Sebuah Luka

Sebuah Luka
Chapter 27


__ADS_3

Ara mendudukkan dirinya di sofa tunggal yang ada di ruang tamunya, seraya melemparkan senyuman pada pria paruh baya yang ada di hadapannya.


"Bagaimana kabar kamu?" tanya Rudi.


"Alhamdulillah, Ara baik-baik aja, Om," jawab Ara.


"Syukurlah..." ucap Rudi tersenyum. Setelah Ara masuk rumah sakit hari itu, membuatnya selalu merasa khawatir dengan gadis itu.


"Om hanya ingin memberitahu, kalau apa yang kamu katakan bahwa Rafael itu anak dari Pak Jordan ternyata benar," ucapnya, kemudian menatap lekat gadis itu.


"Sepertinya, ayah kamu dan Pak Jordan pernah menjodohkan kalian berdua saat kalian masih kecil."


"Maksud, Om?"


"Iya. Tapi sepertinya ayah kamu memutuskan perjodohan tersebut. Sehingga sebagai konsekuensinya ayah kamu harus menyerahkan restorannya," tutur Rudi menjelaskan. Meski sebenarnya ia juga masih bingung, mengapa akibatnya harus sefatal itu.


"Jadi, ini semua karena Ara?"


"Tidak seperti itu. Maksud om memberitahu ini, bukan agar kamu menyalahkan diri kamu," ucapnya menyesal.


"Melihat ayah kamu yang rela kehilangan restorannya dari pada harus melanjutkan perjodohan itu, bukankah itu berarti kalau beliau benar-benar tidak ingin melepasmu pada pria itu. Sepertinya pria itu bukan pria yang baik. Sebab, saya sangat tahu, Pak Hartono tidak pernah gegabah saat mengambil keputusan."


"Dan setelah saya mencari tahu tentang pria itu, ternyata dia adalah pemilik salah satu klub malam terbesar di kota ini."


Ara sedikit terkesiap mendengar penuturan pria paruh baya itu. Bagaimana bisa ayahnya tidak pernah memberi tahunya tentang semua itu. Karena itu menyangkut dirinya, bukankah seharusnya ia harus mengetahui semuanya. Apa ayahnya begitu menderita karena dirinya.


"Yang saya khawatirkan dia akan kembali mendatangimu dan memintamu menikah dengannya. Dan tidak menutup kemungkinan dia akan menawarkan padamu pertukaran dengan restoran ayahmu."


Mata Ara membulat penuh, tidak percaya jika ada orang yang akan melakukan hal itu hanya untuk menikahinya.


"Lalu apa yang harus saya lakukan?" tanyanya cemas. Ia tetap khawatir jika hal itu benar-benar terjadi.


"Apa kamu punya kekasih?" tanya Rudi, yang kemudian dijawab gelengan oleh Ara. Rudi menarik napasnya dan membuangnya perlahan, sebelum kembali berucap, "tidak masalah, kamu bisa berpura-pura telah memiliki kekasih. Atau jika mereka mendatangimu, kamu bisa menghubungi om. Om akan berusaha membantumu."


"Iya, Ara mengerti, Om. Terimakasih atas semua bantuan, Om Rudi."

__ADS_1


Rudi mengangguk dan tersenyum, "iya. Saya harap kamu bisa menjaga diri kamu. Jika terjadi sesuatu, secepatnya kamu memberitahu om."


"Iya, Om. Terimakasih."


Rudi kemudian pamit pada Ara, setelah sebelumnya menghabiskan minuman yang telah di buatkan Bi Ratih untuknya.


Setelah kepergian Rudi. Ara tidak berpindah dari duduknya, dan memikirkan tentang apa yang di katakan pria itu padanya.


Jika itu benar terjadi, mungkin pergi dan mencari tempat baru adalah salah satu solusi yang terbaik. Sebab, sampai saat ini ia juga tidak punya tujuan hidup untuk masa depannya.


***


Di tempat lain.


