Sebatas Menikahi

Sebatas Menikahi
Part 65


__ADS_3

"Jika memang kamu serius dengan ucapan mu, BUKTIKAN!! Aku pernah dengar janji yang lebih manis dari ini tapi tetap saja aku kalah dengan orang yang baru dan dia meninggalkanku begitu saja di hari pernikahan kami. Jadi lebih baik kamu buktikan saja , aku pasti bisa menilai semua usaha mu nanti nya!!"


Pengalaman yang mengajarkan lira menjadi pribadi yang sulit tersentuh oleh sebuah ucapan manis, apalagi manis nya sebuah janji.


"Baiklah. Ayo..!!"


Ivan membawa lira masuk kembali ke dalam mobil nya, lalu dengan cepat ivan mengendarai lagi kendaraan tersebut..


"Kenapa kamu membawa ku kerumah mu lagi ??" tanya lira ketika ivan menghentikan mobil itu di depan rumah nya, dia lalu turun dan segera membuka pagar rumah nya tersebut. Ivan memarkirkan mobil itu di dalam garasi rumah nya..


"Ayo turun!!" Ivan mengulurkan tangan nya setelah membuka pintu mobil, beruntung nya hujan sudah tidak selebat tadi.


"Tapi..." Lira ragu, dia melihat ke arah tubuh nya yang basah kuyup. Bahkan dalaman di balik baju crop top tipis yang di kenakan nya pun sudah terpampang nyata dan sangat jelas sekali.


Ivan lalu membuka jaket yang di pakai nya tadi, lalu menutup tubuh bagian depan gadis itu.


"Ayo, kamu bisa masuk angin!!"


Lira pun menggenggam tangan ivan. Pria itu tersenyum, dan mereka berdua mulai melangkah masuk ke dalam rumah..


"Astaga!! Kalian kenapa basah kuyup seperti ini ??"


Betapa terkejut nya ibu melihat ivan dan lira sudah sama sama basah dan terlihat kedinginan.


"Ya ampun!! Mobil kak lira bocor ya ?? Kalian berdua udah kaya kucing kecebur sumur tahu nggak ?? Hahaha..." nana tertawa terbahak bahak.. Merasa lucu melihat keduanya, bukankah tadi mereka berangkat masih dengan baju yang kering apalagi mereka juga pergi dengan mobil, tidak mungkin kan mobil yang sebagus itu atap nya bocor.


Ivan memberikan tatapan tajam pada adik nya, sementara lira tidak begitu perduli, sebab saat ini dia benar benar sangat kedinginan..


"Ayo nak masuk dulu, ibu siapkan air hangat untuk mandi..." kata ibu merangkul tubuh lira yang basah, ivan pun mengekor di belakang..


"Kamu juga mandi, van!! Biar lira mandi di kamar ibu.."


"Di kamar nana saja bu, nana kan pengen ngobrol lebih lama sama kak lira..." rengek nana. Ya, gadis 17 tahun itu sangat tertarik dengan lira. Entah kenapa di pertemuan pertama mereka tadi nana langsung menyukai lira.


"Kak lira itu mau mandi dan istirahat bukan mau ngobrol. Ck!! Kamu ini.. Sudah, ayo nak lira kita ke kamar ibu.." Ibu pun kembali merangkul lira dan membawa nya ke kamar..


"Tenang saja, sebentar lagi dia akan menjadi kakak ipar mu!!" bisik ivan di telinga nana, hingga membuat kedua mata gadis itu terbelalak dengan mulut yang terbuka sedikit..


Sebelum adik perempuan nya itu sadar dari keterkejutan nya dan mulai bertanya yang macam macam, ivan lebih dulu mengambil langkah seribu, dia langsung masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu kamar nya..


Sementara itu di dalam kamar..


"Air hangat nya sudah siap, kamu bisa mandi sekarang. Ibu akan menyiapkan baju ganti untuk mu.."


