Sebatas Menikahi

Sebatas Menikahi
Part 98


__ADS_3

"Mas, benarkah ini ? Apa benar aku hamil ??" tanya karina pada sang suami yang terus mendekapnya dengan penuh kasih sayang


"Sejujurnya aku juga belum yakin, sayang. Apa kamu mau kita memastikan nya ke dokter obgyn hari ini ??" ucap raga seraya melonggarkan pelukan nya lalu menatap sang istri dengan penuh harap


"Tapi pertemuan dengan dia hari ini, aku tidak mau menunda nya lagi, mas.."


Beberapa waktu lalu sepasang suami istri itu sudah sepakat, mereka akan menyebut nama bianca dengan sebutan "dia", karena baik karin maupun raga, mereka sama sama tidak nyaman menyebut nama gadis itu dengan gamblang.


"Baiklah. Kalau begitu aku akan meminta dokter obgyn untuk datang ke rumah kita. Jadi kita tidak perlu ke rumah sakit. Okay ?"


Karina mengangguk, dan tiba tiba..


Hoek! Hoek!


Lagi dan lagi karin kembali muntah, entah kenapa perutnya sangat mual, sejak bangun tidur tadi perutnya itu tidak berhenti bergejolak.


Raga terus menemani tanpa merasa jijik, setelah di rasa sang istri sudah selesai, raga pun membawa karina dalam gendongan nya menuju tempat tidur.


"Sayang, makan dulu ya. Kamu pucat sekali.."


"Aku tidak mau makan bubur, mas.." karin memalingkan wajahnya, merasa mual melihat makanan tersebut


Raga meletakkan kembali di nakas semangkuk bubur yang khusus di buat oleh bi yanti tadi.


"Kamu mau makan apa, sayang ? Katakan, nanti aku akan minta bi yanti untuk membuatnya.."


"Sereal dengan susu hangat sepertinya enak.."


Raga tersenyum seraya mengusap pucuk kepala sang istri. Kalau permintaan wanita nya hanya itu, tidak perlu menunggu bi yanti yang membuatnya.


"Baiklah, aku buatkan, ya.."


Setelah itu, raga pun keluar dari kamar nya untuk membuatkan makanan sesuai dengan permintaan sang istri..


Dan hanya hitungan menit, raga sudah kembali..


"Aku sudah menghubungi dokter retno, dokter obgyn dari rumah sakit medika.." ucap raga sambil menyuapi sang istri


Karin mengangguk pelan,


"Mungkin setengah jam lagi dia datang."

__ADS_1


Raga dengan telaten menyuapi karin sampai makanan itu tandas tak tersisa.


"Mas, aku mau minum kopi.." ucap karin setelah makanan nya habis. Karin begitu tergoda dengan aroma kopi milik suami nya yang ada di atas nakas. Tadi memang raga kembali ke kamar dengan semangkuk sereal dan secangkir kopi.


Raga menggeleng.. "Tidak boleh. Sebelum kita tau kebenaran nya, kamu tidak boleh minum kopi.." tegasnya.


Karin melipat wajah nya sedih, "Ya sudah.." ucap nya seraya kembali berbaring dengan membelakangi raga


"Kamu jangan marah, sayang. Lagi pula kamu kan sejak pagi muntah muntah terus.."


Hening...


Karin tidak menanggapi ucapan suami nya. Entah kenapa karin jadi sensitif, tiba tiba jadi sedih bercampur kesal karena apa yang di inginkan nya tidak di turuti oleh sang suami.


Tok tok tok


Suara pintu di ketuk, dan pintu itu langsung terbuka..


"Tuan, dokter retno sudah datang.." ucap bi yanti, sang asisten rumah tangga


"Baiklah, langsung saja suruh masuk ke dalam, bi.."


Dan sedetik kemudian, dokter obgyn itu langsung masuk ke dalam kamar pasutri tersebut..


"Selamat tuan raga, nyonya karina positif hamil. Jika tidak salah perhitungan sesuai informasi yang di berikan nyonya karina tadi, usia kandungan nya sudah berjalan sekitar 5 minggu.."


Deg!


