
Hari ini Ara masuk kuliah agak siangan, karena dosen di jam pertamanya berhalangan hadir. Dan ia berencana membawa mobil sendiri setelah lama tidak mengemudi.
Sangat sulit bagi Ara membujuk ayahnya hingga ia diberi izin mengemudi sendiri hari ini.
Bukan tanpa sebab Hartono melarang putrinya mengemudi sendiri, sebab Ara pernah dengan sengaja menabrakkan dirinya. Dan sejak saat itu Hartono sudah tidak pernah lagi mengizinkan Ara mengemudi sendiri.
Dan karena Ara tidak pernah ingin diantar oleh sopir pribadi, maka dari itu mau tidak mau ia harus siap mengantar jemput putri semata wayangnya.
Ara memarkirkan sempurna kendaraannya di area parkir kampus. Dan saat baru saja turun dari kendaraannya, Ara mendapati Arumi yang juga baru turun dari kendaraannya.
"Arumi..." Ara berteriak seraya melambaikan tangannya.
"Kau sudah boleh bawa mobil sendiri?" tanya Arumi, memandangi mobil milik sahabatnya yang sudah lama tidak ia gunakan.
"Iya, dengan seribu satu rayuan gombal," jawab Ara tertawa kecil.
"Ya udah, Ayo!" ajak Arumi.
"Aku pikir kau tidak masuk hari ini," ucap Ara yang berjalan di sisi Arumi.
"Kenapa? Kau pikir aku akan terus-terusan bersedih, mangurung diri dikamar dan menangis sepanjang hari, gitu?" Arumi mencebikkan bibirnya, melirik sahabatnya itu.
"Iya, emang! Tapi ternyata aku salah, Arumiku memang kuat," jawab Ara tertawa seraya melingkarkan tangannya di lengan Arumi.
"Cehh!" jengah Arumi yang juga tertawa kecil.
Meski sebenarnya Arumi masih merasakan sakit, tapi ia akan berusaha untuk mengabaikan perasaannya sejenak. Ia akan menyibukkan dirinya agar tidak larut dalam kesedihannya, dan berharap dapat dengan cepat melupakan perasaan bodohnya itu.
Saat berjalan di koridor, Ara tersenyum simpul saat melihat Bima yang baru saja keluar dari salah satu ruang kelas. Ia jadi teringat dengan rencananya hari ini yang akan menceritakan tentang apa yang terjadi padanya setahun lalu pada Bima, saat pulang kuliah nanti.
"Pak Bima..." panggil Ara.
Namun Bima yang mendengar panggilan Ara justru berbelok arah tanpa melihat ke arah gadis itu.
"Ada apa dengannya?" tanya Arumi mengernyit, saat merasa tidak mungkin pria itu tidak mendengar panggilan sahabatnya.
"Mungkin dia tidak mendengarku," jawab Ara tersenyum canggung. "Ya udah, yuk ke kelas," imbuhnya.
Meski sebenarnya ia merasa sedikit aneh dengan sikap dosennya itu, tapi ia mencoba untuk tidak berpikiran buruk.
Sesampainya di kelas, Ara meraih ponselnya yang ada di dalam tasnya, dan mulai mengetikkan pesan untuk Bima.
Ara
"Assalamualaikum, Pak."
"Pak, boleh kita bicara saat pulang kuliah nanti? Ada hal penting yang ingin saya sampaikan pada bapak."
__ADS_1
Ara kembali mengirimkan pesan pada dosennya itu, saat melihat dua centang biru pada pesan pertamanya, yang berarti sudah terbaca.
Cukup lama Ara menunggu balasan pesan dari dosennya itu, hingga ia berulang kali membuka aplikasi chatting miliknya. Bahkan pesan kedua yang ia kirimkan belum juga terkirim. Kemungkinan aplikasi chatting milik pria itu sedang di non aktif-kan.
Ara semakin merasa aneh dengan sikap dosennya itu. Beberapa kali ia memikirkan tentang kesalahan yang mungkin ia perbuat, tapi sepertinya tidak ada.
***
Kelas telah selesai, Ara dan Arumi keluar bersama. Sepanjang jalan menuju parkiran Ara terus saja berjalan dengan tatapan kosong, ia bahkan tidak menyadari Arumi yang terus mengajaknya berbicara.
"Hei!" Arumi menahan salah satu pundak sahabatnya itu, membuat Ara menghentikan langkahnya dan tersadar dari lamunannya. "Kamu kenapa sih, aku yang patah hati kok malah kamu yang nggak bersemangat kayak gini?" tanya Arumi.
Belum juga Arumi mendapat tanggapan dari Ara, namun ia melihat Bima yang juga melihat ke arahnya.
Arumi mencoba tersenyum pada dosennya itu, namun Bima dengan segera mengalihkan pandangannya dan berjalan menuju parkiran.
Arumi menautkan kedua alisnya, seperti mendapat jawaban atas pertanyaan yang belum sempat Ara jawab.
"Kamu ada masalah dengan Pak Bima?" tanyanya lagi.
"Tidak," jawab Ara menggeleng.
"Tapi, sepertinya dia menghindarimu?"
"Maksud kamu?"
"Entahlah! Aku juga bingung," jawab Ara tidak bersemangat.
