Sebatas Menikahi

Sebatas Menikahi
Part 78


__ADS_3

Sementara itu..


"Apa ?? Astaga, ra. Ya sudah, kamu disana saja dulu. Aku akan menutup salon lebih awal hari ini.." Karin sedang berbicara di sambungan telepon dengan sahabat nya. Betapa terkejutnya Karin ketika lira memberitahu kejadian naas yang menimpa nya siang tadi. Karin pun mengutuk perbuatan gavin, dia juga tidak menyangka gavin lebih psycho dari Antonio. Ternyata gavin sudah mengikuti lira sejak lama, tapi kenapa dia dan lira sama sekali tidak tahu dan tidak menyadari nya sampai sekarang.


Setelah sambungan itu berakhir, karin pun mulai merapikan meja kerjanya. Dia memilih untuk menutup salon lebih awal sebagai rasa sedih atas insiden buruk yang terjadi pada lira.


Baru pukul 3 siang tapi salon itu sudah sepi. Hanya tinggal karin seorang yang masih betah berada di dalam ruangan pribadi nya..


Karin masih sibuk mencari tempat tinggal, sebab sejak tadi dia belum juga mendapatkan tempat yang tepat dan pas. Ada yang dekat kampusnya, tapi harga nya terlalu mahal dan tidak masuk akal bagi karin. Ada yang agak jauh tapi tempat di sekitarnya masih hutan dan banyak pohon pohon besar, membuat Karin jadi takut akan hal hal aneh yang akan terjadi nanti.


"Astaga! Kenapa tidak ada yang cocok sih ??" gumam karin sambil menopang dagu nya dengan terus menatap layar laptop nya


Crekk!!


Tiba tiba pintu ruangan karin terbuka..


Karin reflek langsung melihat ke arah pintu, sebab tadi diri nya sudah memastikan semua karyawan nya telah meninggalkan salon dan pulang kerumah masing masing...


Deg


"Sayang..."


Karin langsung menutup laptop nya cukup keras. Wanita itu memilih merapikan tasnya, lalu melangkah mau pergi dari ruangan..


"Sayang, maafkan aku.." Raga menahan tangan karin saat istri nya itu berjalan melewatinya..


"Aku bisa jelaskan semua nya dari awal, agar tidak ada salah paham lagi di antara kita.."


Karin melepaskan tangan raga dengan tangan nya yang lain.. "Tidak perlu, mas. Aku tidak ingin tahu apapun lagi. Terimakasih, maaf aku harus pergi!!"


Karin berjalan cepat langsung keluar dari ruangan..


"Sayang, tunggu!! Aku mohon.." Raga mengikuti langkah karin sampai ke parkiran..


"Minggir, mas.!!" karin menatap tajam raga yang berdiri tepat di samping mobil nya..


Raga menggeleng.. "Tidak!! Sebelum kamu mendengarkan penjelasan ku, aku tidak akan pergi dari sini!!"


"Ya sudah. Katakan!!" Karin mengalah, dia tidak ingin berdebat. Hati nya sudah lelah jika harus beradu argumen lagi.


Raga mulai menjelaskan. Karin hanya mendengar tanpa memotong cerita versi suami nya.


"Sudah ??" tanya karin ketika raga sudah selesai menjelaskan..


Raga mengangguk, "Kalau begitu permisi.." karin sengaja sedikit mendorong tubuh raga, lalu masuk ke dalam mobil nya, dan menutup pintu mobil cukup kencang.


Tanpa mengatakan apapun lagi, karin langsung tancap gas meninggalkan raga yang masih mematung di tempat nya..


"Hiks..hiks.." karin kembali menangis di dalam mobil.. "Jika memang kamu hanya menganggapnya adik, kenapa kamu tega meninggalkan aku begitu saja. Kamu bahkan tidak berbalik untuk melihat ke arah aku dulu sebelum pergi. Hiks..hiks.." gumam karin sambil menangis


Karin pun mengendarai mobil nya untuk pulang..

__ADS_1


Beruntung kenan ternyata sedang menginap di rumah oma nya..


Sesampai nya di rumah, karin langsung mandi. Setelah itu dia mengeluarkan kopernya..


"Kamu mau kemana ??" tanya raga ketika dia sudah tiba dirumah dan masuk ke dalam kamar pribadi mereka..


"Tidak kemana mana. Aku hanya merapikan pakaian ku!!" jawab karin tanpa mau menoleh pada raga..


"Jelaskan pada ku!! Kenapa kamu memasukkan baju baju mu ke koper ? Kamu mau meninggalkan aku ??" pekik raga tanpa sadar sedikit menaikkan nada bicara nya


Karin kembali menepis tangan kekar pria itu..


"Bukankah kamu yang sudah meninggalkan ku ??" karin bicara dengan tatapan mengejek


"Sudahlah! Jangan perdulikan aku!! Urus saja wanita yang kamu anggap adik itu!!"


Deg


Raga semakin yakin karina benar benar marah padanya.


"Aku sudah menjelaskan semua nya. Kenapa kamu tidak mengerti!!"


Karin hanya diam tidak menjawab ucapan raga lagi. Dia terus memasukkan baju baju nya ke dalam koper besarnya tersebut tanpa mengindahkan tatapan raga yang begitu emosi menatap nya.


Bughh!!


Raga melempar koper itu dengan penuh amarah. Mungkin karena tubuh nya yang lelah selama 2 hari tidak cukup tidur dan juga tidak cukup asupan makanan. Raga jadi terbawa suasana. Emosi nya menjadi naik ketika istri nya itu sama sekali tidak perduli dengan penjelasan yang dia berikan tadi.


