Sebuah Luka

Sebuah Luka
Chapter 56


__ADS_3

Setelah berganti pakaian dan sholat isya, Ara bersiap-siap untuk tidur. Namun saat akan naik ke atas tempat tidurnya, Ara melihat kado yang tadi diberikan Ibra tergeletak disana.


"Bukalah," kata Ibra, yang saat ini berdiri di belakang Ara.


Ara meraih kado tersebut dan membukanya dengan cepat, sangat penasaran dengan hadiah yang diberikan suaminya itu. "Ini...." Ucapan Ara terputus, saat mengangkat sebuah lingerie berwarna merah.


Ibra tersenyum dan memeluk Ara dari belakang. "Pakailah!" titahnya.


"Nggak, ini terlalu seksi," tolaknya, yang kemudian membalikkan tubuhnya pada Ibra.


"Kan hanya dipakai di kamar saja." Ibra meraih lingerie tersebut dan membentangkannya di hadapan Ara. "Sangat cocok untukmu," ucapnya tersenyum menggoda.


"Tapi Ara malu," ucap Ara.


"Malu denganku? Ayolah, hanya aku yang melihatnya ... dipakai ya?" pinta Ibra.


"Baiklah!" Ara meraih lingerie tersebut dari tangan Ibra dan masuk ke dalam kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.


Ibra mengikuti langkah Ara, dan menunggu istrinya itu di depan pintu kamar mandi. Sudah tidak sabar untuk melihat istrinya menggunakan hadiah pemberiannya itu.


Sedang, Ara yang telah mengganti pakaiannya dengan lingerie, merasa ragu untuk keluar dari sana. Berulang kali ia melihat pantulan dirinya di cermin, dan hal itu membuatnya semakin malu saja untuk keluar.


Tapi, ia tidak mungkin juga terus berada di dalam kamar mandi.


Ceklek...


Mendengar suara pintu kamar mandi yang terbuka, membuat Ibra memfokuskan pandangannya pada pintu tersebut.

__ADS_1


"Cantik!" Ibra menarik kedua sudut bibirnya saat melihat Ara yang terlihat begitu cantik menggunakan lingerie yang begitu kontras dengan kulit putihnya.


Ara memegang bagian dada dan pundaknya, bermaksud menutupi bagian yang terasa begitu terbuka untuknya. "Ini terlalu terbuka," ucapnya yang kemudian menarik-narik turun bagian ujung lingerienya yang panjangnya hanya sejengkal di atas lututnya.


"Tapi cantik," ucap Ibra, yang kemudian melangkah mendekat, mengikis jarak dengan istrinya. "Apa kamu tau, saat kamu terus menariknya turun, maka kamu akan semakin membuka di bagian atasnya," bisiknya, menyentuh dada Ara dengan jemarinya. Membuat Ara membulatkan kedua matanya, mengikuti letak tangan nakal suaminya itu.


"Besok, aku akan membelikanmu lebih banyak lagi yang seperti ini," ucapnya tersenyum jahil, kemudian menjatuhkan sebelah tali lingerie yang di gunakan Ara dan mengecup bahu wanita itu berkali-kali. Wangi tubuh Ara benar-benar telah membangkitkan gairahnya, hingga membuatnya tidak tahan untuk tidak menjamah tubuh wanita itu.


"Nggak usah, aku gak merasa nyaman memakainya," ucap Ara cepat, menahan gejolak yang timbul dari sentuhan pria itu.


"Kamu akan merasa nyaman saat terbiasa memakainya," tuturnya, tanpa berhenti mengecup tubuh istrinya yang terbuka. Hingga kecupannya berakhir di bibir ranum istrinya.


Ara menghela napasnya pelan saat Ibra menghentikan aktifitasnya. Namun itu bukanlah akhir, itu hanya permulaan buat Ibra. Ibra tersenyum dan kembali mencium bibir istrinya, menuntun wanita itu menuju tempat tidur tanpa melepaskan ciumannya. Ia menjatuhkan kedua tali lingerie yang menggantung di pundak Ara, hingga lingerie tersebut benar-benar terlepas dari tubuh istrinya, dan melancarkan aksinya.


***


"Oh iya, aku selalu ingin menanyakan hal ini, tapi terus lupa. Sejak kapan kamu berhijab?" tanya Ibra yang terus menatap ke atas.


"Sudah setahun lebih," jawab Ara, sambil menggoyang-goyangkan telunjuknya di dada suaminya, seperti sedang menuliskan sesuatu disana.


"Kenapa? Apa yang membuatmu memutuskan untuk berhijab? Miya dan Arumi bahkan tidak ada yang berhijab sepertimu," tanyanya lagi.


Ara menghentikan kegiatan tangannya, dan berpikir sejenak, sebelum akhirnya menjawab, "aku suka aja melihat wanita yang berhijab. Hal itu juga menjauhkanku dari banyak laki-laki. Karena dari yang aku lihat, laki-laki membuat batas dengan wanita yang berhijab. Mereka tidak merangkul ataupun menyentuh sesuka hati mereka wanita yang berhijab," jelas Ara.


"Iya, kamu benar." Ibra membalikkan tubuhnya menghadap Ara. Merapikan anak rambut yang menutupi wajah istrinya dan membawanya ke belakang telinga. "Apa kamu tahu, saat pertama kali melihatmu di rumah sakit waktu itu, aku sudah terpesona melihatmu yang begitu cantik dengan jilbabmu. Kamu benar-benar terlihat lebih dewasa dari terakhir kali aku melihatmu saat SMA dulu," ucapnya mengusap lembut pipi Ara.


"Masa sih?" Ara mengalihkan pandangannya, menatap mata suaminya. "Mungkin aku terlihat dewasa karena wajahku yang membengkak, akibat terus menangis."

__ADS_1


Ibra terkekeh dan mencubit pipi Ara. "Iya benar, waktu itu wajahmu terlihat lucu dan sangat menggemaskan," ucapnya, seraya menggoyangkan cubitannya. Membuat Ara meringis kesakitan dan memukul tangan suaminya.


"Lalu bagaimana denganmu? Apa kamu juga sudah terpesona padaku saat itu? Bukankah aku terlihat semakin tampan saat ini?" tanya Ibra percaya diri.


"Aku nggak begitu memperhatikan Kakak saat itu. Tapi... menurutku Kakak biasa aja."


"Sungguh?" tanya Ibra memastikan.


"He'em!" jawab Ara mengangguk.


"Astaga.... Tidak bisakah kamu berbohong sedikit saja demi membahagiakan suamimu?"


"Sudah aku lakukan," jawab Ara tersenyum.


"Maksudmu? Apa aku semakin tampan?" Ibra tersenyum menggoda.


"Iya sangat tampan, sampai aku gemas dan ingin menggigit Kakak." Ara benar-benar menggigit hidung Ibra, dan dengan cepat menjauhkankan tubuhnya saat mendengar jeritan Ibra yang kesakitan.


Melihat Ara yang menjauh darinya, dengan cepat Ibra menarik tubuh wanita itu dan mengungkungnya di bawah tubuhnya. "Kamu akan mendapat balasan yang setimpal karena telah menggigitku." Ibra kemudian membalas dengan menggigit hidung Ara, bahkan kedua pipi hingga bibir istrinya itu.


"Ampun...ampun..." teriak Ara yang terus tertawa. Namun tidak diperdulikan oleh Ibra, yang kemudian menciumi seluruh wajah wanita itu, dan menyesap bibir Ara terus menerus tanpa ampun.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak LIKE dan KOMEN nya kakak 🤗❤


__ADS_2