Sebatas Menikahi

Sebatas Menikahi
Part 68


__ADS_3

"Kamu sedang berkirim pesan dengan siapa ?? Sepertinya seru sekali..." Tanya karin seraya menjatuhkan bokong nya di salah satu kursi balkon kamar nya..


"Dengan ivan. Kamu pasti terkejut jika tahu sesuatu ini..." raga memberikan ponsel nya pada karin. Dia meminta istri nya itu untuk membaca sendiri pesan yang di kirim ivan untuk suami nya


Awalnya karin membaca pesan itu biasa saja, tapi ketika dia terus menscroll pesan tersebut raut wajahnya langsung berubah. Terkejut, tidak percaya bahwa ada sesuatu yang terjadi antara ivan dan sahabat nya..


"Mas...!! Ini..." Karin menutup mulutnya dengan satu tangan. Sungguh ini benar benar di luar dugaan nya. Ivan memberi tahu bahwa besok malam dia akan melamar Lira, dan meminta tolong pada raga untuk menemani nya. Ivan juga besok akan datang ke rumah orang tua raga, meminta tuan rudi mahendra untuk menjadi wali, mewakilkan ivan melamar gadis pujaan hati nya.


"Iya sayang. Mereka akan segera menikah..!!"


Karin beranjak dari duduk nya..


"Kamu mau kemana ??" tanya raga ketika sang istri tidak merespon ucapan nya tapi malah melangkah untuk kembali masuk kedalam kamarnya


"Aku mau menghubungi lira, mas. Teganya dia tidak memberitahuku kabar ini. Aku ini kan sahabatnya..!!" Karin merasa sedikit kecewa kenapa lira tidak memberitahu dia kabar sebesar ini. Kenapa dia harus tahu dari mulut orang lain bukan dari mulut lira langsung..


Raga menggeleng, "Ini sudah malam sayang, besok saja ya..."


"Tapi mas...!!"


Raga menarik karin untuk kembali duduk, tapi kali ini pria itu meminta sang istri untuk duduk di pangkuan nya.


"Jangan cemberut seperti ini.." ucap raga sambil mencubit gemas pipi sang istri.. "Tidak mungkin lira tidak memberitahu mu, jadi menurut ku lebih baik kamu menunggu saja, biarkan dia yang menghubungi mu lebih dulu.." Raga melingkarkan lengan nya di pinggang karin sambil terus menatap wajah yang masih di tekuk itu..


"Apa ivan benar benar serius dengan lira, mas ?? Aku takut dia hanya akan mempermainkan lira.."


Ya, ketakutan terbesar karin mengenai sahabatnya ini adalah dia takut lira akan terluka lagi. Selain keluarga lira, karin juga menjadi salah satu saksi hidup betapa lira hancur pada saat itu.


Meskipun karin sudah mengenal ivan, tapi dia belum bisa percaya jika menyangkut masalah sahabatnya, terlebih karin juga tidak tahu kapan dan bagaimana mereka bisa menjalin hubungan.


"Aku tahu ivan. Dia tidak mungkin main main. Sayang, aku akan menjadi garda terdepan jika ivan melakukan hal buruk pada kamu, maksud ku pada lira. Aku tahu kamu pasti ikut sakit jika melihat sahabat mu itu terluka lagi, jadi aku pastikan ivan tidak akan menyakiti lira, sebab dia tidak mungkin berani mengecewakan hati istri ku.."


Karin hanya diam, pikiran nya belum bisa tenang jika belum bicara langsung dengan lira.


"Sudah, jangan pikirkan mereka dulu. Karena sekarang ada hal yang lebih penting dari itu..." Raga mendekatkan wajahnya dengan wajah karin. Manik mata mereka saling bersitatap dari jarak yang begitu dekat..


Cupp..


"Aku menginginkan mu lagi, sayang.." ucap raga setelah mengecup ujung hidung karin


Karin menatap suami nya dengan sayu, dia melingkarkan tangan nya di leher pria itu..


Tiba tiba...

__ADS_1


Tok tok tok..


Belum sempat raga mencicipi lagi bibir ranum sang istri, pintu kamar sudah lebih dulu di ketuk..


"Astaga!! Apa aku harus membawa mu pindah ke planet lain agar kita bisa berduaan sebentar saja ??"


Karin terkekeh mendengar ucapan suami nya, wanita itu pun segera bangun dari pangkuan raga untuk membuka pintu kamar..


Ceklek..


"Ma, ken sudah selesai belajar. Sekarang ken mau tidur sama mama.."


Kenan datang ke kamar mama nya dengan memeluk guling kecil kesayangan nya. Ya, sesuai rencana tadi siang, malam ini dia akan tidur bersama di kamar mama nya.


Anak itu pun langsung masuk ke dalam dan naik ke atas tempat tidur..


