
Hari ke 3 setelah kematian nenek..
Karin sudah pamit pada seluruh keluarga nya, hari ini dia akan kembali ke kota. Terlalu lama berada di rumah nenek nya malah semakin membuat karin sedih. Mulai hari ini karin akan kembali menyibukkan diri dengan pekerjaan nya. Itu semua dia lakukan agar bisa melupakan sejenak masalah masalah yang tengah di hadapi nya.
Wanita itu memilih untuk langsung ke salon nya. Lagi pula jika pulang ke rumah pun pasti hanya ada asisten rumah tangga nya saja.
Mobil karin sudah tiba di pelataran parkiran 2Sis Beauty Salon. Tapi karin memilih untuk diam beberapa saat di dalam mobil. Wanita itu perlahan menyandarkan punggung nya lalu mulai memejamkan mata. Berat, sungguh sangat berat.
"Bodohkah diriku yang selalu menunggu kamu, mas ?? Semoga kamu bahagia dengan pilihan hati mu. Aku tidak akan lagi menunggu!!"
"Seandainya jika bunuh diri tidak dosa, pasti aku sudah melakukan itu sejak dulu.."
Tok tok tok..
Kaca mobil karin di ketuk dari luar..
Melihat siapa yang ada di samping pintu mobil nya, karin buru buru menghapus jejak air mata di kedua pipi nya..
Karin pun menurunkan jendela mobil nya,
"Rin, kenapa kamu nggak bilang sih..?? Kamu jahat banget sama aku. Kamu masih anggap aku sahabat nggak sih, rin ??" Lira langsung mencecar karin dengan berbagai pertanyaan,
Karin tersenyum getir, kedua mata nya kembali berembun..
Wanita itu pun segera turun dari mobilnya..
Grep!!
"Are you okay, rin ??" lira langsung memeluk sahabatnya itu begitu erat. Dia tahu karin pasti sangat terluka saat ini. "Kenapa kamu tidak memberitahu ku, rin ??" lira terus menanyakan hal yang sama. Dia ingin tahu apa alasan karin tidak memberitahu nya. Dia bahkan tahu dari kenan ketika lira menanyakan keberadaan karin selama 2 hari kemarin setelah acara pertunangan nya dengan ivan.
Mungkin jika lira tidak datang kerumah karin, sampai sekarang dia tidak akan tahu apa yang terjadi pada sahabat nya itu.
"Aku baik baik saja, ra. Kamu lihat ? Aku masih hidup, artinya semua masih bisa aku atasi..!!" karin kembali memaksakan senyum nya..
Lira merasa ikut bersedih atas apa yang terjadi pada sahabat nya. Sejak dulu karin selalu menutupi rasa sakit nya dari siapapun, meskipun itu dengan lira.
Setelah itu lira pun merangkul karin untuk masuk ke dalam salon.
"Rin, aku siap menjadi pendengar mu. Jangan pendam ini sendirian, rin.." lira menggenggam tangan karin ketika mereka sudah di dalam ruangan karin. Mereka duduk bersisian di sofa yang sama.
__ADS_1
"Ra, kamu ingat tidak dulu aku pernah bermimpi untuk melanjutkan S2 ku di Roma ??"
Deg
"Kenapa kamu tiba tiba membicarakan itu ?? Jangan bilang kamu......" ucapan lira menggantung, dia takut untuk melanjutkan kalimat nya..
Tapi karin malah tersenyum.. "Iya, ra. Sepertinya aku akan melanjutkan pendidikan ku sekarang. Di usiaku yang sudah 30 tahun ini semoga belum terlambat.. He he he.." karin terkekeh sendiri, sementara lira masih mematung karena terkejut mendengar ucapan karin.
"Karina, kamu jangan bercanda ya!!! Ini gak lucu tahu!!"
Karin mencubit pipi sahabatnya, "Aku tidak bercanda, ra. Lihat wajah ku ? Apa ucapan ku tadi seperti sebuah lelucon bagi mu ??" karin pun kembali menampilkan wajah yang serius, dan lira langsung yakin karina benar benar serius dengan ucapan nya tadi..
Karin lalu bangun dari duduk nya, kemudian berjalan menuju meja kerja nya. Semalam dia sudah mendaftar kuliah di salah satu universitas terbaik di negara Roma. Jika tidak ada hambatan apapun mungkin beberapa bulan ke depan dia sudah harus berangkat ke negara tersebut.
"Jangan terlalu terkejut. Aku tidak akan pergi sebelum melihat kamu menikah, ra.." karin kembali tersenyum di depan sahabatnya.
"Apa kamu sengaja pergi untuk melarikan diri dari kenyataan bahwa raga masih mencintai wanita di masa lalu nya ??"
Deg..
Kali ini karin yang di buat mematung dan membeku oleh sahabatnya tersebut. Karin kembali menunduk berpura pura sibuk dengan kertas kertas di meja kerja nya..
Lira lalu bangun dari duduk nya berjalan menghampiri sang sahabat.. "Aku tahu semua nya, rin. Ivan sudah memberitahu ku.." lira mengusap bahu karin dengan lembut.. "Rin, aku tahu dia sudah keterlaluan. Tapi kamu harus mendengar penjelasan raga dulu apa yang sebenarnya terjadi pada mereka. Dan kenapa dia tidak menghubungi mu sampai sekarang!!"
Karin mendongakkan kepala nya menatap sang sahabat penuh tanya.