Air mata karin mulai menggenang. Tanpa mau membalas ucapan suami nya, karin memilih berjalan ke arah kopernya yang isi di dalam nya sudah berantakan berhamburan ke lantai..


AHHH!!


Raga memekik sambil menarik rambut nya dengan kencang, frustasi.


"Hiks..hiks.." Terdengar suara tangisan karin..


"Katakan pada ku, aku harus bagaimana ??" tanya raga menghampiri karin yang menangis dalam posisi duduk di lantai. Raga memposisikan diri berlutut agar sejajar dengan sang istri..


"Maafkan aku, sayang. Sungguh bukan maksud ku seperti itu!!"


Karin terus menangis. Sakit dan sesak rasanya mengingat kejadian beberapa hari lalu. Di tambah dia ingat dengan foto yang di kirim kan pada nya.


Karin menghapus air mata nya dengan kasar..


"Jika posisi nya di balik!! Aku yang seperti itu pada mu. Bagaimana perasaan mu sekarang, hem ?? Dan jika kamu melihat aku memegang tangan pria lain seperti yang kamu lakukan pada wanita itu, bagaimana perasaan mu ? Apa hati mu akan baik baik saja, hah ??" karin menahan tangisan nya. Dia mulai menyampaikan apa yang tengah di rasakan nya saat ini. Apa yang membuat hati nya begitu sakit kali ini.


"Istri mana yang rela suami nya memegang tangan wanita lain ??"


"Mas, kamu tahu ? Aku bahkan tidak pernah mau berteman atau bersahabat dengan pria mana pun. Karena aku tahu, tidak ada yang nama nya persahabatan antara pria dan wanita. Lalu tadi kamu bilang apa ? Adik ? Kamu hanya menganggap dia adik ?? Lalu dia bagaimana ? Apa dia menganggap mu hanya sebagai seorang kakak juga ??"


Karin kembali tersenyum getir ketika melihat ekspresi wajah suami nya. Sebagai seorang wanita, dia bisa tahu bahwa gadis itu tidak menganggap raga sebagai kakak. Di mata nya pun raga sangat sempurna, bohong jika gadis itu tidak memiliki perasaan lain pada suami nya.

__ADS_1


"Pergilah, mas. Urusi saja wanita yang kata nya adik mu itu. Aku tidak perduli lagi!! Aku lelah!! Kamu bebas melakukan apapun sesuka hati mu!! Aku menyerah dengan hubungan kita. Salah ku karena mempercayai mu terlalu cepat!!" karin memalingkan wajahnya. Lalu beranjak pergi dari kamar itu meninggalkan raga sendirian..


Karin memilih tidur di kamar putra mereka di lantai 2. Karin mengunci pintu itu, lalu masuk ke dalam selimut dan menangis sejadi jadi nya di dalam selimut tebal tersebut..


Sementara raga, dia tidak berkutik lagi. Ternyata dia sudah kembali menorehkan luka yang begitu dalam pada sang istri


Raga meneteskan air mata nya, menyesal.. "Maafkan aku sayang, aku salah!!" gumam raga di sela sela tangisan nya..


🍀


Karin sudah bangun pukul 3 dini hari. Perlahan karin masuk ke dalam kamar nya. Karin ingin mengambil pakaian nya untuk besok pagi.


Deg!!


Tiba tiba pandangan nya teralihkan. Raga tengah duduk sambil menghisap rokok di balkon kamar mereka..


Seketika karin yakin, pasti pria itu belum tidur. Sebab kasurnya pun masih rapi seperti ketika dia meninggalkan kamar itu..


Karin pura pura tidak melihat. Dia meneruskan kegiatan nya tadi. Setelah selesai karin pun langsung keluar lagi dari kamar nya..


*Keesokan pagi nya..


Karin langsung berangkat tanpa pamit. Hari ini dia akan di sibukkan dengan mengurus perizinan kuliah nya.


"Ra, hari ini aku tidak bisa ke salon. kamu handle salon ya." pesan singkat yang karin kirim pada lira.


Karin mulai menghidupkan kendaraan nya. Pagi ini dia akan menjemput kenan dulu di rumah kedua mertua nya..


*Skip perjalanan..


"Mama..." kenan langsung memeluk karin.


"Kamu sudah siap ??" tanya karin sambil membelai rambut bocah itu


Kenan mengangguk..


"Ayah, Ibu. Karin langsung berangkat ya.." ucap karin seraya mencium tangan kedua mertua nya..


Ibu dan ayah tersenyum kompak.. "Hati hati ya, nak. Jangan ngebut!!" kata ayah mengingatkan.


"Ma, ko mama diam aja sih ??" tanya kenan di dalam mobil ketika mobil mama nya sudah menembus kepadatan lalu lintas..


Karin tersenyum lalu mengusap pucuk kepala putra nya tanpa menjawab pertanyaan kenan.


"Ma, kita mau kemana ??" tanya kenan bingung, sebab ini bukan jalan menuju sekolah nya. Jalanan ini asing bagi anak itu..


"Mama mau bikin paspor buat kamu.." ucap karin ketika mobil nya berhenti di sebuah gedung yang di depan nya berkibar dengan indah bendera berwarna merah dan putih.


"Hah ?? Paspor ??" beo kenan semakin bingung bercampur penasaran


Karin mengangguk.. "Iya, sayang. Ayo !!" karin meminta Kenan untuk bersama sama turun dari mobil. Tapi tiba tiba saja kenan enggan menuruti perintah mama nya

__ADS_1


"Mama mau bawa kenan kemana ??"


__ADS_2