Sebuah Luka

Sebuah Luka
Chapter 39


__ADS_3

Saat ini Ara dan Ibra telah tiba di tempat diadakannya festival kuliner yang telah dipadati banyak pengunjung.


Mereka memasuki satu persatu gerai makanan yang ada disana. Mencoba satu persatu makanan yang menggugah selera mereka.


"Apa kamu sering ke tempat seperti ini?" tanya Ibra saat mereka telah duduk di salah satu bangku yang ada disana, dan mencoba beberapa menu yang terhidang di depan mereka.


"Iya, Ayah sering mengajakku ke tempat-tempat yang terdapat banyak makanan seperti ini. Ayah suka mencari ide masakan di tempat seperti ini."


"Wah! kamu pasti tau banyak tentang masakan. Apa kamu juga jago masak?" tanya Ibra.


"Emmm... sayangnya nggak!" jawab Ara tersenyum malu.


"Benar-benar sangat disayangkan ya. Saya pikir karena memiliki ayah seorang chef, kamu akan jago masak, meski tanpa belajar," ucap Ibra tertawa kecil.


Ara pun ikut tertawa mendengar penuturan pria di hadapannya itu. "Apa Kakak tau, yang Kak Ibra katakan barusan, sama persis dengan apa yang Mama katakan padaku pagi tadi."


"Sungguh? Wah, tidak salah lagi. Saya memang benar-benar anak Mama. Tapi tentunya saya tidak secerewet Mama, kan?"


"Entahlah, Ara belum tahu." Ara terkekeh, seraya menutup mulutnya yang penuh dengan makanan, menggunakan punggung tangannya.


Ibra ikut tertawa, menatap lekat wanita di hadapannya. Untuk pertama kalinya ia melihat Ara sebahagia itu. "Kamu cantik kalau tertawa," tuturnya. Membuat Ara menghentikan tawanya dengan cepat.


"Kenapa diam? padahal kamu lebih cantik lagi saat tidak berekspresi seperti itu," godanya.


"Kak Ibra apaan sih!" Ara menundukkan kepalanya, tersipu malu.


Ibra terkekeh dengan begitu renyahnya, saat merasa berhasil menggoda wanita itu.


Setelah berkeliling dan mencoba beberapa jajanan, Ara dan Ibra memutuskan untuk pulang.


"Makanannya banyak sekali, Kak." Ara mengangkat beberapa kantong makanan yang ada di genggamannya.


"Kan kamu yang mau!"


"Kok Ara sih, ini kan Kak Ibra yang beli semua," sahut Ara menampik.


"Iya, tapi saya belinya untuk kamu."


"Tapi Ara sudah makan banyak tadi." Ara meraba perutnya yang sedikit membuncit karena kebanyakan makan. "Udah nggak muat lagi."


"Ya sudah dimakan nanti saja... yang jelasnya harus dihabisin ya. Awas, tidak boleh membuang-buang makanan," ucap Ibra tertawa.


"Bawa pulang untuk orang di rumah aja," sahut Ara.


"Mama tidak suka makan jajanan seperti itu, kamu habiskan sendiri," jawab Ibra berbohong.


Ara mencebik, "ya udah, tapi nanti bantuin ya?" pintanya.


"Iya iya...." jawab Ibra tertawa.


"Oh iya, Kak. Sebelum pulang boleh nggak kita kerumah Ara dulu. Ara ingin memberitahu Bi Ratih kalau Ara akan tinggal di rumah Kakak."


"Iya, boleh!"

__ADS_1


Ibra mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah Ara. Menikmati perjalanannya bersama wanita itu. Dan obrolan yang terjadi di dalam mobil, membuat keduanya menjadi sedikit dekat.


"Assalamu'alaikum, Bi!" ucap Ara memberi salam saat masuk ke dalam rumahnya.


Dan Bi Ratih yang melihat kedatangan Ara dengan cepat menghampiri anak majikannya itu. "Wa'alaikumsalam, Neng!"


"Miya udah berangkat, Bi?" tanya Ara.


"Iya sudah. Tadi dijemput sama Neng Arumi," jawab bi Ratih.


"Barang-barang Miya dibawa semua nggak, Bi?"


"Iya, katanya dia sudah memberitahu Neng Ara, kalau Neng Miya akan kembali ke kosan."


"Iya, Bi. Miya udah bilang kemarin.... Oh iya, Bi. Ada yang ingin Ara sampaikan ke Bibi. Duduk dulu ya, Bi." Ara menarik tangan Bi Ratih, dan menuntunnya untuk duduk di sofa ruang tengah. Tidak lupa, ia juga mempersilahkan Ibra untuk duduk.


