Sebuah Luka

Sebuah Luka
Chapter 21


__ADS_3

Di kediaman keluarga Nahar Fachary, semua anggota keluarga telah duduk di meja makan untuk sarapan bersama.


"Kalian dari mana saja kemarin? mama sampai tidak melihat kalian pulang semalam," tanya Mama Reta pada Rissa. Namun saat melihat putrinya itu tidak mencoba menanggapi, ia beralih menatap Ibra, meminta jawaban pada putranya itu.


"Kami menemani teman Rissa di rumah sakit seharian, ayahnya kecelakaan." Ibra menjawab tanpa menatap mamanya.


Setelah mendengar pertanyaan mamanya, membuatnya kembali teringat dengan sosok Ara. Wajah gadis itu terbayang jelas di matanya. Wajah yang begitu pilu dengan mata yang membengkak karena terus menangis seharian. Apa mungkin gadis itu masih terus menangis hingga saat ini?


"Kalian menemaninya dari pagi hingga malam?" tanya Mama Reta, kemudian mengalihkan pandangannya pada putrinya yang duduk tepat di sebelahnya, "memangnya ayah siapa yang kecelakaan? ayah pacar kamu?" tanya Mama Reta, tidak begitu suka.


Rissa berdecak, merasa kesal dengan tuduhan mamanya, kemudian beralih menatap wanita paruh baya yang telah melahirkannya itu, "Mama apaan sih. Ayah Ara, sahabat Rissa waktu SMA."


Mama Reta terkejut mendengar jawaban putrinya, "Ayah Ara? Lalu bagaimana keadaannya?" tanyanya khawatir.


"Pak Hartono?" tanya Papa Nahar, ayah Rissa. Yang memang juga mengenal Hartono.


"Iya, Pa. Sekarang Om Hartono koma. Dokter mengatakan padaku, kalau kemungkinan Om Hartono untuk pulih sangat kecil.... Rissa kasihan sama Ara, bagaimana kalau ayahnya benar-benar pergi."


"Jangan berpikir yang tidak-tidak dulu. Sebaiknya kita doakan, semoga Pak Hartono bisa pulih dari komanya."


Ucapan Papa Nahar membuat Ibra dan Mama Reta mengangguk membenarkan. Tapi tidak dengan Rissa yang tidak begitu yakin kalau pria paruh baya itu bisa pulih.


"Ibra..."


Panggilan Papa Nahar membuat Ibra yang tadinya fokus pada makanannya, beralih menatap pria paruh baya itu.


"Karena hari ini hari pertama kamu ke kantor, papa harap kamu bisa memberi kesan yang baik pada karyawan papa. Papa harap kamu bisa bekerja dengan baik. Kamu sudah bukan remaja lagi, umur kamu sudah dua puluh delapan tahun, sudah bukan waktunya untuk bermain-main. Dan kebetulan juga papa akan mengadakan rapat dengan para kolega papa hari ini, jadi papa akan mengenalkanmu pada mereka," ucap papa Nahar.


"Terserah papa saja!" jawab Ibra.


Sebenarnya Ibra tidak begitu senang bekerja di perkantoran. Karena itu selama ini ia selalu membuka bisnis sendiri. Meski tidak pernah mendapat dukungan dari papanya. Dan karena itu pula, selama ini hubungannya dengan papanya tidak begitu baik.


Namun setelah semua bisnis yang ia jalankan tidak berhasil, membuatnya mau tidak mau mengikuti perintah papanya untuk bekerja di kantor papanya. Dan itu membuat hubungan keduanya menjadi sedikit lebih baik.


***


Siang ini Ara dan Arumi masih berada di depan ruang ICU untuk melihat kondisi tubuh Hartono.


Dan kehadiran seseorang membuat keduanya mengalihkan pandangannya.


"Chef!" sapa Ara pada pria yang berjalan menghampirinya.


Arumi yang juga berada disana, mengalihkan pandangannya ke ponselnya. Setelah sejenak melihat pria yang telah berdiri tidak jauh dari tempatnya duduk saat ini.


"Bagaimana keadaan Pak Hartono?" tanya Dion pada Ara.


