Sebuah Luka

Sebuah Luka
Chapter 12


__ADS_3

Minggu pagi, ketiga sahabat itu telah siap untuk ke pantai. Mereka menunggu kedatangan Bima dan Rangga di rumah Ara.


Ara menggunakan dalaman gamis berwarna putih tulang dengan long outer berwarna biru langit dan pashmina dengan warna senada, serta kacamata hitam yang melengkapi penampilannya.


Arumi menggunakan flower dress berwarna mustard dengan tambahan topi pantai dan juga kacamata hitam yang bertengker di hidung mancungnya.


Sedangkan Miya menggunakan jumpsuit pantai berwarna dusty, dan sama seperti Arumi, ia juga membawa topi pantai serta kacamata sebagai pelengkap penampilannya.


Sebuah mobil memasuki pekarangan rumah Ara dan berhenti tepat di hadapan ketiga gadis itu.


Bima turun dari kursi kemudi dengan menggunakan kemeja kotak-kotak berwarna merah yang sengaja tidak ia kancing dengan dalaman kaos oblong putih serta celana hitam selutut dan sebuah kacamata hitam yang ia gantungkan di kaosnya.


“Sudah siap?” tanya Bima pada ketiga gadis itu.


“Iya sudah, kita langsung berangkat?” tanya Ara.


“Ayah kamu mana?”


“Sudah ke restoran.”


Semalam Bima sudah datang ke rumah Ara dan meminta izin langsung pada Hartono. Karena perginya bersama Arumi dan Miya maka Hartono mengizinkannya.


“Ya sudah ayo!” Bima mengernyit bingung saat melihat ketiganya berjalan ke arah mobil Arumi. “Kita satu mobil saja, ikut di mobilku saja ya?” ucapnya memberi saran dan mendapat anggukan dari ketiganya.


“Wahhh… kalian janjian ya?” goda Miya saat mereka masuk ke dalam mobil Bima dan melihat Rangga yang menggunakan kemeja floral berwarna mustard dan celana selutut berwarna brown sugar, serta kacamata hitam yang bertengker di hidungnya, senada dengan pakaian yang Arumi kenakan.


Arumi yang mendengar kehebohan sahabatnya itu, ikut menatap Rangga dan melotot saat melihat penampilan pria itu yang benar-benar senada dengan penampilannya, seperti di rencanakan saja.


“Astaga kenapa harus seperti ini, kalau tau begini pake baju yang lain aja tadi,” batin Arumi, menyesali pilihannya hari ini.


Namun hal berebeda dirasakan oleh Rangga. Ia malah tersenyum melihat itu, merasa bangga dengan pilihannya hari ini. Mungkinkah ini artinya mereka berjodoh?!


Bima segera melajukan kendaraannya menjauh dari rumah Ara. Dan sepanjang perjalanan mereka mengobrol sambil tertawa-tawa akibat candaan yang dilontarkan oleh kedua pria yang ada di mobil itu.


Miya terlihat sangat menikmati perjalanannya, berbeda halnya dengan Arumi yang sepanjang perjalanan hanya terus terdiam.


Dan setelah menempuh perjalanan hampir dua jam, mereka pun tiba di pantai yang telah menjadi kesepakatan mereka semalam.


Miya dibuat takjub dengan suasana pantai yang begitu ramai. Deburan ombak yang menggebu-gebu seakan memanggilnya untuk berlari ke bibir pantai. Dan ia berlari begitu saja meninggalkan teman-temannya yang berjalan dengan langkah kecil.


“Dari tadi kok hanya diam saja?” tanya Rangga mensejajarkan langkahnya dengan Arumi.


“Lagi gak mood.” Jawab Arumi ketus.


“Kenapa? karena pakaian kita?”


“Iya, orang akan berpikir kalau kita ini sepasang kekasih.”


“Kenapa? malu?” tanyanya dan dijawab dengan anggukan oleh Arumi.


Rangga tertawa kecil melihat gadis di sampingnya, rasanya ia merasa bersalah telah menjadi alasan perusak mood gadis itu.


“Ya sudah nikmati pantainya, aku tidak akan mengikutimu,” ucapnya tersenyum seraya mengacak rambut Arumi kemudian melangkah menjauh dari gadis itu.


Ada rasa bersalah saat melihat Rangga pergi menjauh darinya. Namun Arumi mencoba mengabaikannya dan pergi menghampiri kedua sahabatnya yang telah berjalan mendahuluinya.


