Sebatas Menikahi

Sebatas Menikahi
Part 55


__ADS_3


Visual babang Ivan yang gak kalah kece dari atasan nya ๐Ÿ˜... Cuma memang lebih kecil sedikit postur tubuh nya dari Mas Raga ๐Ÿคญ


*Gak apa apa kecil juga bang ivan jangan insecure ya, lagian kamu kan asisten pribadi bukan bodyguard pribadi...๐Ÿ˜…๐Ÿคญ


Bonus Lebaran gengs...q


Hari ini aku double up yaa ๐Ÿค—๐Ÿค—๐Ÿค—


๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ


๐Ÿ’ฎ


๐Ÿ€


Ceklek..


Raga membuka pintu kamar..


"Mana karina...???"


"Lira...." gumam karin yang mendengar nama nya di panggil langsung tahu suara siapa itu..


Lira langsung menerobos masuk mendorong raga yang berdiri menghalangi jalan nya..


"Kamu nggak apa apa kan, rin ??? Ada yang luka nggak, hem ??" lira langsung memutar tubuh sahabatnya, memeriksa karin dari atas kepala hingga ujung kaki nya..


"Ra.. Stop.." karin mencoba menghentikan sahabatnya itu..


"Tunggu, tunggu. Biar aku periksa lagi..."


Belum sempat tubuh karin di putar lagi oleh lira, raga langsung menarik istrinya ke dalam dekapan hangat nya..


"Ck..!! Apa yang sedang kamu lakukan pada istri ku..???"


Mata lira membulat sempurna saking terkejut nya mendengar ucapan dan perlakuan raga yang hangat pada sahabatnya..


Tiba tiba...


"Maaf atas kelalaian saya tuan.." ivan datang dari luar dengan deru nafas yang tersengal sengal setelah berlari dan langsung masuk ke dalam kamar karina..


"Bawa wanita ini jauh jauh. Dia membahayakan istri ku..!!"


Ivan langsung menarik tangan lira, karena kekuatan nya yang jauh lebih besar dari lira, wanita itu pun mau tidak mau mengikuti langkah panjang pria itu..


"Karin. Kamu harus menjelaskan semua nya padaku..." pekik lira sebelum keluar sempurna dari dalam kamar karina, membuat karin tersenyum lucu melihat tingkah sahabatnya yang absurd itu...


"Mas, kamu keterlaluan sekali pada sahabat ku..." kata karin setelah lira pergi dan pintu kembali di tutup oleh suami nya..


"Dia yang keterlaluan, datang datang langsung membuat rusuh..!! Sudahlah, kita lanjutkan saja yang tadi..." ucap raga dengan tersenyum licik dan kembali mendekatkan bibirnya ke bibir karin. Seperti tidak ada puasnya, raga ingin terus mencicipi bibir ranum itu...


Tok tok tok...


Pintu kembali di ketuk..


"Astaga..!!" Kesal raga seraya menjatuhkan kening nya di bahu karin..


"Sebentar mas, mungkin lira lagi..." kata karin mendorong perlahan kedua bahu suami nya agar kembali berdiri dengan tegak..


Karin melangkahkan kaki nya menuju pintu..


Deg!!


Karin mematung ketika melihat siapa orang yang ada di depan kamar nya..


Melihat istri nya yang diam saja, raga pun ikut keluar memeriksa siapa yang datang...


"Siapa sayang..??" tanya raga yang saat ini sudah berdiri di belakang karina


"Oh. Tuan Anton...." ucap raga dan dengan sengaja langsung melingkarkan tangannya di perut wanita nya, memeluk lagi istrinya dari belakang


Anton kembali menahan sesak di dada nya, melihat wanita yang sudah 3 tahun menjadi tuan rumah di dalam hati nya bermesraan dengan pria lain, pria yang paling anton benci seumur hidup nya.

__ADS_1


Anton memaksakan senyumnya "Karin, kamu tidak lupa kan makan malam kita hari ini..??"


Deg!!


"Makan malam..."


Raga mencoba tetap dalam ekspresi datar nya meskipun dia sangat terkejut mendengar ucapan anton tadi.


"Sayang, memang kamu ada janji makan malam dengan pria ini..??" tanya raga masih di posisi nya memeluk sang istri..


Karin mengangguk...


"Bisakah di batalkan karena saat ini aku tidak mau berjauhan dengan mu..." bisik raga di telinga sang istri, membuat karin sampai merinding karena merasakan hembusan hangat nafas raga di telinga nya


"Ciihh.. Menjijikan sekali..!!" umpat anton dalam hati nya melihat betapa posesif nya raga pada karina..


