
Saat ini Ara tengah terbaring lemah di salah satu ruangan di rumah sakit, dan belum sadarkan diri.
Akibat tidak makan dan minum selama dua hari, membuatnya kekurangan cairan dan asupan nutrisi. Sehingga membuat tubuhnya lemah dan tidak sadarkan diri.
"Miya..."
Miya sedikit terkejut, saat mendengar suara lirih Ara yang menyebut namanya. Dengan cepat Miya membalikkan tubuhnya pada sahabatnya itu, yang terlihat sedang mengerjap.
"Ara ... kau sudah sadar?" tanya Miya haru.
Arumi dan Bi Ratih yang melihat itu, dengan cepat berlari menghampiri Ara.
"Haus..." ucap Ara lirih.
"Tunggu, aku akan ambilkan air." Miya dengan segera mengambil botol air mineral yang ada di atas meja, dan menuangkan isinya ke dalam gelas.
Arumi membantu Ara untuk mendudukkan dirinya. Dan setelahnya, Miya mendekatkan gelas yang ada di tangannya ke mulut Ara.
"Masih mau?" tanya Miya, setelah Ara menghabiskan segelas penuh air mineral. Namun Ara menggeleng memberi penolakan.
"Apa Neng Ara lapar?" tanya Bi Ratih. Dan Ara mengangguk mengiyakan.
Dengan segera Bi Ratih menyiapkan makanan yang tadi di beli Arumi.
"Biar Miya yang suapi, Bi." Miya meraih makanan yang diberi Bi Ratih dan mulai menyuapi Ara.
"Ara..." ucap Arumi lirih.
"Maaf membuat kalian khawatir." Ara sangat mengerti dengan kekhawatiran sahabatnya itu.
"Jangan seperti ini lagi ya. Kamu tau kami sangat mengkhawatirkanmu, kami tidak mau kamu kenapa-kenapa," ucap Arumi.
"Iya. Apa kau tau, aku sampai berpikir kau akan bunuh diri." Ucapan Miya berhasil membuat Arumi melayangkan sebuh cubitan padanya.
"Kenapa kau mencubitku?" tanya Miya kesal, "bagaimana kalau makanan ini jatuh?" imbuhnya.
"Kau sangat bodoh!" ucap Arumi yang tidak kalah kesal.
Ara tersenyum kecil melihat perdebatan keduanya. "Iya, aku janji tidak akan mengulanginya," ucapnya lirih.
"Jangan pernah merasa sendiri di dunia ini, kamu masih memiliki kami."
Ucapan Arumi membuat Ara menunduk, karena tidak sanggup menahan air matanya. Wajah ayahnya kembali terbayang di pelupuk matanya.
Arumi memeluk Ara, berharap dapat memberi ketenangan pada sahabatnya itu. Dan Miya yang melihat itu, ikut memeluk keduanya, setelah sebelumnya meletakkan piring yang ada di tangannya.
__ADS_1
"Terimakasih selalu ada untukku," ucap Ara di sela isak tangisnya.
"Kami janji tidak akan meninggalkanmu," ucap Miya.
"Iya, terimakasih ... terimakasih .... Hanya kalian yang aku miliki saat ini." Ucapan Ara membuat ketiganya semakin terisak. Begitupun dengan Bi Ratih yang menyaksikan itu. Berkali-kali ia menghapus air matanya menggunakan ujung baju yang ia kenakan.
Arumi perlahan melepaskan pelukannya dan membantu Ara menghapus air matanya dengan tangannya, "berjanjilah, ini yang terakhir kalinya kita menangis seperti ini." Arumi beralih menghapus air matanya, "setelah ini, kita hanya boleh menangis karena bahagia," imbuhnya.
"Iya janji!" ucap Miya, seraya mengacungkan jari kelingkingnya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Arumi.
"Kita harus saling mengikat janji. Ayo kemarikan kelingking kalian," pinta Miya.
"Kampungan! Itu hanya berlaku untuk anak kecil."
"Kau saja yang tidak pernah melakukannya. Di film-film, saat sepasang kekasih saling berjanji, maka mereka akan melakukan janji kelingking," jawab Miya mencibir.
"Ayo melakukannya!" Ara ikut mengacungkan jari kelingkingnya, kemudian mengaitkannya di kelingking Miya.
"Cehh..." desis Arumi. Namun juga ikut mengaitkan kelingkingnya. Membuat Miya dan Ara tertawa.
"Jadi, janji ya! Setelah ini tidak ada lagi sedih-sedihan," ucap Miya antusias.
***
Sebulan sudah setelah kepergian Hartono. Dan Ara sudah kembali melakukan aktifitasnya seperti biasanya.
