
Setelah menurunkan Miya di depan kosannya, Arumi kembali menjalankan kendaraannya untuk pulang. Tapi di tengah perjalanan, mobil yang dikendarai Arumi mogok.
Arumi mendengus kesal, lalu turun dari mobilnya. Ia menyelidik satu persatu ban mobilnya, dan benar saja, salah satu bannya kempes. Ia kemudian meraih ponsel yang ada di dalam tasnya berniat menghubungi papanya.
Namun belum juga ia sempat menghubungi papanya, niatnya terhenti tatkala seorang pria datang menghampirinya.
"Mobilnya kenapa, Neng? kempes?" tanya pria tersebut.
"Iya, Mas." Arumi merasa sedikit lega, berharap bisa mendapatkan bantuan dari pria itu.
"Mau saya bantuin?" tanya pria tersebut mengedipkan sebelah matanya. Membuat Arumi bergidik ngeri melihatnya.
"Nggak usah, Mas. Saya sudah menghubungi bengkel langganan saya," tolaknya, berbohong.
"Kalau begitu biar saya temani disini," tawar pria itu lagi.
Arumi dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Nggak usah, Mas. Saya baik-baik saja," tolak Arumi lagi. Rasanya ia ingin lari saja saat ini, dari pada harus bersama dengan pria itu.
"Tidak apa kok, saya akan menemanimu. Bahaya juga kalau wanita cantik sepertimu sendiri disini, mana jalannya sepi," ucap pria tersebut memaksa.
"Yang ada, kamu bahayanya."
Baru saja Arumi ingin pergi meninggalkan pria tersebut, namun niatnya terhenti tatkala sebuah mobil berhenti tepat di depan mobilnya yang mogok. Dan ia sangat mengenal pemilik mobil tersebut, yang sesaat setelahnya keluar dari mobil itu.
"Arumi..."
"Chef Dion!" Arumi menghela napasnya lega.
"Ada apa?" tanya Dion, berganti menatap Arumi dengan pria yang berdiri tepat di sisi gadis itu.
"Ban mobilku kempes," adunya, menunjuk ban mobilnya.
"Tadi saya ingin membantunya, tapi dia menolaknya," ucap pria yang bersama Arumi.
"Iya tidak apa, Mas. Biar saya saja, dia adik saya," sahut Dion pada pria tersebut.
"Ya sudah, kalau begitu saya permisi," pamit pria itu.
"Iya makasih ya, Mas. Hati-hati," ucap Dion ramah. Yang kemudian mendapat anggukan dari pria itu.
Setelah kepergian pria itu, Dion lalu menyelidik ke arah ban mobil Arumi dan memeriksa ban mobil Arumi yang kempes.
__ADS_1
"Kamu ada serepnya?" tanya Dion, merujuk pada ban mobil Arumi.
"Iya, ada dibelakang," jawab Arumi.
"Baiklah!" Dion lalu berjalan ke mobilnya untuk mengambil alat untuk mengganti ban mobil Arumi.
Karena segera petang, Dion mengganti ban tersebut dengan cepat. Arumi yang berdiri di sebelah pria itu terus saja memandangi wajah Dion. Hingga membuatnya kembali terpesona dengan ketampanan pria itu.
"Ahh... Kenapa dia begitu tampan sih. Ya Allah kirim seorang lagi yang seperti dia untukku Ya Allah..."
"Sudah!" Ucapan Dion berhasil membuyarkan lamunan Arumi, yang sudah liar kemana-mana.
"Ah, iya. Terima kasih."
Dion kembali ke mobilnya menyimpan peralatannya dan mengambil handuk kecil untuk membersihkan tangannya. Setelahnya, Dion kembali menghampiri Arumi yang masih berdiri di samping mobilnya dan terus menatap ke arahnya.
"Pulanglah, hati-hati bawa mobilnya," tutur Dion.
"Iya, Chef. Sekali lagi terima kasih," sahut Arumi.
"Iya sama-sama. Panggil Dion saja, saya bukan chef lagi."
"Ah iya, baiklah. Kalau begitu saya permisi," pamit Arumi, yang kemudian mendapat anggukan dari pria itu.
"Iya?"