"Pak Anton. Aku sudah memesan meja untuk makan malam kita. Lebih baik pak anton menunggu di sana saja..."


"Yank..." rengek raga tidak rela


Karin melihat suami nya lalu menggeleng pelan..


"Baiklah. Aku akan menunggu mu disana..." kata anton lalu beranjak pergi, dia tidak tahan melihat karina terus berada dalam pelukan raga..


Setelah melihat anton pergi, karin langsung menutup pintu.


"Jelaskan pada ku. Kenapa kamu membuat janji makan malam dengan dia..." raga langsung meminta penjelasan apa yang sebenarnya terjadi antara karin dan anton. Sungguh, ketika pertama kali melihat anton dan karin sudah saling mengenal membuat raga merasa kecolongan. Pria itu pun sudah membulatkan tekad, dia akan mencari tahu dengan siapa saja istri nya itu berteman, jangan sampai hal seperti ini terjadi lagi.


Karin berjalan menuju kopernya, dia mencari baju untuk di pakai malam ini..


"Hanya makan malam biasa.." jawab karin seadanya, karena memang ini bukan makan malam spesial bagi wanita itu. Bahkan lebih tepatnya ini makan malam perpisahan, karena setelah ini mungkin saja karin dan anton tidak akan pernah bertemu lagi..


Karin pun masih sibuk mencari baju yang cocok, sebab dia memang tidak banyak membawa baju. Karin hanya membawa beberapa setelan untuk dia bekerja dan selebih nya baju santai dan baju tidur saja.


Sementara raga, dia merasa tidak puas dengan jawaban sang istri. Pria itu lalu memegang pergelangan tangan karin. Memegang nya dengan pas tanpa menyakiti sang istri


"Apa maksudnya makan malam biasa..??" tanya raga lagi..


"Mas, kenapa kamu berkeringat seperti ini ???" tanya karin khawatir ketika melihat butiran keringat yang begitu banyak di dahi suami nya. Padahal suhu di kamar ini sudah sangat dingin menurut karin. Sangat tidak mungkin suami nya itu berkeringat karena kepanasan...


Raga menggeleng cepat, "Jelaskan dulu...!!" tegas nya


Karin menghembuskan nafasnya dalam dalam..


"Mas, ini benar benar hanya makan malam biasa. Aku tidak memiliki perasaan apapun dengan pak anton. Dia hanya pelanggan ku di salon, dan aku tidak memiliki hubungan yang lebih dari sekedar pemilik salon dan pelanggan nya..." kata karin menjelaskan sesuatu yang jika di biarkan seperti nya akan mendekati pada sebuah kesalahpahaman lagi..


"Kalau begitu kamu tidak harus pergi, kan..??"


"Aku harus mas. Ada hal yang harus aku jelaskan pada pak anton..." jawab karin yang semakin khawatir ketika melihat wajah suami nya tiba tiba sudah memucat..


Karin mengusap keringat di dahi raga dengan tangan nya..


"Astaga.. Kamu panas sekali mas..." pekik karin panik saat kulit nya bersentuhan dengan kulit kening suami nya..


Raga kembali menggeleng.. "Jangan pergi..!!" kata nya mulai hilang kesadaran dan langsung terjatuh di pelukan karin


"Mas.. mas... Mas raga, bangun mas..." Karin sekuat tenaga menahan bobot tubuh suami nya yang jelas jauh lebih besar dari nya.


Karena saat ini mereka berdiri di samping tempat tidur, karin pun langsung membaringkan suami nya dengan susah payah...


"Ivan.. Ya, ivan..." gumam karin seraya mengambil ponsel nya lalu langsung menghubungi asisten pribadi suami nya tersebut...


๐Ÿ’ฎ


Sementara itu...


๐Ÿ€๐Ÿ€Flashback On...๐Ÿ€๐Ÿ€


2Sis Beauty Salon Pusat...


Lira yang tadi pagi berbicara melalui sambungan telepon dengan karin menjadi tidak tenang. Wanita itu takut terjadi apa apa pada karina, apalagi ketika mendengar tangisan pilu dari sahabat nya itu.


Setelah jam makan siang lira pun langsung pergi dari salon nya untuk menyusul dan melihat keadaan sang sahabat di kota B.

__ADS_1


Jalanan yang benar benar sangat macet membuat mobil lira terjebak di tengah kemacetan.


Akhirnya pukul 3 lebih 30 menit lira tiba di salon milik nya di kota B...


