
Pukul tujuh pagi, sepasang suami istri yang telah melalui pergulatan panas subuh tadi, masih saja tertidur lelap dengan posisi saling memeluk.
"Ara mana, Ma? Kok belum turun?" tanya Rissa, seraya mendudukkan dirinya di kursi meja makan.
"Iya, mama jadi khawatir, Pa. Bagaimana ini? Semalam Ara tidak makan malam, dan sekarang juga tidak turun untuk sarapan," tutur Mama Reta, cemas.
"Ma, bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Ara?" Rissa mencoba mengungkapkan kekhawatirannya. Dan hal itu, berhasil membuat Mama Reta semakin kalang kabut.
"Sebaiknya...." Papa Nahar menghentikan ucapannya, saat melihat istri dan putrinya yang sudah berlari meninggalkan meja makan.
Mama Reta dan Rissa dengan segera naik ke kamar Ara, tanpa memperdulikan ucapan suaminya.
Setelah tiba di depan kamar Ara, Mama Reta dengan segera memutar gagang pintu kamar tersebut.
"Bagaimana ini? pintunya terkunci!"
Mama Reta dan Rissa kemudian mengetuk-ngetuk pintu kamar tersebut seraya memanggil-manggil nama Ara.
"Bu Reta kenapa teriak-teriak, Pak?" tanya Bi Ijah pada majikannya.
"Apa semalam Ara tidak turun untuk makan malam?" tanya Papa Nahar.
"Sepertinya tidak, Pak... tapi, subuh tadi, saya melihat Den Ibra membuat susu dan mengambil beberapa cemilan lalu membawanya ke atas. Sepertinya itu untuk Non Ara," tutur Bi Ijah.
"Jadi Ibra sudah pulang?"
"Iya, Pak!"
"Astaga, apa yang mereka lakukan!" Papa Nahar menggelengkan kepalanya, mengingat kelakuan istri dan putrinya. Namun setelah itu, ia tertawa kecil.
Setelah cukup lama Mama Reta dan Rissa berteriak, akhirnya pintu itu pun terbuka, menampilkan sosok Ibra yang bertelanjang dada dan hanya menggunakan boxer.
"Ibra!"
"Kakak!"
Keduanya dibuat terkejut dengan kehadiran Ibra.
"Berisik! Ada apa sih?" tanya Ibra kesal.
"Sejak kapan kamu pulang?" tanya Mama Reta.
"Semalam"
"Kenapa Kakak nggak bilang sih kalau sudah pulang? Kami kan jadi khawatir dengan Ara," ucap Rissa.
"Tidak penting. Ada lagi?" Ibra sudah tidak sabar ingin melanjutkan tidurnya.
"Kalau begitu, turunlah untuk sarapan," ucap Mama Reta.
__ADS_1
"Iya, nanti."
Mama Reta berdecak, merasa kesal dengan putranya yang seperti enggan melihat keberadaannya. Ia lalu menarik tangan Rissa, mengajaknya kembali turun untuk sarapan.
Baru juga mama dan adiknya berbalik, Ibra sudah kembali menutup pintu kamarnya. Dan berjalan menuju tempat tidurnya.
"Mama kenapa?" tanya Ara, yang sedang merapikan tempat tidurnya.
"Hanya memanggil untuk sarapan," jawabnya yang kemudian memeluk tubuh istrinya dari belakang. "Kenapa dibereskan? tidur lagi yuk!" Ibra menciumi tengkuk Ara dengan bebas, karena rambut wanita itu yang diikat tergulung ke atas.
"Kak Ibra, geli... udah pagi, sana Kakak cuci muka, lalu turun sarapan. Mereka pasti menunggu kita."
"Kamu tidak kuliah?"
"Kuliah. Tapi berangkatnya jam sembilan."
"Kalau begitu sekali lagi yah? sebelum kamu ke kampus," pintanya dengan nada merayu.
"Apa Kakak sudah gila? Ini sudah pagi." Ara dengan segera melepas pelukan suaminya.
"Iya, aku gila karena kamu." Ibra tertawa kecil, lalu mencium dan menyesap singkat bibir bawah milik istrinya. Membuat Ara membulatkan matanya.
Ara menggeleng dengan cepat, mencoba menolak ajakan suaminya, yang entah mengapa tiba-tiba saja ia juga menginginkannya setelah mendapat ciuman dari pria itu.
