Sebatas Menikahi

Sebatas Menikahi
Part 66


__ADS_3

Puk puk puk..


Raga menepuk sisi tempat tidur, meminta sang istri untuk duduk di samping nya. Karin pun langsung duduk tanpa bertanya.


"Sayang, aku akan membuang isi di dalam lemari pendingin itu. Maafkan aku membuat kamu selalu tersiksa selama ini.." Raga memeluk istri nya dari samping. Pria itu bukan marah pada karin, justru dia marah pada diri nya sendiri. Sebab sudah membuat karin sampai harus meminum minuman itu setiap hari untuk melampiaskan luka dan amarah yang dia buat.


Air mata karin kembali menggenang. Karin membalas pelukan pria itu.. "Aku kira kamu marah sama aku.. hiks..hiks.." Jujur, tadi karin benar benar takut suami nya itu akan marah. Dia sampai gugup dan gemetar melihat wajah raga yang sudah memerah...


Raga melepaskan pelukan nya, lalu tangan nya terulur untuk menghapus air mata sang istri.. "Aku bukan marah pada mu, aku marah pada diri ku sendiri yang tidak bisa menjaga istri ku selama ini.."


Cupp..


Raga mengecup kening karin beberapa detik..


"Aku sangat mencintai mu, jadi jangan coba coba untuk menyakiti diri sendiri lagi sebab sekarang kamu milikku seutuh nya, dan aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi lagi.."


Cupp..


Kini raga mencium bibir istri nya. Seperti biasa, sebelum mereka sama sama kehabisan oksigen raga tidak akan melepaskan tautan bibirnya dari bibir sang istri.


Tiba tiba...


Tok tok tok


Mendengar ketukan pintu, karin reflek melepaskan bibir dan menjauhkan wajahnya..


"Sebentar, mas.." kata karin pada suami nya yang tidak mau berhenti mencium nya, merasa karin melepaskan bibirnya kini raga beralih menciumi tengkuk dan daun telinga sang istri..


Tok tok tok


"eumphh.. M-mas.." suara karin yang tertahan, dia sudah sangat kewalahan dengan raga yang selalu menginginkan diri nya lagi dan lagi. Sebenarnya karin pun suka dan tentu nya sama sekali tidak keberatan, hanya saja suami nya itu sulit untuk di hentikan jika dalam situasi seperti ini. Ya, meskipun pintu kamar sudah di ketuk sampai 2 kali, raga tidak membiarkan karin pergi barang sebentar untuk membuka pintu tersebut..


"Mama.. Ini ken, ma.. Buka pintu nya.."


Deg!!


Mendengar suara dari luar, raga reflek berhenti. Karin tersenyum lalu mencubit pipi suami nya yang masih terkejut, "Sabar ya suami ku.." goda karin lalu berjalan menuju pintu kamar nya..


Ceklek..


grep!!


"Ma, ken kangen banget sama mama.. Mama jangan pergi lagi.." Kenan langsung memeluk mama nya dengan erat sesaat setelah pintu itu terbuka, kini karin tahu kenapa kenan bisa sakit. Pasti dia sangat merindukan diri nya.


Karin mengusap punggung belakang putra nya dengan lembut, "Mama juga kangen sama kamu, sayang.."


Ekhem..


"Kamu nggak kangen nih sama papa ??"


Kenan langsung melepaskan pelukan nya saat mendengar suara yang tidak asing itu..


"Papa ??" beo kenan "Ko papa ada di kamar mama ??" tanya kenan heran. Sebab tak sekalipun kenan pernah melihat papa nya ada di kamar karin..


Raga menghampiri anak dan istri nya.. "Sekarang kamar ini juga jadi kamar papa.." ucap nya seraya memposisikan diri sejajar dengan sang putra


Wajah kenan masih terlihat bingung,


"Lihat.." Raga menunjuk tiap sudut kamar tersebut yang sedikit banyak posisi nya sudah berubah..


"Papa pindah ke kamar mama ?? Kalau begitu ken juga mau pindah ke kamar mama. Ya, boleh ya ma, ken juga pengen tidur sama mama.." rengek kenan tidak mau kalah dengan papa nya..