"Ayah koma," jawab Ara, yang kemudian menjelaskan kondisi tubuh ayahnya.


Dan percakapan mereka harus terjeda, saat Arumi meminta izin pada Ara untuk keluar.


"Aku keluar dulu ya, aku akan cari makanan," ucap Arumi pada Ara, tanpa mengalihkan pandangannya pada pria yang telah membuat luka di hatinya itu. Meski ia sadar kalau saat ini pria itu terus saja menatapnya.


Mata Dion terus saja mengikuti langkah Arumi, hingga gadis itu tidak terjangkau dari penglihatannya. Sebelum akhirnya kembali menatap Hartono yang terbaring di atas brankar.

__ADS_1


"Bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Dion tanpa mengalihkan pandangannya dari tubuh mantan atasannya itu.


"Setelah mengecek dash cam milik truk yang menabrak Ayah. Kata polisi, mobil Ayah lah yang tiba-tiba menyebrang melewati median jalan, membuat sopir truk itu tidak sempat menghindari Ayah," ucap Ara menjelaskan. "Sepertinya ayah mengantuk," imbuhnya lemah.


Percakapan mereka kembali harus terhenti saat seorang pria paruh baya menghampiri keduanya.


"Om Rudi ...." sapa Ara pada orang kepercayaan ayahnya.


Sebenarnya Rudi sudah datang semalam untuk menjelaskan tentang kronologi kecelakaan yang menimpa Hartono.


"Ara, bisa kita bicara berdua?" tanya Rudi pada Ara, lalu sejenak menatap ke arah Dion.


Dion yang mengerti dengan maksud pria paruh baya itu, kemudian pamit pada Ara dan berjanji akan kembali lagi nanti.


Setelah keluar dari ruangan tersebut, Dion melangkahkan kakinya menyusuri lorong rumah sakit sambil sesekali mengedarkan pandangannya. Berharap dapat bertemu dengan gadis yang entah mengapa sangat ia rindukan kehadirannya.


Dan sepertinya keberuntungan memihaknya. Gadis yang dicarinya terlihat berjalan mendekat di hadapannya.


Arumi berjalan dengan menenteng sebuah kresek berisi makanan di salah satu tangannya. Dan saat melihat Dion yang berjalan semakin dekat dengannya, membuat Arumi dengan cepat menundukkan pandangannya. Berharap agar pria itu mengabaikan kehadirannya.


"Arumi..."


Panggilan Dion membuat Arumi mau tidak mau menghentikan langkahnya dan berbalik pada pria itu.


"Bisa kita bicara sebentar?" tanya Dion, saat gadis itu melihat ke arahnya.


"Apa itu penting?" tanya Arumi.


"Kalau tidak begitu penting, lain kali saja. Ini bukan waktu yang tepat untuk sekedar berbasa-basi."


Arumi yang hendak pergi meninggalkan pria itu, dengan terpaksa menghentikan langkahnya saat Dion dengan cepat menahan pergelangan tangannya.


"Maaf..." lirih Dion.


Arumi mengernyit, kembali menatap pria itu, "untuk apa?"


"Apa kau membenciku?" tanya Dion, tanpa menjawab pertanyaan Arumi.


"Tidak juga."


"Kalau begitu jangan pernah menghindariku. Tidak bisakah kita bersikap seperti biasanya?" pinta Dion.


"Seperti biasa? maksud anda, apa saya harus terus bersikap genit pada tunangan orang? Bersikap seperti wanita murahan? Saya malah berharap tidak akan bertemu dengan anda lagi!" Arumi menarik kasar tangannya yang berada di genggaman Dion, kemudian berlalu meninggalkan pria itu.


Arumi melangkah dengan cepat, agar bisa segera menjauh dari pria itu. Ia tidak pernah menyangka akan bersikap kasar pada pria yang sampai saat ini masih menempati hatinya itu.


Seandainya saja pria itu tau kalau saat ini ia rindu. Benar-benar rindu padanya. Rindu yang setiap hari selalu bertambah, tanpa tau caranya untuk berkurang. Dan itu sangat menyakitkan untuknya, sebab ia tak mampu menyampaikan rasa itu.


