
Tok..tok..tok..
“Ara ayo turun sarapan, sayang,” teriak ayah Ara dari balik pintu kamar putrinya.
“Iya, Ayah!” sahut Ara yang sedang merapikan jilbabnya. Setelah mendapat panggilan dari ayahnya, Ara dengan cepat menyambar tasnya yang berada di atas meja belajar, kemudian turun ke bawah untuk sarapan.
“Pagi, Ayah!” sapa Ara, kemudian mencium pucuk kepala ayahnya yang sudah lebih dulu duduk di kursi meja makan. Ara lalu ikut mendudukkan dirinya di kursi yang lain.
“Pagi, Sayang. Ayo cepat sarapan, nanti kamu telat,” ucap ayah Ara.
“Siap, Boss!” jawabnya tertawa kecil.
Seperti inilah suasana pagi hari yang terjadi di kediaman Hatono, ayah Ara. Ara adalah anak tunggal dari pernikahan Hartono dengan Indah, ibu Ara yang telah meninggal 10 tahun yang lalu, saat Ara masih berusia 11 tahun.
Tidak lama setelah kepergian Indah, selalu saja ada wanita yang mendekati Ara, memberi perhatian pada gadis kecil itu dengan maksud agar dapat memenangkan hati ayahnya. Tapi sayang Hartono tidak pernah menanggapinya, bahkan terkesan cuek pada wanita-wanita tersebut.
Hingga suatu hari salah satu teman dari mendiang istrinya yang hampir tiap hari ke rumahnya membuatnya sedikit terkesan karena melihat ketelatenannya mengurusi putrinya.
Perlahan Hartono membuka hatinya, bahkan telah berniat untuk meminta persetujuan dari Ara untuk menikahi wanita tersebut, mengingat putrinya memang masih sangat membutuhkan kasih sayang seorang ibu.
Tapi semua niatnya sirna tatkala ia mendapatkan wanita tersebut memaki dan menarik rambut Ara yang tengah menangis. Tidak sampai disitu, wanita itu bahkan menutup mulut Ara agar suara tangisan gadis kecil itu tidak terdengar oleh orang lain. Melihat itu, emosi Hartono memuncak hingga ke ubun-ubun. Dengan wajah yang memerah dan tangan yang terkepal Hartono melangkah cepat menghampiri wanita itu, menarik lengan wanita tersebut dan menghadiahinya dengan tamparan di pipinya.
Setelah kejadian hari itu Hartono benar-benar tidak pernah lagi memikirkan untuk menikah lagi, meski sebenarnya jauh di lubuk hatinya ia sangat merindukan sentuhan seorang wanita. Namun kesibukannya dalam mengurus restoran dan juga mengurus putri semata wayangnya berhasil mengalihkan perhatiannya.
Hartono selalu mengupayakan agar putrinya tidak kekurangan kasih sayang darinya. Ia berusaha menjadi seorang ayah yang juga seperti ibu buat Ara. Setiap hari bahkan meski sedang sibuk Hartono selalu menyempatkan membuat sarapan, makan siang, hingga makan malam buat putrinya. Dan karena kebiasaan itu, Ara menjadi tidak terbiasa dengan masakan orang lain. Ara hanya ingin makan jika itu masakan buatan ayahnya.
Setelah sarapan, Ara ke kampus di antar oleh ayahnya sebelum berangkat ke restoran miliknya. Awalnya ayah Ara hanya seorang koki di sebuah hotel bintang lima. Hingga beberapa tahun kemudian ia mampu membangun restorannya sendiri dan telah memiliki dua cabang di kota lain.
__ADS_1
“Ayah hati-hati,” ucap Ara sambil mencium punggung tangan ayahnya saat akan turun dari mobil.
Hartono menghadiahi kecupan di kepala putrinya, “Iya, Sayang. Belajar yang baik, kalau sudah pulang langsung telfon ayah, biar ayah yang jemput, jangan ikut sama teman kamu yang ayah tidak kenal kayak kemarin. Ayah tidak suka! Terkecuali kedua gadis genit itu,” ucap Hartono yang memang tidak suka kalau putri kesayangannya itu tidak mengikuti aturannya.
