Sebatas Menikahi

Sebatas Menikahi
Part 29


__ADS_3

"Mas. Aku ada undangan pernikahan sahabatku hari ini. Kenapa aku tidak boleh keluar rumah ??" tanya karin pada raga yang akan berangkat bekerja


"Kamu tidak boleh kemana mana.!!" jawab raga tanpa melihat karin


"Memangnya kenapa ?? Sudah seminggu aku tidak keluar rumah. Aku bosan tahu..!!"


huh


Raga menghembuskan nafasnya..


"Baiklah. Kalau begitu aku ikut." kata raga melihat ke arah karin


"Kalau dia ikut, pasti aku tidak bisa berlama lama bertemu dengan teman teman kuliah ku dulu."


"Kan mas raga mau kerja. Lebih baik mas raga berangkat saja. Karin bisa di antar supir.."


"Kalau begitu tidak usah pergi..!!" Ucap raga sambil berlalu meninggalkan karin,


Ck!!


.Karin berdecak kesal..


"Baiklah. Baiklah." Karin menarik tangan suami nya,


Deg!!


Jantung kedua nya berlomba, berdegup kencang bahkan hanya dengan sentuhan tangan seperti itu saja


"Maaf.." kata karin melepaskan tangannya dari tangan sang suami..


"Okay. Mas Raga boleh ikut." sambung karin


"Bagus!! Kalau begitu jam 11 siang aku akan menjemput mu." kata raga lagi lalu dia segera berangkat menuju kantornya.


💮


Jam 11 siang karin sudah rapih dengan dress pendek di atas lutut.


"Ya ampun nyonya. Cantik sekali.." ucap bi yanti ketika melihat karin keluar dari kamar nya


Karin tersenyum senang.. "terimakasih bi.." kata karin seraya mengusap bahu ART nya itu


"Bi. Apa tuan sudah datang ??" tanya karin


"Sudah nyonya. Seperti nya tuan menunggu di mobil nya.." jawab bi yanti

__ADS_1


Karin lalu pamit pada pembantu nya itu, lalu berjalan menuju mobil sang suami yang terparkir di halaman depan rumah besar nya


Deg!!


"Cantik!!" gumam raga tanpa sadar..


Supir pribadi membuka kan pintu belakang untuk karin.


"Terimakasih pak.." ucap karin ramah


Ekhem!!


Raga berdehem , mencoba menetralkan kembali pikiran dan perasaan nya..


Tidak ada percakapan sejak karin masuk ke dalam mobil itu. Raga diam seribu bahasa. Sedang karin merasa terbebani raga ikut dengan nya.


Setelah karin memberitahukan alamat tujuan pada sang supir pribadi, mobil itu pun langsung melaju dengan kecepatan sedang.


"Jangan terlalu lama. Aku masih ada pekerjaan yang lain." ucap raga ketika mobil mereka sudah berada di halaman parkir sebuah hotel yang di sewa untuk pernikahan sahabatnya tersebut.


Karin mengacuhkan ucapan sang suami, karena kini pandangannya teralihkan oleh keramaian di depan gedung itu. Keramaian karena seperti ada perdebatan antara beberapa pria di depan sana.


Karin buru buru keluar dari mobil, bahkan tidak memberi kesempatan pada supir untuk membuka kan pintu untuk nya.


Raga yang melihat karin berjalan cepat seperti itu pun langsung keluar dengan perasaan khawatir..


"Benar. Tapi pernikahan nya di batalkan.."


Deg!!


Wajah karin berubah dari penasaran menjadi terkejut mendengar ucapan seorang pria itu..


"Di batalkan ??" beo karin, "Maksudnya di batalkan bagaimana ??"


"Iya di batalkan. Calon mempelai pria nya kabur bersama dengan seorang wanita yang mengaku tengah hamil anak dari pria itu.."


Karin melotot tidak percaya dengan apa yang di dengar nya.


"Lira.." gumam karin lirih lalu berlari masuk ke dalam gedung itu mencari keberadaan sahabatnya..


"Astaga!! Kenapa dia terus berlari seperti itu..!!"