"Terimakasih tante.." hanya itu yang bisa lira katakan, sebab tubuh nya sudah gemetar tidak kuat lagi menahan dinginnya angin yang masuk dan terasa menusuk ke pori pori kulitnya..


🍀Di ruang tengah...


Ivan sudah selesai mandi dan kini duduk di sofa panjang bersama sang ibu..


"Katakan pada ibu, kenapa kalian bisa sampai basah kuyup seperti itu ??"


Ivan tidak tahu harus menjawab apa. Yang jelas ibu pasti tahu apa yang di rasakan putra nya saat ini, sebab yang benar benar mengenal ivan ya tentu saja ibu nya.

__ADS_1


"Kamu menyukai nya, kan ??" tanya ibu sedikit menggoda dengan memicingkan kedua mata nya..


Ivan menggaruk belakang kepala nya yang tidak gatal, tidak ada yang bisa dia sembunyikan dari ibu.


"Bu, ivan mau menikahi nya. Kalau bisa dalam waktu dekat ini !!"


Netra ibu melebar sempurna, bukan hanya terkejut tapi juga bingung. Ini pertemuan pertama ibu dan gadis bernama lira itu, tapi putra nya dengan yakin langsung meminta izin untuk menikahi gadis tersebut.


Ivan memegang tangan ibu..


"Bu, aku serius. Aku ingin membahagiakan nya, bu. Setiap menatap mata nya, aku hanya melihat luka disana. Aku tidak tahan, rasa nya sakit meskipun aku juga tidak tahu sebenarnya seberapa besar luka lira di masa lalu nya.."


Ibu menatap ivan dengan sayu.. "Lakukanlah nak, ibu akan mendukung apapun keputusan kamu. Ibu melihat seperti nya lira memang gadis yang baik, hanya saja...." Ibu bingung untuk melanjutkan kalimat nya..


Ivan tersenyum.. "Pakaian nya ???"


Ibu membalas dengan senyuman yang tertahan..


"Tidak masalah bu, lambat laun lira pasti bisa berubah menjadi diri nya sendiri lagi. Aku tidak akan melarang nya untuk merubah caranya dalam berpakaian, suatu saat dia pasti menyadari dan berubah dengan sendiri nya.."


Tanpa ivan dan ibu sadari, lira sejak tadi berdiri di ambang pintu kamar dan mendengar semua yang di bicarakan oleh ibu dan anak itu. Lira menyunggingkan senyum nya, ternyata ivan jauh lebih dewasa dari kelihatan nya.


"Lalu apa kamu rela jika tubuh nya menjadi santapan liar mata mata pria hidung belang di luar sana ??"


Deg!!


Lira yang tadi nya ingin menghampiri mereka, kembali menahan langkah kaki nya ketika mendengar pertanyaan ibu. Lira menunggu, ingin tahu apa yang akan menjadi jawaban ivan kali ini..


Ivan kembali tersenyum.. "Tentu saja aku tidak rela. Rasanya aku ingin mencongkel mata mereka semua yang berani menatap wanita ku seperti itu.." Ivan mengingat kejadian saat di hotel lalu, betapa pria itu sangat kesal dengan para pria yang menatap lira dengan sangat buas... "Tapi aku akan bersabar, bu. Bukankah Tuhan maha membolak balikkan hati manusia ?? Jadi tugas ku hanya tinggal berdoa saja, sisa nya biar Tuhan yang mengambil alih.."


Di sisi lain, ada lira yang kembali masuk ke dalam kamar. Dia menangis mendengar jawaban ivan tadi. Menangis bukan karena sedih, tapi justru karena terharu. Lira tidak menyangka ivan bisa memberikan jawaban jawaban di luar dari ekspektasi nya. Gadis itu mengira, ivan akan menyuruh nya ini dan itu, sebab menurut nya selama beberapa hari mengenal pria tersebut, ivan adalah sosok yang jutek dan suka seenak nya sendiri.


Tok tok tok..


Tiba tiba pintu kamar ibu di ketuk dari luar, lira buru buru menghapus air mata nya.