"Ma, ayo sini. Ken udah ngantuk!!" ucap nya dengan mata yang sudah meredup. Memang setelah belajar ken pasti langsung mengantuk, sebab mata nya sudah sangat lelah terlalu lama membaca buku..


"Iya sayang, sebentar.." Karin melangkah menuju balkon..


"Mas, ayo kita istirahat.." karin mengulurkan tangan nya,


Raga dengan lemas menerima uluran tangan karin dan masuk bersama ke dalam kamar..


"Papa disini pa.." kenan menepuk sisi tempat tidur nya yang lain..


"Aw..!!" pekik raga ketika mendapatkan cubitan di pinggang nya.. "Kenapa kamu mencubit ku, sayang ??" tanya raga sambil mengusap pinggang nya yang panas..


"Papa, tidur di sebelah ken ya. Ken di tengah, okay pa ??" untuk pertama kali nya karin menyebut raga dengan sebutan papa, dan itu berhasil membuat raga tersipu malu. Dan pria itu pun langsung menurut tanpa berdebat lagi. Raga berjalan ke sisi tempat tidur yang lain untuk berbaring di sebelah kenan, dan karin pun mengambil posisi berlawanan..


"Ma, pa. Ken seneng banget bisa tidur bersama seperti ini.." ujar ken dengan menatap ke arah langit langit kamar..


"Kalau kamu mau, setiap hari kamu boleh tidur bersama mama dan papa.."


Deg!!


Raga mengangkat kepala nya dan langsung memberikan tatapan maut pada sang istri.


Karin sengaja menggoda suaminya, sebab melihat ekspresi raga yang seperti itu membuat karin merasa terhibur. Dia tidak menyangka menggoda suami nya seperti ini sangat menyenangkan.


Raga kembali menggeleng..


"Nggak ma. Ken kan sudah besar masa ken tidurnya bersama papa dan mama terus. Lagian kata oma, ken harus belajar mandiri dan tidak boleh manja, karena sebentar lagi ken bakalan punya adik bayi..."

__ADS_1


Deg!!


Karin mematung,


"Adik bayi ??" beo raga yang belum mengerti


Ken mengangguk.. "Iya pa, kata oma kalau ken mau punya adik bayi, ken harus belajar mandiri. Ma, pa. Ken mau punya adik, adik perempuan yang cantik seperti mama..."


Raga tersenyum, ini kesempatan nya.. "Kalau kamu mau punya adik, berarti sekarang kamu harus kembali ke kamar mu.."


Karin langsung memberikan tatapan tajam pada suami nya..


"Hooamm!! sudah kalian jangan ngobrol terus, mama ngantuk!!" seru karin menyela ucapan sang suami. Wanita itu sedikit kesal, kenapa sih suami nya harus mengusir kenan. Meskipun cara nya halus, tapi karin tetap tidak suka. Sebagai seorang ibu, karin juga merasa rindu pada putra nya tersebut. Masa hanya satu malam saja raga tidak mau berbagi, seharusnya pria itu tahu karin bukan hanya milik nya seorang.


Karin kemudian menarik selimut sampai batas dada putra nya,


Cupp..


"Selamat tidur, sayang mama.." ucap karin setelah mengecup kening putra nya..


"Selamat tidur ma, pa.."


"Kenapa jadi begini..!!" batin raga. Niat hati ingin bermesraan dengan sang istri, tapi nyatanya semesta tetap tidak mengizinkan..


Raga memiringkan tubuh nya membelakangi istri dan anak nya. Bukan marah, hanya mencoba menahan keinginan nya untuk memangsa sang istri.


Jujur saja, saat ini dia memang sedang ingin lagi merasakan manis madu nya bercinta. Tapi ya sudahlah, raga berlapang dada mengalah untuk kenan.


Dia pun memejamkan mata nya perlahan. Mencoba untuk mengalihkan pikiran itu dengan tidur.


Sementara karin, ada sedikit rasa bersalah di hati nya. Memang dia merasa raga keterlaluan karena tidak mau mengalah bahkan dengan putra nya sendiri. Tapi karin juga tidak sepenuh nya menyalahkan, sebab mungkin waktu yang mereka habiskan bersama kemarin memang belum cukup untuk menggantikan 10 tahun waktu yang pernah terbuang sia sia.


"Mas..." karin memanggil raga dengan suara pelan, tidak mau sampai kenan terganggu dan bangun dari tidurnya..


Hening!


Tidak ada jawaban dari suami nya..


"Mas..." karin mencoba memanggil lagi, berharap raga belum tidur.


Lagi lagi tidak ada jawaban dari raga..


Huh!!

__ADS_1


Karin menghembuskan nafasnya kasar..


"Maaf mas..."


__ADS_2