Dion lalu mengambil dompet dari saku celananya, kemudian meraih sebuah benda pipih dan menyerahkannya pada Arumi.
"Ini, milikmu," ucap Dion, seraya menyodorkan KTP milik Arumi.
"Ah iya, terima kasih. Kenapa dia tidak memberikannya sendiri padaku?" Arumi meraih KTP tersebut, dan tersenyum canggung.
"Maksud kamu?" Dion menautkan kedua alisnya, tidak mengerti dengan maksud ucapan gadis itu. "Saya mendapatkan itu di apartemen saya. Saya justru ingin menanyakanya padamu, bagaimana bisa itu ada di apartemen saya?" imbuhnya.
"Apartemen?" Apa kalian sudah tinggal bersama?"
"Maksud kamu?" Dion semakin menautkan kedua alisnya, saat tidak juga berhasil menangkap maksud gadis itu.
"Tidak ada apa-apa. Kalau begitu saya permisi. Sekali lagi terima kasih." Arumi memilih menyudahi percakapannya dengan pria di hadapannya, kemudian masuk ke mobilnya, meninggalkan Dion yang masih menatapnya bingung.
"Kenapa juga aku harus menanyakan hal itu, bisa-bisa dia berpikir aku sedang cemburu," lirihnya, merutuki kebodohannya.
__ADS_1
"Tapi apa mereka benar-benar tinggal bersama? Lalu bagaimana kalau Mba Novi benar-benar selingkuh? Ahhh... Kenapa jadi aku yang pusing sih!" Arumi memukul-mukul kepalanya. Kenapa juga ia harus memikirkan urusan pria itu.
***
Malam ini Ibra pulang larut. Saat masuk ke dalam kamarnya, ternyata Ara sudah tertidur lelap. Ibra kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Setelah berpakaian, Ibra perlahan naik ke atas tempat tidur. Ibra menarik kedua sudut bibirnya, saat menatap wajah polos istrinya yang tertidur lelap dengan posisi membelakanginya.
Ia lalu ikut membaringkan tubuhnya, menciumi kepala Ara, menghirup aroma shampo wanita itu. Seraya memeluk tubuh istrinya itu, memasukkan tangannya kedalam piyama Ara dan mengelus-elus perut wanita itu.
Ara yang merasakan sentuhan Ibra jadi terbangun. Ia lalu membalikkan tubuhnya menghadap pria itu.
"Sudah pulang?" tanyanya dengan suara parau.
"Iya." Ibra kembali mencium kepala Ara. "Bagaimana magang hari pertamanya?" imbuhnya, seraya merapikan anak rambut Ara yang menutupi wajahnya.
"Menyenangkan."
"Apa mereka menyusahkanmu?" tanya Ibra.
"Tidak. Sepertinya mereka semua orang yang baik," jawab Ara jujur. Sebab, ia memang mendapatkan perlakuan yang begitu baik dari karyawan di kantor itu.
"Syukurlah. Jika ada yang menyakitimu, beritahu aku secepatnya," tutur Ibra.
Ara tertawa kecil, melihat kekhawatiran suaminya yang terlalu berlebihan menurutnya. "Iya, pasti," jawabnya.
Ibra tersenyum dan mengelus-elus pipi Ara. "Mulai sekarang jika terjadi sesuatu padamu beritahu aku. Jangan sembunyikan apapun dariku. Aku akan merasa bahagia jika kamu memanggil namaku saat kamu terluka. Jangan panggil Ayah lagi, Ayah akan bersedih karena tidak bisa berbuat apa pun untukmu," tutur Ibra.
Ara mengangguk dan menundukkan pandangannya. Ia tidak pernah bisa menyembunyikan kesedihannya, setiap kali mengingat ayahnya.
"Nangis lagi?" Ibra tersenyum kecil melihat Ara yang mulai menangis lagi. Ia kemudian menarik tubuh istrinya itu, dan mendekapnya. Mencoba menenangkan wanita itu dengan terus mengelus punggungnya.
"Terima kasih!" ucap Ara di dalam pelukan suaminya.
"Iya. Sudah, tidurlah kembali."
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak LIKE dan KOMEN nya kakak 🤗❤