Ketiga gadis itu terlihat sangat menikmati liburannya. Mereka menyusuri bibir pantai sambil tertawa dan kejar-kejaran, serta sesekali ber-selfie.


Setelah lelah berjalan-jalan, ketiganya menghampiri Bima dan Rangga yang sedang duduk di sebuah gazebo.


“Kak Rangga fotoin dong! Dari pada kameranya nganggur,” pinta Miya menyengir, saat melihat sebuah kamera yang menggantung bebas di leher Rangga.


“Boleh,” sahut Rangga, kemudian meraih kameranya dan berdiri dari duduknya.

__ADS_1


Rangga mengambil gambar mereka beberapa kali di beberapa tempat, semuanya atas arahan Miya yang memang paling antusias diantara mereka.


“Kak Rangga gantian, aku yang fotoin, kakak kesini,” teriak Miya.


“Tidak usah kalian saja.”


“Tidak apa, sudah sini kameranya.” Miya berjalan mendekati Rangga dan meraih kamera yang ada di genggaman pria itu.


Rangga melihat ke arah Arumi, berharap gadis itu tidak merasa risih dengannya. Dan saat melihat gadis itu melayangkan sebuah senyuman untuknya, membuatnya ikut tersenyum dan berjalan menghampiri ketiganya.


Setelah merasa puas mengabadikan gambar mereka di sebuah kamera, mereka memutuskan mencari tempat makan untuk mengisi perut mereka dan beristirahat sejenak.


***


Setelah mengisi perut dan beristirahat sejenak, kelimanya kembali berjalan santai menyusuri pantai.


Bima dan Ara memilih berjalan lebih dulu meninggalkan ketiganya, dan Miya dan Arumi juga memutuskan berjalan bersama meninggalkan Rangga yang memang meminta keduanya untuk berjalan lebih dulu.


“Kamu duluan aja,” pinta Arumi pada Miya.


“Kenapa?”


“Nggak kenapa-kenapa.”


Miya menatap sahabatnya itu kemudian beralih pada Rangga yang berjalan jauh di belakang mereka. Seakan mengerti, Miya mengiyakan permintaan sahabatnya itu kemudian berlalu meninggalkannya.


Setelah kepergian Miya, Arumi dengan sengaja melambatkan langkahnya agar dapat mensejajarkan dirinya dengan Rangga yang terlihat sibuk dengan kameranya.


Rangga yang sibuk memotret ke sembarang arah, secara tidak sengaja membidik Arumi yang nampak sangat cantik dari samping. Rangga tersenyum dan tidak melewatkan untuk memotret gadis yang rambutnya terayun-ayun karena terpaan angin pantai itu.


Rangga dengan cepat menurunkan kameranya saat gadis itu melihat ke arahnya dan berjalan mendekatinya.


“Hai!” sapa Arumi, “mau jalan bersama?” tanyanya tersenyum sambil sesekali membenarkan rambutnya yang terkena terpaan angin.


“Tidak masalah,” jawab Arumi tersenyum.


Rangga menarik kedua sudut bibirnya melihat Arumi yang sudah tidak merasa risih dengan keberadaannya. Bahkan gadis itu mengajaknya untuk berjalan bersama, bukankah itu sebuah peluang untuknya agar bisa lebih dekat dengan gadis itu.


Arumi mencoba mengakrabkan dirinya dengan Rangga, karena menurutnya tidak ada salahnya menjalin pertemanan dengan pria itu.


“Mau aku fotoin? Ada banyak spot foto yang bagus disini,” tawarnya pada Arumi.


“Boleh, tapi nanti kirimin ya.”


“Siap!”


***


“Bagaimana menyenangkan?” tanya Bima pada Ara yang berjalan di sisinya.


“Iya sangat menyenangkan,” ucap Ara tersenyum pada pria di sampingnya.


Menatap wajah pria yang telah menjadi pemilik hatinya sedekat ini, membuat rasa bahagia di dalam dada Ara membuncah, membuatnya tidak dapat menguasai pikirannya yang sudah kemana-mana.


“Sudah sangat lama saya tidak ke pantai,” ucap Ara menatap ke sembarang arah, tidak ingin lagi menatap pria itu, karena dengan menatapnya membuatnya semakin terbuai dengan perasaannya.


“Sungguh?”