"Tidak perlu, ra. Aku tidak ingin menanyakan sesuatu yang dia sendiri tidak ingin membaginya dengan ku.!! Kamu tahu ra, Aku hanya sebuah kesalahan di hidup nya. Dia berhak bahagia, ra. Begitu pun dengan aku. Aku ingin bahagia juga, aku lelah harus menangisi hidup ku tanpa henti. Lambat laun dia pasti akan membuang ku. Jadi lebih baik aku yang pergi sebelum rasa sakit yang kurasakan lebih menyakitkan dari yang aku rasakan saat ini.."
Lira kembali memeluk karin. Sebenarnya lira pun tidak tahu apa yang terjadi pada raga di sana. Dia hanya tahu sekilas dari ivan bahwa raga sedang berada di rumah sakit di singapura. Dan tanpa karin tahu, ivan saat ini sedang di berada di negara yang sama dengan raga untuk menyusul tuan nya tersebut..
"Lalu kenan bagaimana, rin ??"
"Aku akan membawanya!!" jawab karin singkat. Ya, wanita itu sudah berpikir semalaman. Karin sudah memutuskan untuk kembali melanjutkan hidup nya lagi. Karin tidak ingin terlalu larut dalam luka nya. Masih banyak yang harus dia pikirkan selain masalah percintaan nya yang tidak pernah beruntung itu. Kenan lah satu satu nya alasan karin untuk tetap hidup sampai saat ini. Apalagi sekarang nenek nya pun sudah pergi meninggalkan nya. Mungkin jika kenan pun tidak ada, karin akan lebih mudah untuk pergi jauh dari hidup raga.
Lira tidak bisa berkata apapun lagi, biarlah karin yang memutuskan sendiri jalan hidup nya. Karin benar. Dia harus bahagia. Semoga keputusan nya ini mampu membawanya pada kebahagiaan.
💮
🍀Di Sebuah Rumah sakit di singapura..
__ADS_1
"Apa ?? Nenek meninggal ??" Raga begitu terkejut mendengar penuturan ivan bahwa nenek dari sang istri sudah berpulang. Raga menjambak rambut nya cukup kencang. Frustasi, ya tentu saja. Semua bermula dari kepergian nya ke singapura beberapa hari lalu..
🍀🍀Flashback On🍀🍀
"Bianca di rawat di singapur. Dia belum sadarkan diri sampai saat ini !!" Anton memberi tahu raga semua nya. Bagaimana adik perempuan nya itu begitu terpukul atas kabar pernikahan raga. Anton juga memberitahu sudah belasan kali bianca mencoba untuk bunuh diri, dan baru inilah dia berhasil melakukan nya ketika semua keluarga sedang tidak berada di rumah pada saat itu.
Akibat rasa bersalah yang begitu besar terhadap gadis itu, tanpa pikir panjang raga pun langsung berangkat ke singapura detik itu juga. Dia bahkan sampai tidak mengabari sang istri. Raga benar benar di butakan oleh rasa bersalah yang begitu dalam. Dia tidak menyangka rasa cinta gadis itu yang terlalu besar terhadap nya membuat dia bisa senekat itu. Padahal sampai detik ini raga menganggap bianca hanya sebagai seorang adik, tidak lebih. Hati nya sudah mentok dengan karina, tidak ada lagi tempat untuk wanita manapun selain karin.
Ternyata di pesawat yang sama, anton pun mengikuti raga. Pria itu takut kalau raga berbuat macam macam terhadap adik nya.
Setelah 2 jam perjalanan di udara, akhirnya pesawat yang membawa raga dan anton pun sudah tiba di bandara Changi Singapura.
"Ikut aku!!" Anton berjalan dari arah belakang raga ketika mereka sudah berada di luar dari bandara tersebut.
Raga berhenti sejenak, dia menatap punggung anton dari belakang. Pria itu tidak menyangka anton ternyata mengikuti nya.
Tanpa banyak bertanya, raga pun langsung mengikuti kemana langkah anton. Ternyata disana sudah ada supir jemputan yang menunggu anton dengan mobil pribadi nya.
Anton pun naik di kursi belakang di susul oleh raga yang juga naik dan duduk di samping anton..
*Skip perjalanan..
Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit tanpa perbincangan apapun, akhirnya mobil anton tiba di sebuah rumah sakit terbesar di negara itu..
Raga terus mengekor anton di belakang.
Deg
Raga mematung di ambang pintu sebuah ruangan ketika untuk pertama kali nya melihat dengan jelas gadis yang dulu begitu gencar mengejarnya terbaring tak sadarkan diri dengan begitu banyak alat yang menempel di tubuh nya.
Perlahan kaki nya pun mulai melangkah mendekat ke hospital bed tempat gadis itu terbaring.
Kedua netra nya mulai berembun, sesak rasanya melihat gadis yang sudah dia anggap adik nya sendiri kini tak berdaya lagi. Gadis yang begitu ceria dan bersemangat itu kini lebih memilih tidur sangat lama, entah dia sedang bermimpi apa hingga 10 tahun lama nya dia enggan untuk membuka mata nya kembali.
Raga pun duduk di sebuah kursi di samping bianca berbaring..
Pria itu pun perlahan menggenggam salah satu tangan Bianca,
"Maafkan aku bi. Aku tidak tahu kamu akan seperti ini. Please, bangun bi. Aku ingin mengenalkan mu pada seseorang yang sangat aku cintai. Aku ingin kamu bertemu dengan nya.."
__ADS_1