Sebatas Menikahi

Sebatas Menikahi
Part 97


__ADS_3

"Mas...??"


"Hem..." jawab raga dengan memeluk tubuh sang istri yang masih polos dari belakang. Ya, benar. Saat mereka tiba di rumah dua jam yang lalu, raga langsung membawa sang istri masuk ke dalam kamar. Saat pintu kamar sudah tertutup sempurna, dengan tidak sabaran pria itu langsung membuka seluruh pakaian istri nya tanpa kecuali.


Dia benar benar tidak bisa menahan diri nya lagi. Raga menggagahi sang istri sampai karin benar benar kewalahan. Tentu saja karin tidak masalah, dia pun senang sebab meski suami nya itu tergesa gesa melakukan penyatuan, namun semua perlakuan nya begitu lembut dan sama sekali tidak menyakiti tubuh karin.


"Besok aku akan bertemu dia.."


Deg!


Raga terdiam. Pria itu mengira karin mengurungkan niatnya untuk bertemu dengan gadis itu, sebab wanita nya tersebut tidak lagi membahas bianca.


Merasa suami nya diam saja, karin memberanikan diri membalikkan tubuh polosnya yang tertutup selimut, untuk melihat dan berhadapan wajah dengan suami nya itu


"Kamu sudah berjanji untuk mengabulkan nya.." melihat wajah sang suami yang seolah tidak mengizinkan, karin pun mencoba mengingatkan agar raga tidak lagi melarang nya


Tanpa menjawab, raga mengangkat tangan nya untuk membawa sang istri dalam dekapan dada nya yang juga sama sama polos..


"Dimana kamu akan bertemu dia ?"


"Di salah satu restoran di mall x, mas.."


"Baiklah. Besok aku akan menemani mu!" ucap raga seraya mengusap kepala sang istri


"Kamu tidak marah kan, mas ??"


"Tidak.." jawab nya singkat membuat karin mendongakkan kepala nya untuk melihat kebohongan di kedua manik mata sang suami


"Maaf ya, mas.." ucap nya merasa bersalah


Raga menggeleng.. "Tidak sayang. Aku tidak marah. Aku hanya khawatir."


Karin melingkarkan tangan di pinggang suami nya dari balik selimut, lalu menempelkan wajah nya di ceruk leher sang suami..


"Asal kamu tau mas, saat ini aku lah yang paling khawatir.."


Setelah cukup lama berada di posisi itu, raga pun merasa sang istri tertidur dalam pelukan nya..


Perlahan raga melepaskan tangan sang istri, lalu berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah itu, dia menghubungi ayah rudi untuk menanyakan kabar putra nya.


"Malam ini kami menginap di rumah om baskoro, nak. Kenan tidak mau pulang.." ayah rudi langsung memberitahu raga apa yang terjadi disana saat sambungan itu terhubung "Sepertinya anak mu masih seru bermain dengan sepupu sepupunya yang dari luar negeri itu..."


"Oh. Yasudah ayah. Tidak apa apa. Besok raga yang akan menjemput.."


Panggilan itu pun berakhir, raga kembali ke dalam kamar karena tadi dia memilih ke balkon untuk berbicara di sambungan telepon tersebut, takut mengganggu sang istri yang masih terlelap dalam mimpi nya


"Sayang.." Raga berbisik mencoba membangunkan sang istri


eughhh!


Karin melenguh..

__ADS_1


"Bersihkan tubuh mu, dulu. Setelah itu kota tidur lagi.."


Dengan masih belum sadar sempurna, karin sambil memejamkan mata bangun dari tidurnya, lalu beranjak dari tempat tidur itu dengan mata tertutup..


Raga menggeleng kan kepala nya sambil tersenyum..


Hushh!


Lagi lagi dia mengangkat tubuh sang istri,


"Kamu bisa jatuh, jika berjalan dengan mata tertutup seperti ini!!" ucap nya sambil menggendong karin menuju kamar mandi..


"Aku lemes banget, mas. Ngantuk juga.." ucap karin jujur. Akhirnya raga memilih untuk membantu sang istri membersihkan diri.


"Mas, ken sudah pulang belum ??" tanya karin dengan lemas sambil kembali naik ke atas tempat tidur setelah memakai pakaian tidurnya yang juga di bantu oleh sang suami..


"Ken menginap di rumah om bas, sayang. Ayah dan ibu juga.."


"Oh...." itu kata terakhir yang karin ucapkan sebelum kembali memejamkan mata.


Entah kenapa tubuhnya terasa lemas dan tidak berdaya. Biasa nya karin masih mampu untuk membersihkan diri, tapi kali ini tidak. Karin benar benar seperti tidak memiliki energi..


