Sebuah Luka

Sebuah Luka
Chapter 14


__ADS_3

Mobil milik Hartono berhenti tepat di depan kampus Ara. Dan setelah pamit serta mencium tangan ayahnya, Ara turun dari mobil tersebut.


“Assalamualaikum, Dara...” sapa seseorang saat Ara baru saja turun dari mobil ayahnya.


“Waalaikumsalam, Pak," jawab Ara canggung melirik ayahnya yang berada di dalam mobil.


Mengerti dengan keberadaan Hartono, Bima menundukkan kepalanya berniat menyapa pria paruh baya itu.


“Assalamualaikum, Om!” sapanya mengulas senyum.


“Waalaikumsalam... ingat jangan suka berdua-duaan, belum muhrim,” sahut Hartono diiringi dengan tawa kecil.


“Iya, Om. Pasti,” jawab Bima yang ikut tertawa kecil.


“Ya sudah, kalau begitu saya pamit ya.”


“Iya, Om. Hati-hati!”


Setelah kepergian Hartono, Bima dan Ara berjalan beriringan masuk ke dalam kampus.


“Bapak dari mana?” tanya Ara.


“Ya dari rumahlah, kamu ini gimana sih.”


“Maksud saya mobil Bapak mana? kok turun disini?” Ara melebarkan pandangannya, mencari keberadaan mobil dosennya itu.


“Ah iya, tadi saya naik taksi, mobil saya masuk bengkel,” jelasnya tersenyum.


Ara hanya mengangguk, kemudian menundukkan pandangannya memperhatikan langkah kakinya yang ternyata seirama dengan langkah kaki dosennya itu, dan hal itu membuatnya tertawa kecil. Untuk hal sekecil itu pun mampu membuatnya merasa amat bahagia. Apa sebegitunya ia menyukai pria itu.


“Oh iya, Miya kemana? beberapa hari ini saya tidak melihatnya,” tanya Bima.


“Dia pulang ke rumah orang tuanya.”


“Kenapa? sakit?”


“Tidak. Orang tuanya berniat menjodohkannya dengan anak teman papanya, karena itu Miya diminta pulang dulu untuk diperkenalkan dengan laki-laki pilihan papanya itu,” jelas Ara.

__ADS_1


“Wahh Miya hebat ya, diam-diam sudah mau menikah saja.”


“Tidak langsung nikah kok, Pak… kata mamanya kalau mereka cocok mereka akan tunangan dulu, nikahnya nanti setelah tamat kuliah katanya.”


“Ide yang bagus,” ucap Bima menganggukkan kepalanya mendengar penjelasan gadis di sampingnya. Dan kedua sudut bibirnya terangkat saat sebuah ide terlintas di kepalanya, “kamu mau tidak seperti Miya?” tanyanya seraya menghentikan langkahnya.


Ara dibuat terkesiap saat mampu mengartikan maksud dari ucapan dosennya itu. “Maksud, Bapak?” tanyanya mencari pembenaran atas apa yang ia pikirkan saat ini.


“Kalau saya mengajak kamu bertunangan juga, bagaimana?” Bima menatap Ara serius.


Ara hanya terdiam menatap lekat pria di hadapannya, sebelum akhirnya tersadar dan mengedarkan pandangannya melihat mahasiswa yang berlalu lalang di sekitarnya. Tidak sedikit yang menjadikan mereka bahan perhatian. Bukan waktu yang tepat untuk membicarakan ini, pikirnya.


Setelah beberapa saat menunggu jawaban gadis di hadapannya, Bima kembali membuka suara saat ia tidak mendapat jawaban dari gadis itu, “setidaknya agar ada ikatan di antara kita,” ucapnya lagi.


“Tapi, Pak__”


“Kalau kamu setuju saya akan berbicara dengan ayah kamu, dan setelah itu saya akan memberitahu orang tua saya.” Bima terus saja menatap gadis di hadapannya yang terlihat sedang berpikir, “hm?” gumamnya meminta jawaban.


“Baiklah, terserah Bapak saja,” jawab Ara mengangguk pada akhirnya.