"Ada apa, Neng?" tanya Bi Ratih penasaran.


"Begini, Bi. Mungkin Ara akan tinggal di rumah Kak Ibra."


"Wah, bagus itu, Neng. Jadi, Neng Ara tidak kesepian lagi."


"Tapi bagaimana dengan, Bibi?" tanya Ara.


"Mungkin Bibi akan pulang saja, Neng. Bibi juga sudah sangat rindu dengan cucu-cucu Bibi. Sudah lama Bibi tidak pulang." jawab Bi Ratih dengan senyum yang dipaksakan.


Ara dapat melihat jelas kilatan air mata di kedua bola mata Bi Ratih, hingga membuatnya terenyuh, dan tidak rela jika harus berpisah dengan wanita paruh baya itu.


Ara meraih kedua tangan Bi Ratih dan menggenggamnya. "Tidak bisakah Bibi tinggal disini saja?" pintanya, yang kemudian mendapatkan penolakan dari Bi Ratih.


"Bagaimana kalau Bi Ratih ikut dengan Ara saja ke rumah kami?" pinta Ibra, yang memang mengerti dengan arti tatapan istrinya.


Ara tersenyum, dengan cepat menganggukkan kepalanya, dan kembali membujuk Bi Ratih.


"Terimakasih, Den. Tapi sepertinya Bibi akan pulang kampung saja." Bi Ratih melepaskan genggaman tangan Ara, dan berganti mengelus tangan Ara. "Mungkin Bibi sudah tidak akan bekerja lagi. Bibi ingin istirahat saja. Bibi hanya akan menjaga cucu Bibi.... Lagi pula anak Bibi membuka sebuah toko kue kecil-kecilan, mungkin Bibi akan membantunya saja," jelas Bi Ratih.


"Jadi Bibi beneran mau pulang?" tanya Ara memastikan.


"Iya.... Lagi pula Bibi sudah tenang karena Neng Ara sudah mendapatkan suami yang baik. Saat Bapak pergi, Bibi menjadikan Neng Ara sebagai tanggung jawab Bibi. Bibi berjanji pada diri Bibi sendiri, tidak akan meninggalkan Neng Ara apapun yang terjadi, karena biar bagaimanapun hanya Bibi yang Neng Ara punya saat itu. Tapi semuanya berbeda saat ini, Neng Ara sudah punya keluarga baru sekarang," ucap Bi Ratih dengan mata yang berkaca-kaca.


"Den Ibra..." Bi Ratih mengalihkan pandangannya pada Ibra.


"Iya, Bi?"


"Bibi titip anak Bibi ya! Neng Ara sudah seperti anak untuk Bibi. Sejak kecil Bibi menjaganya dengan segenap hati Bibi. Bibi merasa bahagia saat dia tertawa bahagia, Bibi pun akan bersedih saat dia merasa kecewa, dan Bibi akan ikut menangis saat Neng Ara terluka." Bi Ratih menjeda kalimatnya, sekedar untuk menepis air matanya yang sudah terjatuh, sebelum kembali berucap, "Bibi harap Den Ibra tidak akan membuatnya terluka, sebab tidak ada lagi tempatnya bersandar. Jaga dan manjakan dia seperti apa yang Pak Hartono lakukan, agar dia tidak merasa kehilangan sosok pelindung di hidupnya...."


"Bi Ratih..." Tidak ada lagi kata yang terpikir oleh Ara, ia hanya bisa menangis dan memberi pelukan pada wanita paruh baya itu. Entah mengapa disaat seperti ini ia baru tersadar akan besarnya kasih sayang wanita itu padanya.


Kasih sayang yang memang selalu ia dapatkan sejak kecil. Dan mungkin akan ia rindukan nantinya.


Ibra yang melihat keduanya pun ikut merasakan kesedihannya.


"Neng Ara jaga diri baik-baik ya," tutur Bi Ratih menangis di pelukan Ara.

__ADS_1


"Iya, Bi. Bibi juga jaga kesehatan Bibi. Ara janji akan mengunjungi Bibi nanti," sahut Ara yang terus terisak.


Dan setelah cukup lama saling menumpahkan kesedihan, dan mengakhiri tangisnya masing-masing. Mereka lalu membahas perihal kepulangan Bi Ratih. Yang akan di antarkan oleh Ara hingga bandara nantinya.


***


Tok..tok..tok...


Mendengar suara ketukan pintu kamarnya, Ara berdiri membuka pintu kamar yang sebenarnya tidak terkunci itu.


