
Sudah sepuluh hari Hartono terbaring koma di rumah sakit. Selama itu pula Rudi menyelidiki semua yang terjadi pada Hartono. Namun semua hasilnya tetap sama, apa yang terjadi pada Hartono, murni sebuah kecelakaan.
Saat ini Ara hanya berdua dengan ayahnya di ruang perawatan. Karena kedua sahabatnya pergi ke kampus.
Setelah kecelakaan ayahnya, Ara sudah tidak pernah lagi ke kampus. Ia tidak ingin meninggalkan ayahnya, karena tidak ingin jika ayahnya sadar nanti, ia tidak melihatnya.
Setelah membersihkan tubuh ayahnya, Ara mendudukkan dirinya di samping ayahnya. Menatap lekat wajah pria paruh baya yang terlihat begitu enggan membuka kedua matanya itu.
Ara meraih jemari ayahnya, menggenggamnya, dan meletakkan nya di salah satu pipinya, "sudah seminggu lebih Ayah berbaring disini, apa Ayah tidak bosan?" ucapnya yang kembali meneteskan air matanya.
"Ara sudah sangat bosan dengan masakan Bi Ratih. Ara rindu dengan masakan Ayah. Tidak bisakah Ayah bangun sebentar saja membuatkan makanan untuk Ara. Setelah itu terserah kalau Ayah ingin tidur lagi."
"Sangat membosankan berbicara dengan Ayah. Tidak bisakah Ayah menjawab ucapan Ara?" ucapnya lagi yang sudah sesegukan.
Ara menjatuhkan wajahnya di sisi ayahnya. Menikmati rasa sakitnya, menahan rindu pada orang yang berada tepat di hadapannya.
Tok..tok..tok...
Mendengar suara ketukan di kaca ruang pembatas di ruangan tersebut, membuat Ara mendongak dan dengan segera menghapus air matanya.
Ara keluar dari ruangan tersebut dan menghampiri Rissa yang sudah berdiri menunggunya di depan.
"Berhentilah menangis. Aku membawakanmu makan siang, ayo makan bersama," ucap Rissa menunjukkan sebuah kresek berisi makanan yang ditentengnya.
Dan setelah Ara mengiyakan perkataan sahabatnya itu, keduanya kemudian beranjak menuju ruang yang biasa di tempati Ara beristirahat.
"Hari ini adalah hari terakhirku magang, mungkin aku tidak bisa lagi mengunjungimu sesering ini," ucap Rissa.
"Iya tidak apa, aku mengerti. Kau pasti akan sangat sibuk setelah ini," jawab Ara.
"Tapi kau jangan khawatir, setiap ada waktu luang, aku akan menyempatkan untuk kesini," ucap Rissa berjanji. "Tapi aku lebih berharap ayah kamu bisa segera pulih, dan aku tidak perlu mengunjungimu disini. Kita bisa bertemu di rumahmu," imbuhnya tersenyum.
"Iya, terimakasih. Terimakasih untuk semuanya. Dan maaf telah merepotkanmu beberapa hari ini," ucap Ara yang merasa tidak enak.
"Hei, ada apa ini! Apa aku orang lain bagimu? Apa kau tidak menganggapku sahabatmu lagi?" ucap Rissa kesal. "Cehh kau sangat jahat," imbuhnya mencebikkan bibirnya.
"Nggak kok. Kau akan selamanya menjadi sahabatku."
"Kalau begitu, jangan berbicara seperti itu padaku. Dan berhentilah berkata maaf ataupun terimakasih. Dan jangan pernah merasa sungkan padaku, jika memang aku sahabatmu."
"Iya iya, kau ini cerewet sekali," ucap Ara tertawa kecil.
"Ya sudah, ayo makan. Kau harus menghabiskannya." Rissa sudah lebih dulu menyuapkan makanan ke mulutnya.
Saat keduanya asyik menikmati makanannya, ponsel Rissa tiba-tiba berbunyi.
"Halo, iya, Kak."
"...."
"Aku di ruangan Ara."
"...."