Ia kemudian menceritakan tentang pesannya yang tidak mendapat tanggapan dari pria itu. Padahal kemarin mereka baik-baik saja, pria itu bahkan mengajaknya bertunangan.
"Apa mungkin ayah menolaknya dan mengatakan sesuatu yang kasar?" Tebak Arumi.
"Sepertinya tidak mungkin. Semalam ayah mengatakan kalau ayah suka dengan Pak Bima, dan menyerahkan semua keputusannya padaku."
Arumi mengangguk membenarkan. Selama ia mengenal ayah sahabatnya itu, ia belum pernah sekalipun mendengar pria paruh baya iti melontarkan kata-kata kasar, meski saat marah sekalipun. Lalu apa yang membuat dosennya itu bersikap aneh?
"Apa mungkin orang tuanya tidak setuju kalau Pak Bima menjalin hubungan denganku?" ucap Ara putus asa.
"Apa kau sudah pernah bertemu dengan orang tuanya?" Ara menggelengkan kepalanya menanggapi pertanyaan sahabatnya itu.
"Tapi, itu satu-satunya alasan yang kuat mengapa ia bersikap seperti itu... dan mungkin ia malu untuk memberitahuku, karena itu ia lebih memilih menghindar."
Arumi menatap lekat wajah Ara yang terlihat sendu, "udah jangan berpikiran yang nggak-nggak dulu, mungkin dia lagi ada masalah. Kamu tunggu aja, mungkin nanti dia akan membalasnya." Arumi tersenyum dan merangkul sahabatnya itu, mencoba menyemangati.
***
Tiga hari telah berlalu, dan Bima masih saja menghindari Ara. Membuat gadis itu semakin bingung atas sikapnya.
__ADS_1
Sudah berkali-kali Ara mengirim pesan dan mencoba menelfon Bima untuk meminta kejelasan, namun pria itu tidak pernah sekalipun memberi tanggapan.
Entah kesalahan apa yang diperbuat Ara padanya. Apa mungkin gadis itu sedang dipermainkan?
Arumi yang merupakan sahabat terdekat Ara pun dibuat greget karenanya. Hingga ia memutuskan untuk menemui dosennya itu.
Tapi ia bingung harus menemuinya dimana, ia bahkan tidak tau alamat rumah pria itu. Ia juga tidak mungkin menemuinya di kampus, melihat bagaimana pria itu selalu menghindari mereka berdua.
Arumi terus saja memperhatikan Bima dari kejauhan. Sampai akhirnya Bima masuk kedalam mobilnya, Arumi dengan segera ikut masuk dan duduk di kursi samping kemudi tepat di sebelah dosennya itu.
"Arumi!" Bima terkejut melihat Arumi yang sudah berada di dalam mobilnya.
"Ada apa?" tanyanya pura-pura bodoh.
"Saya yang ingin bertanya pada Bapak. Ada apa dengan, Bapak? Kenapa Bapak tiba-tiba menghindari Ara setelah bapak mengatakan ingin mengajaknya bertunangan?"
Bima tidak langsung menanggapi pertanyaan yang dilontarkan Arumi padanya. Ia sedang memikirkan alasan yang tepat yang akan ia berikan pada mahasiswinya itu. Setidaknya agar tidak begitu menyakiti perasaan Ara nantinya.
"Ada apa? Kenapa bapak diam? Apa Bapak sedang mempermainkan teman saya? Apa Bapak memang suka mempermainkan perempuan? Apa Bapak telah mendapatkan mangsa yang lebih cantik sekarang?" sergah Arumi yang sudah merasa amat kesal dengan dosennya itu.
"Cukup! Aku juga yakin kamu tau kalau Ara itu korban pemerkosaan."
Jeduarrrr...
Arumi bagai disambar petir mendengar kata-kata Bima. Ia mematung dan bibirnya kelu tidak mampu menjawab ucapan dosennya itu.
"Kamu tau perasaan saya pada Ara itu nyata. Saya sangat mencintainya. Bahkan saya sudah membayangkan akan hidup dan menua bersamanya." Bima menjatuhkan kepalanya pada setir mobilnya, menjambak rambut belakangnya untuk menahan amarahnya.
Ia tidak tau harus marah pada siapa. Apakah ia harus marah pada dirinya sendiri yang telah jatuh cinta pada gadis itu. Atau malah marah pada Ara yang sudah membuatnya jatuh cinta.
"Meski begitu tidak bisakah bapak menerimanya?" ucap Arumi melemah.
Bima mengangkat kepalanya, dan kembali menegapkan duduknya, menatap gadis yang duduk di sebelahnya, "saya pikir itu sebuah kesalahan jika saya melakukannya. Saya akan membawa aib pada keluarga saya."
Arumi menggeleng tidak percaya mendengar ucapan dosennya itu. Ia menyunggingkan salah satu sudut bibirnya, menatap remeh pria di hadapannya.
"Saya juga yakin Bapak bukan laki-laki yang baik buat Ara. Dan saya senang dia tidak harus menghabiskan sisa hidupnya dengan laki-laki cemen seperti Bapak."
Arumi segera keluar dari mobil Bima dan menutup pintu mobil tersebut dengan sangat keras.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan like dan komennya ya kakak 🤗❤
__ADS_1