Sebatas Menikahi

Sebatas Menikahi
Part 26


__ADS_3

Semalam karin tidur di kamar ibu, sementara ayah memilih untuk tidur di ruang tamu. Dan raga yang gelisah tanpa ada karin malah tidak bisa memejamkan kedua matanya semalaman.


๐Ÿ€Pagi ini di meja makan..


Seperti hari hari sebelumnya, raga selalu mual mencium bau masakan. Awalnya ayah, ibu dan karin mengira raga hanya masuk angin biasa, tapi setelah kemarin mereka tahu bahwa karina sedang mengandung, akhirnya ibu menyimpulkan bahwa raga sedang menggantikan posisi istrinya yang sedang hamil muda.


"Kamu itu kenapa sih, setiap di depan makanan mual terus ??" tanya ibu dengan mengedipkan kedua matanya pada sang suami


"Hah ?? emm, nggak bu. Raga baik baik aja.." jawab raga


"Apa ibu juga belum tahu kalau karin sedang hamil ?? Ya, pasti ibu dan ayah belum tahu.."


"Sebaiknya kamu ke dokter. Lihat! Badan mu semakin kurus saja." sambung ibu lagi dengan menahan tawa nya


"Tidak bu. Raga tidak apa apa. Sudahlah, jangan bahas raga. Lebih baik kita bahas percakapan semalam.."


Ibu dan ayah tiba tiba membisu, bahkan mereka seolah tidak mendengar ucapan putra mereka itu dan kembali fokus ke piring masing masing yang ada di hadapan mereka.


"Pokoknya sore ini kita harus pindah dari sini." Merasa di acuhkan, raga tiba tiba bangun dari duduknya dan langsung menatap ke arah karin,


"Aku akan menjemput mu jam 2 siang. Ibu dan Ayah jika ingin mengantar sekaligus menginap di rumah baru kami sebaiknya mempersiapkan keperluan masing masing. Aku tidak akan mengulangi ucapan ku ini. Jadi kalian tidak boleh terlambat. Ingat, jam 2 siang!!"


Setelah mengatakan hal itu raga pun pergi begitu saja.


Sementara ayah ibu dan karin menghentikan sarapan mereka dan saling berpandangan satu sama lain.


"Bagaimana ini ayah ??" tanya ibu khawatir, sungguh wanita tua itu tidak mau jika sampai karin pergi meninggalkan nya


"Ayah, ibu..." tiba tiba karin membuka suara nya


"Izinkan karin pergi. Mas Raga suami karin, kemana pun dia pergi karin harus selalu ada di samping nya.." ucap karin dengan lembut memberi pengertian pada kedua mertua nya


Ayah dan ibu terdiam,


"Maaf bu, Karin juga sebenarnya tidak ingin berpisah dengan ibu dan ayah. Tapi mau bagaimana pun juga karin harus nurut sama suami karin. Karin ingin menjadi istri yang berbakti seperti ibu.." sambung karin lagi seraya menggenggam tangan mertuanya..


Ayah dan ibu tidak bisa berkata kata. Sungguh ini benar benar sangat sulit bagi mereka.


Beberapa menit berlalu dengan diam nya ketiga orang tersebut.


"Kalau memang itu sudah menjadi keputusan mu, ya sudah. Ibu dan ayah terima. Tapi selama satu minggu ini izinkan ibu dan ayah menginap di rumah kalian.." akhirnya ibu bicara lagi setelah tadi terdiam cukup lama..


Karin langsung mengangguk cepat, "Tentu saja bu. Berapa lama pun yang ibu dan ayah inginkan, karin dan mas raga pasti mengizinkan nya dengan senang hati.."


Ibu dan karin saling memeluk meluapkan rasa kasih sayang satu sama lain..


๐Ÿ’ฎ


๐Ÿ€Di kantor..


"Tuan, ada surat dari tuan baskoro. Asisten pribadi nya yang menitipkan surat ini pada resepsionis kita.." ucap ivan seraya meletakkan amplop putih di atas meja kerja tuan nya..