"Aku sedang makan, tidak bisakah kakak kesini, sebentar saja."
__ADS_1
"...."
"Oke, aku tunggu."
"Aku harus segera menghabiskan makananku, kalau tidak, kak Ibra akan marah-marah. Kau juga makanlah cepat," ucap Rissa pada Ara.
Baru juga Rissa menyuapkan makanannya, ponselnya kembali berbunyi. Yang ternyata panggilan dari kepala rumah sakit yang memintanya keruangannya.
Setelah mengakhiri panggilan telfonnya, Rissa memberi tahu Ara bahwa ia ada panggilan dan harus keluar.
"Kalau Kak Ibra kesini, suruh dia menungguku. Aku tidak akan lama." Tanpa menunggu jawaban Ara, Rissa bergegas keluar dari ruangan tersebut.
Selang beberapa menit, terdengar suara ketukan pintu. Membuat Ara menghentikan makannya, dan meneguk minuman yang ada di hadapannya.
"Kak Ibra." sapa Ara yang baru saja selesai membereskan meja bekas makannya.
Ibra mengedarkan pandangannya, mencari sosok adiknya, "saya pikir Rissa ada disini."
"Iya, tadi memang disini, tapi tiba-tiba saja dia mendapatkan panggilan. Dan dia menyuruh Kak Ibra menunggunya disini, katanya dia tidak akan lama," ucap Ara.
Ibra menganggukkan kepalanya, lalu berjalan masuk menghampiri Ara. "Bagaimana keadaan ayah kamu?" tanyanya.
"Masih belum ada perubahan. Sudah seminggu lebih, dan kata dokter belum ada perkembangan dengan kondisi tubuh ayah."
"Kamu yang sabar, saya yakin ayah kamu akan segera pulih."
"Iya terimakasih. Sebaiknya kakak duduk dulu," ucap Ara menawarkan.
Ibra menganggukkan kepalanya, kemudian mendudukkan dirinya. "Kamu hanya sendiri?" tanyanya.
"Lalu bagaimana denganmu? apa kau tidak kuliah?"
"Saya akan masuk, saat Ayah sudah baikan," jawab Ara tersenyum kecil, dan Ibra kembali mengangguk.
"Apa kamu tidak punya keluarga lain yang bisa membantumu menjaga ayahmu?"
"Ada, Bibi. Tapi saya tetap ingin menjaga Ayah sendiri. Bibi sudah lelah mengurus rumah dan menyiapkan kebutuhanku," ucap Ara.
Dan saat menangkap wajah Ibra yang terlihat bingung, membuat Ara berpikir, mungkin bukan jawaban itu yang dimaksud pria itu. Hingga Ara kembali berucap, "Ayah dan Ibu saya sama-sama berasal dari panti asuhan. Mereka hidup dan tumbuh di panti asuhan yang sama. Karena itu saya tidak memiliki keluarga lain, hanya mereka berdua. Tapi, selain mereka, saya masih punya Bi Ratih dan kedua sahabatku," jelasnya.
Ibra sedikit terkesiap mendengar penjelasan Ara. Dia baru tau kalau gadis di hadapannya itu lahir dari kedua orang tua yatim piatu.
"Tapi, bukannya perawat selalu memantau kondisi tubuh ayah kamu 24 jam. Dan kamu hanya akan meninggalkan ayahmu beberapa jam saat berkuliah." Ibra sedikit menyayangkan jika gadis di hadapannya itu harus meninggalkan kuliahnya.
Baru saja Ara akan menanggapi ucapan pria itu, namun suara pintu terbuka mengurungkan niatnya, dan beralih menatap ke arah pintu.
"Seharusnya kalian berdua lebih menghargaiku, karena biar bagaimanapun aku lebih tua dari kalian." Suara Rissa terdengar saat pintu sedikit terbuka, namun tidak menampakkan seorangpun yang masuk.
"Tapi kata Ara kau benci dianggap tua. Kau juga tidak mau dipanggil kakak kan oleh Ara," sahut Arumi.
