Sebuah Luka

Sebuah Luka
Chapter 29


__ADS_3

Minggu pagi Rissa menjemput Ara di rumahnya. Setelah sebelumnya ia membuat janji dengan sahabatnya itu untuk jalan-jalan berdua. Ya, berdua saja tanpa Arumi dan Miya. Sebab, jika Arumi dan Miya sampai ikut, maka rencana yang telah dibuatnya akan gagal.


"Kau mau kemana?" tanya Miya pada Ara yang sudah terlihat rapi.


Miya memang telah tinggal di rumah Ara beberapa hari ini.


"Aku akan keluar dengan Rissa," jawab Ara.


"Kemana?"


"Entahlah, Rissa hanya mengatakan ingin berjalan-jalan denganku. Katanya sudah lama kami tidak melakukannya."


"Aku ikut, ya?" pinta Miya, antusias.


"Maaf! Tapi, kata Rissa dia hanya ingin pergi berdua denganku," jawab Ara, tidak enak. Tapi ia sudah berjanji pada Rissa kalau mereka hanya akan pergi berdua.


"Dasar pelit!" Miya mencibir kesal.


"Maaf!"


"Ya udah. Kalau gitu aku akan ke rumah Arumi aja. Pinjem mobilmu ya?"


"Iya, pakailah sesuka hatimu.... Aku pergi ya, Rissa udah di depan."


"Iya, sana sana." Miya mengibas-ngibaskan tangannya.


***


Rissa mengemudikan mobilnya menuju ke sebuah mall. Sesampainya di mall, mereka berjalan-jalan sebentar, sebelum akhirnya Rissa mengajak Ara untuk menonton film.


"Biar aku saja yang beli tiketnya, kamu tunggu disini saja ya," ucap Rissa pada Ara.


"Baiklah. Sekalian beli minumnya, ya?" jawab Ara tertawa.


Setelah mengiyakan ucapan Ara, Rissa berlalu meninggalkan sahabatnya itu.


"Ara..."


Ara yang sibuk dengan ponselnya, mendongakkan kepalanya, saat mendengar sapaan dari seseorang. "Kak Rangga!" Ara melebarkan senyumnya pada pria yang berdiri tepat di hadapannya saat ini.


"Sendiri?" tanya Rangga.


"Nggak, sama temen," jawab Ara.


"Arumi?" Rangga melebarkan senyumannya. Berharap bahwa gadis yang disukainya itu juga berada disana.


Ara tersenyum kikuk, "bukan."


"Oh, aku pikir dengan Arumi dan Miya," tuturnya, sedikit kecewa. "Boleh aku duduk?" tanyanya, melirik kursi yang ada di depan Ara.


"Iya, silahkan. Kakak sama siapa?"


"Dengan adikku. Dia memaksaku untuk menemaninya menonton. Katanya filmnya sudah lama dia tunggu-tunggu. Tapi, saat bertemu dengan temannya dia malah meninggalkanku." Rangga menggelengkan kepalanya, tertawa kecil.


"Adik yang baik!" Ara ikut menertawakan nasib pria di hadapannya itu.


"Oh iya, sudah lama kalian tidak ke kafe. Aku sangat merindukan kalian," ucap Rangga.


"Merindukan kami atau hanya merindukan Arumi?" tanya Ara menggoda.

__ADS_1


"Ya merindukan kalian, lah. Tapi, dengannya lebih rindu lagi." jawab Rangga terkekeh.


Ara ikut tertawa mendengar ucapan Rangga. Pria di hadapannya itu, memang tidak malu lagi menunjukkan ketertarikannya pada sahabatnya itu. "Kakak bisa aja. Kak Rangga nggak usah khawatir, nanti akan aku sampaikan salam rindu kakak padanya."


"Janji ya?" ucap Rangga.


"Iya iya!"


Jawaban Ara membuat Rangga semakin terkekeh. "Lalu bagaimana hubunganmu dengan Bima?"


Pertanyaan Rangga membuat Ara terkesiap. Bingung, harus menjawab apa. Tidak mungkin juga ia menceritakan tentang kerenggangan hubungannya dengan Bima pada pria itu.


"Ehemm..."


Ara dan Rangga mengalihkan pandangan mereka saat mendengar suara deheman dari seseorang.


"Rissa..." Ara merasa sedikit lega saat melihat kedatangan Rissa. Setidaknya ia tidak perlu lagi menjawab pertanyaan yang dilontarkan Rangga padanya.


"Tiketnya sudah ada. Ayo kita masuk, filmnya akan segera dimulai." ucap Rissa, yang merasa tidak senang melihat kedekatan Ara dengan seorang pria.


"Iya, ayo! Kak Rangga, aku tinggal dulu ya?"


"Oke. Jangan lupa main ke kafe ya! aku tunggu." jawab Rangga.


"Siap, Kak!" jawab Ara tersenyum, lalu berjalan meninggalkan Rangga.


"Siapa?" tanya Rissa menyelidik. Saat mereka telah berjalan sedikit menjauh dari Rangga.


"Temen." jawab Ara.


"Hanya temen?"


"Iya. Lalu apa lagi?"


"Iya, bukan." Ara tertawa kecil melihat sikap Rissa. Kalau saja yang bertanya seperti itu seorang pria. Ia akan berpikir, kalau pria itu sedang cemburu padanya.


