
Semalaman Ara tidak tidur memikirkan rencana pernikahannya dengan Ibra. Hingga pagi hari membuatnya tidak begitu bersemangat dan terus melamun.
"Morning!" teriak Arumi, saat masuk ke dalam kamar yang ditempati kedua sahabatnya.
"Kau datang sepagi ini?" tanya Miya, yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Iya, aku ingin sarapan bersama kalian," jawab Arumi bersemangat.
"Kau hanya akan menambah beban kami."
"Dasar pelit. Akan aku bayar," kesal Arumi. "Bagaimana kalau hari ini kita jalan-jalan? aku yang traktir, kemanapun kalian mau."
"Iya mau mau!" jawab Miya bersemangat.
"Ya udah, cepet pake baju," ucap Arumi. Yang kemudian mengalihkan pandangannya pada Ara yang terlihat melamun di meja belajarnya.
"Ada apa dengannya?" tanyanyanya pada Miya.
"Entahlah! dari tadi dia terus melamun," jawab Miya.
Arumi menghampiri Ara dan memegang pundak sahabatnya itu. Hingga membuat Ara tersadar dari lamunannya dan mendongak ke arahnya.
"Ada apa?" tanya Arumi.
"Tidak ada apa-apa," jawab Ara tersenyum kecil.
"Kalau kau ada masalah, ceritakan pada kami. Jangan mencoba menanggungnya sendiri."
Ara terdiam sejenak, sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya. Ia memang harus melepaskan semua beban yang ada dipikirannya saat ini. Dengan berbagi, mungkin ia akan mendapat solusi dari keduanya.
Ara kemudian menceritakan kepada kedua sahabatnya itu tentang semua masalahnya belakangan ini. Dimulai dengan masalah kehilangan restoran ayahnya yang mungkin sebagai bayaran karena membatalkan perjodohan dirinya dengan Rafael. Hingga rencana pernikahannya dengan Ibra.
"Kenapa nggak meminta pendapat kami dulu?" tanya Arumi.
"Aku gak sempat berpikir panjang semalam. Aku sangat takut saat tiba-tiba melihat kedatangan Om Jordan."
"Kalau memang kamu nggak menginginkan pernikahan itu, maka bicarakan baik-baik dengan Kak Ibra. Kami akan membantumu memberinya pengertian," ucap Arumi memberi saran.
"Lalu bagaimana kalau nanti Om Jordan tau kalau aku nggak jadi nikah?" tanya Ara.
"Bagaimana kalau kita pindah dari sini saja?" ucap Miya memberi ide.
"Mau pindah kemana? Kalau masih di kota ini, aku yakin sangat tidak sulit untuk mereka menemukanku. Kalau pun harus pergi dari kota ini, lantas bagaimana dengan kuliahku? Saat ini aku hanya ingin menyelesaikan kuliahku tepat waktu. Karena aku ingin segera bekerja. Tabunganku sudah tidak banyak lagi." jawab Ara berterus terang.
"Kalau begitu menikahlah dengan Kak Ibra. Menurutku itu satu-satunya cara agar kamu bisa aman dari Om Jordan. Lagi pula kelihatannya Kak Ibra pria yang baik. Dia pasti akan menjagamu," ucap Arumi.
"Kalau sampai dia melukaimu kamu lapor aja sama Rissa," ucap Miya menimpali.
__ADS_1
"Gadis manja sepertinya bagaimana bisa diandalkan?" jawab Arumi ketus. "Lagipula bukankah dia berjanji tidak akan menyentuhmu?" sambung Arumi dan dijawab anggukan oleh Ara.
"Tapi apa kamu bisa tahan nggak bersentuhan dengan pria tampan seperti kak Ibra?" ucap Miya.
Arumi memutar kedua bola matanya, merasa jengah dengan sahabatnya itu, "dia tidak genit sepertimu. Lihat aja nanti, aku akan melaporkanmu pada Mas Abyan." Ancam Arumi.
"Aku kan hanya bercanda, kenapa kau begitu serius." Miya menyengir, memamerkan deretan gigi putihnya pada sahabatnya itu.
"Baiklah, aku akan mencoba memikirkannya," jawab Ara, tersenyum.
"Kami akan selalu mendoakanmu, agar diberikan yang terbaik."
"Iya, terimakasih."
"Ya sudah, kalau begitu ayo kita turun sarapan. Setelah itu kita jalan-jalan, ok?" ucap Arumi pada Ara dan dijawab dengan anggukan.
"Lets go!" teriak Miya.
***
Seharian mereka bersenang-senang, melupakan sejenak masalah yang mereka hadapi.
