Sebuah Luka

Sebuah Luka
Chapter 8


__ADS_3

Ara masih saja betah berbaring di atas tempat tidurnya. Setelah sholat subuh, ia sudah tidak bisa lagi memejamkan matanya, meski semalam ia hanya tidur beberapa jam saja akibat terus melamunkan pria yang kemarin mengungkapkan perasaannya padanya. Dan hingga pagi ini lamunannya kembali berlanjut.


Hingga saat matanya menangkap jarum jam di dinding yang menunjukkan pukul 06.20, membuat Ara dengan cepat beranjak dari tempat tidurnya dan berlari masuk ke dalam kamar mandi.


Setelah menyelesaikan mandinya, Ara berjalan ke arah lemari untuk memilih pakaian yang akan ia gunakan hari ini. Dan entah mengapa hari ini ia begitu peduli dengan penampilannya. Satu, dua, tiga hingga beberapa baju telah ia keluarkan dari dalam lemari, namun semuanya terlihat sangat biasa di matanya.


Hingga akhirnya pilihannya jatuh pada sebuah rok berbahan denim dan tunik berwarna peach dengan belahan di kedua sisinya, serta pashmina dengan warna senada.


Setelah beberapa kali menatap pantulan dirinya di cermin, akhirnya Ara memutuskan untuk turun ke bawah lebih dulu, sebelum Bi Ratih atau ayahnya datang memanggilnya untuk sarapan.


“Pagi, Ayah,” sapanya, seraya mencium pipi ayahnya yang sedang menyiapkan sarapan di atas meja, lalu kemudian mendudukkan dirinya di salah satu kursi meja makan.


“Pagi, Sayang!”


“Ayah kok belum siap-siap, emang gak ke restoran?” tanya Ara saat menyadari ayahnya yang masih memakai baju rumahan.


Setiap hari setelah mengantarnya ke kampus ayahnya selalu ke restorannya guna mengecek perkembangan restorannya setiap hari, serta membantu manajer restorannya memantau cara kerja karyawannya.


“Iya, Sayang, ayah sedikit gak enak badan, jadi gak ke restoran dulu,” ucap Hartono masih sibuk menata makanan di atas meja.


“Ayah sakit?” tanya Ara khawatir.


“Nggak kok, Sayang, mungkin setelah minum obat, ayah akan baikan.”


“Serius? Kalau ayah sakit, Ara gak usah ke kampus juga.”


“Iya serius, ayah gak kenapa-kenapa. Ayah juga sudah menelfon Arumi buat jemput kamu.”


“Selamat pagi sayang-sayangku!” Suara sapaan dari seseorang mengalihkan pandangan kedua ayah dan anak itu.


“Baru juga diomongin udah datang aja, panjang umur nih anak,” lirih Hartono, membuat Ara tersenyum mendengarnya.


“Waalaikumsalam!” ucap Hartono saat Arumi sudah berada dekat dengannya.


Arumi tertawa kecil kemudian melingkarkan tangannya di lengan Hartono yang berdiri di sisi Ara. “Iya, Assalamualaikum, Ayah,” ucapnya kemudian menatap wajah pria paruh baya itu, “Ayah sakit apa?” tanyanya.


“Hanya sedikit tidak enak badan,” jawab Hartono.

__ADS_1


“Sudah minum obat?”


“Belum, entar aja setelah sarapan.”


Arumi melepaskan rangkulannya kemudian mengalihkan pandangannya pada makanan yang terhidang di atas meja, “ya sudah kalau begitu kita sarapan dulu, kebetulan Rumi juga sangat lapar,” ucapnya mengelus perutnya kemudian mendudukkan dirinya di sebelah Ara.


“Kamu nggak sarapan di rumah kamu?” tanya Ara.


“Nggak sempat, soalnya ayah keburu nelfon.”


“Emang ayah nyuruh__”


“Eitss, dilarang protes, sekarang Ayah sarapan, trus minum obat,” ucap Arumi memotong ucapan Hartono yang setaunya akan melayangkan protes.


Hartono menggelengkan kepalanya tertawa, diikuti oleh Ara yang juga ikut tertawa, kemudian mereka melanjutkan sarapan mereka.


Setelah beberapa saat, suara langkah kaki yang terdengar berat dari seseorang yang tidak lain adalah Miya, mengalihkan pandangan Ara dan ayahnya, tapi tidak dengan Arumi. Miya yang biasanya ceria kini terlihat berbeda karena wajah yang di tekuk.