"Syukurlah!"


"Emangnya kenapa? Kau seperti pacar yang sedang cemburu saja."


"Nggak kenapa-kenapa. Aku hanya nggak mau kamu berpacaran dengan cowok model seperti itu," jawab Rissa beralasan.


"Emang kenapa dengan Kak Rangga?" tanya Ara memicing.


"Nggak kenapa-kenapa. Udah jangan cerewet." Arumi menghentikan langkahnya dan menyerahkan tiket masuknya pada petugas yang berjaga di depan pintu masuk teater.


***


Setelah menonton film, mereka keluar dari mall tersebut dan pergi ke sebuah kafe yang katanya telah menjadi kafe langganan Rissa.


Setelah melakukan pemesanan, Rissa pamit pada Ara untuk ke toilet. Rissa masuk ke dalam salah satu bilik yang ada di dalam toilet wanita. Mengeluarkan ponselnya dari sling bag miliknya, dan mulai menghubungi seseorang, yang tidak lain adalah Ibra.


Rissa menggigit-gigit salah satu kuku jarinya, seraya mengetuk-ngetukkan sepatunya di lantai. Merasa tidak sabaran, setelah beberapa kali melakukan panggilan pada kontak kakaknya, namun tidak juga mendapat tanggapan.


Dan akhirnya pada panggilan ke empat yang ia lakukan, membuatnya jadi sumringah, setelah mendengar sahutan dari kakaknya itu.


Rissa meminta Ibra untuk menjemputnya di kafe langganannya, dengan alasan ban mobilnya kempes. Dan saat mendapat saran dari Ibra untuk naik taksi, ia kembali beralasan kalau ia takut, karena belum pernah melakukannya sebelumnya.


Sungguh alasan yang tidak masuk akal bagi Ibra. Yang meski kesal, namun tetap mengiyakan permintaan adiknya itu.

__ADS_1


"Udah?" tanya Ara, saat Rissa sudah kembali dari toilet.


Setelah mengiyakan ucapan Ara, Rissa kembali mendudukkan dirinya. Kemudian mulai menyantap makanan pesanannya, yang memang sudah lebih dulu siap sebelum ia kembali dari toilet tadi.


Mereka menyantap makanan mereka sambil berbincang ringan dan sesekali tertawa saat merasa ada yang lucu.


Karena hampir keseluruhan dinding kafe tersebut terbuat dari kaca, sehingga memudahkan Rissa untuk melihat kedatangan kakaknya.


Rissa terus saja menatap keluar, hingga matanya menangkap mobil Ibra memarkir di depan kafe tersebut.


Dengan tenang, Rissa kembali meminta izin pada sahabatnya itu untuk ke toilet.


"Kau baik-baik aja kan?" tanya Ara sedikit khawatir.


"Iya, aku baik-baik aja kok. Cuma kebelet aja. Tunggu bentar, ya!" ucap Rissa, yang kemudian bergegas meninggalkan Ara.


Ibra turun dari mobilnya dan menghampiri mobil adiknya. Menyelidik satu persatu ban mobil adiknya, yang memang benar, salah satu bannya kempes.


Rissa benar-benar menyempurnakan rencananya, dengan menyempatkan untuk mengempeskan ban mobilnya. Entah kapan ia melakukannya.


Ibra masuk ke dalam kafe dan melihat ke seluruh pengunjung, mencari keberadaan adiknya. Namun, matanya terhenti saat melihat seorang gadis yang sangat dikenalinya.


"Ara!" sapa Ibra.


"Kak Ibra!"


"Apa kau datang bersama Rissa?" tanya Ibra.


Ara menganggukkan kepalanya, "iya. Tapi Rissa lagi ke toilet, Kak. Kakak duduk dulu."


"Iya, terimakasih." Ibra mendudukkan dirinya di kursi tempat Rissa duduk tadi.


Setelah Ibra mendudukkan dirinya, tidak ada percakapan yang terjadi di antara keduanya. Sebab, Ibra lebih memilih bermain dengan ponselnya.


Entah mengapa saat sesaat memandang gadis di hadapannya itu, Ibra menjadi sedikit canggung. Tawaran adiknya malam itu kembali terngiang di telinganya. Ponselnya hanya sebuah pengalihan, dari pikirannya tentang gadis di depannya.


Dan Ara yang tadinya berniat berbasa-basi dengan pria itu, mengurungkan niatnya saat melihat pria itu begitu serius dengan ponselnya.


Hingga sebuah pesan masuk di ponsel Ibra. Membuat pria itu melempar pandang pada gadis di hadapannya, yang saat ini juga terlihat serius dengan ponselnya.


Rissa


"Mungkin saja kakak ingin tau lebih banyak tentang Ara, maka ini kesempatan kakak...


Semangat 💪😁 "


Ibra


"Kau sudah gila? Kau dimana? cepat kesini."


Rissa


"Rissa udah di taksi. Ternyata naik taksi tidak semenakutkan itu. Nanti kakak antar Ara pulang ya. Karena tadi Rissa yang menjemputnya, jadi sekarang Ara tanggung jawab kakak, antar dia dengan selamat ya kak.


love you kak Ibra 😘"


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa tinggalkan like dan komennya ya kakak 🤗❤


__ADS_2