"Kalau begitu saya permisi.." sambung ivan lagi ketika raga mulai membuka amplop tersebut,


๐Ÿ’ฎ


Apa kau puas telah menjebloskan aku, paman mu sendiri ke dalam penjara ???


Aku menyesal kenapa tidak ku rampas saja perusahaan induk yang memang seharusnya menjadi milikku.

__ADS_1


Ingat Raga. Aku akan membalas semua perbuatan mu ini padaku. Meskipun aku harus membusuk selama nya di dalam penjara.


Dan satu lagi. Masih ada putra ku, dia akan merebut Mahendra Company dari tangan mu!!!


๐Ÿ’ฎ


Begitulah kira kira isi surat yang di tulis tangan oleh tuan baskoro sendiri.


Pertanyaan nya, Apa raga takut dengan ancaman paman nya itu ? Jawaban nya tentu saja tidak sama sekali.


Apalagi putra dari paman nya tersebut masih melanjutkan pendidikan nya di luar negeri. Mungkin satu atau dua tahun lagi dia baru kembali lagi ke tanah air. Tapi meskipun begitu, itu sama sekali tidak membuat raga gentar.


Siapapun akan di hadapi nya karena raga yakin keputusan yang telah dia ambil adalah keputusan yang benar.


Raga lalu melipat kertas itu dan memasukkan nya kembali kedalam amplop tadi. Setelah itu dia masukkan ke dalam laci meja kerja nya. Anggap saja sebagai kenang kenangan kata kata mutiara dari paman tercinta nya, begitu pikir raga.


๐Ÿ’ฎ


๐Ÿ€Jam 2 siang..


Seperti ucapan nya tadi pagi, dengan langkah pasti raga langsung memasuki rumah utama.


"Apa kamu sudah siap ??" tanya raga ketika melihat istri nya keluar dari kamar.


Karin mengangguk tanpa bicara.


"Ya sudah, tunggu aku di mobil. Aku akan menemui ayah dan ibu dulu.." sambung nya lagi


Karin pun patuh dan langsung berjalan keluar menuju mobil suami nya dengan menyeret koper milik nya..


Tok! Tok! Tok!


Raga mengetuk pintu kamar kedua orang tua nya..


Pintu pun terbuka,


"Ibu dan ayah mau ikut atau tidak ?? Raga dan karin mau berangkat sekarang.." katanya to the point


"Iya ibu dan ayah ikut. Sebentar lagi kami selesai, kamu tunggu saja di mobil.." ucap ibu nya yang masih sibuk berdandan..


"Baiklah. Tapi jangan terlalu lama, karena raga masih ada pekerjaan yang lain.."


"Iya iya.."


๐Ÿ€Di perjalanan..


Meskipun mereka berempat punya tujuan yang sama, tapi ayah dan ibu memilih untuk naik mobil yang terpisah dengan anak menantu nya.


Mobil ayah dan ibu tepat berada di belakang mobil raga.


"Bu, kamu perhatikan tidak ? Sepertinya raga dan karin tidak seperti pasangan suami istri yang lain ya ??" ucap ayah mengajak bicara sang istri yang duduk tepat di samping nya di kursi penumpang belakang


"Apa maksud ayah ??"


"Sejak menikah, mereka berdua tidak pernah terlibat dalam percakapan panjang. Di meja makan pun seperti itu, mereka saling diam tanpa bicara. Ini sudah lebih dari 2 bulan loh bu.."


"Mungkin mereka masih canggung, yah. Apalagi mereka kan tidak ada proses pacar pacaran seperti kita dulu. Ayah jangan berpikir yang tidak tidak. Lagi pula tidak mungkin kan karin bisa hamil kalau ada masalah yang terjadi di antara mereka ??"


Ayah mengangguk mengiyakan ucapan sang istri. Tapi tetap di hati ayah masih ada yang mengganjal soal hubungan karin dan raga.

__ADS_1


๐Ÿ€Di sisi lain..


