Sebatas Menikahi

Sebatas Menikahi
Part 69


__ADS_3

Drrttzz..


Ponsel karin bergetar, ada satu pesan masuk. Karin yang memang belum bisa tidur pun langsung mengambil ponsel nya yang berada di atas nakas di samping tempat tidurnya..


"Rin, apa kamu sudah tidur ??"


Satu pesan singkat yang di kirim lira pada karina..


Tanpa memberikan balasan pesan tersebut, detik itu juga karin langsung beranjak bangun dan berjalan menuju balkon seraya menghubungi nomor ponsel sahabatnya itu..


"Halo.." di sebrang sana lira langsung mengangkat sambungan telepon dari karina


"Ra..."


"Rin, aku mau memberitahu kamu sesuatu. Tapi kamu jangan kaget ya.."


Karin menyunggingkan senyum nya.. "Sesuatu apa ?? Kabar baik atau kabar buruk ??" tanya karin pura pura tidak tahu maksud pembicaraan lira


"emm.. Kabar baik. Rin, ivan melamar ku.." lira langsung to the point


"HAH ?? Ivan ?? Maksud mu, Ivan asisten pribadi nya mas raga ??"


"Benar rin.."


"Astaga!! Ko bisa ra ?? Memang nya kamu ada hubungan dengan ivan sebelum nya ??" tanya karin lagi, dia penasaran ingin mendengar langsung pengakuan dari sahabatnya itu


"Tidak ada rin, aku dan ivan tidak memiliki hubungan apapun. Entahlah, aku bingung harus bercerita dari mana. Yang jelas besok malam ivan dan ibu nya akan datang kerumah untuk melamar ku. Dan dia minta pernikahan kami di adakan minggu ini juga.."


"Astaga!! Aku benar benar terkejut, ra. Aku tidak menyangka kalian berjodoh dengan jalan yang sesingkat ini. Padahal kamu dan ivan sudah saling bertemu sejak 10 tahun yang lalu kan, ra ??"


"Benar rin, aku juga tidak menyangka. Tapi yang pasti aku bisa melihat ketulusan di mata nya.."


"Aku akan mendukung apapun keputusan mu, ra. Kalau begitu besok sore aku akan datang lebih dulu kerumah kamu ya. Kita bicara di sana saja.."


"Tapi besok opening salon kita, rin. Aku tidak tahu bisa balik cepat atau tidak.."


"Tenang ra, besok aku akan meminta salah satu staf kita yang kompeten untuk mengurus sisa nya. Kamu pulang saja jika sudah selesai..!!"


Setelah itu sambungan tersebut pun berakhir. Besok karin akan datang kerumah lira lebih awal. Sementara suami nya akan berangkat sama sama dengan calon mempelai pria pada malam hari.


Karin urung masuk kembali ke dalam kamar nya, wanita itu lebih memilih duduk kembali di balkon kamar nya sambil bermain ponsel.


Tanpa terasa sudah hampir 1 jam karin berada disana..


"Seperti nya seru sekali di sini sampai kamu tidak kembali masuk ke kamar..!!"


Karin menoleh ke belakang, suara itu berasal dari suami nya.


"Mas...." karin meletakkan ponsel nya di atas meja di samping nya. Dia menatap raga dengan tatapan sedih.


"Maafkan aku.." gumam karin pelan sambil menunduk,


"Kenapa minta maaf ??" tanya raga yang pandangan nya fokus melihat ke depan. Jujur saja, dia memang sedikit kecewa malam ini. Tapi apa boleh buat, dia juga tidak bisa berbuat apa pun.


Karin tidak menjawab, dia terus menunduk sedih sambil ******* ***** ujung gaun tidurnya..


Raga tidak bertanya lagi, mood nya sedang tidak baik malam ini. Mereka berdua saling diam tanpa bicara hingga beberapa menit berlalu...


"Masuklah. Di sini dingin.." ucap raga tanpa menoleh,

__ADS_1


Kesedihan karun bertambah ketika tahu suami nya enggan melihat ke arah nya..


"Iya mas.." jawab karin pasrah..


Wanita itu pun masuk kembali ke dalam kamar dan meninggalkan raga yang masih sibuk dengan pikiran egois nya.


Karin meletakkan kembali ponsel nya di atas nakas, dia lalu naik ke tempat tidur di samping kenan. Tanpa terasa air mata menetes di sudut mata nya. Beberapa kali karin menyeka buliran itu yang terasa semakin menyesakkan di setiap tetesan nya.


Cupp


Karin mengecup kening kenan dengan lembut, setelah itu karin segera menutup kedua mata nya mencoba untuk tidur.


Cukup lama raga di luar sana. Sampai akhirnya dia masuk kembali ke dalam kamar. Sebelum ikut bergabung bersama anak dan istri nya, raga memilih menghampiri karin terlebih dulu..


Deg!!


Bantal karin basah tepat di bawah mata nya.


"Astaga!! Apa yang sudah aku lakukan ?? Kenapa aku membuatnya menangis lagi!!" Raga langsung merasa bersalah. Tidak seharusnya dia seegois ini.


Raga berjongkok tepat di samping karin tidur. Pria itu memegang tangan karin pelan..


Cupp..


Raga mengecup punggung tangan istri nya, "Maaf sayang.." gumam nya pelan


Setelah itu, raga pun ikut naik ke tempat tidurnya untuk bergabung bersama istri dan anak nya..


🍀Keesokan pagi nya..