Deg!!

__ADS_1


"Astaga! Bisa gawat kalau ken malam ini minta tidur bersama, aku tidak akan bisa....."


"Sayang, kamu kan sudah besar. Masa tidurnya sama mama, kamu tidur di kamar kamu saja ya. Lagi pula kasurnya tidak muat kalau tidur bertiga.." seru raga yang langsung menolak permintaan putra nya. Karin kembali menyunggingkan senyum nya, dia tahu apa maksud dari ucapan suami nya itu.


"Tentu saja boleh.." ucap Karin membuat raga langsung menoleh ke arah nya dengan tatapan seolah mengatakan Jangan seraya menggeleng pelan.


"Asikkk..!! Makasih ma.." ken bersorak gembira seraya memeluk mama nya lagi..


"Sama sama sayang.." karin menahan tawa nya melihat wajah suami nya yang cemberut..


💮


🍀 Malam hari di tempat yang berbeda..


Ibu meminta lira untuk menginap di rumah nya malam ini. Sebab hujan yang terus turun membuat ibu khawatir jika membiarkan garis itu melanjutkan perjalanan nya ke kota B.


Setelah selesai makan malam bersama, lira memilih untuk duduk di kursi di depan rumah ivan. Pikiran nya berkelana, hari ini terasa semua nya berjalan begitu cepat. Ivan dan ibu nya besok akan datang kerumah nya untuk bertemu dengan orang tua lira.


Ivan bukan tipe pria yang suka mengulur waktu. Dia tidak mau lira sampai dekat dengan pria lain selain diri nya.


"Hei.." Ivan datang dari dalam rumah lalu duduk di kursi yang lain di samping lira..


Lira tersenyum kecil..


Cukup lama mereka diam dan sibuk dengan pikiran mereka masing masing..


"Van.." lira mulai membuka suara


"hem.."


"Tidak jadi..!!" ucap lira lagi mengurungkan niatnya untuk bicara..


"Kenapa sayang ?? katakan saja.."


Deg!!


ekhem..


Gadis itu memalingkan wajahnya sambil berdehem.. "Apa kamu sudah benar benar yakin untuk menikah dengan ku ?? Pikirkan lagi, aku tidak mau kamu menyesal. Kamu pria baik van, kamu pantas mendapatkan wanita yang baik baik juga.." lira menunduk, dia sedih harus mengatakan ini. Tapi lira ingin ivan berpikir lagi, dia tidak mau sampai pria itu menyesal nanti nya. Lira merasa rendah diri, hampir satu hari bersama dengan keluarga pria itu lira merasa diri nya sangat jauh dari kata perempuan baik baik. Meskipun dia masih perawan di usia nya yang sudah matang ini, tapi lira sudah sering berganti ganti pasangan. Dan sudah banyak pria yang mencicipi tubuh bagian atasnya.


Ivan bangun dari duduk nya, lalu berlutut di depan lira. Pria itu lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celana nya..


Cupp


Ivan mengecup punggung tangan lira yang mulus setelah menyematkan sebuah cincin berlian bermata biru di jari manis gadis itu..


"Ini cincin turun temurun dari keluarga ku. Dulu ayah ku memberikan nya pada ibu, dan sekarang aku memberikan nya pada mu. Aku tidak akan melakukan ini jika memang aku tidak yakin dengan pilihan ku.."


Lira meneteskan air mata nya.


Grep


Gadis itu langsung memeluk ivan dengan posisi ivan yang masih berlutut di depan nya. Ivan pun membalas pelukan lira dan sesekali mengecup gadis itu dari samping..


Setelah cukup lama, ivan melonggarkan pelukan nya. Pria itu membelai pipi lira dengan lembut..


"Aku akan menutup mata dan telinga ku. Aku tidak akan mendengarkan apapun yang orang katakan tentang kamu karena aku hanya akan percaya pada apa yang kamu ucapkan, selebihnya aku tidak perduli.."


💮


🍀Pagi hari nya..


