
Ibra menarik kasar tangan Ara masuk ke dalam rumah. Membuat bi Darmi dan pak Mamat yang semula ingin menegur mengurungkan niat mereka dan saling menatap, saling menanyakan apa yang terjadi dengan majikannya.
Ibra menutup kasar pintu kamarnya dan melepaskan genggamannya pada tangan Ara.
" Apa yang dikatakannya benar? " tanya Ibra dengan nada yang tidak bersahabat. Namun Ara hanya menggeleng sambil terus menangis.
" Jawab !!! " teriak Ibra kemudian mencengkeram bahu Ara " Berhentilah menangis, sekarang jawab apa itu benar?? " namun tetap saja tidak ada kata yang keluar dari mulut Ara, tidak ada pembetulan namun tidak juga Ara menyangkalnya membuat Ibra semakin yakin kalau itu benar.
" Apa kalian menipuku?? " ucap Ibra lagi semakin mengeraskan cengkeraman tangannya " Apa kalian bermain dibelakangku??? Aaghhh.. Kenapa kau melakukannya ha?? " teriaknya lagi menjambak rambutnya sendiri " Berhentilah bersembunyi di balik jilbab ini " ucapnya lagi menarik jilbab yang digunakan Ara.
" Kakak... " ucap Ara akhirnya memegang tangan Ibra namun dengan cepat ditepis oleh Ibra " Ara tidak pernah menghianati kakak, itu terjadi sudah sangat lama "
" Jadi apa kau mengakuinya?? " ucap Ibra kembali mencengkeram bahu Ara dengan sangat kuat membuat Ara sedikit meringis.
" Kakak sakit... " ucap Ara berusaha melepas tangan Ibra.
" Sakit?? Apa kau tau yang ku rasakan lebih sakit?? " ucap Ibra semakin menguatkan cengkeraman tangannya.
" Maaf... " ucap Ara yang terus menangis " Ara tidak pernah menginginkannya, Aku dijebak, Aku bahkan tidak pernah tau siapa yang melakukannya padaku, Ara baru mengetahuinya "
" Apa kau sedang membodohiku?? "
" Tidak, Ara tidak mungkin melakukannya "
" Ya kau sedang melakukannya saat ini " ucap Ibra melepas cengkeraman tangannya dengan kasar lalu pergi keluar dari kamarnya.
Hingga malam hari Ibra tidak kembali membuat Ara semakin cemas. Kecemasan juga dirasakan oleh bi Darmi dan pak Mamat yang melihat saat Ibra keluar dari rumah dengan wajah dipenuhi amarah.
" Bagaimana kalau kita memberitahu ibu Reta saja? " ucap bi Darmi pada suaminya.
" Jangan, kita tunggu saja dulu. Kamu kan tau kalau den Ibra marah pasti pergi dari rumah "
__ADS_1
" Iya juga tapi kasian sama non Ara " ucap bi Darmi prihatin.
Ceklek..
Suara pintu kamar yang terbuka menyadarkan Ara dari lamunannya dan dengan segera berdiri menghampiri Ibra yang telah terlihat dari balik pintu.
" Kak Ibra maafkan Ara " ucapnya memohon.
" Aku sudah memikirkannya " ucap Ibra menjeda " Kita akan pisah " sambungnya membuat tubuh Ara melemah seketika. Sejak tadi Ara sudah menyiapkan dirinya untuk segala kemungkinan yang terjadi, tapi tetap saja rasanya sangat menyakitkan saat kata itu terucap dari mulut Ibra.
" Tidak, Ara tidak mau " ucap Ara menggeleng " Kakak salah paham, biarkan aku menjelaskannya terlebih dahulu "
" Tidak perlu, aku tidak membutuhkan penjelasanmu. Sebaiknya kau pergi dari sini, aku tidak mau melihatmu lagi " ucap Ibra yang merasa sakit setiap kali melihat istrinya.