Rissa yang baru saja keluar dari kamarnya, melangkahkan kakinya sedikit lebih cepat saat melihat Ibra yang akan turun ke lantai bawah.


"Kakak..."


Ibra menghentikan langkahnya dan berbalik pada Rissa, "ada apa?"


"Lalu?" tanya Ibra ketus.


"Mereka mesra banget, Kak. Emang Kakak udah___" Rissa menghentikan ucapannya saat Ibra pergi begitu saja tanpa memperdulikannya.


Berkali-kali Rissa memanggil kakaknya, tapi tetap saja Ibra tidak memperdulikannya, yang malah berjalan menghampiri kedua orang tuanya yang sudah berada di ruang makan.


Rissa mencebikkan bibirnya menatap Ibra yang sudah terlebih dahulu duduk di kursi meja makan. Merasa kesal dengan sikap kakaknya padanya. Padahal ia hanya ingin bersimpati, jika memang pria itu telah putus dengan kekasihnya itu.


Rissa mendudukkan dirinya, kemudian memulai sarapannya. Suasana ruang makan tersebut di hangatkan dengan obrolan Rissa dan Mama Reta yang membahas hal-hal yang tidak begitu penting.


Berbeda dengan Ibra yang terus saja terdiam, dan hanya fokus dengan sarapannya. Sebelum akhirnya Papa Nahar membuka obrolan dengannya.


"Ibra..."


"Iya, Pa?" sahutnya, berbalik menatap papanya.

__ADS_1


"Apa kamu masih menjalin hubungan dengan kekasihmu itu?"


"Kenapa Papa tiba-tiba menanyakan itu?" tanyanya, yang kemudian melirik Rissa sejenak. Merasa aneh, sebab baru saja adiknya itu membahas hal serupa dengannya.


"Kalau kalian masih bersama, maka menikahlah! Karena setelah pesta kemarin, sangat banyak rekan bisnis papa yang meminta agar papa menjodohkanmu dengan putri mereka. Dengan kamu menikah, maka papa tidak perlu lagi mencari alasan untuk menolak mereka," jelas Papa Nahar.


"Tapi kalau kalian sudah tidak bersama, maka kamu harus memilih salah satu di antara mereka," imbuhnya.


"Tapi, Pa___"


"Tidak ada tapi-tapian. Nikahi pacar kamu atau menikah dengan salah satu putri rekan papa," ucapnya penuh penekanan. "Lagi pula, usia kamu sudah sangat cocok untuk menikah," imbuhnya.


Rissa dan Mama Reta hanya saling melempar pandangan. Mereka sangat tahu, jika pria paruh baya itu sudah membuat keputusan, maka akan sangat sulit untuk mengubah keputusannya.


Ibra menghela napasnya. Merasa enggan untuk berdebat dengan papanya. Ia meletakkan sendok yang ada di tangannya, kemudian meneguk minuman yang ada di hadapannya, "Ibra berangkat sekarang," ucapnya, yang kemudian beranjak dari tempat duduknya. Pergi begitu saja, tanpa memperdulikan ucapan Mama Reta yang menyuruhnya menghabiskan sarapannya.


Ibra melangkah dengan cepat menuju mobilnya, lalu mendudukkan dirinya di kursi kemudi. Untuk sesaat ia terdiam. Ucapan papanya membuat mood-nya buruk pagi ini.


Bagaimana bisa ia menikahi kekasihnya, sedang kekasihnya itu sudah menikah dengan pria lain. Tapi ia juga tidak mau menikah dengan gadis-gadis yang ia temui di pesta teman papanya beberapa hari yang lalu. Sebab, semua gadis itu terlihat genit di matanya.


Entahlah, atau mungkin saja karena ia masih mencintai kekasihnya yang telah menghianatinya itu.


Ibra meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Halo, Ryan ... Kau pasti tau rekan Papa yang ingin menjodohkan putrinya denganku."


"...."


"Kirimkan data-data putri mereka padaku. Sekarang!" ucap Ibra lalu memutuskan sambungan telfonnya.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like dan komennya ya kakak 🤗❤


__ADS_2