Pagi pagi sekali lira sudah bangun dan mandi. Dia pun memakai pakaian nya sendiri yang dia bawa di dalam mobil.

__ADS_1


"Kamu mau kemana nak ??" tanya ibu yang sedang menyiapkan sarapan pagi melihat lira keluar dari kamar nya dengan terburu buru..


"Bu, aku lupa. Hari ini pembukaan salon ku, seperti nya aku harus pergi sekarang karena acara nya di mulai jam 8 pagi.." ucap lira sambil melihat ke arah jam di tangan nya. Ini masih hari kerja, dan dapat di pastikan gadis itu akan terlambat jika berangkat sedikit lebih siang.


"kalau begitu bangunkan ivan. Di luar masih gelap dan jalanan di daerah sini sangat sepi. Bahaya nak jika kamu berkendara sendirian.."


Sekarang masih pukul 5 pagi, tentu saja di luar masih gelap. Berbeda dengan di daerah lain, di daerah rumah ibu terlalu banyak pohon besar dan rimbun. Meskipun waktu sudah menjelang pagi, tetap saja ibu khawatir.


Lira ragu untuk masuk ke kamar pria itu, tapi mau tidak mau lira harus cepat membangunkan ivan jika ingin mendapatkan izin pergi dari rumah ibu..


Tok tok tok


Lira mengetuk pintu..


"Langsung buka saja.." kata ibu dari arah dapur..


Ceklek..


Lira perlahan masuk ke dalam kamar ivan.


"Aaaa.." Lira berteriak ketika tangannya terasa di tarik seseorang..


"Sssttt!!" Ivan meletakkan tangan nya di depan bibir..


"Astaga!! Kamu mengagetkan ku..!!" ucap lira seraya memukul dada bidang ivan..


Deg!!


Lira langsung memalingkan wajahnya saat menyadari ivan hanya memakai handuk yang dia lilitkan di pinggang nya. Ya, ivan baru saja selesai mandi. Pria itu tahu mengenai salon milik lira dan karin yang akan opening hari ini. Semalam pun dia saling bertukar pesan dengan tuan nya, ivan meminta izin cuti selama 3 hari di mulai dari hari kemarin dan berakhir besok pagi.


"Kenapa ??" tanya ivan sengaja menggoda lira..


"Aku mau keluar!!" Lira mencoba mendorong tubuh pria itu yang mengukung tubuh mungil nya di balik pintu kamar..


Lira gugup, benar benar gugup. Nafasnya bahkan sudah tidak beraturan..


Ivan mendekatkan wajah nya dengan wajah lira. Reflek gadis itu langsung memejamkan kedua mata nya..


Ivan menyunggingkan senyum nya, lalu


"I Love You..." bisik ivan di telinga lira..


Gadis itu pun seketika kembali membuka mata nya..


"Astaga!! Kenapa pikiran ku kotor sekali !!" batin lira. Dia mengira tadi ivan akan mencium nya. Lira langsung mendorong tubuh ivan, dan keluar dari kamar itu dengan nafas yang memburu..


"Aku tunggu di luar.."


Brug!!


Lira menutup pintu kamar ivan dengan kencang. Sementara ivan, dia menahan tawa nya melihat lira yang salah tingkah dengan kedua pipi nya yang sudah memerah bak kepiting rebus.


Beberapa menit kemudian..


"Kalian nggak sarapan dulu ??" tanya ibu ketika ivan dan lira sudah siap untuk berangkat


"Maaf tante. Waktu nya sudah mepet.."


"Kalau begitu, ini.." Ibu memberikan kotak bekal yang isi nya komplit untuk lira dan ivan. Tadi sewaktu lira masuk ke kamar ivan, ibu langsung menyiapkan bekal untuk sarapan mereka di jalan. Ibu tahu lira tidak akan sempat untuk sarapan bersama di rumah nya.


"Terimakasih tante.." Lira pun menerima kotak berisi makanan itu dengan senang.


Setelah berpamitan dengan ibu, ivan dan lira pun segera berangkat menuju kota B.

__ADS_1


__ADS_2