“Ya sudah sampai berjumpa di kelas. Setelah kelas saya selesai saya akan menemui ayah kamu.”


“Iya, kata orang niat baik jangan di tunda-tunda." Bima tersenyum seraya mengusap kepala Ara dan berlalu meninggalkan gadis itu.


Ara kembali mengedarkan pandangannya, merasa malu jika sampai perlakuan Bima padanya dilihat oleh orang lain. Dan benar saja, beberapa mahasiswa yang melihatnya, melemparkan senyum menggoda pada Ara.


Ara kembali melanjutkan langkahnya sambil menundukkan kepalanya. Namun sebuah pertanyaan dari seseorang membuatnya kembali menaikkan pandangannya.


“Apa kalian punya hubungan spesial?” tanya seorang mahasiswi yang bernama Gita.


“Ya?” sahut Ara bingung.


“Sepertinya kau dan Pak Bima sangat dekat, apa kalian berpacaran?”


“Tidak juga, kami hanya sekedar dekat,” jawab Ara.


“Tapi sepertinya Pak Bima menyukaimu. Apa…” Gita menaikkan sebelah alisnya, “Pak Bima tau semua tentangmu?” tanyanya menyeringai.

__ADS_1


“Maksud kamu?” Ara menautkan kedua alisnya, tidak mengerti maksud ucapan wanita itu.


“Tidak apa-apa, aku hanya bercanda,” jawabnya tertawa kemudian berlalu meninggalkan Ara.


Setelah kepergian Gita, Ara terus saja memikirkan ucapan wanita itu. Hingga ia dapat mengerti maksud dari kata-kata yang dikeluarkan wanita itu.


Jika memang benar Bima akan mengajaknya bertunangan, bukankah seharusnya ia memberi tahu segala tentang dirinya pada pria itu. Dan apakah pria itu akan menerima segala kekurangannya.


"Hei, kok melamun?" tanya Arumi, melihat Ara yang masuk ke dalam kelas dengan tatapan kosong. "Kamu ada masalah?"


"Ah, nggak kok!" jawab Ara cepat. Mengetahui sifat Arumi yang gampang marah, membuatnya memutuskan untuk tidak memberi tahu tentang apa yang dikatakan Gita padanya.


"Pulang kuliah kita ke restoran ya?" ajak Arumi.


"Iya, boleh." Ara menganggukkan kepalanya seraya mendudukkan dirinya di salah satu bangku.


"Ahhh... jadi tidak sabar pengen ketemu sama pujaan hatiku," ucap Arumi seraya membayangkan wajah tampan Dion.


Hanya dengan melihat wajah chef pujaan hatinya itu, hati Arumi sudah berbunga-bunga. Entah bagaimana jadinya jika sampai pria itu membalas perasaannya, apa mungkin hatinya sudah jadi taman bunga.


Beberapa menit kemudian Bima terlihat masuk ke dalam ruangan kelas Ara dengan senyum yang mengembang, membuat siapa saja yang melihatnya seakan tersihir dan ikut tersenyum karenanya.


Tidak terkecuali dengan Arumi. "Ada apa dengannya?" tanya Arumi tanpa melepas senyumannya.


Arumi mengalihkan pandangannya pada Ara, saat matanya berhasil menangkap dosennya itu melempar pandangan pada sahabatnya itu.


"Atau jangan-jangan... kalian udah jadian ya?" tanya Arumi antusias.


"Apaan sih, jangan ngarang," bantahnya menahan diri untuk tidak tersenyum. Apa jadinya jika ia memberi tahu sahabatnya itu kalau Bima berniat mengajaknya bertunangan.


Ara mengalihkan pandangannya ke depan. Menatap wajah tampan dosennya itu, membuat Ara tersenyum kecil. Betapa indah maha karya Tuhan yang ada di hadapannya itu. Namun Ara kembali termenung setelah kembali mengingat ucapan Gita padanya.


.


.


.

__ADS_1


Bagi like dan coment nya yaa teman-teman 🤗❤


__ADS_2