***


Diwaktu yang bersamaan, Ara dan Rudi tengah duduk di sofa yang berada di ruangan yang di tempati Ara untuk istirahat.


"Apa yang ingin Om bicarakan?" tanya Ara.

__ADS_1


"Apa kamu tau, kalau restoran ayahmu telah dipindah tangankan?"


"Maksud, Om?" tanya Ara tidak mengerti.


"Sepertinya kamu juga tidak tau. Saya sangat terkejut saat tadi, pagi-pagi sekali seseorang mengirimkan email pada saya yang berisikan dokumen pemindahan kepemilikan restoran ayah kamu pada seseorang yang bernama Rafael Jordan."


"Restoran di kota ini?"


"Iya. Beserta kedua restoran yang berada di luar kota."


Ara sedikit tersentak mendengarnya, "bagaimana bisa?"


"Itulah yang sedang saya cari tahu. Saya sangat terkejut, karena ini begitu tiba-tiba. Saya pikir ayah kamu pernah bercerita denganmu, karena beliau juga tidak pernah memberitahu saya tentang semua ini."


"Ayah tidak pernah mengatakan apapun," ucap Ara menyayangkan. "Tapi, beberapa hari ini Ayah memang terlihat aneh. Ayah sering melamun seperti sedang memikirkan sesuatu. Tapi, saat saya tanya kenapa, Ayah selalu bilang tidak apa-apa."


"Kalau begitu saya akan mencari tau semuanya. Saya juga akan meminta penyelidikan ulang terhadap kasus kecelakaan ini. Saya khawatir, jangan sampai ini sesuatu yang direncanakan." Rudi merasa curiga dengan semua kejadian yang begitu tiba-tiba menurutnya.


"Apa ayah memiliki musuh?" tanya Ara cemas.


"Entahlah. Tapi, di dalam dunia bisnis semua orang berpeluang menjadi musuh. Orang yang sangat dekat dengan kita pun bisa tiba-tiba menjadi musuh. Bukan karena kita melukainya, tapi kadang rasa iri membuat seseorang membenci kita tanpa sebab." ucap Rudi.


"Terlebih dahulu saya akan mencari tau siapa orang yang bernama Rafael Jordan ini," imbuhnya memicingkan matanya.


"Apa mungkin dia anak Om Jordan?" ucap Ara pelan.


"Om Jordan?" tanya Rudi memastikan.


"Iya... Om Jordan adalah teman Ayah. Kalau Ara tidak salah, Ayah membangun restorannya dengan bantuan dana dari Om Jordan saat itu. Tapi Ara juga tidak begitu mengerti, karena Ara masih SMP saat itu. Ara hanya mendengar sekilas semuanya."


Rudi mengangguk-anggukan kepalanya, " sepertinya saya mulai mengerti, kalau begitu om pergi dulu." Rudi berdiri dari duduknya.


"Iya, Om. Terimakasih sudah mau membantu."


"Itu sudah menjadi tugas saya. Jaga ayah kamu baik-baik," ucap Rudi menepuk bahu Ara, kemudian berlalu keluar.


Saat Rudi keluar, Arumi masuk ke dalam ruangan tersebut. Arumi sudah menunggu diluar sedari tadi. Karena tadi saat akan masuk, ia melihat Ara yang terlihat berbicara serius dengan Rudi, maka dari itu ia kembali menutup pintu dan memilih menunggu diluar.


"Apa terjadi sesuatu?" tanya Arumi penasaran.


Ara mengangguk dan perlahan menceritakan semuanya pada Arumi.


"Kalau benar Ayah dengan sengaja dicelakai, maka kita harus memenjarakan orang itu. Bagaimana bisa ada orang sejahat itu." ucap Arumi kesal.


"Itu hanya pemikiran Om Rudi. Kita nggak boleh berpikiran yang aneh-aneh dulu. Tunggu Om Rudi mencari tau kebenarannya dulu," ucap Ara.


.


.


.


Jangan lupa tinggalkan like dan komennya ya kakak 🤗❤

__ADS_1


__ADS_2