Sebuah Luka

Sebuah Luka
Chapter 50


__ADS_3

Hari ini adalah hari pertama Ara dan kedua sahabatnya melaksanakan magang. Arumi dan Miya magang di tempat yang sama. Tapi tidak dengan Ara, yang magang di tempat yang berbeda.


Ara berangkat ke kantor tempatnya magang dengan berkendara sendiri. Itu semua, karena lokasi kantor tempatnya melaksanakan magang, berlawanan arah dengan kantor Ibra.


"Jaga diri baik-baik, jangan genit-genit, bicara seperlunya pada pria lain, jangan tersenyum apalagi tertawa dengan pria lain." Itulah beberapa pesan Ibra pada Ara, saat Ara akan berangkat tadi.


Dan Ara hanya mengiyakan segala ucapan suaminya, meski sebenarnya itu sangat berlebihan menurutnya.


Setelah pengenalan diri, Ara bersama ketiga anak magang lainnya, di ajak berkeliling kantor. Setelahnya, mereka ditempatkan di berbagai divisi. Dan Ara bergabung dengan divisi keuangan.


"Hai!" sapa seorang wanita, yang duduk tepat di sampingnya. "Sarah," ucapnya mengulurkan tangannya, memperkenalkan diri.


Ara tersenyum, dan meraih jabatan tangan wanita itu, "Ara!"


"Selamat bergabung ya.... Kerja yang baik, siapa tahu saja setelah tamat kuliah kamu bisa bekerja disini. Sama seperti saya, saya juga dulu magang disini dan hasil kerjaku sangat di akui hingga setelah tamat kuliah mereka memintaku bekerja disini," tutur Sarah.


Ara kembali tersenyum, melihat sikap wanita itu yang terkesan ramah dan mudah bergaul. "Iya, Mba. Terimakasih, akan saya usahakan."


"Kalau ada yang tidak kamu mengerti, kamu tanya saya saja," ucapnya lagi. Membuat Ara menganggukkan kepalanya, dan kembali mengucapkan terima kasih.


***


Sore harinya, Arumi dan Miya bersiap-siap untuk pulang setelah melewati magang hari pertamanya.


Miya menggoyang-goyangkan kepalanya, merenggangkan otot lehernya yang terasa tegang. "Sangat melelahkan. Mereka memberiku begitu banyak pekerjaan dihari pertamaku," ucap Miya cemberut.


"Iya, benar. Apa kita akan selalu seperti ini, hingga tiga bulan kedepan?" cebik Arumi, yang juga merasa lelah.


Miya kemudian menghentikan langkah kakinya, saat mereka baru saja keluar dari kantor. "Arumi... Arumi..." ucapnya, menarik-narik lengan kemeja Arumi.


"Apaan sih!" ucap Arumi kesal.


"Kamu lihat itu deh, bukannya itu Mba Novi ya, sama Pak Dimas?" Miya menunjuk ke arah Novi yang sedang bergelayut manja di lengan Dimas, salah satu pegawai kantor tempat mereka magang.

__ADS_1


"Ah iya, untung kamu bilang... KTP-ku." Arumi yang sudah akan menghampiri Novi, menghentikan langkahnya, saat Miya dengan cepat menarik tangannya.


"Miya, apaan sih!"


"Mau kemana?" tanya Miya.


"Mau nyamperin dia lah, aku mau meminta KTP-ku."


"Jangan dulu, kamu lihat deh mereka berdua. Bukankah mereka terlihat mesra?" ucap Miya, yang terus saja memperhatikan kedekatan keduanya, ia bahkan melihat dengan jelas saat Dimas menciumi kepala Novi.


"Terus apa masalahnya?" tanya Arumi kesal.


"Kau ini, bukankah dia telah bertunangan dengan Chef Dion?" cebik Miya. Merasa kesal dengan sikap Arumi, yang seperti tidak mengerti dengan apa yang dimaksudnya.


"Apa mereka berselingkuh?" ucap Arumi dengan tatapan sinis.


"Sepertinya sih, begitu," jawab Miya.


"Apa kita akan memata-matai mereka?" tanya Miya saat mereka sudah berada di dalam mobil.


"Tidak!"


"Lalu untuk apa?"


"Untuk meminta KTP-ku," jawab Arumi datar.


"Astaga, hanya itu saja?"


"Iya... emang untuk apa kita memata-matai mereka, bukan urusan kita!" sahut Arumi.


"Apa kamu nggak kasihan dengan Chef Dion?"


"Nggak! dia juga nggak pernah kasihan padaku," jawab Arumi.

__ADS_1


"Apa kau dendam padanya?"


"Nggak juga!"


"Ceh! Kau seperti pepatah, cinta jadi benci," ucap Miya.


"Sok tahu! yang ada benci jadi cinta."


"Terserah! Tapi, kalau kau memberitahu Chef Dion tentang perselingkuhan tunangannya, mungkin dia akan sangat berterimakasih padamu. Dan aku yakin dia akan menerima perasaanmu."


"Husttt diam, kok malah kesini." Arumi terus saja mengikuti laju mobil yang di kendarai Novi hingga masuk ke dalam area parkir apartemen.


Setelah menghentikan mobilnya, pandangan keduanya tidak pernah lepas dari Novi. Hingga wanita itu turun dari mobil bersama pria itu.


"Kita samperin?" tanya Miya.


"Entahlah, aku juga ragu. Kita akan ketahuan mengikutinya," tutur Arumi.


"Udah, nggak apa. Kita bisa buat alasan nanti... cepat keburu mereka masuk."


"Jangan!" Teriakan Arumi, menghentikan niat Miya yang sudah akan keluar dari mobil. "Apa yang akan dikatakan Pak Dimas nanti. Kita bahkan baru saja bergabung di kantor, aku takut dia akan salah paham dan akan menyusahkan kita."


Miya mengangguk, membenarkan ucapan Arumi. "Iya juga yah.... Kenapa kau baru mengatakannnya sekarang?" cebik Miya, yang kemudian kembali menutup pintu mobil yang telah ia buka tadi.


"Baru terpikir. Ya udah kita pulang aja." Arumi kembali melajukan kendaraannya keluar dari apartemen tersebut dengan sedikit kecewa, sebab ia belum berhasil mendapatkan KTP miliknya.


.


.


.


Jangan lupa tinggalkan jejak LIKE dan KOMEN nya kakak 🤗❤

__ADS_1


__ADS_2