"Ayolah..."
"Mama pasti ngerti kok."
"Tetap saja Ara merasa nggak enak," kekeh Ara. Yang kemudian berjalan ke arah lemari untuk menyiapkan pakaiannya.
"Ara...." rengek Ibra, yang terus saja mengikuti langkah istrinya.
"Nggak, Kak Ibra!"
"Dosa besar loh, menolak ajakan suami." Ibra tersenyum menggoda.
Ara membalikkan tubuhnya, menatap suaminya. "Sepulang kuliah aja ya," tawarnya.
"Tapi maunya sekarang," ucap Ibra memelas.
"Mmm... baiklah, tapi jangan lama ya."
"Siap, tuan putri." Ibra tersenyum lebar. Meraih pakaian yang ada di genggaman tangan istrinya dan membuangnya sembarang. Ia menarik kedua tangan istrinya dan mengalungkannya di lehernya, dan kembali memulai aksinya.
***
"Apa kalian bertemu dengan Ibra?" tanya Papa Nahar setelah istri dan putrinya telah kembali dari kamar putranya.
"Papa tau? Kenapa tidak bilang?" Mama Reta mencebik kesal.
__ADS_1
"Kalian hanya mengganggu mereka saja," ucap Papa Nahar tanpa menanggapi pertanyaan istrinya.
"Siapa suruh sudah berbaikan tidak bilang-bilang." Ketus Mama Reta.
"Bukankah memang sudah seperti itu, saat tidak mampu menyelesaikan masalah dengan baik-baik, ya diselesaikannya di atas ranjang." Papa Nahar tertawa kecil, membuat Mama Reta menggeleng melihatnya.
"Astaga, Papa... Rissa masih kecil, loh!" Rissa bergidik, merasa geli dengan ucapan papanya. Bahkan ia kembali teringat dengan penampilan kakaknya tadi, yang hanya memakai boxer.
"Sudah bisa bikin anak begitu, masih dibilang anak kecil," tutur Papa Nahar terkekeh.
"Papa...." Rissa menutup telinganya dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Membuat kedua orang tuanya tertawa melihat tingkahnya.
"Oh iya, Rissa. Boleh mama tanya sesuatu?" tanya Mama Reta, yang tiba-tiba teringat akan sesuatu.
"Tanya apa, Ma?" Rissa mengalihkan pandangannya pada mamanya, yang duduk tepat di sampingnya.
"Kamu sudah punya pacar belum?"
Rissa berdecak, dan kembali menikmati sarapannya, merasa tidak tertarik dengan pembicaraan mamanya. "Rissa nggak punya waktu untuk pacar-pacaran," jawabnya acuh.
"Kalau begitu,mama jodohin dengan seseorang, mau?"
"Nggak!" jawab Rissa cepat.
"Dengan siapa, Ma?" Papa Nahar ikut penasaran dengan rencana istrinya.
"Papa masih ingat tidak dengan Bima, anak Jeng Sumarni? tetangga kita dulu," tanya Mama Reta.
"Iya, papa ingat. Bukankah dia seumuran dengan Ibra?"
"Iya, Pa. Dan ternyata dia dosen Ara. Dan kata Ara dia belum menikah loh." Mama Reta menjelaskan dengan begitu antusias. "Dia juga makin ganteng loh!" imbuhnya pada Rissa.
Namun Rissa tetap saja tidak perduli, dan fokus menyantap sarapannya.
"Lalu bagaimana dengan kekasih? Apa dia tidak punya kekasih?" tanya Papa Nahar.
"Entahlah! Ara juga tidak tahu tentang itu. Tapi semoga saja dia tidak punya."
Rissa meletakkan sendok yang ada di tangannya ke atas piring, setelah menyuapkan makanan terakhirnya. Kemudian meneguk air yang ada di dalam gelas di hadapannya. "Mama nggak usah khawatir dengan Rissa. Rissa bisa memilih calon suami Rissa sendiri.... Rissa udah selesai, Rissa berangkat sekarang ya." Rissa beranjak dari duduknya dan menciumi kedua orang tuanya, sebelum akhirnya berangkat menuju rumah sakit.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan LIKE dan KOMEN nya ya kakak ♥
__ADS_1