Raga yang mengira sang istri hanya kelelahan pun akhirnya memilih untuk bergabung di samping karin, beristirahat, menyiapkan tenaga dan pikiran nya karena besok akan bertemu dengan bianca yang pasti nya akan menguras seluruh energi nya


*Keesokan pagi nya..


"Sayang, bangun. Sudah pagi.." Raga sudah dua kali mencoba membangunkan sang istri, namun karin tidak mau membuka mata nya..


"Astaga! Panas sekali" Raga terkejut setengah mati, saat merasakan suhu tubuh isti nya


Eughhh..


Raga yang panik pun mencoba kembali membangunkan sang istri. Dan berhasil, suara lenguhan terdengar lemah dari wanita nya tersebut


Raga buru buru keluar dari kamar nya, meminta bi yanti asisten rumah tangga nya untuk menghubungi dokter keluarga


Dalam waktu 30 menit, dokter keluarga yang di maksud pun sudah sampai di kediaman nya yang besar dan mewah.


"Bagaimana, dokter nila ? Apa yang terjadi pada istri saya.." ucap raga setelah dokter wanita itu memeriksa istri nya..


"Nyonya karina hanya demam, tuan. Tapi tuan, maaf bila saya lancang! Apa nyonya karina tengah hamil ??"


Deg!


"Hamil ??" Raga mengulangi ucapan dokter wanita itu


"Aku rasa tidak!" ucap raga yang memang yakin karin saat ini tidak sedang mengandung


"Baiklah. Saya akan meresepkan obat penurun panas yang aman untuk wanita hamil, berjaga jaga jika ternyata nyonya karina memang sedang mengandung." Raga mendengarkan ucapan dokter itu dengan perasaan tidak karuan.


Sebenarnya dokter nila sangat yakin kalau karina sedang berbadan dua. Terasa jelas dari denyut nadi sang pasien.


"Begini tuan, saran saya, lebih baik periksakan nyonya karina ke dokter obgyn. Semoga nyonya karina benar benar sedang mengandung.."

__ADS_1


Setelah mengatakan itu, dokter nila pun pamit. Sementara, raga membeku sambil terus menatap istri nya yang masih betah memejamkan kedua mata nya.


eughhh..


Kembali karin melenguh, dan menggerakkan tubuh nya yang terasa pegal..


"Mas.." ucap karin lemah


"Iya, sayang??" jawab raga yang sejak semalam tidak pernah jauh dari sang istri


"Kenan mana ? Sudah pulang belum ??"


"Belum. Tadi ibu menghubungi, katanya ken di ajak jalan jalan oleh keluarga disana. Sudah, kamu jangan pikirkan ken dulu. Dia pasti baik baik saja.."


Karina mengangguk pelan..


"Kamu makan dulu ya, sayang.." Raga mengambil semangkuk bubur yang sudah di siapkan oleh bi yanti tadi


Karin menggeleng.. "Tidak mau. Aku tidak ingin makan bubur.. Emphhh.." Karin menutup mulutnya, lalu perlahan bangun dan setengah berlari masuk ke dalam kamar mandi..


Raga yang melihat sang istri berlari begitu saja, langsung menyusul karin..


HOEK! HOEK!


Karin memuntahkan isi perut nya yang sebenarnya tidak ada isi apapun. Hanya cairan kuning yang keluar dari mulutnya..


Raga memijat tengkuk sang istri dengan sabar menemani karin di dalam kamar mandi


"Mas, ini menjijikan. Tunggu saja di luar.." ucap karin sambil berpegangan ke dinding kamar mandi


"Tidak sama sekali, sayang. Aku akan menemani mu.."


Dan setelah itu karin kembali muntah muntah,


"Sepertinya aku masuk angin.." ucap karin sambil menatap diri nya di cermin kamar mandi


Raga yang berada tepat di belakang sang istri pun mencoba memberanikan diri bertanya..


"Yank, kamu sudah datang bulan belum ??" tanya raga tanpa basa basi..


Deg!


Karin mematung sambil menatap diri nya dan sang suami dari balik cermin tersebut..


Raga tiba tiba melingkarkan tangan nya di perut sang istri dari belakang, mengusap perut karina dengan sangat lembut


"Apa maksud kamu, mas ??" tanya karin seolah tidak mengerti maksud suami nya


Pikiran karin berkelana, dia mengingat ingat kapan terakhir kali datang bulan.


Deg!


"Dua bulan lalu..." gumam karin yang ikut serta meletakkan tangan di perut nya.

__ADS_1


Mendengar jawaban sang istri, raga semakin mendekap karin lebih erat dan menatap sang istri penuh bahagia..


__ADS_2