapan nya.


Lira membalas menggenggam tangan mertuanya.. "Tidak apa apa bu, lira mengerti. Doakan semoga kami cepat mendapatkan momongan.."

__ADS_1


__ADS_2