“Kamu kesini juga? gak repot?” tanya Hartono pada Miya. Mengingat letak kosan gadis itu yang jaraknya lebih dekat ke kampus dari pada rumahnya, dan juga Miya yang selalu ke kampus dengan menggunakan taksi, akan sangat merepotkan jika harus menjemput putrinya lagi.


“Kok gak bilang?” tanya Ara.


“Tadi dia telfonan sama nyokapnya, makanya gue tinggal masuk.”


“Terus muka kamu kenapa ditekuk begitu?” tanya Hartono tak melepaskan pandangannya pada gadis yang baru saja datang itu. Miya kemudian menghempaskan tubuhnya di salah satu kursi seraya menjatuhkan wajahnya di meja makan. “Gak dikirimin uang jajan?” imbuh Hartono.


“Akhir pekan nanti disuruh pulang dulu sama mama,” jawabnya tidak bersemangat.


“Ya sudah pulang saja dulu, mungkin orang tua kamu rindu,” ucap Hartono.


“Katanya mau dikenalin sama anak rekan bisnis papa,” sambung Miya membuang nafasnya Kasar.


“Kamu mau dinikahin?” tanya Arumi menghentikan makannya.


Miya mengangkat kepalanya, menegapkan duduknya dan memandang kedua sahabatnya, “katanya sih kenalan aja dulu… nikahnya nanti setelah lulus,” sahutnya.


“Ya udah nurut aja apa kata orang tua kamu,” sahut Ara.

__ADS_1


“Lalu bagaimana dengan mimpi-mimpiku, setelah tamat kuliah aku maunya kerja dulu dan jadi wanita sukses, baru setelah itu nikah.”


“Wanita sukses itu bukan mereka yang punya pekerjaan yang bagus dan gaji yang banyak. Tapi mereka yang mampu menjadi istri dan ibu yang baik untuk anak-anaknya. Bukankah kodrat kita sebagai wanita itu seharusnya tinggal di rumah ngurus anak dan suami,” ucap Ara bijak.


“Iya benar kata Ara, kami sebagai pria tidak begitu peduli dengan wanita yang memiliki pendapatan sendiri, kami hanya ingin saat pulang ke rumah yang pertama kami lihat adalah wajah istri dan anak-anak kami yang tersenyum menyambut kepulangan kami, karena itu obat lelah yang paling mujarab,” imbuh Hartono.


“Iya, lagi pula siapa tau aja laki-laki yang dijodohkan denganmu itu ganteng dan masih muda seperti tukang parkir yang kamu bilang kemarin?” sahut Arumi tertawa.


“Ck, orang lagi serius juga,” ucap Miya berdecak sebal.


“Tukang parkir?” ucap Hartono bingung, membuat Ara dan Arumi tertawa.


“Lagian baru juga mau dikenalin, udah kayak mau dinikahin besok aja. Belum tentu juga dia mau sama kamu kan?”


“Arumi…” sahut Ara, mencegah agar sahabatnya itu tidak berbicara yang aneh-aneh yang akan membuat suasana hati Miya semakin memburuk.


“Lalu kamu sendiri bagaimana? Sudah ada perkembangan dengan Dion?” tanya Hartono pada Arumi.


“Gak ada! Ayah sih gak ngedukung,” jawabnya mencebikkan bibirnya, kemudian kembali menyuapkan makanannya yang masih tersisa sedikit di piringnya.


“Emang harus ngedukung dengan cara apa? apa mesti ketik Arumi spasi Dion trus kirim ke 9988 gitu?” ucap Hartono tertawa.


Ara yang mendengar candaan ayahnya ikut tertawa, begitu pula dengan Miya yang sedari tadi cemberut tiba-tiba tertawa terbahak-bahak, membuat Arumi melemparkan tatapan tajam padanya.


Setelah tawa kedua sahabatnya mereda, Arumi kembali menatap Hartono serius, “setidaknya cobalah ayah menyuruhnya menerima cinta Arumi, kalau dia tidak mau ayah potong aja gajinya biar dia takut.”


“Itu mah namanya pemaksaan,” jawab Hartono menggelengkan kepalanya mendengar permintaan gadis itu. “Kalau Dion gak mau, ya sudah sama si tukang parkir saja,” imbuhnya, yang kembali membuat Miya tertawa heboh.


“Ayah….” sahut Arumi cemberut.


.


.


.


Bagi like dan coment nya yaa teman-teman 🤗❤

__ADS_1


__ADS_2