"Ko kosong...??" tanya lira pada diri nya sendiri setelah wanita itu turun dari mobil dan mengintip ke kaca pintu salon nya dan tidak ada siapapun di dalam sana..


Lira lalu kembali ke mobil nya untuk menghubungi karin, tapi sial nya ponsel milik nya mati karena kehabisan daya.


Wanita itu pun memutuskan untuk langsung ke hotel tempat karin menginap, dia yakin pasti karina sudah berada di hotel itu saat ini..


๐Ÿ€King View Hotel...


"Ada yang bisa saya bantu nona...???" tanya resepsionis pada lira ketika lira baru saja tiba..


"Saya sudah ada janji dengan nyonya Karina tamu vvip hotel ini. Bisakah kamu menghubungi nya, katakan Lira menunggu nya di lobby..." kata lira pada resepsionis wanita itu..


"Baik nona, mohon di tunggu sebentar. Kami akan memeriksa nya terlebih dahulu.." ucap resepsionis tersebut..


Tiba tiba...


"Mbak, Jangan hubungi nomor kamar nyonya karina..!!" Seseorang datang tiba tiba dan langsung melarang resepsionis itu untuk menghubungi Karina..


"IVAN...." lira terkejut ketika asisten dari suami sahabat nya itu datang dan langsung melarang resepsionis tersebut..


Ivan dan lira sudah saling mengenal sejak dulu. Perkenalan yang tidak resmi, karena selama ini mereka hanya sebatas tahu nama saja tanpa pernah ada percakapan di antara mereka...


Pertemuan pertama mereka terjadi sudah sejak lama, ketika lira berkunjung ke rumah sahabatnya dan tidak sengaja melihat Ivan yang datang bersama Raga. Dan tentu saja karina lah yang memberitahu lira bahwa pria yang ada di hadapan nya ini bernama Ivan...


Ivan langsung menarik tangan lira untuk berbicara..


"Awhhhsss... Lepaskan..!!" kata lira merasa kesakitan pergelangan tangannya di pegang kuat oleh ivan tanpa sadar..


"Maaf..." ivan langsung melepaskan tangan lira begitu saja..


"Ck..!! Dasar cowo aneh..!!" umpat lira kesal seraya mengusap pergelangan tangan nya yang terlihat ada bekas tanda merah karena ivan tidak sengaja memegang terlalu kuat


"Nyonya lira. Saat ini anda di larang menghubungi nyonya karina untuk jangka waktu yang belum di tentu kan..!!" kata ivan bicara dengan wajah tanpa ekspresi


Lira menekuk wajahnya...


"Nyonya, nyonya..!! NONA YA, BUKAN NYONYA..!!" lira langsung meralat panggilan ivan pada nya


"Ck!! Memang nya kenapa ?? Lagi pula siapa yang berani melarang ku menghubungi sahabat ku sendiri, hah ??" sambung lira lagi


"Saya..!! Karena saat ini nyonya karina sedang bersama dengan tuan raga di kamar nya.."


"Ck!!" lagi lagi lira berdecak..


"Justru karena karin sedang bersama tuan mu itu aku harus segera kesana. Tuan mu itu selalu menyakiti sahabat ku. Tidak menutup kemungkinan saat ini bisa saja karin sedang menangis karena ulah nya lagi..!!"


"Tidak mungkin tuan raga yang begitu mencintai istri nya membiarkan nyonya karina menangis.."


"Ck.." lira berdecak dan mendengus kesal..


Tiba tiba..


"Selamat sore tuan Rudi Mahendra..." lira membungkuk memberi hormat pada seseorang di belakang ivan


Deg!!


Ivan yang terkejut pun langsung membalikkan tubuhnya..


"Selamat sore Tu....." suara ivan tercekat ketika tidak melihat siapapun di belakang nya..


"Dasar Bodoh, hahaha..." lira menertawai ivan dari dalam lift yang sudah terbuka


Wanita itu melambaikan tangannya seolah mengatakan "Bye" pada ivan..


"SIAL..!!" umpat ivan langsung berlari mengejar wanita yang sudah berhasil mengerjai nya itu.


Ivan menekan nekan tombol di pintu lift, berharap pintu itu segera terbuka lagi, tapi usaha nya sia sia. Akhirnya ivan menaiki tangga darurat menuju lantai 8 dimana kamar nyonya nya berada.


๐Ÿ€๐Ÿ€Flashback Off...๐Ÿ€๐Ÿ€

__ADS_1


__ADS_2