Meski setiap malam saat sendiri Ara selalu menangis karena merindukan ayahnya. Namun, iya selalu menampakkan raut wajah bahagianya di depan kedua sahabatnya.
Karena telah libur semester, maka hari ini Ara memutuskan akan di rumah saja seharian dan tidak kemana-mana.
Ara keluar dari kamarnya dan menuruni anak tangga satu persatu, menuju ruang makan untuk sarapan.
Ara mendudukkan dirinya di salah satu kursi meja makan, setelah sebelumnya menyapa Bi Ratih, yang tengah menyiapkan sarapan untuknya.
Setelah kepergian Hartono, Ara selalu sarapan bersama dengan Bi Ratih. Begitupun dengan hari ini, setelah menghidangkan makanan di atas meja, Bi Ratih ikut mendudukkan dirinya.
Menatap mata sayu Ara yang sedikit membengkak, membuat Bi Ratih sangat yakin, kalau gadis itu kembali menangis semalaman.
Setelah kepergian majikannya, rumah itu terasa hampa. Tidak ada lagi canda tawa yang terdengar. Bahkan hampir tidak pernah Bi Ratih melihat senyuman di wajah gadis itu. Manik mata yang dulunya selalu berbinar itu, kini selalu nampak sayu.
***
Setelah menyelesaikan sarapannya, Ara membantu Bi Ratih membereskan sisa makanan yang ada di atas meja. Dan setelah semuanya bersih, Ara berjalan mendekat pada Bi Ratih yang berada di dapur.
__ADS_1
"Bi Ratih..."
"Iya, Neng. Apa Neng Ara butuh sesuatu?"
Ara menggelengkan kepalanya, meraih kedua tangan wanita paruh baya itu dan menggenggamnya.
"Bi, Ara minta maaf sebelumnya. Tapi sepertinya Ara sudah tidak bisa mempekerjakan Bi Ratih lagi."
"Maksud, Neng Ara?"
"Bibi taukan kalau restoran Ayah sekarang sudah jadi milik orang lain. Jadi Ara sudah tidak bisa memberi gaji pada Bibi lagi."
"Neng..." Bi Ratih menarik salah satu tangannya, mengusap lembut punggung tangan gadis itu, "jika itu masalah uang, Neng Ara tidak perlu khawatir, biarkan Bibi bekerja tanpa bayaran."
"Jangan, Bi. Bibi bisa bekerja ditempat lain," tolak Ara.
"Tidak, Neng. Biarkan Bibi tetap disini. Bibi hanya ingin menjaga Neng Ara," ucap Bi Ratih dengan mata berkaca-kaca.
"Jangan khawatirkan Ara, Bi. Ara sudah mengajak Miya untuk tinggal bersama Ara. Bibi bisa mendapatkan tempat kerja yang lebih baik, dari pada harus terus-terusan menjaga Ara." Ara menarik salah satu tangannya dan dengan cepat menepis air matanya yang hampir terjatuh.
"Tidak!" Bi Ratih menggeleng, "Bibi tidak akan pergi. Lagi pula Bibi tidak begitu butuh uang. Bibi sudah punya banyak tabungan. Kedua anak Bibi juga sudah menikah. Mereka sudah punya suami yang menanggung hidup mereka. Mereka sudah tidak butuh lagi, uang dari Bibi." Air mata Bi Ratih sudah terjatuh dengan begitu derasnya.
"Tapi, Bi..."
"Sudah, jangan khawatirkan Bibi. Bibi akan pergi saat Bibi sudah tidak kuat lagi."
Ara memeluk tubuh Bi Ratih, menumpuh wajahnya di pundak wanita paruh baya itu, dan menumpahkan air matanya disana. "Terimakasih ya, Bi. Bibi sudah seperti ibu bagi Ara. Selain mereka berdua, hanya Bibi yang Ara punya saat ini."
Bi Ratih mengangguk dan terus mengusap punggung gadis yang ada di dalam pelukannya saat ini.
Dan suara ketukan pintu yang berulang-ulang membuat keduanya saling melepas pelukan dan menghentikan tangisnya.
"Sepertinya ada tamu, Neng. Biar Bibi buka pintunya dulu."
"Iya, Bi. Tapi air matanya dihapus dulu. Nanti orang akan berpikir, kalau Ara menyakiti Bibi." Ara tersenyum seraya menghapus bekas air mata Bi Ratih.
"Iya, Neng." Bi Ratih tertawa kecil dan ikut menghapus air matanya sendiri.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan like dan komennya ya kakak 🤗❤
__ADS_1