"Laper nih, kesini yuk! banyak yang rekomendasiin, katanya sih makanannya enak-enak." Miya menunjukkan gambar sebuah restoran yang ada di ponselnya.
"Boleh!" Arumi mengangguk, dan segera menjalankan kendaraannya ke restoran yang dimaksud, atas arahan dari Miya.
"Awas, pesennya jangan banyak-banyak, nanti kalian gendutan," ucap Arumi, saat memarkirkan mobilnya.
"Insya Allah ya, gak janji," ucap Ara, ikut tertawa.
"Kok aku nyesal ya neraktir kalian. Dari tadi diporotin mulu," cebik Arumi. Namun tidak diperdulikan oleh kedua sahabatnya yang sudah turun lebih dulu dari mobil.
Mereka lalu masuk ke dalam restoran, mencari tempat duduk yang kosong.
"Kalian duduk dulu ya, aku keluar dulu, mama nelfon nih." Arumi menunjukkan ponselnya yang memang benar mendapatkan panggilan dari mamanya, pada kedua sahabatnya yang sudah duduk terlebih dahulu.
"Oke, asal nggak kabur aja." sahut Miya tertawa.
Arumi yang ikut tertawa, kemudian berbalik untuk keluar dari resoran itu. Namun, ia dibuat terkejut saat dengan tidak sengaja menabrak pelayanan yang berlalu di sisinya. Hingga membuat minuman yang dibawa oleh pelayan itu tertumpah, mengenai pria yang ada dibawahnya.
Kejadian tersebut menarik perhatian semua pelanggan, termasuk Ara dan Miya yang berlari mendekati Arumi.
"Astagfirullah! Maaf Mas, maaf. Saya nggak sengaja." ucap Arumi pada pelayan tersebut.
Ia kemudian berbalik pada pria yang terkena tumpahan. "Mas, maafkan saya. Saya.... " Ucapan Arumi terputus, tatkala melihat pria yang terkena tumpahan itu.
"Chef Dion!" lirih Miya.
__ADS_1
"Astaga, Mba. Kalau jalan tuh liat-liat," maki wanita yang duduk bersama Dion.
"Iya, maaf, Mba. saya nggak sengaja," ucap Arumi pada wanita itu.
"Maaf maaf memangnya___"
"Sudah, tidak apa." Dion memotong ucapan wanita disampingnya.
"Gak bisa gitu dong, Mas." bantahnya.
"Eh, Mba. Kenapa jadi Mba yang marah sih. Orang yang kena tumpahan aja nggak ada masalah," sahut Miya kesal.
"Miya!" tegur Arumi.
"Ya jelas saya marah lah, karena dia tunangan saya."
Ucapan wanita itu berhasil membuat ketiganya saling memandang.
"Sudah, cukup! Lagi pula mereka ini adik-adik saya," ucap Dion pada tunangannya.
"Adik?" tanya wanita itu.
"Iya. Dia Ara anak pak Hartono, tempat saya bekerja terakhir kali." ucap Dion menunjuk Ara. Namun wanita itu tetap saja menatap sinis pada ketiganya.
"Sekali lagi, maaf. Saya sangat menyesal atas kejadian ini. Kalau anda meminta saya mengganti kemeja tunangan anda, maka akan saya gantikan," ucap Arumi pada wanita itu.
Mendengar ucapan Arumi, membuat Dion menatap lekat gadis itu. Gadis itu sepertinya masih sangat marah padanya. Ia bahkan terlihat begitu enggan untuk melihatnya.
"Nggak usah! saya masih bisa membelikannya yang lebih bagus. Sebaiknya uang kamu, kamu gunakan untuk memeriksakan mata kamu ke dokter."
"Novita!" bentak Dion pada tunangannya.
"Iya terimakasih atas perhatiannya. Kalau begitu saya permisi," ucap Arumi, yang kemudian beranjak keluar dari restoran itu.
"Kalau begitu kami duluan ya, Chef," pamit Ara pada Dion.
"Masih tunangankan? Yah, semoga aja kalian berjodoh," ucap Miya pada wanita itu, sebelum berlalu meninggalkan keduanya.
"Maksud kamu?" Emosi wanita itu tersulut, mendengar ucapan Miya. Ingin rasanya ia meluapkan kekesalannya pada Miya, namun ia mencoba menahannya di depan Dion.
Sedang Dion, terus saja menatap punggung Arumi hingga menghilang dari pandangannya.
Dan akhirnya ketiga gadis itu pulang tanpa makan di restoran tersebut.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa tinggalkan like dan komennya ya kakak 🤗❤