Raga menatap karina dengan haru, sungguh ini kali pertama dia mendengar langsung bahwa sang istri tengah mengandung. Mengandung darah daging nya, calon anak kedua mereka.


Pria itu ingat betul, saat sang istri hamil anak pertama mereka, hubungan karin dan raga sangat kacau. Bahkan raga bukanlah orang pertama yang mengetahui bahwa istri nya itu hamil.


Dan sekarang, yang maha kuasa memberikan nya kesempatan untuk menebus kegagalan nya sebagai seorang suami sekaligus seorang ayah di masa lalu.


"Terimakasih, sayang. Aku sangat bahagia.." Raga berkali kali mengecup pucuk kepala sang istri, sungguh ini moment yang paling membahagiakan. Raga akan mengingat moment ini dan terus menyimpan di memori nya sampai mati.


Karin pun tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan nya, bulir kristal bening sudah jatuh menetes ketika dokter retno mengatakan diri nya positif hamil.


"Dokter retno, apa boleh istri saya minum kopi ??" setelah perbincangan panjang lebar mengenai kehamilan istri nya, sekarang raga ingin menanyakan apa yang boleh dan tidak boleh di konsumsi oleh ibu hamil.


Dokter retno tersenyum sekilas, "Begini tuan, sebenarnya ibu hamil masih di perbolehkan minum kopi.."

__ADS_1


Ucapan dokter retno langsung membuat karin memicingkan kedua netra nya, melihat raga dengan tatapan mencibir..


"Tapi perlu di ingat, takaran dan frekuensi kopi yang di minum saat hamil tidak boleh terlalu banyak dan terlalu sering seperti saat sebelum nyonya karina hamil."


Setelah memberikan penjelasan yang panjang kali lebar tersebut, dokter retno pun pamit. Namun sebelum benar benar pergi, dokter obgyn itu menyarankan untuk karina melakukan usg di rumah sakit agar tau bagaimana perkembangan janin dalam perutnya.


"Mas, aku mau kopi.." ucap karin setelah dokter retno sudah tidak ada di kamar mereka lagi


"Okay, okay. Tapi ingat, sedikit saja ya.." ucap raha seraya mengambil cangkir kopi nya yang memang belum sempat dia minum.


Karin tersenyum sangat lebar, senang akhirnya keinginan nya terkabulkan


Glek!


"Ahh.., Nikmat nya..." ucap karin setelah meminum satu teguk kopi sang suami


"Sayang, apa ini yang di namakan ngidam ??" tanya raga penasaran


Karin mengangkat kedua bahu nya, "Mungkin saja.."


"Lalu sekarang kamu mau apa lagi, hem ? Katakan saja, aku pasti akan mengabulkan nya, demi kamu dan calon bayi kita.." ujar nya dengan semangat seraya mengusap perut sang istri yang masih rata


🍀


🍀


Di waktu dan tempat yang berbeda..


"Ahh, Ahh.." suara d e s a ha n dan erangan terus memenuhi setiap sudut ruangan kamar di villa yang di tempati oleh lira dan ivan


Entah sudah berapa kali mereka melakukan penyatuan malam itu.


Meskipun lira masih merasakan sakit di area inti nya, tapi dia pun sangat bersemangat untuk percintaan nya dengan sang suami, lagi dan lagi.


Ivan semakin bersemangat mendengar lira yang terus meracau di bawah kungkungan nya. Meskipun ini yang pertama bagi nya, tapi ivan lali laki dewasa dan tidak se-amatir pikiran orang tentang nya yang selalu mengatakan bahwa dia kaku, bahkan lira saja menyebutnya kanebo kering.


Tapi malam itu, kedua nya benar benar di mabuk cinta. Tidak ada yang mau berhenti sampai mereka benar benar tidak berdaya.


Dan dalam satu kali hentakan, ivan pun menyemburkan lahar nya di rahim sang istri,


Ivan terkulai lemas di samping lira, "Terimakasih sayang. I Love you.." bisik ivan seraya membawa sang istri dalam pelukan nya, dan menjadikan lengan kekar nya sebagai bantal.

__ADS_1


"I love you, too."


__ADS_2