Sebatas Menikahi

Sebatas Menikahi
Part 37


__ADS_3

๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€Cerita pembuka di part 37 ini adalah cerita 10 tahun kemudian dari part 9, cuma buat ngingetin cerita sebelum flashback, biar baca nya gak bingung dan cerita nya tetep nyambung.. ๐Ÿ‘Œ๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€


๐Ÿ’ฎ


๐Ÿ€Di rumah..


"Bi, ken mana ?" tanya karin saat sudah sampai di rumah .


"Den ken sudah tidur nyonya.."


Karin mengangguk seraya berjalan menuju kamar nya..


"Nyonya, tadi tuan nyariin nyonya.." kata si bibi memberitahu


Karin menghentikan langkahnya saat dia sudah berada tepat di depan pintu kamar.


"tuan juga nunggu nyonya sampai 2 jam di ruang tamu.." sambung bibi


"Oh. Yasudah bi, saya masuk dulu.." kata karin tanpa menoleh..


karin langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. Karin membuka ponselnya dan bulak balik mengetikkan pesan lewat aplikasi Whatsapp nya.


"Mas, apa tadi kamu menunggu aku pulang ??"


satu kalimat tanya yang karin ketik dan sedetik kemudian dia kembali menghapusnya..


"Mas, ada apa, tadi kata bibi kamu menunggu ku sampai 2 jam ?"


Lagi, karin menghapusnya kembali..


"Mas..."


3 pesan yang karin ketik, 3 pesan itu juga yang langsung di hapusnya lagi..

__ADS_1


Karin memilih untuk langsung membersihkan diri nya karena tubuh nya pun sudah terasa lelah dan lengket karena berkeringat.


Di bawah percikan air shower karin membasuh seluruh bagian tubuh nya tanpa terkecuali.


Di lihatnya sendiri dari atas sampai bawah, karin merasa minder dengan tubuh nya sendiri.


Kadang karin sering membandingkan bentuk tubuh nya dengan bentuk tubuh wanita di luar sana termasuk lira. Karin pernah bertanya pada lira bagaimana caranya agar payudara nya bisa besar seperti yang di miliki sahabatnya itu. Dan dengan konyol nya lira mengatakan jika karin ingin memperbesar payudara nya secara alami maka karin harus memiliki bayi besar yang siap menyusu dan m e r e m a s gundukan nya itu setiap malam. Maka secara alami kedua bongkahan nya yang menurut nya kecil itu akan membesar dengan sendiri nya.


Sungguh bukan hanya sebatas hubungan *** saja yang karin inginkan, tapi lebih dari itu karin ingin merasakan rasanya tidur di kasur yang sama dengan pria yang mencintai nya. Karin ingin merasakan hangatnya dekapan di kala musim berubah menjadi dingin. Karin ingin merasakan bagaimana rasanya berada di bawah selimut yang sama saling berbagi peluh dan saling menjerit setiap malam.


Di usia nya yang sudah kepala 3 itu, karin sudah memutuskan untuk tidak memberikan cinta nya pada pria mana pun lagi. Meskipun nanti jika dia berpisah dengan raga, karin memilih untuk di cintai saja dari pada mencintai . Karena karin sudah lelah mencintai tanpa di cintai. Dia menyerah dengan cinta nya. Menyerah meskipun belum pernah memperjuangkan nya.


Setelah selesai mandi dan memakai baju tidur nya, karin pun keluar dari kamar pribadi nya dan segera ke lantai 2 untuk bertemu dengan putra semata wayang nya, kenan.


๐Ÿ€Di kamar kenan..


Ketika masuk kamar putra nya tersebut yang karin lihat pertama kali adalah kenan yang tertidur dengan posisi duduk di meja belajarnya..


"Sayang.." karin membangunkan kenan perlahan..


"Bangun dulu yuk.." kata karin lagi mencoba membantu putra nya itu untuk berdiri ketika kenan sudah mulai membuka mata nya perlahan..


"Mama.." ucap kenan dengan suara serak khas bangun tidur..


"Iya sayang. Kamu kenapa tidur di sini, hem ??" tanya karin sambil mengusap kepala putra nya,


"Ken nunggu mama pulang.." jawab kenan lagi yang kini sudah berbaring di tempat tidurnya,


Karin tersenyum, "Maafin mama ya karena pulang terlambat hari ini.."


"Ma, ken mau tidur sama mama.."


Karin mengangguk pelan, dia pun segera naik ke atas tempat tidur putra nya setelah kenan menggeser tubuh nya sedikit ke sisi kasur yang lain..

__ADS_1


Kini posisi karin berbaring dengan tangan kenan yang melingkar di lengan mama nya..


"Ma.."


"hem.." jawab karin singkat,


Hening..


Kenan berhenti sejenak, beberapa detik dia diam, Seolah sedang menyusun kalimat untuk di ucapakan pada sang mama..


"Kenapa sayang ? Ada apa ?" tanya karin jadi penasaran..


"Ma, apa mama mencintai papa ??"


Deg!!


Lidah karin seketika membeku, jantung nya bahkan berdetak lebih kencang dari sebelum nya..


Mencoba untuk tetap tenang, karin kemudian memiringkan posisi tubuhnya agar bisa menatap wajah sang putra..


"Kenapa kamu bertanya seperti itu ??" tanya karin


"Tadi ken juga tanya begini ke papa.."


Karin mengerutkan kening nya, "Lalu papa jawab apa ??"


"Mama jawab dulu pertanyaan ken. Baru nanti ken jawab pertanyaan mama.."


Karin menarik nafas nya dalam dalam sambil terus menatap wajah putra kecil nya itu..


"Bagi mama, Cinta atau tidak nya mama sama papa kamu itu bukan lagi hal yang penting. Saat ini prioritas utama mama hanya kamu. Mama tidak menginginkan apapun lagi.." kata karin mencoba memuaskan hati kenan dengan jawaban nya itu..


"Ma, mulai sekarang jangan pikirin ken terus. Pikirin hidup mama. Ken tahu mama nggak bahagia sama papa. Ken nggak apa apa ma kalau mama dan papa bercerai. Ken sudah besar sekarang. Saat ini yang Ken mau hanya melihat mama tersenyum tanpa beban.."

__ADS_1


__ADS_2