Sebelum raga bangun, karin sudah bangun lebih dulu. Tentu nya dia sudah mandi dan berpakaian.


Karin mengangguk pelan..


Ya, karin dan putra nya sama sama sudah rapi dan siap untuk berangkat ke tujuan masing masing. Kenan ke sekolah nya, sementara karin ke salon nya..


Mungkin karena raga yang tidur terlalu larut jadi membuatnya bangun kesiangan hari ini. Karin tidak berniat membangunkan suami nya, karin tahu raga baru masuk kembali ke dalam kamar pukul 4 dini hari.


"Sudah selesai sarapan nya ??" tanya karin tanpa mau membahas raga..


"Sudah ma.." jawab kenan


"Kalau begitu ayo kita berangkat sekarang..."


Karin pun mengantar kenan ke sekolah nya. Seperti biasa, karin mengendarai mobil nya sendiri. Semenjak memiliki surat izin resmi, karin enggan memakai supir untuk sekedar mengantarkan nya ke salon. Karin lebih suka menghabiskan waktu nya di jalan sendirian.


*2Sis Beauty Salon..


Tok tok tok...


Ceklek..


"Maaf bu, apa ibu memanggil saya ??" tanya karyawan karin ketika sudah masuk ke dalam ruangan..


Karin mengangguk.. "Sin, hari ini kamu berangkat ke kota B, ya ? Kamu handle salon baru kita hari ini.." ucap karin seraya menutup dokumen yang tadi sedang diperiksa nya..


Jelas terlihat keterkejutan di wajah sinta.


"Kamu bisa kan ??" karin langsung to the point menanyakan kesanggupan karyawan nya tersebut..

__ADS_1


"Maaf bu, kalau boleh tahu kenapa saya harus kesana, ya ?? Bukan nya disana sudah ada bu lira ??"


"Bu lira sedang ada urusan mendadak. Bagaimana sin ? Waktu nya sudah sangat mepet, kamu bersedia atau tidak jika berangkat ke kota B sekarang juga ??" tanya karina lagi, sebagai seorang pemimpin dia memang di tuntut untuk tegas dan tidak bertele tele.


Sinta berpikir sejenak,


"Kamu tenang saja sin. Jika kamu bersedia, saya akan memberikan bonus untuk kamu.."


Mendengar kata bonus, jiwa materialistis sinta langsung meronta. Statusnya yang masih seorang mahasiswa memang sedang butuh suntikan dana, apalagi untuk mengerjakan tugas akhirnya membutuhkan biaya yang tidak sedikit.


"Baiklah, bu. Saya bersedia..."


Karin tersenyum senang.. "Kalau begitu langsung saja bersiap. Kamu akan di antar jemput oleh supir pribadi saya. Hati hati di perjalanan sin, saya akan mengirim bonus nya sekarang.."


Setelah itu sinta pun langsung undur diri dari ruangan karin..


*Sementara itu di tempat yang berbeda..


Cahaya matahari pagi menilisik dari celah tirai jendela. Membentuk garis di lantai keramik yang super mewah. Memaksa seseorang untuk segera bangun dari tidurnya..


Eughhh..


Lenguhan berat nya mulai terdengar..


Deg!!


Melihat cahaya matahari, raga langsung yakin diri nya pasti kesiangan. Pria itu pun meraba sisi bantal nya yang lain, mencari benda pipih milik nya yang semalam dia selipkan di bawah bantal..


"Astaga!!" Raga terkejut saat melihat jam di layar ponsel nya yang menunjukkan sudah pukul sembilan lebih tiga puluh menit..


Dia pun segera bangun dan beranjak menuju kamar mandi..


Beberapa menit kemudian...


Raga pun langsung memakai pakaian nya, dia tahu pasti karin dan putra nya sudah berangkat.


Sebelum keluar kamar, raga mencoba menghubungi ponsel sang istri...


Tapi sayang karin tidak mengangkat panggilan itu, raga semakin panik. Dia yakin istrinya pasti marah karena kejadian semalam. Tidak mau berlarut larut, raga pun langsung tancap gas menuju ke salon yang dia yakini pasti istri nya berada disana..


💮


🍀Rumah Besar keluarga Mahendra..


Ivan tadi meminta izin pada lira untuk pergi kerumah Tuan Rudi Mahendra. Sedikit banyak lira sudah tahu ivan tidak memiliki seorang ayah. Dia anak yatim dan menjadi tulang punggung bagi keluarga nya.


"Astaga van. Kamu ini bagaimana ? Kenapa mendadak seperti ini ??" Tuan rudi mahendra sangat terkejut dengan kabar yang ivan katakan tadi.


"Maaf, tuan. Tapi semua ini baru saya putuskan kemarin. Saya tidak ingin berlama lama, saya juga tidak ingin pacaran seperti kebanyakan pasangan di luar sana. Semoga tuan bisa memahami maksud saya.."


"Baiklah. Kalau itu keputusan mu, aku mendukung nya selagi itu baik.."


"Acara nya jam berapa, van ??" tanya ibu menyela,


"Jam 8 malam, nyonya.."


"Van, kamu tidak perlu menyiapkan apapun. Aku akan menyiapkan segala sesuatu nya untuk mu. Anggap saja ini hadiah kecil atas kabar baik yang kamu berikan kepada kami.."


"Ya, benar. Selama ini kamu sudah banyak membantu raga. Jadi sekarang giliran kami yang akan membalas semua kebaikan kamu terhadap raga dan Mahendra.corp.." sambung ayah menimpali

__ADS_1


__ADS_2