" Tapi kak.. "
" Tidak masalah kalau kau tidak mau, biar aku yang pergi "
Setelah mendengar jawaban Ara, Ibra keluar dari kamarnya menuju ruang kerjanya. Sedangkan Ara yang berada di dalam kamar sedang berusaha menata hatinya, mungkin ini sudah menjadi takdirnya. Tidak ada lagi gunanya dia menangis, rasanya air matanya sudah hampir habis setelah sedari tadi terus menangis.
Sebuah Luka yang diberikan Rafael padanya akan terus menjadi aibnya hingga dimasa mendatang, dan seharusnya dia sudah siap dengan semuanya.
Ara lalu mengambil sebuah tas kecil dan mengisinya dengan beberapa pakaiannya. Ara lalu mencuci wajahnya untuk menghilangkan bekas-bekas air matanya dan mengganti baju rumah yang ia kenakan. Saat akan menyimpan pakaiannya di dalam keranjang pakaian kotor, Ara melihat kaos putih yang dikenakan Ibra pagi tadi, meraihnya lalu mencium aroma tubuh suaminya disana, hingga tanpa Ara sadari air matanya kembali terjatuh, tapi dengan cepat Ara menghapusnya. Ara lalu memasukkan baju Ibra itu ke dalam tasnya dan bergegas keluar dari kamarnya.
" Non Ara mau kemana? " ucap bi Darmi yang melihat Ara membawa sebuah tas, lalu mendekat ke arah Ara dan meraih tangan Ara yang menjinjing tas itu.
" Ara pergi dulu bi " jawab Ara seadanya, ingin rasanya ia menumpahkan kesedihannya pada bi Darmi, tapi dia begitu malu.
" Tapi kemana, ini kan sudah malam "
" Biar saja bi, jangan di cegah " ucap Ibra yang berdiri diatas tangga.
__ADS_1
" Tapi den... "
" Apa bibi tidak mendengarku? Biarkan saja dia pergi, mungkin dia akan pergi dengan kekasihnya " ucap Ibra yang membuat Ara semakin sakit mendengarnya. Ara lalu melepas tangan bi Darmi dan pergi begitu saja.
Setelah berjalan beberapa meter Ara lalu menyetop sebuah taksi.
" Mau kemana mba? " tanya sopir taksi tersebut saat Ara sudah berada di dalam taksi.
" Jalan saja pak " ucapnya, membuat sopir tersebut menuruti perkataannya.
Sepanjang jalan Ara terus saja memikirkan nasib pernikahannya yang tidak pernah ia sangka akan secepat ini.
" Sebenarnya mba mau kemana? " tanya sopir taksi tersebut membuyarkan lamunan Ara.
" Saya turun disini saja pak " ucap Ara saat melihat sebuah taman yang dilaluinya.
Ara turun dari taksi tersebut dan berjalan ke arah taman, duduk di sebuah bangku taman menikmati udara dimalam hari. Ara mendongakkan kepalanya ke atas menatap langit yang terlihat cantik karena bintang-bintang.
" Ayah... Apa ayah sedang melihatku sekarang? " ucapnya tersenyum getir. " Ara tidak tau akan kemana sekarang. Tidak bisakah ayah datang menjemputku? Ara ingin ikut ayah saja " sambungnya lalu menunduk, menjatuhkan air matanya disana.
" Apa ayah begitu bahagia bertemu dengan ibu disana, hingga ayah melupakanku " ucapnya sembari menangis.
Setelah merasa lelah, akhirnya Ara memutuskan untuk meninggalkan taman tersebut. Namun saat akan berdiri dari duduknya Ara tiba-tiba merasakan pusing dikepalanya, melihat tanah yang dipijakinya berputar membuat Ara kembali mendudukkan dirinya dan memejamkan matanya sejenak. Saat Ara mencoba untuk membuka matanya kembali Ara merasakan pusing yang luar biasa hingga saat akan kembali menutup matanya, samar-samar Ara melihat seseorang yang berjalan kearahnya.
" Dara " suara itu terdengar sebelum akhirnya Ara tidak sadarkan diri.
.
.
Bagi like dan coment nya yaa teman-teman 🤗❤
__ADS_1