Saat ini Ara berada di kamarnya untuk mengemasi barang-barangnya yang akan ia bawa ke rumah mertuanya.


"Boleh saya masuk?" pinta Ibra yang berada di balik pintu tersebut. Dan dengan cepat dipersilakan oleh Ara.


"Kak Ibra duduk dulu ya. Saya akan mengatur barang saya dulu, nggak lama kok!" Ara bergegas meneruskan kemas-kemasnya, tidak ingin membuat pria itu menunggu lama.


"Iya, tidak usah khawatir. Lanjutkan saja."


Ibra melebarkan pandangannya menyelidik kamar Ara yang nampak begitu lembut dan menenangkan yang mungkin diciptakan dari warna biru pastel yang melapisi dinding kamar itu.


Hingga pandangannya terpaku pada sebuah foto yang berada di atas nakas. Ia berjalan mendekat dan meraih benda persegi itu, yang menampilkan sosok Ara kecil bersama kedua orang tuanya.


"Ibu kamu cantik."


Ara mengalihkan pandangannya pada Ibra dan tersenyum. "Benarkah? Kata orang Ara sangat mirip dengan ibu."


"Iya, memang mirip... Bukankah kamu bilang ibu kamu tinggal di panti asuhan yang sama dengan ayah kamu?" tanya Ibra berbalik menatap Ara.


Ara mengangguk dan membenarkan.


"Apa mereka sudah saling jatuh cinta sejak kecil?" Ara tertawa kecil mendengar pertanyaan yang di lontarkan Ibra, hingga membuatnya kembali mengenang cerita cinta yang pernah diceritakan ayahnya padanya.


"Kata Ayah, Ayah sudah menyukai Ibu sejak kecil, tapi entahlah dengan Ibu... katanya Ibu adalah gadis yang kejam, terutama dengan anak lelaki. Tapi, karena sifatnya itulah Ayah jadi suka, karena Ibu tidak mudah di dekati lelaki lain. Dan meski Ayah menyukai Ibu, tapi Ayah tidak pernah menyatakan perasaannya, karena Ayah merasa tidak punya apa-apa saat itu untuk Ayah berikan pada Ibu..."


"Hingga akhirnya setelah tamat SMA, Ayah keluar dari panti dan mencoba mencari pekerjaan. Ayah bekerja di sebuah rumah makan, dan kebetulan saja yang punya rumah makan membuka kursus memasak. Beliau menawarkan Ayah untuk ikut belajar memasak, hingga akhirnya beliau melihat bakat Ayah, dan membantu Ayah mengembangkan bakatnya dengan mengirim Ayah ke berbagai tempat kursus yang lebih baik..."


"Dan setelah Ayah bekerja di tempat yang lebih baik dengan gaji yang lumayan, Ayah kembali ke panti dengan tujuan melamar Ibu. Meski awalnya Ayah ragu, dan khawatir jika saja Ibu sudah pergi dari panti asuhan atau mungkin sudah menikah. Tapi takdir memihak pada Ayah, gadis pujaan hatinya ternyata masih berada di sana dan menjadi pengurus panti asuhan. Lalu Ayah menyampaikan keinginannya dan Ibu menerimanya.... Dan saat itu juga Ayah tahu kalau selama ini cintanya tidak bertepuk sebelah tangan, karena kata pengurus panti, sejak Ayah pergi dari panti, Ibu selalu saja terlihat murung tidak seceria biasanya."


Ara menyudahi ceritanya dengan senyuman yang merekah. Ia selalu terbawa perasaan saat mengingat cerita cinta kedua orang tuanya. Hingga membuatnya selalu berharap mendapatkan cerita cinta yang tidak kalah manis dari keduanya.


"Ternyata kisah mereka begitu luar biasa," tutur Ibra, menatap Ara yang terus saja tersenyum. "Entah bagaimana dengan kisah kita?" imbuhnya. Dan berhasil membuat raut wajah Ara berubah seketika.


"Apa sudah selesai?" Ibra mencoba menghilangkan kecanggungan yang hadir di antara mereka, setelah perkataannya itu.


"Ah iya, iya sudah, Kak," jawab Ara gelagapan.


Ibra meraih koper milik Ara, membantunya menurunkan barang-barang wanita itu, hingga memasukkannya ke dalam bagasi mobil.


Dan mereka pulang, setelah sebelumnya pamit pada Bi Ratih.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa tinggalkan jejak LIKE dan KOMEN nya kakak 🤗❤


__ADS_2