Raga mengejar karin lagi, tapi saking banyak nya orang di dalam gedung itu raga tiba tiba kehilangan jejak sang istri


Sementara karin, setelah mendapatkan informasi keberadaan lira dari salah seorang keluarga lira yang karin kenal, dia langsung menuju ke satu ruangan di dalam gedung itu

__ADS_1


Tok! Tok! Tok!


"Ra.. ini aku.." ucap karin dari balik pintu ruangan itu


"Lira tidak mau keluar sejak tadi.." kata mami lira yang juga sudah karin kenal. Kedua mata mami lira sampai bengkak karena menangis, apalagi lira yang menjalani nya. Pasti hatinya jauh lebih hancur dari siapapun.


"Ra.. please. Izinkan aku masuk.." kata karin lagi


Hening.. Tidak ada suara..


"Ra.. Kamu pasti terkejut, sekarang aku sedang hamil. Sebentar lagi kamu akan memiliki keponakan yang lucu dari ku. Apa kamu tidak ingin menyapa keponakan mu ini, ra ??" karin mencoba membujuk sahabatnya. Semua keluarga lira sangat terkejut dengan kabar kehamilan karin. Apalagi tidak ada seorang pun dari mereka yang menghadiri pernikahan karin.


Ceklek!!


Pintu ruangan terbuka sedikit. Karin tersenyum dan kembali bisa bernafas sedikit lebih lega.


Wanita itu pun masuk ke dalam ruangan itu seorang diri lalu menutup kembali pintu tersebut..


"Rin..hiks..hiks.." Lira menangis tersedu sedu. Bahkan suara nya sampai tidak jelas terdengar..


Karin langsung memeluk sahabatnya itu dengan erat. Mengusap punggung belakang lira perlahan.


"Mas gavin jahat sekali pada ku rin. Dia tega mengkhianati ku. Aku benci dia.!!" ucap lira di sela sela tangisan nya..


Karin hanya diam sambil terus memeluk sahabatnya yang emosi nya sedang meledak ledak. Bahkan karin lihat di ruangan itu sudah berantakan, terlebih keadaan lira saat ini. Make up nya sudah tidak berbentuk, bahkan gaun pengantin nya pun sudah rusak seperti sengaja di gunting gunting oleh lira.


Kini sahabatnya itu hanya memakai kemben saja dan celana hotpants berwarna senada dengan kulitnya.


Cukup lama karin menemani sahabatnya. Karin membiarkan lira menangis sampai gadis itu puas meluapkan semua kesedihan nya.


Satu jam berlalu, lira mulai sedikit lebih tenang..


Karin membawa lira untuk duduk di sofa panjang, karena sejak tadi mereka berdua duduk di lantai tanpa beralaskan apapun.


"Ra, Dunia tak selalu buruk, dan dunia pun tak selalu baik. Bunga tak selamanya mekar, begitu juga dengan hujan yang tak selamanya turun. Bahagia dan sedih akan datang silih berganti. Ra, setiap orang yang hadir di hidup kita akan selalu menorehkan warna yang berbeda beda. Begitu pun dengan Gavin. Mungkin saat ini dia sudah memberikan luka yang begitu dalam, tapi bukan berarti hidup mu berakhir di sini, ra. Jangan biarkan dia bahagia sementara kamu hancur seperti ini. Menangislah sepuas kamu, tapi ingat kamu masih memiliki keluarga dan juga aku yang akan selalu ada di sisi mu.." ucap karin panjang lebar sambil memegang tangan lira dan sesekali menyeka air mata yang jatuh di kedua pipi sahabatnya itu.


Lira kembali menangis dan langsung memeluk karin lagi..


"Aku sangat bersyukur. Di saat seperti ini kamu ada di sini bersama ku, rin.." ucap lira dalam pelukan nya


Setelah itu, lira pun perlahan melepaskan pelukan nya pada karin. Dan sedetik kemudian karin menuntun telapak tangan lira lalu meletakkan nya diatas perut nya


Karin tersenyum,


"Rin. kamu benar benar ham..."

__ADS_1


Karin langsung mengangguk cepat tanpa menunggu lira menyelesaikan kalimat nya..


"Selamat ya rin." kembali lira memeluk karin, kali ini bukan memeluk karena bersedih tapi sebalik nya. Dia bahagia mendengar kabar kehamilan karin.


__ADS_2