Berbeda dengan mobil di belakang yang hangat dengan saling mengobrol, di mobil yang di naiki karin dan raga malah sebalik nya.


Hanya ada keheningan di sana.


Karin yang sibuk dengan ponselnya dan raga yang juga sibuk bekerja lewat ipad nya.


Beep


Beep


Ponsel karin tiba tiba berdering..


๐Ÿ“žHalo


๐Ÿ“žDimana ? Hah Cafe Blue Sky apartemen..


๐Ÿ“žAduh. Seperti nya kita tidak bisa bertemu disana lagi


๐Ÿ“žOh. Ya sudah. Nanti aku kabarin ya dimana kita bisa ketemu.


๐Ÿ“žOkay. Bye..


Raga mengerutkan keningnya mendengar ucapan karin di sambungan telepon nya itu. Apalagi karin menyebutkan cafe apartemen nya. Semakin membuat raga penasaran, kira kira dengan siapa istri nya itu bicara.


Tapi karena ego nya yang terlalu besar. Raga memilih untuk tidak menanyakan hal itu. Bahkan dia pura pura tidak mendengar obrolan tersebut.


Karin lalu menyandarkan kepalanya di sisi jendela mobil.


"Coba aku tadi naik mobil bersama ayah dan ibu. Pasti tidak akan membosankan seperti ini .."


๐Ÿ’ฎ


๐Ÿ€Rumah baru..


Setelah perjalanan yang memakan waktu kurang lebih 45 menit, akhirnya kedua mobil mewah itu tiba di sebuah rumah besar bergaya klasik dengan pagar tinggi yang menjulang.


"Wah. Besar sekali rumah kalian.." ucap ibu ketika sudah turun dari mobil.


"Benar. Ini hampir sebesar rumah utama.." sambung ayah menimpali ucapan sang istri


Raga membusungkan dada nya, dia berbangga diri mendapat pujian dari kedua orang tua nya. Semua ini raga lakukan untuk membuktikan pada karin bahwa dia sangat mampu untuk membelikan rumah yang bahkan jauh segalanya dari rumah kontrakan yang pernah di singgung istrinya beberapa waktu lalu.


Sementara itu tanpa raga sadari karin malah terlihat tidak bersemangat.


"Kenapa rumah ini tidak ada bedanya dengan rumah utama ?? Kalau sebesar ini dengan hanya ada aku dan mas raga, apa tidak menyeramkan tinggal disini ?? Aaa.. ko jadi merinding begini.."


*Please karin. Kamu tuh jangan mikir aneh aneh deh. Ini bukan novel horor ya ๐Ÿ˜‘..


Raga lalu membawa masuk kedua orang tuanya, tak terkecuali sang istri ke dalam rumah baru mereka. Dia membawa ketiga orang itu untuk berkeliling rumah besar tersebut.


"Apa kamu sudah memiliki ART ??" tanya ibu


Raga menggeleng, "belum bu. mungkin nanti raga akan menghubungi agen yang memberikan jasa penyedia ART.." jawab nya


"Jangan. Kita kan tidak tahu asal usul nya. Lebih baik bawa saja Bi Yanti untuk tinggal di sini bersama kalian. Nanti ibu akan carikan lagi ART yang lain untuk membantu pekerjaan bi yanti di rumah ini. Bagaimana karin, apa kamu setuju ??" tanya ibu tiba tiba pada karin yang masih melamun entah sedang memikirkan apa..


"Hah. oh, i-iya i-iya bu. Karin setuju saja.." jawab nya terbata, meskipun mendengar percakapan mertua dan suami nya tapi karin masih memikirkan hal yang lain..

__ADS_1


"Kamu itu kenapa sih dari tadi ibu lihat seperti ada sesuatu yang sedang kamu pikirkan ??" tanya ibu


"Tentu saja ada. Karin itu sedang memikirkan kekasih nya bu. Dia bingung harus bertemu lelaki itu dimana.."


__ADS_2