“Siap, Komandan!” jawab Ara terkekeh mendengar ayahnya menyebut kedua sahabatnya gadis genit.
“Sudah sana berangkat jangan marah-marah terus, nanti gula darah ayah naik lagi,” ucap Ara kemudian keluar dari mobil. “Hati-hati, jangan ngebut,” imbuhnya saat telah berdiri di samping mobil ayahnya sambil melambaikan tangannya. Hartono tertawa kecil sambil menganggukkan kepalanya mendengar nasehat putrinya, lalu kemudian kembali melajukan kendaraannya menuju restoran.
***
“Araaa…!”
Ara menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar teriakan salah satu sahabatnya yang tengah berlari ke arahnya. Ara memiliki dua orang sahabat di kampus, Arumi dan Miya.
“Bisa gak sih nggak teriak-teriak gitu, berisik, tuh anak-anak pada liat ke kita,” ucap Ara melebarkan pandangannya pada orang-orang di sekitarnya yang ikut berbalik saat mendengar teriakan Miya.
“Perempuan itu seharusnya bersikap lemah lembut, termasuk dengan suara yang memang juga harus di lembutkan, karena suara juga aurat, ” ucap Ara tersenyum pada Miya yang sudah berjalan sejajar dengannya.
“Iya..iya.. bener-bener yah, semenjak kamu berjilbab kamu jadi suka ceramah, kenapa gak sekalian jadi murid Mama Dedeh aja." Miya mencebikkan bibirnya, kemudian membuang nafasnya, “aku jadi rindu dengan Ara yang dulu,” imbuhnya.
Ara memang baru berjilbab setahun ini, setelah sebuah insiden menimpa dirinya.
“Awwww!” teriak Miya yang mendapatkan cubitan di perutnya dari Arumi.
“Ngapain dibahas lagi sih,” bisik Arumi pada Miya.
“Bahas apa sih, apa yang salah dengan ucapanku?” cerocos Miya sedikit emosi, tidak terima dengan apa yang di lakukan Arumi padanya. Arumi hanya memutar bola matanya jengah. Terkadang sahabatnya yang satu ini sangat lamban dalam berpikir dan selalu saja ceplas-ceplos saat berbicara.
__ADS_1
Ara hanya tersenyum melihat perdebatan kedua sahabatnya itu, dia sudah sangat tau dengan karakter kedua sahabatnya, dan dia dapat mengerti dengan keduanya.
“Dara?”
Panggilan seseorang di balik punggung ketiganya, membuat ketiganya seketika menghentikan obrolannya dan berbalik hampir bersamaan.
Senyum Miya mengembang seketika saat melihat sesosok pria tinggi dan tampan di hadapannya yang tidak lain adalah Bima Rahardi, salah satu dosen di kampus tersebut. Bima memang terkenal tampan dikalangan mahasiswi, pembawaannya yang murah senyum membuatnya disenangi banyak mahasiswi.
“Iya, Pak!” sahut Ara.
“Bisa ikut dengan saya sebentar?”
“Bisa, Pak!” jawab Ara cepat. Bima tersenyum kecil lalu meminta Ara mengikutinya dan tidak lupa pamit kepada Miya dan Arumi sebelum berlalu.
“Saya ikut Pak Bima dulu ya.” pamit Ara pada kedua sahabatnya, kemudian berlalu meninggalkan keduanya mengikuti langkah Bima.
Miya memicingkan kedua matanya menatap kepergian keduanya, “Kira-kira ada urusan apa ya Pak Bima memanggil Ara?” tanyanya penasaran. “Apa mungkin Pak Bima mau menembak Ara? Secara kan Pak Bima sangat sering mencuri-curi pandang pada Ara,” imbuhnya berspekulasi.
“Kepoooo!” ucap Arumi sambil menoyor kepala Miya, kemudian berlari dengan segera karena tidak ingin melihat kemarahan sahabatnya itu.
“Rumiiiiii!” teriak Miya yang tidak terima mendapatkan toyoran dari Arumi. Bagaimana dia bisa pintar kalau sahabatnya itu selalu saja memukul kepalanya.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa untuk berbagi Like, Komen dan Vote nya ya teman-teman 🤗❤