"Aku tidak meminta kalian memanggilku kakak, aku hanya minta kalian lebih menghormatiku sebagai orang yang lebih tua dari kalian."
"Tua setahun doang bangga." Arumi menaikkan salah satu sudut bibirnya, memandang remeh gadis di hadapannya.
"Apa kami harus mencium tanganmu setiap kali kami bertemu denganmu?" tanya Miya pada Rissa.
__ADS_1
"Hei, aku tidak setua itu. Kau pikir aku ibu-ibu apa!" ucap Rissa sewot.
"Ada apa ini?" tanya Ibra, saat mendapati adiknya sedang beradu mulut dengan kedua sahabat Ara.
Rissa yang melihat kemunculan Ibra dan Ara, dengan cepat mengalihkan pandangannya pada sahabatnya itu, "Ara, apa kau tau, tadi saat akan kesini, aku memanggil-manggil mereka, tapi mereka hanya berbalik melihatku lalu kembali melanjutkan langkahnya tanpa memperdulikanku. Seharusnya kan mereka menungguku, atau setidaknya mereka membalas sapaanku, iya kan!" adunya.
"Astaga, kau kekanak-kanakan sekali." Ibra menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah adiknya.
"Iya, betul, Kak." sahut Miya. Meski sebenarnya ia tidak tau siapa lelaki yang saat ini bersama dengan Ara.
"Iya, maafkan mereka. Merekalah yang kekanak-kanakan." Ara tertawa kecil mendengar aduan sahabatnya itu, kemudian beralih menatap Arumi dan Miya, "ya sudah, cepat minta maaf."
"Itukan hanya masalah sepele," ucap Arumi, tidak terima.
"Iya!" sahut Miya membenarkan.
"Udah nggak apa-apa, minta maaf aja," pinta Ara. Namun kedua sahabatnya itu tetap saja enggan melakukannya.
Ara yang merasa jengah melihat tingkah kedua sahabatnya itu, secara spontan menarik kuping Arumi dan Miya, hingga membuat keduanya meringis kesakitan. Membuat Rissa tertawa puas melihatnya.
Ara melirik canggung ke arah Ibra yang ada di sampingnya, merasa malu dengan tingkah kedua sahabatnya.
"Cepat minta maaf, biar bagaimanapun Rissa juga sahabatku. Jadi mulai sekarang dia juga menjadi sahabat kalian," ucap Ara penuh penekanan.
"Apaan, aku tidak suka cewek manja kayak dia," ucap Arumi ketus, seraya menggosok-gosok telinganya yang tadi ditarik Ara.
"Iya!" sahut Miya mengangguk.
"Arumiii..." ucap Ara.
Arumi membuang kasar napasnya, lalu berbalik pada Rissa, "iya iya, maaf!" ucapnya setengah hati.
"Iya, maaf juga!" ucap Miya, saat Ara beralih menatapnya.
"Kau dari tadi hanya iya iya saja. Padahal ini kan idemu." Arumi menatap Miya, yang memang telah memberi ide untuk mengabaikan panggilan Rissa tadi.
"Terserah!" Miya berlalu begitu saja, masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Ya sudah, ayo kita pulang," ajak Ibra pada Rissa.
"Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu ya. Jaga diri baik-baik, kalau ada apa-apa telfon aku," ucap Rissa pada Ara. Membuat Ara mengiyakan ucapannya.
Rissa kemudian beralih pada Arumi, "aku pulang dulu ya sahabat baru," ucapnya pada Arumi, seraya mencubit pipi wanita itu.
"Apaan sih!" Arumi yang merasa kesal dengan cepat mengangkat tangannya, berniat memukul tangan Rissa yang menempel di pipinya. Namun niatnya terhenti saat dengan cepat Rissa menarik tangannya dan berlalu meninggalkannya begitu saja sambil tertawa.
Ibra hanya menggeleng melihat tingkah kedua gadis itu. Namun berbeda dengan Rissa yang merasa puas melihat wajah kesal Arumi.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan like dan komennya ya kakak 🤗❤
__ADS_1