“Iya, Miya dan Arumi selalunya mengajakku ke mall saja, sangat membosankan,” ucapnya mencebikkan bibirnya.


“Kalau begitu bagaimana kalau kita membuat jadwal rutin ke pantai sebulan sekali di akhir pekan?”


“Sepertinya bukan ide yang buruk,” jawab Ara mengangguk.

__ADS_1


Bima menghentikan langkahnya dan menatap jauh ke depan, “Kamu lihat mereka?” tanyanya tanpa mengalihkan pandangannya pada sebuah objek.


Ara mencoba mengikuti arah pandang pria di sampingnya itu, hingga ia menangkap sepasang suami istri yang sedang bermain istana pasir bersama dua orang anak kecil, “Iya,” jawab Ara tersenyum melihat pemandangan tersebut.


“Sangat bahagia ya, saya berharap bisa merasakan hal yang sama seperti yang mereka rasakan.” Bima tersenyum membayangkan perkataannya, kemudian menatap lekat gadis di sampingnya, “dan saya berharap itu dengan kamu,” imbuhnya.


Darah Ara serasa berdesir saat mendengar ucapan dosennya itu, seringkali mendapat gombalan dari pria di hadapannya itu, nyatanya tidak membuatnya terbiasa dengan itu, jantungnya tetap saja berdebar kencang saat mendengar ucapan pria itu.


“Dara...”


“Iya, Pak?” jawab Ara cepat.


“Boleh saya meminta sesuatu?” tanyanya.


“Apa itu, Pak?”


“Bisa tidak kalau kita sedang berdua jangan memanggil saya bapak? Lagi pula kita bukan di kampus.”


“Lalu saya panggil apa?”


“Panggil nama saja.”


“Sepertinya kurang sopan.”


“Kalau begitu panggil kakak saja, seperti kamu memanggil Rangga.”


“Emm.. akan saya coba. Tapi kalau terasa aneh, saya panggil seperti biasa saja ya… Pak!” ucap Ara ragu-ragu saat harus memanggil apa, membuat Bima tertawa mendengarnya.


“Ya sudah terserah kamu saja, asal tidak memanggil saya om,” ucapnya membuat Ara ikut tertawa mendengarnya.


***


“Bagaimana fotonya, bagus?” tanya Arumi menghampiri Rangga untuk melihat gambar dirinya di kamera yang ada di genggaman pria itu.


“Iya cantik,” jawab Rangga beralih menatap wajah gadis yang hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya itu. “Benar-benar cantik,” batinnya tidak melepas pandangannya pada wajah Arumi yang terlihat fokus melihat kamera yang ada di genggaman tangannya.


“Ah iya, kirimin ya,” ucap Arumi menghentak-hentakkan kakinya kegirangan melihat hasil fotonya yang menurutnya sangat bagus-bagus. Ia bahkan sudah memilah-milah gambar mana yang akan ia bagikan ke media sosialnya.


“Mas, bisa minta tolong fotoin?” tanya Rangga pada pengunjung yang berjalan melewatinya.


“Iya bisa.”


“Foto berdua ya?” tanya Rangga meminta persetujuan Arumi.


“Mmm, iya ayo,” ucap Arumi berjalan mendekat.


Saat pengunjung tersebut memintanya untuk bersiap, Rangga merangkulkan tangannya di bahu Arumi. Agak canggung sebenarnya tapi ia sudah terlanjur merangkulkan tangannya, akan terasa lebih aneh lagi jika ia menurunkannya.


“Makasih, Mas,” ucap Rangga pada pengunjung tersebut saat kembali menerima kameranya.


“Iya sama-sama, Mas.. apa kalian masih dalam tahap pendekatan?” tanya pria tersebut membuat Arumi dan Rangga menatapnya bingung, “kalian terlihat begitu canggung,” imbuh pria itu tertawa kecil, membuat Arumi dan Rangga saling memandang.


“Kalau begitu saya permisi, Mas,” pamit pria tersebut.


“Ah iya, makasih, Mas.”


Setelah kepergian pria itu, Rangga mengalihkan pandangannya pada kamera yang ada di genggaman tangannya, untuk melihat hasil foto mereka. Meski sebenarnya itu hanya alasan untuk menghilangkan rasa canggung diantara keduanya, akibat ucapan pria tadi.


.


.


.

__ADS_1


Bagi like and comentnya yaa pembaca yang budiman 🤗❤


__ADS_2