Ceklek..


Lira membuka pintu,


"Wah.. Ternyata baju ibu sewaktu muda sangat cocok di pakai sama kamu.." Ibu memuji lira yang begitu cantik dan anggun memakai pakaian nya sewaktu dulu. Sementara ivan mematung di tempat nya, padahal dia yang tadi mengetuk pintu kamar ibu, tapi setelah pintu itu di buka dia sendiri yang tidak mengatakan apapun...


Lira melambaikan tangannya di depan wajah ivan.


Ekehm.. deheman ivan yang tersadar dari lamunan nya..


"Ayo.." ivan mengajak lira untuk duduk di ruang tengah. Pria itu juga sudah membuat hot coklat untuk lira minum..


"Terimakasih.." ucap lira tersenyum seraya menerima secangkir minuman hangat dari ivan..


"Nak lira. Maaf bila ibu lancang. Apa nak lira bersedia menikah dengan putra ibu ??"


Uhuk!! Uhuk!!

__ADS_1


Lira yang sedang meneguk minuman nya pun langsung tersedak mendengar pertanyaan ibu yang tiba tiba..


"Astaga bu. Kenapa nggak pake basa basi dulu ??" ucap ivan seraya memberikan tisu untuk lira. Dia pun membantu gadis itu membersihkan pakaian nya yang sedikit terkena semburan minuman tadi..


Lira tersenyum.. "Kapan kira nya ibu dan ivan datang kerumah dan bertemu dengan kedua orang tua ku ??"


💮


🍀Di rumah yang lain...


"Ahh.. Akhirnya selesai juga.." ucap raga seraya merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur karin..


Karun tersenyum melihat suami nya yang seolah lelah, padahal sejak tadi dia tidak melakukan apapun..


"Kenapa kamu tersenyum melihat ku ?? Apa ada sesuatu di wajah ku ??" tanya raga memeriksa wajahnya, takut ada sesuatu yang memalukan menempel di wajah nya..


"Tidak ada. Aku hanya lucu saja. Kamu seperti kelelahan padahal kamu kan hanya memerintah para tukang saja.."


Raga ikut tersenyum, "Jangan kamu kira memerintah itu tidak lelah, itu jauh lebih lelah karena yang bekerja otak bukan nya otot.."


"Ya ya ya.. Terserah kamu saja.." kata Karin seraya mengeluarkan pakaian nya dari koper..


Raga tiba tiba turun dari tempat tidur, "Kamu mau kemana ??" tanya karin


"Aku haus!!"


Deg!!


Karin langsung bergegas menahan tangan suami nya, "Biar aku ambilkan, kamu tunggu saja di sini.." ucap nya gugup..


"Tidak perlu sayang. Aku bisa ambil sendiri.." balas raga menunjuk mini fridge di dalam kamar karin yang kini menjadi kamar mereka berdua..


"Tapi mas...."


Deg!!


Raga membuka mini fridge itu, betapa terkejut nya dia. Di dalam lemari pendingin itu sama sekali tidak ada air mineral, yang ada hanya minuman beralkohol berbagai jenis.


Raga menunduk dan menarik nafas dalam dalam. Tentu saja dia marah, tapi pria itu mencoba untuk menahan nya.


"M-mas..." karin melangkah lalu menutup mini fridge itu..


"Tolong ambil kan aku air minum.." ucap raga tanpa menoleh, dia harus segera meredam amarah nya.


"B-baik mas.." ucap karin dengan takut lalu keluar kamar setengah berlari mengambil air minum untuk suami nya..


Beberapa detik kemudian..


"I-ini mas..." karin memberikan segelas air dingin untuk raga dengan tangan yang sedikit gemetar.


Raga tersenyum..


Glek glek glek..

__ADS_1


Raga meminum air dingin itu sampai habis tak tersisa..


Karin menelan saliva nya, takut melihat ekspresi wajah suami nya yang terlihat sangat tidak ramah..


__ADS_2